Perisai Sihir

1232 Words
"Saya tidak mau melakukannya! Dan saya tidak menyangka ternyata Anda orang yang seperti itu, Nyonya Roseanne!" sergah Ellyora setelah mendengar apa yang dijelaskan Roseanne padanya. "Pertimbangkanlah, Ellyora. Kau memiliki perisai sihir. Hanya kau yang mampu melaksanakannya," ujar Roseanne. Tentunya dengan masih memainkan lakon sebagai Nyonya Roseanne. Hanya Cassandra dan Kai yang boleh mengetahui seorang Diana masih hidup. "Aku bahkan tidak tahu apa itu perisai sihir." "Ketika seseorang menyerangmu dengan sihir, ada sesuatu dalam dirimu yang membuat sihir itu tidak bekerja. Itulah perisai sihir. Mungkin kau tidak menyadarinya." "Nyonya Roseanne benar." Cassandra menambahkan, lalu meletakkan sebuah buku ke hadapan Ellyora. Buku yang tua, di sampulnya tertulis judul: Hal-Hal yang Bisa Mematahkan Sihir Yurza. "Ini adalah buku yang pernah ditulis leluhurku. Hanya ada satu-satunya, dan sebenarnya merupakan buku terlarang di kalangan Yurza. Kau bisa membaca?" Ellyora mengangguk, tapi ketakutan masih terlihat jelas di wajahnya. "Bacalah," ucap Cassandra. Ellyora mengambil buku itu, membolak-balik lembarannya. Gerakan matanya naik turun, berusaha memahami isi buku tersebut meski dengan bibir dan tangan yang gemetar.  Melihat Ellyora mulai tertarik, Cassandra melanjutkan. "Di halaman empat tertulis penyebab seseorang memiliki perisai sihir. Salah satunya karena berkah dari lahir. Dengan kata lain, perisai itu mengalir dalam darahnya ... " Cassandra menjeda, "dan aku yakin perisai itu mengalir dalam darahmu, dan darah seseorang yang memiliki perisai sihir sangat dibenci Raja Iblis." "Tapi kenapa harus dengan rencana pernikahan?" Ellyora mengungkap pertanyaan terbesarnya, pertanyaan yang masih belum ia pahami meski telah membaca buku itu. "Raja Iblis tidak sembarang bisa ditemui. Ia hanya akan muncul pada ritual bulan berdarah, dan ritual pernikahan pemimpin Yurza," terang Cassandra.  "Tapi ...." Ellyora teringat kejadian di kebun tomat. "Sebelumnya ada keluarga Kinsey yang mendatangiku. Dari gerak-geriknya, kupikir lelaki yang mendatangiku waktu itu berniat menyihirku tapi gagal. Aku khawatir dia curiga kalau aku memiliki perisai sihir." "Tidak," tegas Cassandra. "Lelaki itu adalah Edbert Kinsey. Aku telah meyakinkannya bahwa kegagalan itu murni karena kegugupannya. Dia akan percaya, kegagalan seperti itu memang bisa terjadi saat penyihirnya sedang gugup." Ellyora menutup buku di tangannya dengan embusan napas berat. Dikembalikannya buku itu ke hadapan Cassandra. "Aku belum bisa memutuskan sekarang. Rencana ini terlalu berisiko untukku, dan mungkin juga untuk keluargaku." "Tidak apa-apa. Kami akan memberimu waktu sampai besok pagi." Roseanne menyahut. "Tapi pikirkanlah baik-baik. Perdamaian akan terjadi jika rencana ini berhasil. Sebaliknya. Jika kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka akan semakin banyak yang menderita karena kekuasaan Yurza. Saat ini Yurza tidak berhenti membuat kerajaan Vash menderita. Begitu banyak nyawa yang telah melayang di sana. Baik rakyat Vash sendiri, maupun suku Albara dan The Keepers yang berjuang di garis depan. Pikirkan baik-baik. Berapa banyak wajah yang akan tersenyum jika kau bersedia melakukan rencana ini." Ellyora mengerjap. Badai emosi seolah menghantamnya, menyentuh relung hati nuraninya. Tak pelak wajahnya pun memucat. Mulutnya terbuka tapi urung berucap ketika akhirnya Roseanne, Cassandra, dan Kai meninggalkan ruangan, meninggalkannya sendirian dengan beban pikiran atas limpahan rencana ini.  Apa yang baru saja dikatakan Roseanne terngiang-ngiang di telinganya. Semakin diingat, maka hati nuraninya sebagai suku Albara makin tergerak. Tapi mengapa harus dirinya? Apa yang bisa dilakukan oleh gadis sepertinya? Dirinya memiliki perisai sihir? Ellyora sungguh tidak mengerti. Memang perdamaian adalah apa yang selalu Ellyora impikan. Namun tidak terbayang jika dirinya sampai harus masuk ke sarang penyihir di pulau Tannin. Lagi-lagi ia menggeleng, itu sungguh tidak mungkin. Ellyora menggunakan sisa waktu kesendiriannya untuk berpikir.  Ayah ... Ibu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Mungkinkah ini memang jalan takdirku? *** Kai berbaring pada kursi kayu panjang di halaman penginapan. Sinar matahari pagi berusaha mengintip melalui celah-celah daun pohon willow yang berjejer di sekitar kursi panjang itu. Manik mata hijaunya terpejam. Tapi Kai tidak sedang tidur. Dari semalam, sesuatu yang mengganggu pikirannya membuat ia belum bisa terlelap. Kai kembali membuka matanya ketika mendengar langkah kaki seseorang berjalan mendekat. Ia menoleh dan segera duduk setelah melihat Cassandra yang datang. "Sarapanmu, Nak." Cassandra menyodorkan sepiring bubur. "Letakkan saja." Melihat Kai melengos, Cassandra menghela napas lalu duduk di sebelahnya. "Kau ingin Ibu ambilkan minum hangat?" "Tidak perlu. Nanti aku akan mengambil sendiri," jawab Kai, lalu sekilas menoleh pada Cassandra. "Aku harap Ibu tidak lupa pada apa yang pernah Ibu katakan. Gadis itu akan menjadi milikku jika ia menolak rencana Nyonya Roseanne." Cassandra terdiam. Ia tidak lupa. Ia memang pernah mengatakannya pada Kai delapan tahun yang lalu. Tak terpikirkan bahwa Kai masih mengingat perkataannya sampai saat ini. "Gadis itu tidak boleh menolaknya. Rencana ini harus berhasil." "Seharusnya aku ingat, Ibu memang tidak pernah memikirkan perasaanku." Kai terkekeh, enggan memperlihatkan matanya yang berkilat pada Cassandra.  Suasana mendadak canggung setelahnya, sampai akhirnya terdengar langkah kaki mendekat. "Nyonya Cassandra?" Sebuah panggilan membuat Cassandra menoleh. Pandangannya terhenti pada Ellyora yang baru saja datang di tengah-tengah obrolannya dan Kai. "Ada yang ingin aku sampaikan." "Katakanlah." "Aku ... akan melakukannya. Aku akan mewujudkan rencana itu," kata Ellyora setelah sebelumnya ia pikirkan masak-masak. Kai tersentak. Keputusan Ellyora meremukkan hatinya. Lain halnya dengan Cassandra yang kini tersenyum cerah. "Aku sudah menduga kau akan menerima rencana Nyonya Roseanne." "Bukan!" sahut Ellyora cepat. "Bukan untuk Nyonya Roseanne. Aku melakukannya... semata-mata karena aku ingin perdamaian. Selama ini aku hanya bersembunyi di hutan. Tidak tahu bahwa bertahan hidup di luar hutan begitu kejam, dan semua ini karena keserakahan Yurza. Sebagai Albara keturunan kesatria, sudah sepantasnya aku berhenti memikirkan diri sendiri dan mulai melakukan sesuatu untuk orang lain. Aku ingin kekejaman itu berakhir dan manusia hidup damai." "Ellyora, kau memang gadis Albara yang baik," ujar Cassandra. "Kalau begitu, gunakanlah waktu yang tersisa ini untuk melatih kemampuan perisaimu. Kau harus bisa mengendalikannya sehingga perisai itu hanya muncul ketika dibutuhkan. Tidak boleh ada yang tahu kau memiliki perisai kecuali kami." Ellyora mengangguk. Meski begitu, ia masih bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya perisai yang ia miliki. Selama ini ia merasa hanya sebagai gadis biasa yang normal. Cassandra melanjutkan. "Kai yang akan melatihmu." Kai tidak menyahut. Ia sedang berusaha menelan emosi yang menyumbat tenggorokannya. *** Edbert membuka mata perlahan lalu memicing karena menyesuaikan cahaya matahari siang dari arah jendela sana. Ia memutar leher. Ototnya terasa pegal. Ia baru sadar telah tertidur di samping ranjang Dexter dengan posisi duduk dan kepala bertumpu tangan. Edbert menengok Dexter yang masih terbaring di atas ranjang. Ia segera bangkit dan memastikan tubuh anak itu sudah tidak sedingin semalam. Walaupun belum tersadar, tapi Edbert bersyukur kondisi Dexter kini sudah membaik. Beruntung tadi malam Roland segera mendatangkan Jed, peramu hebat Yurza yang khusus menangani racun. Jed telah memberi Dexter pertolongan sebelum racun di tubuh anak itu benar-benar menyebar. Kalau sesuai perkiraan Jed, seharusnya nanti sore Dexter sudah sadar.  "Tuan Muda!" Edbert menoleh pada Alcott yang baru saja datang. Nada suara burung itu terdengar panik. "Pelankan suaramu, Acott!" sungut Edbert lirih tapi penuh penekanan. Alcott mengkondisikan tarikan napasnya sebelum berbicara. "Maaf, Tuan Muda. Tapi saya datang membawa berita penting. Pagi ini telah terjadi demo yang dilakukan oleh beberapa kelompok Yurza tingkat menengah dan bawah, Tuan. Mereka berkumpul di halaman gedung parlemen kerajaan masing-masing." Edbert mengernyit. "Di kerajaan mana saja? Apa yang mereka suarakan?" "Kerajaan: Ealdas, Norwind, Soca, dan Kawa. Massa memprotes keseriusan Anda. Sepertinya, mereka terprovokasi dari pihak-pihak yang memang sejak awal meragukan Anda. Mereka meminta diadakan pertemuan mediasi, Tuan Muda." Tangan Edbert mengepal. Sorot mata birunya menajam. Dugaan atas kericuhan itu mendarat di benaknya sedetik kemudian. Tidak mungkin para pendemo itu begitu berani tanpa ada keluarga Kinsey yang melindungi mereka. Edbert meyakini, dalangnya adalah orang yang sama dengan dalang si penabur racun semalam. "Alcott," panggil Edbert. "Wujudkan keinginan mereka malam ini. Aku akan membungkam mereka semua." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD