Aku berada tepat di atas lehernya, masih dengan posisi berlutut, tapi sekarang aku jatuh ke depan tepat di atas wajahnya, menopang diri dengan tangan kiriku di atas selimut di atas kepalanya. Aku mengangkangi wajahnya yang cantik dan rasanya hampir terlalu berat untuk menahan penisku untuk tidak segera menyemburk. Aku memaksa buah zakarku untuk menahan isinya, aku menurunkan pinggulku, mengarahkan penisku ke mulutnya, menggigit bibirku dengan sangat keras, sampai-sampai aku bisa merasakan ada rasa darah. "Ciumlah, sayang. Malaikatku yang sempurna. Beri aku ciuman. Sedikit saja sudah cukup." Dan itu bukanlah kebohongan. Saat dia menempelkan bibirnya yang indah ke ujung penisku, aku mengerang dan hampir menyemburkan spermaku di seluruh wajahnya. Tapi aku pria yang rakus kalau menyangkut Ste

