Sekitar jam sebelas pagi, kami semua sudah bersiap-siap untuk pergi ke mall. Aku mengenakan pakaian paling santai diantara sahabat-sahabatku yang lainnya, tanpa make up. Tas kecil kesukaanku yang berwarna biru muda sudah aku selempangkan, isinya hanya dompet dan ponsel. Walau kakiku rasanya masih agak sedikit kaku dan tengkukku masih terasa sedikit nyeri, aku senang akan bersenang-senang hari ini.
Matahari bersinar terang menyinari rerumputan di halaman utama Vagat Academy, menghangatkan wajahku sekaligus menyilaukan mataku. Udara hari ini segar sekali tidak seperti biasanya, mungkin karena semalam habis hujan. Pintu gerbang Vagsat Academy hari ini terbuka lebar, beberapa murid terlihat antusias untuk keluar dari gerbang. Beberapa murid yang tidak keluar memilih untuk bermain bola kaki, bola basket atau hanya sekedar berjemur.
Aku berdiri sendirian melihat sekelilingku, menunggu Ginny dan Megan yang sedang ada urusan dengan nilai di pelajaran Ilmu Sosial sementara Renee sedang mengobrol dengan kelompok pecinta buku dan Asyira sedang bergosip tentang cowok bersama Gladys.
Akhirnya setelah menunggu sekitar delapan menit, Ginny dan Megan tampak berlari-lari dengan wajah girang.
“Ayo kita berangkat.” Kata Ginny bersemangat. Ini kedua kalinya aku melihat Ginny sesemangat ini, yang pertama saat dia ingin menaruh saus tomat di kursi Logan saat kelas Sains.
Asyira dan Renee yang melihat Ginny dan Megan sudah kembali langsung bergabung dengan kami, Renee merangkulku dan Megan. Lalu kami bersama-sama keluar dari gerbang Vagsat Academy yang kelewat besar itu. Didepan jalan sudah banyak mobil taxi yang diparkir, seperti tahu kami memmbutuhkannya.
Asyira dan Megan berdebat tentang berapa taxi yang harus disewa, Megan ingin menyewa dua taxi agar tidak perlu berdesakan didalamnya, sedangkan Asyira berpikir satu taxi saja cukup. Well, tidak ada hari tanpa berdebat. Setelah dirundingkan dengan seksama, kami memutuskan menggunakan satu taxi. Alasannya adalah, berhemat. Bukan berarti kami ini pelit tapi karena kami ingin belanja lebih banyak saat tiba di mall. Well, setidaknya itu sih yang dikatakan Asyira untuk membujuk kami. Akhirnya kami berlima masuk kedalam satu taxi, Megan duduk di kursi penumpang sendirian sementara kami sisanya harus berdesak-desakan dikursi belakang.
Saat perjalanan menuju mall, ada beberapa masalah yang kami hadapi. Yang pertama; Si supir taxi melanggar peraturan tentang jalur transjakarta, mengakibatkan dia ditilang dan kami harus menunggu cukup lama sementara dia bernegosiasi dengan polisi yang menilangnya. Ginny yakin sekali dia melihat sang supir taxi memberikan satu lembar uang dua puluh ribu pada si polisi. Aku tidak menyangka segitu mudahnya lolos dari tilang dan betapa murahnya polisi dibayar.
Yang kedua; Si sopir taxi bau ketiak. Awalnya kami tidak mencium apa-apa sampai Ginny menuduhku buang gas sembarangan, yang sebenarnya tidak kulakukan. Jadi aku mulai mengendus dan terciumlah bau yang sangat tidak sedap, yang kami yakin berasal dari si supir taxi. Sungguh, baunya benar-benar membuat mual. Itu terbukti karena Renee memang langsung mual. Aku dan Asyira yang duduk dekat pintu langsung membuka kaca jendela, membiarkan angin segar berhembus masuk. Tapi memang sial, baunya masih saja tercium.
“Bisa lebih cepat Pak nyetirnya?” tanya Asyira.
