Tendangan

1105 Words
Setelah bangun tidur, Natalie bergegas merapikan tempat tidur dan bersiap-siap. Ia tidak ingin saat Andrew menjemput harus menunggu lama karena dirinya yang masih santai. Wanita itu tidak mau terlihat jelek dan mengecewakan di depan Andrew. Setidaknya Natalie harus tepat waktu agar Andrew menganggap dirinya salah satu karyawan yang mempunyai disiplin yang tinggi. Selesai memoles bibir tipisnya dengan lipstick berwarna cokelat. Natalie langsung mengambil stileto berwarna hitam untuk mempercantik kaki jenjangnya. Penampilannya sempurna, tubuh ramping dengan kaki jenjang tampak sangat menarik dengan memakai bawahan di atas lutut. [Aku sudah sampai.] Pesan dari Andrew masuk. Natalie langsung senang karena semua tepat waktu. Wanita itu langsung keluar dan melihat mobil Andrew terparkir beberapa meter dari tempatnya. Andrew langsung keluar pintu dan menyambut kedatangan Natalie. Lelaki itu langsung menampilkan senyum terbaiknya. Membuat hati Natalie semakin leleh. Wanita itu hanya tersenyum dan masuk ke dalam mobil saat Andrew membukakan pintu untuknya. “Sudah siap?” Andrew masih saja tersenyum melihat Natalie. Membuat bawahannya di kantor itu merasa percaya diri jika pria di sampingnya benar-benar telah tertarik padanya. Natalie hanya mengangguk. Ia tidak bisa berkata apa pun. Kalau bisa, Natalie hanya ingin salto untuk meluapkan rasa senangnya. Pagi hari yang sangat indah dan sempurna. Andrew datang menjemput dan lelaki itu terlihat sangat perhatian. Satu hal yang menjadi nilai plus bagi Natalie. Mereka sampai di gedung parkir bagian atas. Andrew mematikan mesin mobilnya dan membuka kuncian mobil. “Kamu masuk aja dulu. Nanti aku menyusul.” Andrew tersenyum dan semakin membuat hati Natalie leleh. “Kenapa enggak bareng?” “Aku masih harus bertemu teman. Kita ketemu lagi di ruang meeting. Jangan lupa siapkan semua keperluanku. Kamu hati-hati di jalan.” Natalie hanya menurut mendengar perintah Andrew. Wanita itu langsung keluar mobil dan masuk melalui pintu darurat yang tersedia. Sesekali Natalie menoleh dan melihat Andrew yang masih tersenyum kepadanya. Hati Natalie makin bersorak melihatnya. Ah, harinya pasti akan sangat menyenangkan. Wanita itu hanya mengulum senyum dan membayangkan hal menarik akan terjadi di antara mereka. “Nath!” Seseorang terdengar menyapa Natalie saat wanita itu menaiki tangga darurat. Natalie memicingkan matanya memastikan siapa pria yang memanggilnya. Wajahnya sangat tidak asing, tetapi Natalie benar-benar lupa siapa lelaki itu. “Kita kenal?” Natalie langsung bertanya. Melihat lelaki yang menyapanya hanya memakai seragam OB membuat Natalie sama sekali tidak tertarik untuk menyapanya. “Kita baru saja bertemu kemarin. Kamu lupa?” “Waktuku tidak terlalu banyak untuk mengingat semua orang.” Natalie terdengar ketus. “Aku Jordan. Kamu masih tidak mengingatku?” “Jordan?” Natalie masih berusaha mengingat. Wajahnya memang tampak tak asing. Hanya saja Natalie memang tidak ingin terlalu ingat dengannya. “Teman SMP di Surabaya. Dua hari lalu kita bertemu di halte depan. Kamu tidak ingat sama sekali?” “Ah, ingat. Jordan yang jadi OB sekarang, kan.” Natalie melihat penampilan Jordan dari atas sampai bawah. Ia sangat yakin jika seragam yang Jordan kenakan bukan seragam OB di tempat kantornya bekerja. “Iya.” “Kamu kerja di sini?” “Tidak, aku hanya mengantar dokumen penting milik bosku yang ketinggalan.” “Oh, sukurlah.” “Nath ... aku bisa ....” “Aku harus naik sekarang. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Belum sampai Jordan mengatakan sesuatu, Natalie langsung pergi. Wanita itu terlihat sama sekali tidak tertarik bertemu dengan teman lamanya. Ia hanya merasa tidak nyaman jika pria seperti Jordan tertarik kepadanya. Apalagi jika teman lamanya itu terlihat mempunyai harapan besar dengan Natalie sejak dulu. Natalie memilih menghindar dari pada menghabiskan waktu yang sama sekali tidak menguntungkannya. *** Natalie menyiapkan semua keperluan Andrew untuk meeting. Wanita itu terus saja tersenyum saat membayangkan atasannya yang selalu saja mengulur senyum kepadanya. Wanita itu masuk ruang meeting dan menata dokumen milik Andrew pada tempat bosnya. “Hai ....” Natalie terkejut ada suara yang menyapanya. Wanita itu pikir tidak ada siapapun di dalam ruangan. Ternyata ada Kevin yang duduk dengan senyum yang terurai. “Kamu ngapain di sini?!” tanya Natalie dengan ketus. Senyuman Kevin terlihat tampak menyebalkan bagi Natalie. Senyum muslihat yang bisa menjebaknya. Natalie masih kesal saat Kevin membiarkannya kelaparan di kafe kemarin. “Aku sudah bilang, kan, kita pasti akan bertemu lagi. Belajarlah untuk selalu mengingat wajah tampanku.” “Dasar hantu!” Natalie menggerutu kesal. “Aku memang hantu.” Kevin berdiri dan mendekati Natalie. “Aku adalah hantu yang akan selalu mengikutimu!” Kevin berbisik dan melempar senyum tipis. Ia sangat suka melihat Natalie yang terlihat tidak bisa berkutik jika berada di dekatnya. “Dasar gila! Menjauh dariku!” Natalie mendorong tubuh Kevin. Bukannya menjauh, Kevin malah menarik tangan Natalie hingga membuat wanita itu mendekat. Lelaki itu tersenyum mengisyaratkan kemenangan. “Aku pernah bilang. Kamu tidak akan bisa pergi dariku.” “Bagaimana aku bisa pergi? Kamu menarik tanganku.” “Kita hanya perlu waktu berdua untuk bisa lebih dekat.” “Berdua?” “Iya.” Kevin tersenyum tipis. Tangannya masih menarik pinggang Natalie dan tidak membiarkan wanita cantik di depannya lepas begitu saja. “Bagaimana kalau kita atur quality time. Hanya aku dan kamu.” “Kita?” “Iya. Kita.” “Baiklah.” Kevin tersenyum menang, akhirnya Natalie takluk dan mau menyetujui ajakannya. “Jangan harap!” Natali menginjak kaki Kevin menggunakan stiletonya dan menendang bagian sensitiv Kevin. Lelaki di depannya langsung melepas tangannya dan berteriak kesakitan. Natalie tertawa lebar dan mundur beberapa langkah. Ia puas melihat Kevin yang terus saja memegang area sensitivnya karena ulah Natalie. “Gadis gila!” “Itu setimpal dengan apa yang kamu lakukan padaku! Anggap saja itu satu ciuman mesra dariku." Natalie kembali duduk di tempatnya. Ia tidak ingin saat Andrew masuk melihat kejadian yang membuat bosnya akan salah paham dengannya. Setidaknya Natalie harus tetap menjaga dirinya terlihat anggun. Biarkan saja Kevin terlihat kesakitan. Asalkan Natalie tetap menjaga jarak dari lelaki tersebut. “Ish kamu memang gadis tidak waras!” Kevin masih kesal. Ia duduk dan melempar kekesalannya pada Natalie dari tempat duduknya. Kaki dan area sensitivnya masih terasa sakit. Natalie tidak tanggung menginjak dan menendang barang berharganya sebagai lelaki. Kevin tidak habis pikir jika kelelakiannya mendadak tidak berfungsi karena efek tendangan Natalie. “Kalau sampai terjadi sesuatu dengan aset berhargaku. Kamu harus tanggung jawab!” “Mau aku tambahin?” Natalie tersenyum mengejek. Ia membuka laptop di depannya sembari mengawasi pintu masuk jika Andrew datang tiba-tiba. “Aku jamin kamu satu-satunya wanitanya yang harus bertanggung jawab jika asetku tidak berfungsi dengan baik.” Natalie semakin tertawa mendengar racauan Kevin. Seorang lelaki tampan yang mendulang kesuksesan sebagai pengusaha EO tersukses di Bandung harus khawatir jika asetnya mendadak tidak berfungsi dengan baik. Tebersit ide nakal Natalie untuk semakin membuat Kevin jera untuk mempermainkannya. Wanita itu seolah tidak puas jika tidak mempermainkan seorang lelaki. “Baiklah. Aku tunggu kedatanganmu!” “Wow, kamu menantangku?!” Kevin melepas tangannya dari bagian sensitivnya. Ia terhenyak mendengar tawaran Natalie. Hal itu terdengar sangat menarik baginya. “Tawaranku tidak datang kedua kalinya.” “Aku yang tentuin tempatnya.” Kevin memberi penawaran. Ia tidak ingin terkena tipu muslihat Natalie. “Tentukan saja. Toh aku hanya memastikan jika asetmu itu bisa berfungsi dengan baik.” Kevin tersenyum licik. Entah apa yang dipikrkan. Yang jelas satu malam panas akan terlintas dalam pikirannya. “Deal?” “Deal!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD