Samar-samar aku mendenga, suara beberapa orang sedang bercakap-cakap disekelilingku. “Kau memang tidak bisa melakukannya.”
“Aku bisa, hanya tidak ingin melakukannya saja.” Terdengar suara Ginny.
“Kau melakukannya seperti ini.” Itu suara Asyira, dan terdengar suara tawa.
Aku membuka mataku yang terasa lengket ini perlahan, mencoba beradaptasi dengan cahaya sekitar yang membutakan untuk sesaat. Aku mengerjap pelan, menghilangkan cahaya-cahaya hijau yang menutupi penglihatanku. Setelah pandanganku jernih, aku bisa melihat beberapa orang sedang duduk mengelilingi ranjangku.
“Hai guys.” Suaraku terdengar serak, aku berdeham membersihkan tenggorokanku. “Apa kabar?” masih terdengar serak.
Semuanya langsung berhenti tertawa dan melihat kearahku. “Liz?” suara Asyira naik satu oktaf.
“Kupikir kau tidak akan bangun lagi.” Kata Ginny, aku memutar mataku.
“Aku membawakanmu beberapa pelajaran yang kau tinggalkan.” Renee memberikan tumpukan kertas tebal.
“Aku mengharapkan makanan sih,” aku mengambil buku-buku itu dari tangan Renee, “tapi ini juga boleh. Thanks Ren.” Aku menaruh buku-buku itu disampingku, yang kemungkinan baru k****a beberapa menit sebelum tidur.
“Makanan juga ada.” Noah memberikan satu buah kotak alumunium voil ukuran sedang, aroma sedapnya langsung tercium olehku. “Ini macaroni, kau suka kan?”
“Aku suka, taruh saja di meja.” Kataku senang.
“Tadi malam aku tidak bisa tidur tahu, aku khawatir sekali.” Kata Asyira.
“Suasana di kamar jadi berbeda tanpamu, sampai kapan kau harus disini?” tanya Renee.
“Entahlah, mungkin tiga hari, bisa lebih bisa kurang.” Jawabku asal.
“Kita hanya bisa menjengukmu saat makan siang atau sebelum jam tidur malam, maaf ya kami tidak bisa menemanimu terus.” Kata Megan tampak menyesal.
“Kau pasti sangat kesepian disini, sendirian, tidak ada teman mengobrol atau bercanda.” Kata Renee, menepuk-nepuk bahuku pelan.
Sebenarnya tidak juga, tadi malam cukup menyenangkan juga dengan Aldo. Tapi dimana dia sekarang?
“Tapi kau terlihat benar-benar mengerikan Liz.” Kata Ginny, “Anna bilang kau gegar otak dan mungkin lupa ingatan.”
“Kau mendengarkan Anna?” tanya Asyira, memutar matanya.
“Kepalaku memang agak sakit sih, tapi yang jelas aku tidak lupa ingatan. Yang parah hanya kakiku.” Kataku, menyibakan selimut yang menutupi kakiku.
“Woah!” Megan langsung menyentuh gipsku. “Boleh kutandatangani ini?” tanyanya.
Aku tertawa. “Silahkan saja.”
Megan mengambil pulpen dari saku Renee dan mulai menuliskan tanda tangannya, Ginny juga ikut-ikutan.
Lalu ada beberapa teman lagi yang datang, Lily, Emilly dan Colin. Lily membawakanku jus alpukat, kesukaanku. Aku langsung menegaknya sampai habis saat itu juga.
“Emily menceritakanku, bagaimana kau dihabisi Sam kemarin. Apa kau masih ingat aku?” tanya Lily.
“Tentu saja aku ingat denganmu Ly.” Kataku.
“Anna?” tanya Ginny.
Lily menggeleng, “Alex.”
“Astaga, mereka berdua kan sama saja.” Asyira kesal.
Aku hanya bisa tertawa mendengar tentang gosip diriku. “Kalian tidak makan siang?” tanyaku.
“Sudah tadi.” Jawab Emily.
“Aku heran denganmu Liz, setiap kali pelajaran bertarung, kau pasti yang mendapat luka paling parah. Itu hobymu ya?” tanya Asyira.