“Saya takut kena tilang lagi.” Jawab si supir taxi.
“Ngebut aja Pak kalau ditilang biar kami yang bayar.” Kata Asyira lagi.
“Bawa saja yang cepat.” Kata Ginny yang sudah tidak tahan lagi.
Si supir taxi mengendarai taxinya dengan lebih cepat sekarang, sedikit ugal-ugalan memang tapi tak apa. Aku sedikit menghawatirkan Megan yang duduk disamping si supir taxi, dia daritadi tidak mengeluarkan suara, aku takut dia sudah pingsan dengan bau ini. Akhirnya kami sampai juga di depan loby mall, sementara Asyira membayar, aku dan yang lainnya buru-buru keluar dari taxi.
“Akhirnya udara segar.” Kata Renee, menghirup udara dengan dilebih-lebihkan.
Aku menggandeng lengan Renee dengan antusias, “Ayo.” Kataku.
Kami berjalan sangat santai, melewati pintu kaca besar yang dijaga tiga petugas keamanan. Para petugas itu terlihat sangat santai, tidak melakukan tugasnya dengan baik. Salah satu dari mereka malah terlihat sedang membaca majalah, yang satu lagi sedang sibuk dengan ponselnya, hanya sisa satu penjaga yang sedang nampak memeriksa tas para pengunjung mall dengan detector mini.
Saat kami melewati pintu kacanya, suasana mall yang ramai membuatku semakin bersemangat lagi. Kami langsung disambut dengan cafe-cafe yang pengunjungnya sangat ramai, aroma makanan juga langsung tercium. Cafe-cafe itu menyediakan kursi-kursi didepan toko mereka, banyak anak-anak yang seumuran dengan kami sedang santai disitu. Empat cowok yang sedang santai, mejanya penuh dengan piring dan gelas serta satu laptop, sedang memandang kami. Salah satu dari mereka terlihat takjub, bahkan mulutnya menganga. Tidak heran, aku bersama cewek-cewek yang cantiknya kelewatan menurutku.
Ginny menyeret masuk kesalah satu cafe yang bergaya sangat anak muda, di cat warna-warni dan dengan musik yang santai tapi menyenangkan untuk didengar. Kami duduk di salah satu sofa yang yang disediakan. Seorang pelayan cowok dengan pakaian warna merah muda dan garis-garis kuning datang, menyapa kami dengan ramah dan menyerahkan dua menunya. Pelayan itu tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ginny, dia seperti tersadar dari lamunannya saat Ginny mengeluarkan suara.
“Kalian mau apa?” tanya Ginny sambil terus membaca menu.
Megan memperebutkan buku menu yang sedang dibaca Renee. “Biarkan aku melihat menunya juga Ren.”
“Aku tidak ingin yang ini,” kataku, menunjuk gambar pizza dengan jagung.
Kami kembali berdebat, kali ini tentang pizza. Aku tidak suka jagung sedangkan Asyira ingin yang banyak jagungnya, sementara Ginny ingin pizza daging. Setelah puas berdebat, kami sudah bisa memutuskan.
Asyira mulai menyebutkan satu-persatu makanan yang ingin kami pesan. “Satu loyang besar pizza keju, satu loyang besar pizza daging, satu loyang kecil pizza sayur, satu bucket es krim campuran ukuran besar, satu waffle, dua mocca float, satu es lemon tea, satu green tea dan satu lagi jus alpukat.”
Si pelayan terlihat sedikit terkejut dengan pesanan kami yang banyak untuk ukuran cewek remaja, tapi dia menulisnya juga tanpa bertanya sedikitpun lalu pergi sambil membawa buku menunya. Kami memesan banyak karena sekarang sudah hampir mendekati jam makan siang, dan kami berencana menonton film sore ini dan harus kembali ke academy sebelum jam tujuh malam.
Karena kuyakin makanan kami akan sangat lama untuk disiapkan, jadi kami menunggu. Dan apa yang dilakukan remaja cewek saat menunggu dan tidak ada hal lain yang dapat dilakukan? Bergosip tentu saja.
Kami menggosipkan salah satu senior namanya Tori yang sedang mendekati Logan secara terang-terangan. Dan cara berpakaiannya sungguh norak, tentu saja Logan tidak meliriknya sama sekali. Ginny dan Megan beberapa kali membuat lelucon tentang Tori, itu membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Suara tawa kami tidak bisa dibilang kecil, terutama suara Asyira yang nyaring. Hampir seluruh mata para pengunjung melihat kami, ada yang nampak tidak keberatan tapi ada juga yang nampak jengkel.
Akhirnya minuman kami datang, aku mengambil mocha float dan menyusupnya sedikit. Rasanya segar dan manis, membuatku ingin menghabiskannya langsung. Tapi ini sungguh menyebalkan, kenapa mereka menyediakan minumannya lebih dulu? Saat makanannya tiba minuman ini sudah habis, dan aku harus memesan lagi.
Dan saat tiba makanannya datang dan memenuhi meja kami, tangan Ginny dengan cepat menyambar satu potong pizza daging kesukaannya itu. Kami melahap makanannya dengan santai, mengobrol dengan mulut yang penuh. Tapi sesantai apapun kami, makanannya habis dengan cepat dan hanya menyisakan satu bucket besar es krim. Ginny bersendawa kencag-kencang, disusul dengan sendawaku yang tersendat.
Kali ini untuk es krimnya, kami benar-benar menghabiskannya perlahan-lahan. Aku hanya mengambil es krim rasa vanila, satu-satunya rasa es krim yang kusukai. Dan kami menyelesaikan makanan penutupnya dengan perut penuh. Aku bersandar pada sofa, rasanya aku tidak akan makan lagi selama tiga hari. Sepertinya bobot tubuhku naik sepuluh kilo, itu berarti aku harus mengikuti program diet saat hari Minggu. Perutku rasanya sesak sekali, dan aku jadi mengantuk. Tapi Ginny dan Renee masih terlihat bersemangat, mereka berdua berdiri. Renee melihat arloji biru di lengannya yang kurus itu, “Filmnya sebentar lagi mulai. Ayolah.” Dia menarik-narik lenganku.
“Kita bahkan belum membayar makanannya Ren.” Kata Asyira yang sudah tidak bisa bergerak lagi.
Ginny memanggil pelayan dan minta dibawakan bonnya, Ginny menyerahan kartu kreditnya dengan tidak sabaran. Dan saat semua pembayaran selesai, Renee dan Ginny mulai menarik-narik lengan lagi seperti anak kecil. Dengan perut yang berat, kami beranjak dari sofa dan keluar dari cafe menuju bioskop.
Diperjalanan menuju bioskop, kami masuk kebeberapa toko yang accesoris yang lucu-lucu. Kami hanya melihat-lihat dan tidak membeli apapun, itu membuat pelayan tokonya jengkel. Saat tiba di biokop, kami melihat film apa yang sedang diputar. Ada film horror yang menceritakan tentang boneka yang bernama Annabelle, kami akan menonton itu. Disusul dengan rengekan dari Renee dan Megan yang membenci hal-hal horror seperti itu, tapi mereka kalah jumlah. Megan sedikit merajuk pada awalnya, tapi langsung ceria kembali saat Asyira mentraktirnya satu kotak besar pop corn.
Aku berdiri didepan stand makanan, membaca papan menunya dengan seksama. Apa aku bilang tadi tidak akan makan selama tiga hari? Kurasa aku salah. Aku memesan pop corn caramel ukuran sedang, satu hot dog dan satu gelas pepsi ukuran sedang.
Ternyata filmnya dimulai jam 15:15, masih sekitar tiga puluh menit lagi. Jadi lagi-lagi kami menunggu di kursi panjang yang sudah disediakan. Aku memakan diam-diam pop corn Megan saat dia lengah, dan saat Megan memergokiku dia memukul tanganku. Aku tidak mau makananku habis sebelum filmnya dimulai, jadi aku mencoba menahan untuk tidak memakan popcornku atau hot dogku atau meminum pepsiku. Well, mungkin aku akan menghabiskan hot dognya saja.
Aku memakan hot dogku dengan perasaan bersalah karena sudah memakannya sebelum film dimulai, sesekali Renee menggigit hot dognya juga, begitu juga Asyira, sampai hot dog itu bersih dari tanganku. Sekarang apa lagi yang bisa kulakukan? Aku hanya diam, memperhatikan sekelilingku. Sampai mataku menangkap sesuatu yang aneh. Seorang cowok berumur sekitar tiga puluh tahunan, duduk sekitar enam atau tujuh meter jaraknya dariku. Dia mengenakan jaket coklat, dan celana bahan hitam. Aku menangkapnya sedang melihat kearahku, dan saat aku memergokinya dia langsung melihat kearah lain. Oke, kupikir dia hanya penasaran seperti yang dilakukan pelayan atau kumpulan cowok yang aku liat di cafe tadi. Tapi dia melakukan itu lebih dari lima kali, dan kuyakin itu lebih dari sekedar penasaran. Pelatihan selama beberapa bulan disini tidak kulupakan begitu saja, indera mata-mataku langsung bekerja. Satu hal yang aku yakin, dia mengawasi kami.
Aku menyikut Asyira, “Arah jam sebelas.” Kataku, berbisik.
Asyira melirik diam-diam dari ekor matanya. “Cowok itu imut juga.”
“Astaga, bukan dia.” Aku menggerang. “Yang disebelahnya.”
Asyira kembali melirik, dia mengangguk. “Ada apa dengannya?” tanyanya.
“Dia memperhatikan kita setiap lima belas detik sekali, bukankah itu ganjil?” tanyaku.
“Itu aneh.” Kata Asyira.
“Ada apa?” tanya Ginny penasaran. Aku juga tidak sadar kalau Megan dan Renee sedang melihatku dan Asyira dengan pandangan bertanya.
Asyira memberitahu yang terjadi, Ginny melirik diam-diam tapi Megan dengan terangan-terangan melihat kearah cowok itu, dia bahkan berdiri untuk dapat melihat lebih jelas. Tanganku dan tangan Asyira langsung menariknya duduk dengan cepat. “Apa yang kau lakukan?” kata Asyira kesal.
Aku melihat kembali kearah cowok yang duduk itu, kali ini aku melihat mulutnya bergerak-gerak kecil. Dia tidak sedang menelpon, aku juga tidak melihat earphone yang menempel di telinganya, dia tidak sedang berbicara dengan seseorang. Tapi kenapa dia seperti orang yang berbicara? Seperti dipukul dengan pemukul baseball, aku mengerti sekarang. Dia sedang berbisik pada seeorang yang jauh disana, entah dimana lewat unit komunikasi. Dia mengabarkan sesuatu pada seseorang. Bukan, dia bukan mengabarkan ‘sesuatu’ melainkan ‘kami’. Dia mata-mata.
Aku mengumpat pelan, Renee langsung memegangi pergelangan tanganku. Renee selalu benci mendengarku mengumpat, tapi kali ini bukan tentang itu, dia ketakutan. Aku melihat Ginny dan tahu dia juga menyadari apa yang terjadi.
“Apa dia teman?” tanya Asyira.
“Aku tidak yakin. Kenapa dia memata-matai kita bukannya menyapa kita?” kata Ginny.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Megan.
Aku menatap Asyira dan Ginny tapi mereka juga terlihat sama bingungnya. “Aku akan menelpon Aldo.” kataku.
“Aldo?” tanya Renee bingung.
“Maksudnya Mr. Masen Ren.” Jelas Asyira.
Aku mengeluarkan ponselku dan mencari nomor Aldo tapi tidak menemukannya, aku lupa untuk menyimpannya. Jadi aku mencari nomor lain, nomor Noah. Kuharap dia tidak sedang tidur siang atau main bola kaki sekarang. Tapi ternyata di dering kedua dia mengangkatnya, ‘Liz?’ terdengar suara Noah.
‘”Hei Noah, bisa kau berikan telponmu pada Mr. Masen? Ini genting sek-“ kalimatku terputus saat melihat cowok itu akhirnya berdiri dan berjalan cepat kearahku.
Aku dan sahabat-sahabatku langsung berdiri. “Lari.” Kata Asyira.
‘Liz, ada apa?’ tanya Noah, terdengar panik.
“Kita bicara lagi nanti.” Kataku, menutup telponnya.
“Masuk cepat.” Kata Ginny sambil terus menarik lenganku.
Aku hendak memasukan ponselku kedalam tas, tapi sialnya ponsel itu malah jatuh. “Tunggu tunggu, ponselku.” Kataku, hendak berbalik dan memungut kembali ponselku. Tapi Ginny terus saja menarikku dan cowok itu semakin dekat, lalu sekelilingku gelap. Aku sudah masuk kedalam studio film, satu-satunya cahaya hanya dari layar besar didepan.
Kami dengan tergesa-gesa mencari tempat duduk dengan nomor kami, setelah menemukannya kami langsung menghempaskan b****g kami kekursi merah yang tidak empuk sama sekali. Aku bahkan meninggalkan pop corn dan pepsiku, juga ponselku. “Ponselku.” Rengekku.
“Kenapa ponselmu?” tanya Renee.
“Terjatuh.” Kataku.
“Bagaimana bisa?” jerit Asyira, itu langsung mendapat protes dari para penonton yang lain. Asyira memelankan suaranya. “Bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tahu, terjatuh saja.” Kataku.
“Kita tidak bisa mengambilnya sekarang, dia pasti masih menunggu kita.” Kata Ginny.
“Ponselmu pasti sudah diambil olehnya Liz, relakan saja.” Kata Megan.
Aku semakin lemas, aku tidak akan bisa memberi kabar lagi pada Bayu sekarang.
“Itu tidak penting sekarang,” kata Ginny, “yang penting adalah kita bisa keluar dari sini dengan aman.”
Asyira mengeluarkan ponselnya, “Aku akan menelpon seseorang.”
“Kau punya nomor Mr. Masen?” tanya Renee.
Asyira menggeleng.
“Lalu kau menelpon siapa?” tanyaku.
“Aku punya nomor Logan.” Katanya. Kami semua diam dan menunggu Asyira. Tidak ada satupun dari kami yang memandang kearah layar, semuanya memandang Asyira sekarang. “Hai Logan.” Kata Asyira, tapi lebih pada berbisik.
Beberapa saat jeda lalu Asyira mulai bicara lagi. “Ah sial. Apa kau punya nomor seseorang yang sekarang berada di Academy?” tanya Asyira. “Kau punya nomor Noah? Bagus. Kumohon telpon dia, katakan padanya kami sedang di mall. Seseorang mengejar kita, kami butuh bantuan Mr. Masen dan beberapa orang lagi mungkin. Bisa kau lakukan itu?”
Asyira mendengarkan sesaat. “Tidak ada waktu untuk menjelaskan.” Asyira diam lagi. “Oke aku mengerti. Baiklah, ya aku mengerti. Thanks Logan.” Lalu Asyira menutup telponnya. “Dia akan membantu.” Kata Asyira.
Walaupun kami tahu kalau beberapa orang sedang mencoba membantu kami, tidak ada satupun dari kami yang tenang. Renee terus saja memegangi pergelangan tanganku, Asyira memejamkan matanya, dan Ginny dan Megan yang aku tidak tahu sedang apa karena gelap. Aku mencoba memenangkan diriku dengan menonton filmnya, tapi ini film horor dan jantungku jadi semakin berdegup dengan cepat karena takut. Jadi aku mengikuti Asyira, aku menutup mataku.