Kenapa Dia yang Muncul?

1521 Words
Natalie duduk di sofa yang letaknya tidak begitu jauh dari Andrew. Lelaki tampan itu menurut Natalie sangat sempurna. Ia tampan dan lebih bertutur lembut daripada Kevin. Lelaki yang membuat Natalie kesal jika bertemu dengannya. Lelaki itu dengan sengaja membuat Natalie terkecoh hingga Kevin berhasil menciumnya. Hal yang paling ia benci, meskipun Kevin tampan dan kaya. Andrew masih melihat CV yang Natalie bawa. Gadis cantik itu merasa cemas jika Andrew tidak suka dengannya. "It's okey, aku suka dengan CV-mu. Hari ini kamu sudah bisa mulai bekerja." Andrew meletakkan map yang dibawa. Tatapan matanya menelisik penampilan Natalie dari atas sampai bawah. Wanita di depannya terlihat sangat cantik dan cukup memesona. Berkulit kuning langsat dengan tinggi badan yang proposional membuat Natalie terlihat anggun. Fashion styles yang terbilang modis membuat andrew hanya berdecak kagum. Natalie merasa malu dengan tatapan Andrew yang membuatnya gr. Ia merasa yakin jika pria di depannya akan tertarik dengannya. "Apa ada yang bisa kukerjakan hari ini?" tanya Natalie ragu. "Pelajari ini dan buatkan jadwal untukku beberapa hari ke depan." Andrew menyodorkan sebuah map berwarna cokelat pada Natalie."Oh, ya, jangan lupa untuk mengagendakan bertemu dengan Kevin besok. Aku ingin meeting dengannya pagi hari." Andrew menuntaskan perintahnya. "Baik, Pak." Natalie hanya mengangguk. Wanita itu segera beranjak dan berjalan keluar. "Oh, ya, satu lagi." Andrew berujar sebelum Natalie meninggalkan ruangannya. Natalie berbalik menunggu perkataan Andrew. Baginya pria itu terlihat sangat sempurna. "Kamu nggak perlu panggil aku Bapak, panggil saja Andrew. Aku belum terlalu tua untuk itu." Andrew tersenyum. "Baik." Natalie hanya tersenyum tipis menyembunyikan rasa senangnya. Ia tidak ingin terlihat norak atau kampungan di depan Andrew. Ia ingin bosnya itu menganggapnya sebagai perempuan yang anggun dan menarik. Natalie menutup pintu ruangan Andrew dan duduk di tempatnya. Ia mulai menatap mejanya dan mempelajari map yang diberikan Andrew. Ada beberapa agenda yang harus segera dijadwalkan untuk Andrew. Jari jemari Natalie mulai menari di atas papan keyboard. Matanya mulai awas meneliti setiap kata dan tanggal. Tidak lupa ia menambah catatan penting di dalam note paper agar ia mudah mengingatnya. "Sangat pekerja keras." Tiba-tiba saja Kevin datang dan menyilangkan kedua tangannya. Natalie tidak percaya Kevin berdiri di depan mejanya. Kemunculannya sangat tidak diharapkan. Memang pada awalnya Natalie sangat tertarik bertemu dengan Kevin. Namun, kali ini Natalie merasa Andrew jauh lebih menarik daripada pria di depannya. "Enyahlah lelaki aneh! Nggak usah sok kenal!" Natalie kembali fokus pada pekerjaannya. "Hummm apa kamu lupa apa yang kita lakukan kemarin?" Kevin membungkukkan badannya dan membuat matanya bertatapan dengan Natalie."Apa aku perlu mengulanginya lagi agar kamu ingat soal ciuman itu? Rasanya manis sekali …." Natalie melihat netra yang berjarak sangat dekat dengannya. Kevin terlihat sangat tampan dan menarik. Lelaki itu terus saja memburu mata bulat di depannya. Ia seolah memberi bius agar Natalie tak beranjak dari pandangannya. Lagi-lagi Kevin mendekatkan bibirnya dan mencium Natalie sekilas. Sepersekian detik Natalie baru tersadar jika Kevin mempermainkannya. Wanita itu langsung mengusap bibirnya berulang kali. "Dapat! Bibirmu sangat manis sekali, aku suka itu." Kevin tersenyum dan meninggalkan Natalie yang tampak kesal. Lelaki tampak berjalan santai tidak merasa bersalah. Gadis itu hanya berteriak mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak ia saring. Ia tidak peduli jika seisi kantor mendengar perkataannya. "Dasar penjahatt wanita!" Natalie menggeram kesal. Lagi-lagi Kevin mengambil kesempatan menciumnya. *** Pukul lima sore Natalie bersiap pulang. Seperti biasa, Natalie memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya. Gadis cantik itu terus saja berselancar di dunia maya sebelum pesanan taksinya datang. Natalie lebih suka menunggu di dalam daripada harus menunggu di luar. “Bukankah ini si penjahatt wanita itu?” Natalie melihat foto Kevin yang terpampang di salah satu media online. Profil yang ditampilkan cukup menarik, setiap wanita yang melihatnya pasti tertarik dengan kehidupannya. Pada artikel tersebut menyebutkan jika Kevin mendapat penghargaan pengusaha EO tersukses di Bandung dan merupakan satu-satunya pewaris perusahaan milik keluarganya, Sinduthama corporate. Sudah terbayangkan berapa besar kekayaan yang Kevin miliki. Wanita manapun pasti menginginkan menjadi istrinya. Apalagi statusnya yang masih lajang, membuat banyak wanita akan rela mengantre untuk mendapatkan Kevin. “Profil yang menarik, tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan penjahatt wanita sepertimu.” Natalie bergumam kesal. Ia menutup kesal ponselnya. Wajah Kevin terlihat seperti momok baginya, sangat menyeramkan. Mengingat apa yang dilakukan Kevin kepadanya membuatnya enggan untuk dekat dengan lelaki tampan itu. Padahal pertama kali bertemu Natalie begitu terpesona. Tidak dipungkiri Kevin masuk dalam salah satu lelaki incarannya; kaya, tampan, dan terlebih lelaki itu merupakan anak tunggal. "Kamu belum pulang?" Andrew datang memancarkan senyumnya. Natalie terhenyak dan merapikan rambutnya yang berantakan. Ia menepis wajah Kevin dan berusaha fokus dengan pria di depannya yang tentunya tidak kalah menarik dengan Kevin. "Masih nunggu taksi, Pak." Natalie mencoba memperlihatkan wajah tercantiknya. Berharap siapa tahu Andrew tertarik dengannya. "Hei, kenapa harus panggil, Pak?" "Ah, iya, Andrew." Natalie meralat panggilannya. "Seperti itu lebih baik." "Ada yang bisa saya bantu?" Natalie mencoba berbasa-basi. "Tidak perlu, ini sudah waktunya pulang. Kamu pulang dengan siapa?" "Naik taksi." Natalie menjawab singkat. Ia hanya berharap Andrew akan menawarkan tumpangan. Setidaknya ia mendapat kesempatan bagus untuk lebih dekat dengan Andrew. "Baiklah." Natalie merasa senang mendengar ucapan Andrew. Ia menangkap sinyal-sinyal keberuntungan berpihak padanya. Ia berpikir tidak perlu bekerja keras untuk menarik perhatian Andrew. "Aku duluan, kamu hati-hati di jalan. Besok pagi jangan lupa meeting-nya." Andrew berlalu meninggalkan Natalie. Lelaki itu tampak biasa dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya. Natalie tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Andrew membiarkannya pulang sendiri. Wanita berambut cokelat itu merasa salah strategi, harusnya ia mengatakan belum memesan taksi. Setidaknya ia bisa pulang bersama Andrew dan bisa mengenalnya lebih dekat. "Sepertinya aku harus bekerja keras untuk mendapatkannya." *** Saat Natalie menunggu taksi pesanannya datang. Sebuah mobil sport berwarna kuning berhenti di hadapannya. Ia sungguh takjub melihat mobil mewah yang berhenti di depannya. Dalam bayangannya si pemilik mobil pasti sangat tampan sesuai dengan kendaraannya. Mobil merah keluaran jerman yang harganya mencapai miliaran rupiah. Sebuah angka yang sangat fantastis. Tidak hanya sembarang orang yang bisa memilikinya. Natalie masih menunggu si pemilik mobil untuk keluar. Ia masih penasaran dengan pemiliknya. Setidaknya saat Andrew lepas ia bisa menggaet pria kaya lainnya. Satu idealis yang selalu ia tanamkan dari dulu. Seorang lelaki yang sangat tidak asing bagi Natalie keluar dari mobil. Memakai kaca mata hitam dengan kemeja casual. Membuat penampilannya terlihat santai, tetapi tetap terlihat elegan. Secara kasat mata penampilannya sangat menarik dan membuat Natalie tertarik. Gadis itu menarik senyumnya dan berharap lelaki itu mendekatinya. Ia terlihat jual mahal agar tidak terkesan norak di depan pria berkelas. "Nunggu aku?" Lelaki itu membuka kaca matanya dan berhasil membuat Natalie terkejut. "Kamu?" Natalie tidak menyangka jika lelaki yang selalu membuatnya kesal muncul di hadapannya. "Tampan bukan?" Kevin terkekeh geli melihat ekspresi kecewa Natalie. Gadis itu tidak habis pikir kenapa harus selalu bertemu dengan Kevin. Ia merasa kota Bandung terasa sempit hingga membuat mereka harus bertemu untuk kesekian kalinya. Rasanya nasib sial selalu mengikutinya setelah bertemu Kevin. "Mau pulang bareng?" Kevin berjalan mendekat. Ia sengaja memancing Natalie agar membuat gadis itu jengkel. Ada kesenangan tersendiri saat berhasil membuat Natalie marah. Ia merasa gadis di sampingnya sangat menarik. Natalie hanya diam. Dia menunjukkan wajah ketusnya agar Kevin tidak besar kepala menganggapnya wanita matre yang berharap bisa menggaet lelaki kaya seperti Kevin. "Sukurlah, kalau kamu tidak mau. Harga jok mobilku terlalu mahal jika harus rusak karena pantattmu." "Gila! Pergi! Ngapain di sini?!" Kevin malah tertawa. Ia berhasil memancing keributan dengan Natalie. Satu hal yang ia tunggu. Menurutnya sangat asik saat wanita yang tetarik kepadanya mulai terlihat jual mahal. Ia hanya ingin tahu sejauh mana sang wanita akan menolak pesonanya. "Aku mau meminta itu." Kevin menunjuk bibir Natalie. Natalie langsung menutup bibirnya. Ia kembali mengingat saat Kevin mengelabuhinya dan mencium bibirnya saat dirinya lengah. "Kenapa harus ditutup? Meski kamu tutup pun, aku bisa mendapatkannya." Natalie masih menutup bibirnya dan menggeleng. Ia benar-benar tidak ingin terlihat bodoh. "Baiklah, kalau begitu aku akan menculikmu sekarang." Kevin langsung menarik tangan Natalie dan langsung menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Lelaki itu langsung menguncinya dan tidak membiarkan Natalie keluar dari mobilnya. Natalie memukul kaca mobil berulang. Kevin langsung berjalan masuk ke dalam mobilnya. Ia langsung mengunci mobilnya dan tersenyum. “Hei apa maumu, gila?!” Natalie benar-benar kesal. Perilaku Kevin sangat berbanding terbalik dengan Andrew. Ia hanya merasa sial karena harus bertemu Kevin terlebih dahulu. “Aku sudah katakan tadi. Apa belum jelas? Apa kita perlu langsung melakukannya?” Kevin masih duduk dengan tenang. Melihat Natalie panik semakin membuatnya senang. “Hei, apa kamu kekurangan stok gadis hingga selalu mengejarku?” “Aku sedang ingin bermain denganmu.” Kevin santai menanggapinya. “Aku bukan anak kecil yang bisa kamu ajak main-main!” “Kalau kamu bukan anak kecil berarti kila bisa langsung praktek tanpa aku harus mengajarimu.” Kevin langsung menghidupkan mesin mobilnya. Suara yang halus membuat suara mobilnya tidak terdengar. Natalie mulai gugup apa yang akan dilakukan Kevin. Ia berulang kali membuka pintu mobil, tetapi semua sia-sia. Kevin menguncinya rapat. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan keceatan yang lumayan tinggi menyusuri jalanan Bandung. Natalie harap-harap cemas ke mana lelaki itu akan membawanya. Laju arah mobil Kevin berlawanan arah dengan jalan menuju tempat tinggalnya. “Santai saja, tidak perlu panik.” Kevin tertawa. ia puas melihat wajah Natalie yang ketakutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD