Kesialan Berbuah Keberuntungan

1186 Words
“Sampai.” Kevin menghentikan mobilnya. Mobil Kevin berhenti tepat di depan sebuah kafe. Kevin membuka pintu mobil dan keluar. Sedangkan Natalie masih bingung apa yang sebenarnya diinginkan Kevin darinya. Ia pikir Kevin akan membawanya ke hotel atau ke apartemen, tapi ternyata lelaki mature itu malah mengajaknya ke kafe. Natalie terhenyak saat Kevin mengetuk kaca mobil. Lelaki itu mengisyaratkan agar Natalie cepat keluar. Gegas, Natalie langsung mengambil tasnya dan membuka pintu mobil. Ia masih berjaga-jaga jika Kevin menyerangnya tiba-tiba di depan umum. Lelaki itu terkadang bisa bersikap gila. Bahkan lebih gila dari lelaki yang pernah dekat dengan Natalie selama ini. “Katakan apa maumu?” Natalie melotot ke arah Kevin. Lelaki itu tidak peduli dan terus saja masuk ke kafe. Ia hanya tersenyum dan membiarkan Natalie mengikutinya kesal. Perlahan kevin memastikan agar rencananya berhasil. Kevin duduk dan memesan makanan. Ia masih terlihat tenang mendengar ocehan Natalie yang menyita pandangan pengunjung kafe. “Kamu diam atau aku akan menciummu di sini.” Kevin terdengar mengancam. Natalie langsung diam dan menutup bibirnya. Wanita berambut cokelat itu masih mengingat jelas saat Kevin selalu mengambil keuntungan darinya. Menggunakan taktiknya hanya untuk mencuri kesempatan. “Apa maumu?” Natalie masih tidak habis pikir dengan perilaku Kevin. Awal bertemu lelaki itu menunjukkan sikap dinginnya. Namun, secara tiba-tiba Kevin selalu muncul dan mengejar-ngejar Natalie. “Aku hanya ingin mengajakmu makan. Setidaknya kamu bisa makan gratis.” Kevin langsung memakan makanan yang baru saja datang. Ia tidak peduli dengan Natalie yang masih saja terus berbicara. Ia dengan cepat melahap makanan yang baru saja tersaji. Setidaknya rasa laparnya berkurang. “Sudah cukup ngomongnya?” “Belum! Aku tidak akan berhenti sebelum kamu mengatakan maumu.” Natalie masih aja bersikap ketus. Rasanya ia ingin segera pergi dari hadapan lelaki yang tidak membuatnya nyaman. “Aku hanya mau makan. Tidak lebih. Apa salah kalau aku lapar?” Kevin meminum ice float di depannya. “Kenapa harus menculikku?” “Menculik? Aku tidak menculikmu. Aku hanya mengajakmu paksa.” “Sama saja!” “Berbeda, lah. Aku hanya ingin kamu menemaniku makan, tidak lebih. Sekarang aku sudah selesai dan kamu boleh pergi.” “Hah?!” Natalie masih belum percaya apa yang baru saja ia dengar. Bahkan ia belum makan sama sekali, tetapi Kevin menyuruhnya pergi. “Kenapa? Kamu boleh pulang. Aku tidak akan menahanmu. Aku sudah selesai makan dan kenyang.” Perut Natalie terdengar berbunyi. Ia merasa kikuk karena memang sebetulnya perutnya terasa lapar. Hanya saja ia merasa gengsi jika harus mengatakannya. Melihat Kevin melahap makanannya dengan nikmat membuat Natalie semakin lapar. Ia berharap Kevin akan memesankan makanan, tetapi kenyataannya tidak. “Aku mau pulang. Kalau kamu masih di sini silakan. Aku tidak melarangmu.” Kevin beranjak dan memanggil Waitress. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makananannya. Natalie masih belum percaya yang terjadi di depannya. Kevin pergi begitu saja dan meninggalkannya tanpa mengajaknya makan. Ah, bagi Natalie ini seperti pembodohan. Lelaki itu benar-benar tengah mempermainkannya. Gadis berambut cokelat itu merasa benar-benar bodoh. Bagaimana bisa ia dipermainkan. Padahal selama ini banyak lelaki yang selalu memohon kedanya. “Nasib sial!” Natalie menggerutu kesal. Gadis itu masih duduk di tempatnya. Ia melihat isi dompet yang terlihat menipis. Ia baru saja mengeluarkan kocek yang lumayan untuk membeli semua perlengkapan yang menunjang penampilannya. Hanya tersisa beberapa lembar berwarna biru untuk ongkos pulang dan biaya hidupnya beberapa hari ke depan. “Natalie?” Natalie terkejut saat seseorang datang menyapanya. Pria tampan yang menjadi atasannya itu tiba-tiba saja datang dan duduk di depannya. Semua terasa mimpi bisa bertemu dengan Andrew. Natalie berpikir mungkin mereka memang berjodoh. Bertemu di saat yang tepat. Seperti mendapat guyuran air hujan saat kemarau panjang melanda. “Kamu sudah makan?” Andrew duduk dan langsung memanggil waitress. "Pak Andrew kenapa ada di sini?” “Pak?” “Ah, iya, Andrew.” “Kebetulan lewat di sini dan perutku terasa