"Kai?" panggil Ellyora dengan suaranya yang lembut. "Sejak kapan kau memiliki kekuatan sihir? Mungkinkah sejak lahir?"
Kai yang awalnya sedang berdiri membelakangi Ellyora dengan pandangan mengarah ke luar jendela kamar penginapan kemudian berbalik. "Kenapa menanyakan itu?"
"Hanya ingin tahu saja," jawab Ellyora enteng. Lain halnya Kai yang menyimpan harapan lebih di balik pertanyaan itu. Menurut Ellyora, wajar kalau Kai mengembalikan pertanyaannya, karena sejak awal latihan mengendalikan perisai sihir tadi, obrolan mereka hanya seputar Osmond dan perisai itu sendiri.
Ellyora menggeser posisi duduknya ketika Kai duduk di sebelahnya. Seperti beberapa saat yang lalu, kini mereka kembali duduk bersebelahan di tepian ranjang dengan pandangan sama-sama menghadap ke luar pintu kamar yang terbuka. Di luar sana nampak beberapa pohon willow berdaun lebat menumbuhi pelataran penginapan, sehingga menciptakan suasana yang sejuk.
"Hanya ingin tahu, ya? Kupikir karena hal lain."
"Hal lain?" Ellyora kebingungan.
"Ya. Seperti ... kau mulai tertarik padaku, misalnya."
Sontak Ellyora melongo dan menaikkan alis. "Apa? Tertarik? Tentu saja bukan seperti itu. Ummm ... maksudnya aku .... "
Ekspresi gugup gadis di sampingnya membuat Kai terkekeh pelan. "Lupakan. Aku hanya bercanda. Jawabannya: tidak."
"Eh?"
"Jawaban untuk pertanyaanmu. Apa sejak lahir aku memiliki kekuatan sihir, jawabannya: tidak." Kai hanya menoleh sebentar kepada Ellyora untuk menegaskan jawabannya.
Ellyora mengangguk-angguk. "Kalau tidak sejak lahir, lalu sejak kapan?"
"Sejak Ibuku memintaku meminum cairan khusus Yurza. Saat itu aku masih kecil jadi belum begitu paham kalau cairan itu bisa membuatku memiliki kekuatan sihir."
"Kupikir kau memiliki kekuatan sihir karena keturunan dari Ibumu. Ternyata kekuatan sihir Yurza itu bukanlah keturunan, ya?"
Kai mengangguk. "Manusia yang baru lahir tidaklah memiliki kekuatan sihir. Setidaknya seseorang perlu mengikuti ritual bulan berdarah agar menjadi Yurza tingkat pertama. Atau meminum cairan khusus Yurza untuk mendapatkan kemampuan sihir tingkat menengah."
"Itu artinya kau adalah Yurza tingkat menengah." Ellyora menyimpulkan. "Tapi kenapa aku tidak melihat tanda lingkaran emas matahari di lehermu? Begitu pun di leher Ibumu. Bagaimana bisa kalian tidak memiliki tanda itu? Bukankah semua Yurza tingkat menengah dan bawah memiliki simbol di lehernya?"
Sambil menggeleng pelan, Kai tersenyum. "Kami bukannya tidak memiliki tanda itu, Ell. Sama seperti Yurza menengah lain yang memiliki kekuatan sihir karena meminum cairan khusus Yurza, kami juga memiliki simbol di leher. Hanya saja ... kami biasa meminum ramuan daun Zipthus saat ingin menyamarkan tanda itu."
"Aku baru tahu ada ramuan yang seperti itu."
"Ramuan itu rahasia, jadi wajar kalau kau baru mengetahuinya. Hanya orang yang kupercaya saja yang kuberitahu tentang ramuan itu."
"Hmm. Lalu bagaimana dengan Ayahmu, Kai?"
"Ayahku?" Selama beberapa saat, Kai terdiam. Lalu menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Ellyora. "Ayahku adalah suku Albara sejati... sampai dia meninggal."
"Maaf, Kai. Aku tidak bermaksud mengungkit kesedihanmu." Ellyora menatap prihatin. "Aku hanya tidak habis pikir kenapa Ibumu tega memberikan cairan khusus Yurza itu kepadamu. Sedangkan kupikir kau masih bisa hidup tanpa menjadi penyihir."
Mendengar nada kepedulian dari gadis yang dicintainya, Kai pun menoleh, menatap sepasang mata coklat terang yang dimiliki Ellyora Bright. Hal yang susah payah ia hindari sepanjang siang ini.
Pandangan mereka pun terkunci satu sama lain.
Ellyora dengan tatapan matanya yang lembut ....
Kai dengan emosi yang tertahan di dalam hatinya ....
Bagaimana pun juga, janji yang telah Kai ucapkan pada Cassandra demi mewujudkan rencana ini menyebabkan dirinya tak memiliki pilihan lain kecuali merelakan Ellyora pergi untuk sementara waktu ke pulau Tannin. Tapi di sisi lain, Kai juga telah berjanji untuk menjaga Ellyora Bright. Tak ingin emosi di dalam hatinya makin tak terkendali, Kai lantas memutuskan ikatan mata itu dengan mengerjap, sebelum akhirnya menunduk demi melindungi hatinya yang terluka.
Menangkap ekspresi ganjil Kai Xavier, tatapan lembut Ellyora berubah penuh tanya. Kenapa sudah sejak awal latihan tadi, Kai berubah seakan menghindarinya? Padahal sikap pria itu sebelumnya sangat percaya diri termasuk saat menatapnya. Sungguh Ellyora tidak mengerti pada perubahan sikap ketua The Keepers itu. Bukankah seharusnya keputusan Ellyora menjadi kabar gembira untuk Kai?
"Lupakan saja. Sekarang, selesaikan latihan terakhirmu." Kai mengalihkan pembicaraan.
Kendati merasa pembicaraannya dengan Kai belum selesai, akhirnya Ellyora mengangguk. Perhatian Ellyora lantas kembali pada ular berwarna putih dan bermata hijau emerald yang sedang tersenyum padanya, mendesis-desis di antara dirinya dan Kai.
"Drake, kurasa sudah saatnya kau kembali menjadi rantai. Terima kasih, karena sudah membantu latihan perisaiku hari ini," kata Ellyora.
Drake membalas senyuman Ellyora. Garis bibirnya melebar, sehingga nampak sepasang taringnya yang berkilat. Walaupun merupakan ular hasil sihir transformasi, tetapi Drake masih ingat bahwa gadis di hadapannya adalah gadis yang sama dengan yang pernah ia temui delapan tahun lalu.
Ellyora menyentuh puncak kepala Drake dengan lembut. Setelah ular itu kembali menjadi talian rantai perak, ia mengambilnya lalu memberikan kepada si pemilik.
Kai menerima rantai itu dengan tidak berkata apa pun. Fakta bahwa Ellyora tidak mengingat kenangan yang mereka miliki delapan tahun silam telah meremukkan hatinya. Bahkan, ingatan gadis itu tidak terpancing sedikit pun setelah melihat Drake. Itu karena efek ramuan merah yang dulu pernah diberikan Cassandra pada Ellyora sewaktu kecil.
"Sekarang aku paham," terang Ellyora.
Kai cepat-cepat menoleh. "Paham? Mungkinkah kau teringat sesuatu?"
"Ya. Aku sekarang paham kenapa saat melihatmu, aku selalu teringat ular berbisa. Ternyata karena kau benar-benar memilikinya. Bukankah instingku patut diandalkan?" Ellyora tertawa bangga.
Kai merasakan hatinya semakin tenggelam dalam keputusasaan. Dengan santainya Ellyora malah tertawa. Tawa yang berpengaruh besar pada kerja jantung seorang Kai Xavier. Rasanya ingin sekali Kai merengkuh tubuh gadis itu dan membisikkan kenangan yang sempat mereka miliki saat ini juga. Kai menggerakkan tangannya.
Namun sebelum itu ....
Ellyora beranjak dari tempat duduknya menuju meja kayu di dekat ranjang. Diamatinya dua pedang yang tergeletak di atas meja itu. Satu pedang berjenis katana, dan satu lagi berjenis odachi yang memiliki ukuran lebih besar dan panjang. Terdapat ukiran daun berwarna perak di bagian pegangan dua pedang tersebut, yang mana merupakan milik Kai Xavier.
"Kai, kau ketua The Keepers. Kudengar kemampuan berpedangmu hebat. Dari siapa kau belajar?" tanya Ellyora seraya menelusuri ukiran pedang Kai dengan ujung jemarinya.
"Dari Ayahku, dan beberapa master lain saat aku baru masuk The Keepers."
"Wah, kau beruntung memiliki Ayah dengan kemampuan berpedang yang hebat."
"Aku yakin kemampuan berpedang Paman Harry juga tak kalah hebat."
"Memang. Tapi selama ini Ayah tidak banyak mengajariku. Lucu ya? Padahal kan bisa berpedang adalah ajaran turun temurun suku Albara sebagai keturunan bangsa kesatria." Ellyora tertawa kecil sebelum membuang napas perlahan. "Tapi tidak apa-apa. Mungkin Ayahku seperti itu karena berpikir akan selalu menggunakan seluruh hidupnya untuk melindungiku."
"Benarkah? Aku jadi penasaran ingin menjajal kemampuan berpedangmu."
Ellyora tersipu, lalu menggeleng. "Aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri di depanmu. Daripada menjajal kemampuanku, mungkin lebih tepat kalau seharusnya kau mengajariku."
"Akan kulakukan jika kau mau."
"Oh, ya? Tentu saja aku mau."
Kai tersenyum menerima tatapan gadis di hadapannya yang begitu antusias. "Baiklah. Tetapi tidak di sini. Lebih baik kita berlatih di pinggiran hutan. Lagi pula, kau sudah menyelesaikan latihan mengendalikan perisaimu."
Ellyora setuju. Mereka lalu menuju perbukitan pinggir hutan yang tak begitu jauh dari penginapan.
Begitu sampai di sana, Kai berdiri tegap menghadap Ellyora. "Sekarang, coba kita lihat kemampuanmu. Serang aku, anggaplah aku musuh."
Setelah membuka sarung pedangnya, Ellyora mengangguk. Namun, karena menyadari lelaki yang di hadapannya bukanlah musuh, genggaman tangannya meragu. Ellyora berusaha menyingkirkan keraguan itu, lalu mulai mengayunkannya ke arah Kai. Satu kali percobaan, Kai berhasil menghindar dengan mudah. Begitu juga percobaan berikutnya. Sampai akhirnya, Kai menangkis pedang milik Ellyora dengan pedangnya.
PRANG.
Pedang Ellyora seketika terlempar menghantam bebatuan sebelum akhirnya tergeletak di rerumputan.
"Kau tidak bisa menyerang dengan genggaman tangan yang lemah seperti itu."
Ellyora menanggapi komentar Kai yang bernada tegas dengan bibir mengerucut. "Kalau begitu, ayo coba lagi, Kai. Kali ini aku akan menggenggam lebih kuat," ucap Ellyora usai berjongkok untuk mengambil pedangnya.
"Kita akan mencoba lagi. Tapi sebelum itu, perbaiki dulu kuda-kudamu. Perkuat pijakan kaki, lalu tegakkan tubuh." Kai memposisikan diri berdiri di belakang Ellyora, sehingga tampak jelas kalau Ellyora setinggi d**a Kai. "Fokuskan pikiranmu pada satu tujuan ... misalnya pada pohon kecil itu. Bayangkan dia adalah musuh, jangan ragu," bisik Kai. "Genggam pedang dengan lebih erat, luruskan, dan rasakan kekuatan berkumpul di bahumu."
Sesuai arahan Kai, Ellyora memfokuskan pandangannya ke arah batang pohon kecil. Keraguannya hilang. Tetapi sentuhan hangat tangan Kai di kedua bahunya membuat hatinya berkedut. Ellyora hanya bisa menurut pada arahan tangan Kai yang menuntun lengannya agar mengangkat pedang lebih tinggi ke arah kanan.
"Fokus. Lalu cobalah ayunkan ke bawah dengan seluruh kekuatanmu," perintah Kai, kemudian Ellyora mengayunkan pedangnya.
CRUSH!
"Lakukan lagi pada pohon di sampingnya. Angkat pedangmu ke kiri, lalu ayunkan," instruksi Kai.
CRUSH!
Mata Ellyora berkilauan. Sebelumnya ia butuh lebih dari sekali ayunan pedang untuk menumbangkan pohon ukuran kecil. Tetapi kini ia terkejut, berkat arahan Kai Xavier, ia bisa langsung membagi dua batang pohon di depannya hanya dengan sekali tebasan pedang.
Sambil menurunkan pedangnya, Ellyora tersenyum ke arah Kai. "Ketua The Keepers, apa kemampuanku sudah lebih baik?"
Kai tertawa sambil mengacak pelan rambut di puncak kepala Ellyora. "Berlatihlah lebih giat. Semakin kau lancar melakukannya, maka gerakanmu juga akan lebih sigap."
Menerima perhatian Kai, wajah Ellyora memanas. Tak ingin Kai melihat pipinya yang mulai bersemu merah, Ellyora lantas menjatuhkan tubuhnya duduk di rerumputan. Rambutnya yang tergerai melambai tertiup angin dari arah lembah. Tapi ngomong-ngomong tentang rambut, Ellyora jadi ingin menanyakan sesuatu pada lelaki berambut pirang yang kini duduk di sebelahnya. Maka setelah ia berhasil menguasai ketenangan dirinya kembali, Ellyora pun bertanya.
"Kai, kenapa kau mewarnai rambutmu?"
Pertanyaan Ellyora membuat Kai yang mendengarnya langsung tertawa. "Mewarnai? Kau bercanda."
"Jadi kau tidak mewarnai rambutmu?"
"Tentu saja tidak, Ell."
"Oh, maaf. Aku baru pertama kali melihat seseorang berambut pirang sepertimu. Jadi kupikir kau sengaja mewarnainya."
Wajah Kai yang tadi sempat memerah karena tawa, kini mereda. Ia menatap Ellyora dengan lembut. "Warna pirang ini asli dari Ayahku."
"Oh, ya? Benarkah?"
"Ya. Mau coba pegang?"
"Apa? Ti—tidak. Tidak perlu memegangnya, sekarang aku percaya kalau itu asli." Ellyora salah tingkah. Kemudian ia menanyakan hal lain berharap pembicaraan teralihkan. "Kai, kau pernah ke kerajaan Vash?"
"Hmm. Kenapa?"
"Pernah kudengar, selama berpuluh-puluh tahun Yurza selalu menyerang Vash."
"Itu benar. Yurza tahu bahwa Vash memiliki benteng paling lemah di antara semua kerajaan timur."
Ellyora mengangguk-angguk. Sedikit ia pernah mendengar dari Neneknya, bahwa memang dulu leluhur bangsa kesatria membangun benteng yang mengelilingi seluruh daratan kerajaan timur. Berkat anugrah dari Sang Pencipta, tembok-tombok benteng yang mengelilingi seluruh kerajaan timur seolah memiliki selubung berkekuatan magis sehingga sampai sekarang monster-monster Yurza belum ada yang mampu melewatinya. Hanya saja, selubung benteng itu memang tidak mampu menghalangi para penyusup Yurza atau pun keluarga Kinsey yang berteleportasi.
Kai melanjutkan. "Karena itu, pasukan The Keepers yang berjaga di sana lebih banyak."
"Apa benar-benar harus dijaga? Bukankah benteng itu sendiri sudah memiliki kekuatan untuk menahan para monster?"
"Ya. Tapi jika dibiarkan tanpa perlawanan, bukan tidak mungkin benteng Vash bisa runtuh. Apalagi hampir setiap hari Yurza selalu mengirim variasi monster terbarunya. Beberapa monster bisa mudah dimusnahkan hanya dengan senjata anak panah yang dilapisi bubuk daun Zipthus. Beberapa monster lainnya membutuhkan usaha yang lebih. Para The Keepers bersama kavaleri kerajaan Vash seringkali harus turun ke luar benteng dan memusnahkan monster-monster itu dengan tebasan pedang."
Ellyora tertegun. Hatinya tersentuh. "Menghadapi monster-monster itu secara langsung, pasti tidak mudah, bukan? Karena itu aku semakin ingin membuat rencana ini berhasil."
"Apa kau benar-benar yakin? Kalau kau ragu, masih ada kesempatan berbicara pada Roseanne dan Ibuku bahwa kau tidak menginginkannya."
"Aku yakin, Kai. Sudah cukup peperangan ini memakan banyak nyawa. Aku ingin melihat bangsa kesatria hidup selayaknya. Sama dengan lainnya, bangsa kesatria juga manusia yang memiliki hak di dunia ini. Aku yakin dengan rencana ini, tidak ada lagi yang harus hidup sembunyi-sembunyi lagi."
Kai tersenyum, lalu memberi Ellyora sebuah kantong yang ia ambil dari saku sabuknya.
Ellyora menerima pemberian Kai. "Apa ini, Kai?"
"Buka saja."
Ellyora membuka kantong itu dengan hati-hati. Ternyata isinya adalah bubuk berwarna ungu. Warnanya hampir mirip warna anggur, bedanya bubuk itu nampak berkilauan. Mata Ellyora berbinar. "Kai, bukankah ini bubuk daun Zipthus?"
"Benar. Bawalah bersamamu. Berjaga-jaga untuk keselamatanmu. Sebelum kita berangkat, aku telah berjanji pada Harry untuk menjagamu. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
"Terima kasih, Kai."
"Aku tidak ingin mendengar kau berterima kasih, aku hanya ingin mendengar kau tetap hidup," kata Kai lalu Ellyora mengangguk. Kai tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya meski saat ini ia memasang senyuman ... senyuman dengan hati terluka.
"Ternyata kalian di sini." Cassandra mendadak muncul tak jauh dari tempat di mana Kai dan Ellyora duduk. "Kai, bersiaplah. Sudah waktunya."
Ellyora beralih memandang Cassandra. Setelah mendengar cerita Kai, ia menjadi agak sebal pada wanita berselendang merah itu. Sebagai seorang Ibu, seharusnya Cassandra tidak memberi Kai ramuan Yurza. Bukankah wanita itu sendiri ingin kekuasaan Yurza hancur?
Setelah Cassandra berlalu, Ellyora kembali menatap Kai yang sedang menunduk. Wajah pria itu tampak bersedih. Mungkin karena hubungan Kai yang kurang baik dengan Ibunya, atau mungkin karena hal lain, Ellyora tidak tahu.
"Apa itu artinya kita akan berpisah sekarang?" tanya Ellyora.
Kai mengangguk pelan. Diraihnya pedang miliknya sebelum bangkit.
Ellyora ikut berdiri lalu berjalan pelan di belakang Kai. Tidak tahu karena alasan apa, hatinya bergetar saat menatap punggung di depannya menjauh.
Di sisi lain, Kai terlihat melangkah dengan mantap dan tubuh tegap, tetapi sebenarnya tersimpan beban berat dalam setiap ayunan langkah itu. Rasanya jika bisa memilih, ia tidak ingin berpisah dengan Ellyora.
Masih ada waktu untuk berubah pikiran. Belum terlambat jika ingin membawa Ellyora Bright kabur lalu mengajaknya hidup tenang di pedalaman hutan seperti yang diinginkan Kai. Atau ... membawa Ellyora ke Osmond saja, tanpa harus terlibat dengan rencana ini.
Masih ada waktu. Namun, waktu yang tersisa ini benar-benar membuat Kai bimbang. Sungguh ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai rencana ini gagal.
Langkah demi langkah. Badai emosi semakin berkelebat di dalam hati Kai Xavier. Kai menghela napas, sebelum memutuskan berbalik .... Dan akhirnya menarik Ellyora dalam pelukannya.
Ellyora terkesiap. Namun, tubuhnya yang seharusnya mengantisipasi dengan menghindar atau melangkah pergi, kini justru terpaku. Kaku. Untuk pertama kalinya, ia merasakan dadanya bergemuruh seolah jutaan bintang berkedip dan menyala di sana. Dan kehangatan dari pelukan Kai menyentuh sampai jantungnya.
Tunggu! Kedekatan ini, kenapa seolah Ellyora pernah merasakannya?
Kai mengembuskan napas, seakan beban berat baru saja terlepas dari hatinya. "Ellyora Bright, kau sungguh tidak mengingat kenangan bersamaku? Kau tidak mengingat janjiku?"
Jantung Ellyora berdebar cepat. Napasnya tidak teratur mendengar bisikan hangat dan lembut di dekat telinganya. "Apa maksudmu, Kai?"
"Baiklah aku tidak peduli. Meski kau tidak ingat ... sejak delapan tahun yang lalu sampai selanjutnya, perasaanku padamu tidak akan berubah.
Delapan tahun lalu? Ellyora bertanya-tanya.
"Dengarkan aku, Ellyora Bright. Entah rencana ini berhasil atau tidak, aku tetap akan datang menemuimu ... menjemputmu di Tannin. Tak akan kubiarkan calon pemimpin Yurza itu memilikimu, apalagi melukaimu," bisik Kai sebelum melepas pelukannya.
Detik itu juga, sebuah kenangan menyergap ingatan Ellyora. Kenangan delapan tahun silam bersama seorang anak laki-laki berambut pirang, bermata hijau, serta ular berbisanya di salah satu sudut pasar Eden.
Napas Ellyora memberat. Kai Xavier? Jadi dia adalah anak lelaki itu. Anak lelaki yang selama ini membisikkan janji akan menjaganya? Anak lelaki yang ia anggap sebagai teman untuk pertama kali dalam hidupnya?
Ellyora terperanjat. Matanya yang berkaca menelusur. Namun, Kai sudah terlebih dulu hilang dari pandangannya.
Kai?
***