Natalie masih membayangkan bagiamana ekspresi Kevin saat mendapat tendangan darinya. Wanita itu merasa puas telah memberi pelajaran pada Kevin. Ia berharap lelaki itu tidak akan berbuat semakin kurang ajar kepadanya. Beberapa kali mendapat ciuman mendadak dari Kevin membuat Natalie semakin kesal. Lelaki itu dengan sengaja menciumnya saat dirinya lengah.
“Nantikan saja apa yang akan aku lakukan nanti malam.” Natalie tersenyum tipis. Ia masih memandang wajah Kevin dari seberang.
Saat Andrew memimpin jalannya meeting, Natalie merasa puas bisa mengejek Kevin dari kejauhan. Sedangkan lelaki itu hanya bisa terdiam dan tidak bereksepresi. Ia terlihat masih merasakan sakit yang berlebih akibat tendangan Natalie.
Kevin tidak terlihat banyak bicara. Ia menyetujui semua konsep yang diberikan Andrew untuk event launching produk terbaru yang akan diselenggarakan di puncak. Kevin tidak merubah sedikitpun konsep yang diminta dari pihak perusahaan Kevin. Event launching produk baru perusahaan tempat Andrew bekerja dipegang oleh EO milik Kevin. Yang berarti lelaki itu akan lebih sering mengunjungi Andrew dan otomatis Natalie akan bertemu dengannya setiap saat.
Akhirnya keptusan final didapat. Andrew dan Kevin akan mulai mempersiapkan event secepatnya. Mereka akan mengatur jadwal untuk mensurvey lokasi di puncak. Kevin terlihat tersenyum menang dengan agenda yang Andrew tawarkan. Ia hanya mengangguk dan menyetujuinya. Toh, semua itu sama sekali tidak merugikannya. Kevin tetap dapat keuntungan lebih dalam proyek barunya.
“Nath, kamu siapkan semua keperluan kita besok.” Andrew mendekati Natalie saat meeting telah usai. Hanya tinggal Andrew, Natalie dan Kevin.
“Besok?”
“Iya, besok kita akan langsung ke puncak untuk mensurvey lokasi event launching.” Andrew merapikan laptop di depannya. Lelaki berkulit putih itu merasa ada yang aneh antara Kevin dan sekretarisnya. “Apa terjadi sesuatu antara kalian berdua?”
“Tanyakan saja pada sekretaris barumu itu.” Kevin masih menahan rasa sakitnya.
“Aku tidak sengaja.” Natalie menimpalinya.
Andrew hanya memicingkan matanya mendegar mereka. Lelaki itu kembali melihat Kevin dengan ekspresi yang berbeda. Ia sangat paham dengan karakter kevin. Lelaki yang selalu mendekati wanita cantik dan selalu menggodanya. Hal itu seolah telah melekat pada diri Kevin. Menjadi seorang playboy saat masih kuliah membuat Kevin tidak pernah menjalin hubungan serius dengan siapapun meskipun Kevin telah memiliki seorang kekasih.
Status hubungannya seolah tidak berpengaruh dengan keinginannya untuk selalu mengajak berkencan gadis lajang lainnya.
“Nath, kamu cari referensi penginapan untuk besok. Jangan lupa siapkan beberapa dokumen yang harus kita ajukan ke bagian keuangan untuk acara besok.” Andrew memberi kode pada Natalie untuk segera kembali ke ruangannya.
Wanita berkulit kuning langsat itu menyetujuinya. Lagi pula ia merasa tidak nyaman dengan pandangan Kevin yang terlihat menagih janjinya. Natalie harus memutar otak untuk membuat Kevin jera karena telah menggaggunya. Ia berharap lelaki itu akan berhenti mengejarnya karena Natalie sama sekali tidak tertarik dengan Kevin. Baginya Andrew Seribu persen lebih menarik dari sosok Kevin yang pernah membuatnya terkesima saat bertemu pertama kali.
“Kenapa kamu menyuruhnya keluar?” Kevin terdnegar protes. Ia merasa Andrew sangat tidak adil padanya.
“Katakan padaku apa yang telah kamu lakukan pada Sekretaris baruku?”
Bukannya menjawab, Kevin malah tetawa lebar. Lelaki itu terlihat begitu tenang.
“Aku hanya ingin bermain dengannya, tidak lebih!”
“Kevin ... jangan menakut-nakuti Natalie. Aku tidak ingin dia ketakutan karena ulahmu.”
“Takut?” Kevin seolah protes.
“Iya, aku enggak mau dia resign karena ulahmu.”
Perkataan Andrew tiba-tiba terasa sumbang. Ia merasa teman dekatnya itu menyembunyikan sesuatu. Ia terdengar membela Natalie. Padahal sebelumnya Andrew tidak begitu peduli dengan yang namanya wanita. Apalagi sekretarisnya, Andrew terkenal dingin dan cuek pada sekretarisnya. Hal itu membuat sekretaris lamanya resign karena tidak betah bekerja dengan Andrew. Hanya Natalie lah yang menganggap Adrew bak malaikat.