lapar. Apa kamu mau menemaniku?” “Menemani?” Natalie memastikan pertanyaan Andrew. Ia tidak ingin terjebak dengan pertanyaannya. Perutnya makin tidak bisa diajak kompromi. Natalie tidak bisa menahan rasa laparnya. Cacing di perut mulai meronta-ronta meminta makanan. “Iya. “ “Hanya menemani, ya?” Natalie masih mengulang pertanyaannya. Andrew malah tertawa melihat ekspresi Natalie. Gadis itu terlihat bingung sendiri. Ia merasa terjebak dengan kondisi yang menyulitkannya. Ia merasa tidak mungkin mengatakan jika dirinya merasa lapar, tetapi perutnya memang terasa lapar. Ia hanya bisa pasrah saat Andrew memesan makanan dan Natalie hanya bisa melihatnya. Wanita itu masih saja menahan gengisnya untuk tidak terlihat memalukan. Ia tidak ingin Andrew melihatnya ilfeel saat melihat Natalie kelaparan. Setidaknya ia harus menahan perutnya dan akan balas dendam saat saat sampai di kost-an. “Ah, iya, Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?” Ucapan Andrew seketika mengusir rasa lapar Natalie. Ia masih belum percaya jik atasannya itu mengajaknya pulang bersama. Rasanya kesialannya bertemu dengan Kevin terbayar dengan hal yang indah. “Bagaimana?” Andrew memastikannya. Natalie belum memberi tanggapan. Wanita itu malah tersenyum dan terus saja memandangi Andrew. “Nath?!” “Ah, iya. Aku mau!” Natalie langsung menjawabnya tegas. Ia tidak ingin berbasa-basi di depan Andrew hingga membuatnya tidak mempunyai kesempatan untuk dekat dengan Andrew. Setidaknya kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. *** Pulang bersama Andrew membuat Natalie sangat senang. Wanita cantik itu terus saja membayangkan kebersamaan mereka. Seolah atasan barunya itu adalah lelaki sempurna yang harus ia dapatkan. Standarnya yang sangat tinggi untuk seorang lelaki membuat Natalie begitu terobsesi pada pria seperti Andrew. Bukan karena matrealistik, tetapi Natalie hanya berpikir realistis. Baginya hidup memang untuk bahagia, mempunyai materi yang cukup mampu membuatnya bahagia. “Awal yang sangat baik.” Natalie menaruh tas dan merebahkan tubuhnya. Wanita itu masih tersenyum mengingat kebersamaannya bersama Andrew. Secara tidak langsung Kevin telah memberi kesempatan Natalie bisa bertemu dengan Andrew. Wanita dengan gaya hdup modern seperti Natalie terkadang tidak ingin terlalu dalam mendalami perasaannya. Ia tidak ingin hatinya dipermainkan oleh lelaki manapun. Ia lebih cenderung mengejar, tetapi tidak ingin terikat serius. Natalie hanya ingin hidupnya tidak lebih buruk saat ayahnya meninggalkannya bersama sang ibu saat dulu. Ada rasa kecewa dan rasa kesal saat mengingat perlakuan ayahnya pada sang ibu yang telah tiada. Sejak saat itulah Natalie bertekad untuk tetap dapat bertahan hidup dalam keadaan apa pun. “Andrew adalah target selanjutnya!” Natalie beranjak dan mengambil paper note miliknya. Wanita itu duduk dan tersenyum. Sejuta rencana terlintas dan bersiap untuk beraksi. Menjadi bawahan Andrew cukup mudah untuk Natalie mendekati lelaki itu. Cincin yang melingkar di jari Andrew seakan tidak membawa pengaruh apa pun bagi Natalie. Setidaknya Natalie mempunyai kesempatan waktu yang lebih banyak bersama Andrew. Karena menurut Natalie dekat karena terbiasa. Apalagi rasa suka bisa tercipta bila mereka saling dekat satu sama lain. [Nath, jangan lupa besok berangkat lebih pagi.] Satu pesan dari Andrew. Natalie hanya tersenyum membacanya. Atasannya itu tampak begitu perhatian. Awal yang baik untuk memulai rencananya. [Semoga saja bisa bangun lebih awal.] [Pasti bisa. Aku yang akan membangunkanmu.] Membaca balasan dari Andrew membuat Natalie tersenyum sendiri. Semanis itukah pesan dari Andrew hingga membuatnya tersenyum sendiri. Pesonanya seolah kuat dan mampu menjerat atasannya. [Benarkah?] [Tentu.] [Aku pikir itu hanya sebuah alasan untuk mengintimidasi bawahanmu.] Andrew malah mengirim emoticon tertawa. [Ada yang lucu? Aku tidak sedang melawak.] [Tidurlah, kita ketemu besok. Aku akan menjemputmu.] Natalie semakin girang membaca balasan pesan terakhirnya. Tanpa ia meminta, Andrew akan menjemputnya besok. Sepertinya wanita itu akan bermimpi indah saat tidur. Membayangkan hal yang akan lebih menarik dan mengasikkan akan terjadi esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD