Selena berbaring di ranjang besar Jillian dengan posisi tengkurap dan bertopang dagu. Ia menatap Jillian yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil menonton acara TV kabel.
Setelah acara makan malam tadi, akhirnya Jillian mengijinkan Selena untuk bermalam di cottage tempat ia menginap. Sementara Cruise memutuskan untuk kembali ke hotelnya sendiri.
"Kapan kamu kembali, Jill?" Selena membuka percakapan malam dengan Jillian.
Jillian menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Selena. Ia jadi teringat lagi akan pernikahannya yang gagal.
"Seharusnya dua minggu lagi. Tapi aku juga masih belum tau. Keliatannya aku harus mempercepat jadwal kepulanganku." Jillian berkata dengan lirih sambil tangannya memencet tombol remote mencari acara yang mungkin menarik perhatiannya.
"Oh! Kita baru saja bertemu kenapa kamu harus cepat pulang?" Wajah Selena terlihat kecewa.
"Aku tidak mau beresiko ketemu mereka lagi. Keliatannya Elton juga akan menghabiskan rencana bulan madunya di sini," sahut Jillian.
Jari Jillian akhirnya memilih untuk memencet tombol off di remote karena banyak acara yang menurutnya kurang menarik.
"Kamu tidak usah khawatir, Cruise akan aku suru menghalau mereka jika bertemu lagi," kata Selena dengan yakin.
"Ah! Tidak usah! Aku tidak mau melibatkan orang lain dalam urusanku. Lagian itu bukan hal yang penting untuk dibahas." Jillian mengebaskan tangan di samping wajahnya.
"Tapi aku masih ingin bermain bersamamu! Kita bahkan belum mencoba untuk ber-selancar bersama," rajuk Selena.
"Emang kamu rencana kembali kapan?" Jillian balik bertanya.
"Kami belum tau. Semua ini terserah pada Cruise." Selena mengangkat bahu.
"Hm? Kenapa bisa begitu?" tanya Jillian bingung.
"Iya! Ini adalah liburan terakhir dan terpanjang Cruise yang diberikan Dad padanya. Karena setelah kembali, Cruise harus mau terlibat dan terjun ke dalam perusahaan Dad. Jadi kapan kami akan pulang, hanya Cruise yang bisa tentukan. Aku hanya mengikut saja," jelas Selena sambil memutar badannya dan berbaring menatap langit-langit kamar.
"Hmm." Jillian hanya bergumam pelan mendengar penjelasan Selena.
"Jadi, kamu jangan keburu pulang yah? Temani aku. Karena hanya berdua dengan Cruise saja terasa sangat membosankan bagiku! Aku harap kamu mau menghabiskan dua minggumu di sini ya? Pleaseeee!! Soal mantanmu dan kekasihnya, biar aku dan Cruise yang akan mengurusnya jika kita bertemu lagi nanti!" Selena menggenggam tangan Jillian dan menatap matanya dengan penuh harapan.
"Aku masih belum bisa memutuskan, Selena. Kakakku Julian akan menemuiku besok. Aku masih belum punya rencana apapun untuk saat ini." Jillian menjelaskan.
Jillian memang ingin mencuci otaknya dengan menghabiskan waktu liburnya demi melupakan apa yang sudah terjadi. Namun jika Elton dan Mea juga berada di sekitarnya maka sia-sia saja dia tetap berada di sini. Lebih baik dia pindah lokasi berlibur atau pulang ke New York dan menikmati saat-saat liburannya di sana sebelum kembali bekerja.
"Oh. Ya baiklah. Aku harap kita bisa menghabiskan waktu kita bersama di sini." Senyum Selena mengembang seolah membayangkan Jillian sudah pasti menemaninya.
"Sudah saatnya tidur, Selena. Besok aku mau membeli ponsel baru, apakah kamu mau menemaniku?" tanya Jillian.
"Tentu saja! Kita pergi ke Legian yuk!" ajak Selena.
Jillian kembali terdiam. Legian sangat dekat dengan hotel tempat pernikahannya dan dia menghindari hal-hal yang membuatnya teringat dengan kejadian itu.
"Aku sedang tidak ingin ke Legian," tolak Jillian sambil berusaha tersenyum.
"Ah! Sayang sekali. Tapi ya sudahlah kalo kamu tidak mau. Kita pergi ke tempat lain saja besok," jawab Selena masih dengan nada semangat.
Jillian mengangguk.
*****
Hari sudah pagi, namun sinar matahari masih malu-malu untuk menampakkan wajahnya di langit. Udara pagi lumayan dingin saat itu, namun bagi kedua gadis asing itu, udara terasa hangat karena perbedaan iklim di negara mereka.
Sebuah deringan ponsel mengagetkan keduanya. Baik Jillian maupun Selena terbangun bersama mendengar deringan ponsel di kamar.
"Ahh! Siapa pagi-pagi begini nelpon? Pasti Cruise!!!" gerutu Selena sambil mencoba meraih ponselnya yang berada di nakas.
Dan tanpa melihat nama sang penelpon, Selena pun mengangkat ponselnya.
"Cruise! Aku masih tidur! Nanti aja telpon lagi!!" Nada suara Selena terdengar kesal. Dan ia hendak mematikan panggilannya.
"Maaf, apakah ini dengan temannya Jillian?" Terdengar suara pria asing di seberang sana, membuat Selena seketika langsung duduk dan matanya terbuka lebar.
"Ohh! Ma-maaf! I-iya! In-ini dari mana?" Selena seketika gugup mendengar suara pria asing yang menelponnya.
"Oh, maaf. Aku Julian, kakaknya Jillian. Apakah kamu sedang bersama dengan Jillian? Maaf karena aku sudah menelponmu sepagi ini." Nada suara Julian terdengar sangat lembut dan bersahabat sehingga Selena yang tadinya kesal jadi melunak hatinya.
"Oh! Ehm! Tidak papa! Ya, eh, Jillian ada. Sebentar ya?" Selena segera meraih bahu Jillian. Karena Jillian tertidur lagi setelah Selena mengangkat ponselnya.
"Jill! Ini kakakmu! Julian!" Bisik Selena sambil menggoyang-goyangkan bahu Jillian.
Mendengar nama Julian, Jillian pun langsung membuka mata dan duduk untuk menerima panggilannya.
"Halo?" Suara Jillian masih terdengar serak.
"Jill! Kamu tinggal di hotel mana? Sebentar lagi aku akan check out dan pergi ke tempatmu." Suara Julian terdengar sangat terburu-buru.
"Jul, ini masih sangat pagi. Ngapain kamu ke sini sepagi ini? Aku nanti akan pergi membeli ponsel terlebih dahulu baru aku akan menelponmu." Jillian mengerjapkan matanya berusaha mengusir kantuk yang menyerangnya.
Sementara ia menoleh, Selena sudah kembali terlelap. Hhh! Jillian jadi ingin segera menyusul aktifitas teman barunya itu.
"Katakan kamu tinggal di hotel mana, Jill? Jangan berbelit-belit. Aku akan kesana nanti, kamu tidak perlu menungguku. Yang penting aku tau di mana kamu tinggal," tegas Julian nggak mau kalah.
"Di Hidden valley resort," kata Jillian akhirnya.
"Oh baiklah. Jika kamu mau pergi, pergi saja! Aku akan menemuimu di hotel nanti." Suara Julian terdengar lega.
"Ok, bye ..."
"Oh iya! Sampaikan maafku ke temanmu ya? Maaf karena sudah mengganggu tidurnya," sambung Jullian lagi.
"Ya okey, bye, Jul!" Dan tanpa menunggu jawaban dari kakaknya, Jillian pun menutup panggilannya lalu segera membaringkan diri di kasur.
Namun ponsel kembali berdering, mengagetkan Jillian yang baru saja berbaring. Ia dengan cepat meraih dan menjawab panggilannya.
"Apalagi, Jul?" sahut Jillian dengan sedikit gemas karena rencana tidurnya terganggu.
"Jil! Aku sudah di depan." Terdengar suara Cruise di seberang sana.
"Cruise?"
Jillian kembali terduduk mendengar suara Cruise. Cruise ini ngapain pagi-pagi ke sini? Dia kan masih ingin tidur? Jika ada Cruise, bagaimana mungkin dia bisa tidur?
"Apakah bisa kamu bukakan pintunya untukku?" tanya Cruise lagi.
"Oh ya! Ya! Baiklah!" Jillian mengerang dalam hati. Hasratnya untuk tidur buyar sudah!
"Aku tutup telponnya ya?" Jillian berkata sambil menggigit giginya sendiri.
"Iya, aku tunggu di depan," sahut Cruise lalu panggilanpun ditutup.
"Sel!! Bangun! Cruise ada di depan! Bukain pintu!" Jillian menggoyang-goyangkan tubuh Selena.