“Sejak kapan kamu jadi peduli dengan wanita?” Kevin menatap curiga. “Kamu suka sama gadis aneh itu?” Kevin makin mendesak teman dekatnya.
“Ah, jangan ngelantur.Aku hanya tidak ingin berganti sekretaris. Pekerjaannya sangat bagus. Rapi dan teliti.”
“Yakin?”
“Yakinlah. Aku masih setia.”
“Enggak usah bohpng! Lagian kalau kamu tertarik tidak ada salahnya. Aku hanya penasaran sama sekretarismu. Dia itu terlalu jual mahal. Padahal dia itu enggak mau melepas lelaki kaya yang mendekatinya.”
“Apa pun itu enggak usah ganggu dia.” Andrew kembali mengingatkan Kevin.
“Ha ha ha ha Andrew, fix kamu emang tertatrik ama dia. Kamu kalah start. Aku udah duluan merasakan bibir tipisnya itu. Lumayan manis rasanya. Dan aku pikir dia seperti lainnya, sebentar lagi akan takluk di depanku, Seperti wanita lainnya.” Kevin tersenyum tipis. Membayangkan apa yang akan terjadi diantara mereka selanjutnya.
Tidak sulit bagi Kevin untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap Natalie. Apa lagi Natalie sendiri yang memutuskan akan bertemu dengannya setelah pulang kerja. Dia hanya butuh sedikit taktik untuk membuat Natalie masuk ke dalam perangkapnya.
***
Seusai jam kerja Natalie langsung merapikan mejanya. Ia langsung pulang tanpa berpamitan dengan Andrew yang masih saja betah di dalam ruangannya. Lelaki itu tampak begitu serius setelah selesai meeting. Natalie sendiri takut untuk bertemu dengan atasannya.
Lelaki itu tiba-tiba saja terlihat tidak peduli. Tatapannya yang biasanya terasa teduh dan perhatian berubah. Natalie tidak tahu apa yang telah terjadi. Ia merasa sungkan menemui Andrew. Ia memutuskan mengirim beberapa review gambar lewat surel agar Andrew segera bisa memutuskan penginapan mana yang akan dipilih besok.
Mendekati akhir pekan membuat beberapa penginapan di puncak penuh. Natalie harus mengejar jawaban Andrew dan memastikannya agar dia memesannya dari sekarang.
Setelah mendapat jawaban dari Andrew lewat surel, Natalie langsung menyelesaikan pekerjaannya dan mengatur jadwal Andrew di puncak saat mensurvey beberapa lokasi. Tidak lupa ia telah mengirim dokumen ke bagian keuangan agar besok mereka bisa segera berangkat setelah permintaannya disetujui. Wanita itu merasa pekerjaannya begitu menyenangkan. Tidak ada hal yang membuatnya ragu untuk setiap kali mengambil keputusan.
“Kamu sudah siap?” Tiba-tiba saja Kevin muncul di depan Natalie.
Wanita itu langsung terkejut dan mundur beberapa langkah saat melewati tangga darurat. Natalie sengaja melewati tangga darurat. Ia sengaja bersembunyi dari Kevin, tetapi lelaki itu masih saja menemukannya.
“Kamu mau ke mana?”
“Pulang!”
“Pulang? Baiklah ayo kita pulang sekarang.” Kevin langsung menarik tangan Natalie menuruni tangga. Lelaki itu dengan erat menarik tangan wanita di belakangnya.
Natalie hanya bisa diam melihat Kevin membawanya pergi. Ia masih memikirkan cara bagaimana dirinya mengatasi Kevin. Ia sangat yakin jika lelaki mature itu mempunyai fantasi liar saat bersamanya. Apalagi setelah kejadian di ruang meeting. Kevin pasti meminta pertanggungjawabannya.
“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Natalie saat mereka tiba di depan mobil Kevin.
Natalie merasa lelaki di depannya ini sangat gesit dan selalu berada di mana saja. Ia merasa nasibnya bisa berakhir di tangan Kevin jika sampai salah langkah.
“Kita ke apartemenku.”
“Weiy... ngapain ke sana?”
“Bukannya kamu ingin membuktikan asetku masih berfungsi dengan baik?” Kevin berbalik dan tersenyum usil.
Natalie langsung bergidik ngeri membayangkan apa yang akan Kevin lakukan padanya.Setidaknya Natalie bisa berpikir waras tidak akan terjebak dengan lelaki seperti Kevin.
“Santai saja, Aku tidak akan terburu-buru. Kita nikmati saja apa yang terjadi.”
Natalie makin ketakutan. Kevin terlihat sangat serius dengan perkataannya.
“Kamu bercanda, kan?”
“Apa aku terlihat bercanda?”