“Bukan, hobyku itu masuk ruang perawatan.” Candaku, tapi tidak ada yang tertawa.
“Kuharap akhir pekan ini kau sudah bisa keluar, karena kita diijinkan untuk keluar.” Kata Renee.
“Benarkah?” tanyaku, kelewat senang.
Renee mengangguk antusias. “Kita bisa ke mall, nonton film.”
“Belanja!” teriak Emily.
Asyira melihat arlojinya. “Jam makan siang sudah hampir habis, kita masih ada kelas.” Katanya.
Mereka semua bergantian memelukku dan akhirnya pergi, kecuali Noah. Dia yang daritadi hanya diam saja, tidak ikut tertawa saat kami tertawa. “Kau tidak pergi?” tanyaku.
“Kurasa aku akan membolos saja, aku ingin disini.” Katanya.
“Tidak perlu, pergi sana. Aku tidak mau nilaimu D karena aku.” Aku mendorong-dorongnya tapi Noah bergeming.
“Aku ingin mengawasimu terus Liz. Semalaman aku tidak bisa tidur, sedetikpun tidak. Setidaknya sekarang, izinkan aku melihatmu selama beberapa saat, memastikan kau akan baik-baik saja sehingga aku bisa tidur.” Katanya, benar-benar memohon.
“Kau ini terlalu menghawatirkanku, kau harus menghentikannya sebelum merusak dirimu sendiri. Aku baik-baik saja, hanya patah tulang, memar yang banyak, tulang hidung bergeser, dan kemungkinan gegar otak.” Kataku, dan Noah hanya melotot ngeri. “Aku membuatnya semakin buruk ya?”
“Aku akan disini saja.” Kata Noah, semakin yakin.
“Tidak, kau harus pergi dan masuk kelas.” Kataku, lebih mendesaknya lagi.
“Siapa peduli dengan pelajaran, aku hanya perduli padamu.” Katanya.
“Liz benar, kau harus pergi sekarang.” Aldo muncul entah darimana dan sejak kapan dia sudah berdiri di ambang pintu ruang perawatan?
Aldo berjalan kearahku dengan langkahnya yang santai dan dengan perawakannya yang dingin, matanya sesekali melirik kearahku. Dia berdiri disamping ranjangku, berhadapan dengan Noah. “Aku tidak perduli kalaupun kau mengusirku, aku akan tetap disini.” Kata Noah, yang kembali duduk dikursinya sambil melipat tangannya didepan dadanya.
“Aku akan mengeluarkanmu dari kelas lapangan kalau kau tidak masuk kelas sekarang juga.” Bentak Aldo.
Noah yang baru saja duduk langsung berdiri lagi. “Itu tidak adil.”
“Kau tidak bisa mengeluarkan murid sembarangan.” Kataku, takut mendengar ancaman Aldo walau tidak tertuju padaku.
“Tentu saja aku bisa, sekarang pergilah.” Usir Aldo.
Noah menatap Aldo dengan tatapan tidak percaya sebelum dia akhirnya mencium keningku cukup lama, “Lekas sembuh Liz.” lalu dia melangkah pergi.
Saat kurasa Noah sudah benar-benar cukup jauh, aku memarahi Aldo. “Kau tidak bisa bertindak sewenang-wenang, akan kuaduka pada Rob.”
Aldo menyeret sebuah kursi menimbulkan decitan yang membuat ngilu lalu dia duduk bersandar, tangannya di taruh dibelakang kepalanya. “Laporkan saja, lagipula aku benar. Dia tidak bolos membolos kelas.”
“Setidaknya kau bisa memberikan sedikit kelonggaran padanya, dia kan hendak menjaga orang sakit.” Kataku.
“Dia bukan perawat.”
“Kau juga bukan, lalu kenapa kau terus datang kesini? Kau tidak mengajar?” cecarku.
“Aku kosong,” dia memajukan kursinya semakin dekat dengan ranjangku. “Jadi aku bisa disini selama yang aku inginkan.”
Aku memutar tubuhku, memunggunginya. “Aku masih tidak suka kau membentak Noah.”
“Oh ayolah Liz,” Aldo mencoba memutar kembali tubuhku, tapi aku bergeming. “Oke aku minta maaf.”
“Jangan katakan padaku.” Kataku, masih merajuk.
“Kau ingin aku mengatakan padanya langsung?” tanyanya tidak percaya.
“Tentu saja.”
“Akan jadi aneh sekali kalau cowok minta maaf pada cowok, dia bisa mengira aku homo.” Kata Aldo.
Mau tidak mau aku tertawa. “Dia tidak akan menganggapmu begitu.” Aku memutar tubuhku kembali menghadapku.
“Kau saja yang sampaikan, mau kan?” tanyanya.
“Baiklah, tapi aku akan meminta imbalan untuk ini.”
“Dasar. Apa?”
“Aku belum tahu apa, masih kupikirkan.” Jawabku.
Aldo mengambil sesuatu dari meja. “Apa ini?” dia membuka sebuah penutup dari kotak alumunium voil. “Makaroni?” Aldo mencium aromanya. “Dari siapa?” tanyanya.
“Noah.” Jawabku.
“Kau pasti belum makan.” Dia menyendok macaroninya. “Mau kusuapi?”
Aku melihat keadaan sekitar. “Bagaimana kalau ada yang melihat?”
“Kau kan sedang sakit, jadi wajar kalau seorang guru menjaga muridnya.” Katanya, mengarahkan sendok yang penuh dengan macaroni itu kemulutku. Aku menyuap macaroninya, mengunyahnya sebentar lalu menelannya.
Rasanya lezat sekali. “Bantu aku duduk.” Kataku. Aldo menaruh macaroni di meja kecil lalu membantuku, menahan punggungku dan memegangi lenganku. Aku mengambil macaroni yang Aldo taruh tadi, memakannya dengan tanganku sendiri. “Kau sudah makan?” tanyaku sambil mengunyah.
“Sudah.” Jawabnya singkat. Aldo mengambil tumpukan buku yang kutaruh disamping tubuhku. Aldo terkekeh saat membaca tumpukan buku itu. “Siapa yang sebaik ini padamu, Noah lagi?”
“Tidak, itu dari Renee.” Jawabku, Aldo hanya mengangguk.
“Apa kau akan membaca ini semua?” tanyanya.
Aku mengangkat bahuku enteng, “Mungkin saja.”
“Aku meragukan itu.” Dia membuka salah satu buku dari kelas etitude yang sudah ditandai beberapa bagian oleh Renee. “Mau kubacakan?” tanyanya.
“Kenapa kau jadi baik seperti ini?” tanyaku heran.
Aldo menghiraukanku dan mulai membaca bukunya, suaranya yang berat namun lembut entah mengapa menenangkan. Aku mendengarkannya dengan seksama, sekaligus mencoba mengingat pelajarannya juga. Di satu sisi bagian otakku yang lain, aku memandangi Aldo. Seperti bagaimana bibirnya saling bergesekan setiap kali dia bicara atau matanya yang setiap berapa detik selalu melirikku.
Waktu berlalu cepat, kami sudah menghabiskan dua buku tebal. Ketika Aldo ingin membuka buku ketiga, aku menghentikannya. “Hentikan saja, kepalaku mulai pusing dengan pelajaran ini.”
Aldo menaruh buku ketiga keatas meja. “Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak. “Ceritakan misi-misi yang pernah kau lakukan.”
“Aku bisa saja menceritakannya, tapi setelah itu aku harus membunuhmu.” Aldo mengatakan itu dengan ekspresi seriusnya.
“Kau bersungguh-sungguh?” tanyaku takut. Aku tidak ingin kehilangan nyawaku sendiri hanya untuk mendengar cerita Aldo, akan kedengaran konyol nanti. Apa yang akan ditulis diberita sekolah, ‘Siswi dibunuh disekolah oleh gurunya sendiri hanya karena penasaran.’ Sama sekali tidak bagus.
Aldo tertawa kencang-kencang. “Kau percaya?” Aldo tertawa lagi. “Astaga, kau benar-benar mempercayainya.”
Aku mengumpat, memukul kepalanya. “Wajahmu sungguh meyakinkan tahu.”
Aldo mencoba menstabilkan suaranya. “Aku ini mata-mata, aku harus pandai berbohong.” Masih saja terkekeh.
“Ceritakan saja cepat.” Kataku jengkel.
Aldo mengatur napasnya sebentar. “Darimana aku harus memulainya,” Aldo tampak berpikir sebentar. “Misi pertamaku hanya tingkat C, tidak terlalu sulit. Aku hanya harus menemukan arsip perusahaan yang diduga berkomplot dengan pedagang senjata ilegal.”
“Apa berhasil?” tanyaku.
“Tentu saja, itu mudah untukku. Setelah berhasil di beberapa misi tingkat C, aku mulai mendapatkan misi tingkat B. Di misi tingkat B, aku harus melumpuhkan beberapa penjaga atau pengawal pribadi.” Jelas Aldo, dia menggerak-gerakan tanggannya seperti sedang mematahkan leher seseorang. “Aku mendapat luka tembak pertamaku.”dia membuka kancing kemejanya, menunjukan tanda merah yang tampak sedikit berkerut di perutnya.
Jemariku menyentuh luka itu, menekannya sedikit. “Sakit?” tanyaku.
Aldo menggeleng. “Sudah tidak terasa apapun sekarang, kejadiannya memang sudah lama tapi bekas lukanya tidak juga mau hilang.” Katanya. “Itu bagus, luka ini mengingatkanku untuk berhati-hati.”
“Apa saat itu kau merasa kesakitan?”
Aldo mengancingkan kembali kemejanya. “Sedikit. Saat itu aku sedang mengejar satu pria, dan aku harus tetap berlari dengan luka tembak ini.”
Aku merinding ngeri. “Terdengar sangat menyakitkan. Kenapa kau tidak menyerah saja?”
“Waktu itu memang sempat terlintas dipikiranku, aku ingin duduk dan beristirahat saja. Tapi kupikir-pikir lagi, aku sudah sejauh ini dan hampir menyelesaikan misiku. Aku tidak akan menyerah hanya dengan satu peluru.” Katanya, tangannya terpaku pada satu kancing yang belum dia kancingkan.
“Kau pernah mendapatkan misi tingkat A?” tanyaku, mengalihkan dari cerita Aldo yang menyakitkan yang kutakutkan akan menciutkan nyaliku menjadi mata-mata.
“Banyak. Salah satunya menjaga kau tetap hidup.” Katanya. “Juga keluargamu.” Tambahnya.
“Selain itu?” tanyaku, masih saja penasaran.
“Aku pernah harus melindungi presiden America dari agen Secret Service yang ternyata membelot, menyusup ke sebuah pesawat sipil hanya untuk membawa pergi seseorang yang ingin menyebarkan sebuah virus, menyamar jadi bos mafia. Masih banyak lagi, kau mungkin akan bosan mendengarnya.” Kata Aldo dengan nada bangga. Kalau aku jadi Aldo, aku pasti juga akan bangga. Aldo sudah punya banyak sekali pengalaman, tapi ada satu hal yang selalu ingin kuketahui.
“Sudah berapa banyak orang yang kau bunuh?”
Aldo terdiam sejenak, ekspresinya berubah-ubah. “Banyak, aku tidak sempat menghitungnya saat aku menembak mereka atau menusuk atau menabraknya mobil.”
“Kau tidak merasa bersalah setelah itu?” tanyaku.
“Mereka penjahat.” Aldo menghembuskan napas berat. “Aku mencoba menghilangkan rasa bersalah itu.”
“Apa mereka benar-benar harus mati?”
Aldo diam, lalu mengeryit kesal. “Kau mau membuatku merasa bersalah terus?”
“Baiklah maafkan aku, toh nantinya aku juga harus melakukan hal yang sama seperti itu.” Aku mengangkat bahuku ringan. “Itu kalau aku mereka belum membunuhku lebih dulu.”
Aldo terkekeh ringan, tapi dimatanya ada ketakutan saat mendengar apa yang baru saja kukatakan. “Kau tidak akan mati dilapangan, aku tidak akan membiarkannya.” Katanya. Aku tidak bisa lega mendengar perkataan Aldo, itu semua tidak pasti. Tapi aku senang dia perduli denganku.
“Apa menurutmu aku bisa lulus dengan nilai yang bagus?” tanyaku penasaran. Sebenarnya aku tidak berharap yang muluk-muluk, karena sebagus apapun nilaiku itu tidak penting. Aku hanya ingin bisa lulus dari sini sebagai mata-mata yang hebat.
“Tentu saja, kau punya bakat. Ingat saat kau mencoba menyelinap keruang perlengkapan bersama teman-temanmu?” Tanya Aldo, senyumnya terkembang dan terlihat terkesan. “Itu cukup hebat untuk pemula. Tidak ada yang berani melanggar peraturan berat disini selain kalian.”
“Benarkah? Apakah disini melanggar peraturan adalan hal yang patut dibanggangkan?” aku memutar mataku. “Guru macam apa kau ini?”
“Didunia mata-mata, itu memang sesuatu yang patut dibanggakan.” Katanya. Aldo berdeham, “Liz, aku mendengar gosip.” Katanya.
“Kau seperti ibu-ibu.” Ledekku.
Aldo mendengus kesal. “Katanya kau habis mengerjai Anzor, benar?”
Aku kesulitan mencari kata-kata. “Aku mengerjai Anzor untuk membalas Sam.” Jelasku.
“Bagaimana caranya?” tanya Aldo.
Aku menceritakan apa yang aku dan teman-temanku lakukan, tentang misi tidak resmi yang kami buat sendiri. Ekspresi Aldo saat mendengarkannya juga berubah-ubah, mulai dari penasaran, tidak percaya, kaget sampai terkesan.
“Kalau aku jadi Sam, mungkin aku sudah meledakkan kepalamu Liz.” kata Aldo lagi. “ Itu cukup jahat.”
“Menurutku tidak jahat, itu cedik namanya. Seharusnya aku mendapat nilai tambah untuk itu.” Kataku, merasa bangga atas kejahatan yang kulakukan. Aku merasa mulai jadi cewek yang tidak baik disini.
“Itu sebabnya kau ikut pesta dikamar Anzor?” tanyanya.
Aku mengangguk. “Dan saat itu kau menganggapku cewek murahan, ingat?”
Aldo melihat kearah lain, “Well, maaf tentang itu.” Aldo menggigit bibir bawahnya. “Apa karena itu juga rokmu menjadi lebih pendek?”
Wajahku memanas mengetahui fakta Aldo memperhatikannya juga. “Ya, itu ide teman-temanku. Sungguh, aku tidak merencanakan hal itu sebenarnya.” Berani sumpah aku melihat semburat kemerahan dari pipi Aldo. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyaku.
Aldo seperti orang yang ketangkap basah, dia tertawa canggung. “Memikirkan apa yang cowok-cowok pikirkan.” Aldo terlihat ragu-ragu, “ehm, kurasa kau harus mengganti roknya dengan yang sedikit lebih panjang lagi Liz.”
“Dasar mesum.” Aku mengangguk. “Akan kulakukan.”
“Tapi ka-“ kata-kata Aldo terpotong dengan suara langkah kaki yang memasuki ruangan. Anzor dengan langkah beratnya masuk keruang perawatan, sendirian. Dia berjalan kearahku, dan sedikit terkejut ketika mendapati Aldo ada disini juga.
“Hai Liz, bagaimana keadaanmu?” tanya Anzor yang berdiri disamping Aldo
“Membaik.” Aku tersenyum. “Terimakasih sudah mau repot-repot menjengukku.”
“Tidak masalah,” Anzor menggaruk-garuk lengannya. “Aku kesini untuk mengatakan maaf atas nama Sam.”
Aku terpekik kaget. Sungguh, aku tidak menyangka Anzor mau repot-repot melakukan ini. “Kau melakukan ini demi dia?” tanyaku.
“Tidak juga. Aku kesini juga untuk melihat keadaanmu, mereka bilang kau-“ aku memotong kata-katanya karena aku tahu apa yang akan dia katakan.
“Lupa ingatan?” aku mengumpat kecil. “Bisa tolong aku?” tanyaku. Anzor mengangguk menyanggupi, “Tolong katakan pada semuanya, aku tidak lupa ingatan.”
Anzor tertawa. “Baiklah.” Katanya.