"Bukain aja, Jill! Aku masih sangat mengantuk," kata Selena tanpa membuka matanya. Dan ia malah menenggelamkan wajahnya di bawah bantal.
Melihat tingkah Selena, Jillian makin frustrasi. Akhirnya mau tidak mau, ia harus turun dari tempat tidur dan membukakan pintu untuk Cruise.
"Hai, Jil. Kamu bangun pagi sekali?" tanya Cruise sambil melangkah masuk.
Jillian memutar bola matanya ke atas sambil menutup pintu. Hatinya merasa gemas mendengarkan pertanyaan Cruise. Bukankah ia bangun karena harus membukakan pintu untuknya? Hhh!!
"Emm, ini aku sudah membelikanmu ponsel semalam," kata Cruise sambil menyerahkan sebuah bungkusan berbentuk kotak.
Jillian tertegun menatap kotak yang dipegang Cruise.
"Kamu? Kenapa membelikanku ponsel?" tanya Jillian tak mengerti.
"Ya, karena kemarin aku dengar kamu akan membeli ponsel untuk menelpon kakakmu, kan? Jadi kupikir tidak ada salahnya jika aku membelikanmu. Nih terima!" kata Cruise sambil satu tangannya menggaruk-garuk kepalanya.
"Ohh! Ok. Ini berapa harganya?" tanya Jillian
"Entahlah. Apa itu penting?" tanya Cruise.
"Aku akan menggantinya."
"Aku membelikan untukmu dan aku tidak ingin kamu mengganti uangku." Cruise berkata sambil meninggalkan Jillian yang masih termangu.
"Tap-tapi aku tidak bisa menerimanya, Cruise! Aku harus mengganti uangmu," kata Jillian setelah ia sadar bahwa Cruise ternyata membelikannya ponsel Iphone 12 pro Max yang harganya ribuan dollar.
"Aku lupa harganya, Jill. Jadi lupakanlah. Anggap saja itu adalah tanda persahabatan dariku," jawab Cruise lalu ia dengan kasar menarik selimut yang dipakai oleh Selena.
"Hey! Wake up!!" Cruise berkata dengan keras di telinga Selena. Membuat sang adik langsung mencak-mencak mendengar suara Cruise yang full bariton itu.
"Cruise! Jangan menggangguku! Aku masih mengantuk!" Selena kembali meringkuk tanpa mempedulikan selimutnya lagi.
Cruise geleng-geleng kepala melihat adiknya yang super malas itu. Ia tidak habis pikir bagaimana Selena bisa dengan seenaknya tidur sementara yang punya kamar sudah bangun.
"Kamu benar-benar tidak tau malu, Sel!" Cruise berkata sambil berkacak pinggang.
"Biarkan saja, Cruise. Semalam kami berbicara banyak sampai larut malam." Jillian berkata sambil duduk di ujung ranjang.
Cruise menatap Jillian dengan tatapan prihatin. Ia tidak menyangka bahwa Jillian yang ia kira sudah menikah ternyata calon suaminya malah direbut oleh sahabatnya sendiri. Pantas saja dia nekad ber-selancar dengan gaun pengantinnya. Pasti dia sudah tidak ingin hidup lagi saat itu.
"Aku minta maaf, Jillian." Tiba-tiba Cruise berkata penuh penyesalan.
"Untuk apa?" Jillian menoleh ke arah Cruise dengan bingung.
"Karena aku bukan orang yang peka. Seharusnya aku tau bahwa ketika kamu ber-selancar menggunakan gaun pengantin itu, kamu pasti sedang menghadapi sebuah masalah. Tapi ... aku malah memarahimu dan menganggapmu gila," sesal Cruise.
"Oh! Lupakan! Aku bahkan sudah tidak ingat lagi." Jillian berkata sambil tersenyum.
"Sini, aku bukakan!" Cruise mengambil bungkusan di tangan Jillian yang sampai sekarang belum dibuka.
"Cruise, aku ..."
Cruise tidak lagi mendengar ucapan Jillian, ia dengan cepat membuka bungkusan itu dan memasangkan kartunya. Sementara Jillian hanya termangu saja melihat jari-jari panjang Cruise dengan lincah meng- unboxing kotak ponselnya.
"Nih, kamu sekarang sudah bisa menelpon kakakmu. Telponlah dia agar tidak khawatir." Cruise menyerahkan ponsel itu ke tangan Jillian.
Jillian menatap ponsel Apple yang sekarang sudah ada dalam genggamannya lalu ia kembali menatap Cruise. Cruise memiringkan kepalanya seolah menunggu Jillian melakukan panggilan pertamanya.
"Call him!" ujarnya.
"Okay." Jillian pun akhirnya memencet nomor Julian.
"Hello, Jul," sapa Jillian setelah mendengar suara Julian.
"Ini nomorku! Kamu bisa menelponku di sini," kata Jillian sambil bangkit berdiri.
Ia pergi ke arah jendela menghindar dari tatapan Cruise yang membuatnya tidak nyaman. Ia berbicara dengan suara lirih sambil menatap keluar jendela. Sementara Cruise tersenyum lega melihat Jillian sudah menghubungi kakaknya.
"Sst!! Jangan bilang padaku bahwa kamu menyukainya, Cruise!" Suara Selena yang tertahan mengagetkan Cruise yang masih asyik menatap Jillian.
"Ssst!! Sejak kapan kamu jadi pengintai ha?" Cruise menutup mulut Selena dengan tangannya takut suaranya kedengaran oleh Jillian. Sementara matanya masih menatap ke arah Jillian dengan tatapan waspada.
"Mmphh!!!" Selena berusaha melepaskan mulutnya dari dekapan tangan Cruise sampai terlepas. Dan begitu ia bisa melepaskan diri, ia pun cekikikan sendiri.
"Kamu memberinya tanda persahabatan sebuah ponsel mahal? Itu keren sekali, brother! Saat yang lain memberi buket bunga untuk wanita pujaannya, kamu selangkah lebih maju!"
"Jadi, kamu mengupingku?" Wajah Cruise terlihat protes.
"Hihi! Kamu memberikan gombalan keren di depan mataku. Mana mungkin aku tidak terbangun mendengar gombalanmu itu? Kamu bilang lupa harga? Yang benar saja, Cruise!! Ponsel itu harganya ribuan dollar, nggak mungkin kamu bisa lupa harganya saat kamu menggesek kartu kreditmu!" Selena terus saja cekikikan sambil menutup mulutnya sendiri.
"Diamlah, Sel!" Suara Cruise yang tertahan mulai terdengar gemas.
Cruise merasa bahwa Selena ini selalu saja mengganggunya ketika ia sedang berusaha mendekati seorang wanita dengan serius. Dan banyak kali Selena bukannya mendukung tapi malah menggagalkan usahanya. Dan kali ini, ia takut Selena melakukan hal yang sama. Apalagi Selena sangat dekat dengan Jillian. Pasti dia bisa mengatakan hal apapun yang buruk tentangnya. Atau jangan-jangan, strateginya barusan juga bisa dibocorkan dan dikacaukan olehnya.
"Hihi, tapi dia terlihat cuek padamu. Aku rasa pesonamu tidak bisa berpengaruh padanya. Kali ini the Lady Killer harus berusaha lebih keras lagi dari sekedar memberikan ponsel mahal!" Selena seperti tidak mempedulikan peringatan keras Cruise. Ia malah mendekat ke Cruise dan menatap Jillian dari sudut pandang yang sama dengan Cruise.
Cruise menatap Selena sambil menyipitkan matanya, ia sedang mereka-reka kira-kira ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut? Sementara Selena juga merasa aneh dengan tatapan Cruise padanya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Selena sambil mengerutkan dahinya dengan aneh.
"Apakah menurutmu aku harus menaklukkannya?" tanya Cruise sambil menatap Selena.
"Hmm ... menurutku itu akan susah kecuali kamu ijinkan aku untuk membantumu!" Selena berkata sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu.
Tapi Cruise malah tertawa kecil mendengar penawaran adiknya. Oh Selena ternyata sedang mendukungnya jadi seharusnya pendekatan kali ini akan berjalan lancar dibanding yang lalu-lalu.
"Maaf, my sister. Untuk urusan seperti ini, tugasmu hanya menonton saja! Kamu tidak perlu membantu diriku. Aku bisa melakukannya sendiri!" kata Cruise dengan nada bangga.
Dan Selena pun memutar bola matanya dengan malas mendengar kepedean Cruise yang diatas rata-rata itu. Memang ia tau bahwa Cruise memiliki pesona yang luar biasa dan gayanya yang dingin dan cuek seringkali membuat para kaum hawa frustrasi. Dan selama ini, tugasnya lah yang menyeleksi semua wanita yang dekat dengan kakaknya itu. Jika ada wanita yang dia tidak suka, maka dia akan membuat para wanita itu mundur teratur. Dan soal Jillian? Keliatannya dia harus turun tangan untuk memberikan bantuan!
*****