Lalu terdengar langkah kaki lagi yang memasuki ruang perawatan, Noah masuk dengan langkah cepat-cepat. “Apa yang dia lakukan disini?” tanya Noah terang-terangan, yang ditujukan pada Anzor.
“Dia hanya ingin menjengukku.” Kataku.
“Sungguh? Aku tidak terlalu yakin. Mungkin dia kesini untuk menyabotase sesuatu yang disuruh Sam.” Kata Noah, aku memelototinya agar berhenti mengoceh yang tidak-tidak tentang Anzor. Aku jadi tidak enak pada Anzor, terlebih atas apa yang sudah kulakukan padanya tapi dia masih ingin menjengukku disaat aku sakit.
“Anzor,” panggilku. “Maaf atas perbuatanku padamu. Aku tahu yang kulakukan itu sulit untuk dimaafkan, tapi aku akan tetap meminta maaf. Kau mau memaafkanku?”
Anzor hanya diam, aku sudah menyiapkan diriku atas penolakannya. Tapi tidak, Anzor mengangguk dan tersenyum. “Kau tidak perlu minta maaf. Aku yang bodoh karena mengira kau benar-benar jatuh cinta padaku.” Dia terlihat sedih tapi masih bisa memaksakan senyumnya.
“Oh astaga Anzor, jangan katakan itu.” Kataku, semakin merasa bersalah. “Apa yang bisa kulakukan untuk menebusnya?”
“Hei, Liz, apa yang kau bicarakan?” Noah terdengar tidak setuju.
“Noah benar, apa yang kau bicarakan?” bisik Aldo.
“Diamlah.” Kataku.
“Bagaimana kalau dia meminta kau menjadi kekasihnya?” desis Noah gregetan.
Aku bergeming, menulikan telinga dengan perkataan Noah dan Aldo. Aku menunggu suara Anzor dengan perasaan campur aduk. Anzor hanya memandangiku dengan tatapannya yang sendu itu, senyumnya menghilang. Mungkin dia tersinggung dengan perkataan Noah atau Aldo. Kalau Anzor memang tersinggung dan marah lagi padaku, aku akan menendangi b****g mereka berdua.
“Aku hanya ingin kau cepat sembuh.” Kata Anzor. Sesuatu yang tidak kuduga untuk dia katakan sebelumnya. Bukan aku saja yang terkejut, Aldo juga terkejut. Hanya Noah yang kelihatannya jengkel, dia mengertakan giginya.
“Terimakasih.” Kataku.
Diambang pintu masuk, banyak teman-temanku yang mulai melewati pintunya. Anzor menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang. “Kurasa aku harus pergi sekarang.” Katanya.
“Tidak perlu pergi, kau boleh disini kalau mau.” Kataku.
“Tidak apa,” dia menambahkan senyumnya lagi. “Lekas sembuh Liz.” katanya, lalu berjalan keluar saat teman-temanku yang lain mulai mengerubungi ranjangku.
“Untuk apa dia kesini?” bisik Megan.
“Menjengukku.” Aku balas berbisik.
“Hai Mr. Masen.” Kata Renee, canggung. Aldo hanya mengangguk dingin, itu malah membuat suasana semakin canggung. Kau tidak bisa bercanda dengan bebas kalau ada gurumu yang ikut berkumpul juga bersamamu, terutama kalau guru itu adalah guru tampan yang idolakan semua murid cewek disini. Jade, Emily dan Irina tidak bisa menyembunyikan perasaan senang mereka bisa sedekat ini dengan Aldo. Bahkan Zoe sibuk merapihkan rambutnya.
Kurasa Aldo juga merasakan hal canggung itu. “Aku akan makan malam sebentar dan kembali lagi nanti,” Aldo bangun dari kursinya. “Kau tidak apa aku tinggal Liz?” tanyanya.
“Tidak apa, terimakasih sudah mau menemaniku tadi Mr. Masen.” Kataku, berusaha bicara seformal mungkin didepan teman-temanku yang lain.
Aldo akhirnya berjalan keluar dari ruang perawatan dengan tangan dimasukan kedalam saku celana. Saat Aldo benar-benar sudah keluar, Irina menjerit girang. “Dia benar-benar keren.”
“Kau lihat caranya berjalan tadi,” Zoe meletakan tangannya dikepalanya. “Kurasa aku akan pingsan.”
“Aku bisa mencium aroma parfumnya dari sini,” kata Lily sambil mengigit bibirnya.
“Bagaimana bisa dia menemanimu disini?” jerit Jade. “Apa aku perlu babak belur dulu untuk bisa ditemani dia?”
“Aku akan pura-pura sakit nanti.” Kata Emily, memainkan alisnya.
“Apa saja yang kalian bicarakan tadi?” tanya Ginny, dan semuanya memandangku.
“Tidak banyak, hanya pembicaraan biasa saja, tidak ada yang menarik.” Ocehku.
Jade mencebik tidak percaya. “Tidak mau cerita? Tidak apa.”
“Apa yang dilihat mereka darinya, dia hanya guru.” Kata Edward, jelas sekali dia iri.
Taylor mencontohkan cara berjalan Aldo dengan dilebih-lebihkan. “Lihat, aku Mr. Masen. Aku adalah guru tertampan disini.” Dia berlenggak-lenggok seperti model. “Lihat aku, lihat aku.” Kami semua tertawa melihat tingkahnya.
Selama beberapa jam teman-temanku disini, kami selalu tertawa. Entah itu karena lelucon Taylor atau Logan, atau karena cerita-cerita lucu Colin dan Ricardo saat di kelas teknologi. Sampai tiba perawat datang, memeriksaku sekaligus memberikan obat anti rasa sakit yang ditambah obat tidur.
Saat perawatnya pergi, Aldo datang. Mendadak suara tawa Logan yang membahana berhenti. “Kalian sudah harus masuk keasrama sekarang.”
“Tapi kami ingin menemani Liz disini.” Rengek Renee.
“Tidak perlu, aku yang akan menemaninya.” Kata Aldo. Perkataannya terengar tidak bisa diganggu gugat lagi, yang lainnya mengangguk kecuali Noah.
“Apa kau tidak punya pekerjaan lain?” tanya Noah sinis.
“Liz adalah pekerjaanku sekarang ini.” Jawab Noah.
Noah tidak bisa membantah lagi dan mereka semua pergi meninggalkanku dengan uacapan-ucapan manis dan harapan-harapan agar aku cepat sembuh.
Obat ini sungguh manjur untuk membuatku tidur, dalam beberapa detik saja mataku sudah sangat berat. Aku jadi penasaran, berapa dosis yang diberikan untukku? Tapi sebelum aku sempat mengira atau menanyakannya pada Aldo, aku sudah tertidur.
Tidak banyak yang terjadi selama aku berada diruang perawatan, beberapa kali aku harus diperiksa oleh dokter, diberi obat oleh perawat, bercanda dan mengobrol dengan Aldo, dan beberapa kali mendapat jengukkan dari teman-temanku yang membawakan berita dari kelas atau gosip-gosip yang beredar. Dan para staf pengajar juga sempat menjengukku disini, Rob, Profesor Green dan Miss Rogers. Sampai akhirnya dokter membukakan gipsku dan mengatakan aku bisa keluar dari sini.
Aldo memaksa membantuku berjalan menuju kamar asramaku, dia memapahku dengan sangat baik sementara tangan yang satunya membawakan barang-barangku. Ketika aku membuka pintu kamarku, teman-temanku langsung terkejut melihatku. Mereka langsung menyerangku dengan pelukan, untung Aldo menahanku kalau tidak aku pasti sudah jatuh ditiban tubuh mereka.
Asyira dengan baik hati mengambil barang-barangku dari tangan Aldo, sementara Aldo masih memapahku. “Biarkan dia duduk dulu.” Kata Aldo, mendudukannku di atas ranjangku.
“Kau sudah bisa jalan Liz?” tanya Megan.
“Sudah bisa.” Jawabku, nyengir lebar.
“Lalu kenapa Mr. Masen masih saja-“ Ginny tidak melanjutkan kalimatnya karena mendapatkan tatapan dingin dari Aldo.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Kata Aldo, berjalan kepintu dan langsung saja keluar.
“Kalau begitu, besok sudah dipastikan.” Jerit Asyira.
“Kita akan ke Mall.” Pekik Renee.