Rencana

1868 Words
Arthur sedang mencari hiburan di rumah bórdil kerajaan Mogwes. Duduk di sebelahnya, seorang perempuan sedang menuangkan minuman dengan gaya anggun. Kulitnya yang putih bersemu rona merah jambu di pipinya, matanya sipit dengan bulu mata lentik, membuat siapa pun yang bicara padanya sulit berkedip. BRAK! Setelah meneguk minumannya sampai habis, Arthur meletakkan gelas di atas meja kaca disertai hentakan. Mendadak suasana hatinya buruk ketika perasaan tidak terima atas kegagalan rencananya menyingkirkan Edbert Kinsey muncul kembali. Menyadari emosi lelaki di sampingnya, si wanita bordil yang bernama Sora lantas tersenyum lembut sebelum bertanya. "Apa yang sedang mengganggu pikiran Anda, Tuan?" Arthur menoleh, mengamati senyuman Sora yang begitu manis. Pantas saja kalau Sora menjadi wanita penghibur yang paling diinginkan kebanyakan lelaki Yurza, termasuk dirinya. Paras tercantik, lekuk tubuh terindah, dan sikap penuh keanggunan membuat Sora istimewa. Tapi karena keistimewaannya itulah, semahal apa pun tamunya membayar, Sora hanya akan menemani di ruang jamuan, tanpa melayani di atas ranjang seperti wanita bórdil lainnya. "Sora Masayuki, bagaimana pendapatmu tentang Edbert Kinsey?" tanya Arthur seraya menyentuh dagu Sora yang runcing dengan telunjuknya. "Edbert Kinsey?" Sora terkekeh. "Si calon pemimpin Yurza itu tidak pernah datang ke tempat seperti ini, Tuan. Saya hanya pernah melihatnya satu kali, itu pun tanpa sengaja. Dia lelaki yang cukup tampan, tapi sayang ekspresinya begitu dingin." Dengan cepat, Arthur melingkarkan tangan kanannya di pinggang Sora, memindahkan tubuh wanita itu sehingga duduk merapat di sisinya. Tatapan Arthur menghunus seolah tombak menyakitkan baru saja terlepas dari manik mata hazelnya. Sora adalah wanita yang disukainya, dan ia tidak terima jika wanita itu memuji lelaki lain. Terlebih jika lelaki itu adalah Edbert Kinsey, seseorang yang paling ingin ia singkirkan saat ini. "Jangan pernah mengatakan hal baik tentang Edbert Kinsey di hadapanku!" Sora tetap tersenyum, menanggapi dengan tenang nada kemarahan yang dilontarkan Arthur. "Saya hanya berusaha menjawab pertanyaan Anda dengan jujur. Maaf jika membuat Anda tidak nyaman." Arthur tersenyum miring. Gejolak di dadanya membuat Arthur tak bisa menahan untuk mendekatkan wajah, hendak mencium Sora, tapi wanita 22 tahun itu membuang wajah darinya. Penolakan itu membuat Arthur tersenyum getir. Ia pria yang penuh ambisi, semua yang diinginkannya selalu ia dapatkan kecuali Sora, dan itu membuatnya semakin tertantang. "Sampai kapan kau akan menolakku?" tanya Arthur. Senyuman manis kembali menghiasi bibir Sora yang merah menggoda. "Anda sudah memiliki dua orang istri, Tuan. Semuanya berasal dari bangsawan. Sementara saya? Hanya wanita bordil yang tidak pantas mendapat tempat di sisi keluarga Kinsey seperti Anda." "Dusta!" tukas Arthur. "Katakan saja jika ada lelaki lain." Tuduhan Arthur membuat Sora terkekeh geli. Tanpa memutus kontak mata dengan Arthur, perlahan Sora bangkit menuju kursinya, membuat Arthur harus rela melepaskan tangannya dari wanita itu. "Anda keluarga Kinsey. Bagaimana saya bisa membohongi Anda, Tuan," jawab Sora, lalu dengan lembut, kembali menuang botol untuk mengisi gelas Arthur yang kosong. Sora tersenyum penuh arti, dan dalam senyumannya terkenang wajah seorang lelaki. Lelaki yang ia inginkan menjadi pendamping hidupnya, tetapi selama ini ia sembunyikan agar tidak ada seorang pun yang tahu, khususnya Arthur. Maxen Kinsey, lelaki itu selalu berhasil membuat Sora menjadi dirinya sendiri, bukan wanita penghibur yang tidak berharga. Sekarang ... setelah mendengar pertanyaan Arthur, tiba-tiba ia merindukan lelaki itu. Sudah lama Maxen tidak mengunjungi rumah bordil Mogwes. "Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak boleh ada lelaki lain yang mendapatkanmu!" ucap Arthur. "Tunggu aku menjadi pemimpin Yurza, kupastikan kau tidak bisa menolakku lagi. Arthur tersenyum licik melihat bayangan dirinya yang terpantul di gelas kristal. Memangnya siapa lagi yang lebih pantas menjadi pemimpin Yurza selain dirinya? Kepercayaan diri Arthur sangat tinggi. Bagaimana pun caranya, ia harus membuat seorang Edbert Kinsey tersingkir sebelum ritual penobatan. Dengan begitu, dirinyalah yang akan menggantikan sebagai pemimpin Yurza. Tak lama kemudian, Korvin, si burung gagak milik Arthur datang menginformasikan jika Steadman sedang menunggu Arthur di ruang perapian mansion barat. Setelah memberi ciuman kecil di pipi Sora, Arthur pun beranjak bangkit. Tak sabar menemui Ayahnya untuk menyusun rencana lain. *** Tragedi terjungkal dari sofa pink membuat Maxen merasa ketampanannya menurun beberapa tingkat. Jadi untuk menormalkannya, tadi ia mengunjungi bar kelas atas kerajaan Mogwes lagi. Hanya dengan bertemu para gadis cantik dan mendapatkan pujian dari mereka, maka perasaan Maxen bisa membaik dengan cepat. Sempat terjadi keributan kecil ketika Maxen kembali ke bar itu. Entah itu keributan apa, Maxen tidak terlalu memedulikan. Ia hanya fokus pada tujuannya, mencari hiburan dengan menggoda para wanita cantik dan menganggap keributan itu hanya keributan biasa yang terjadi akibat kecerobohan pelayan. Kini Maxen telah kembali ke mansionnya di sayap barat pulau Tannin, tempat tinggal yang sama dengan Steadman sebab Maxen belum menikah. Berbeda dengan Arthur yang telah berkeluarga sehingga tinggal di mansion yang terpisah. Meski malam sudah larut, dan udara malam begitu dingin, Maxen tidak lantas langsung masuk ke mansionnya. Ia sengaja mampir di gazebo taman, duduk di sana sambil mengamati langit dengan hati berbunga-bunga, melebihi banyaknya bunga di sekitarnya. Sebentar lagi musim dingin akan mencapai puncaknya. Mungkin beberapa minggu lagi salju akan turun. Sebagai penyuka salju, Maxen berharap bisa menghabiskan waktu menikmati moment turunnya salju pertama bersama seorang gadis cantik. Ah, tidak. Seorang gadis cantik sudah biasa. Ia ingin gadis cantik yang berbeda. Mendadak ia teringat si gadis mutiara. Mungkinkah gadis itu yang nanti akan menemaninya? Bukan tidak mungkin. Bukankah ia hanya harus kembali ke pasar Eden? Lagi pula, gadis itu mengatakan bahwa Maxen adalah pria ketiga yang memegang tangannya, selain Ayah dan Paman gadis itu. Artinya bukankah gadis itu belum memiliki kekasih? Maxen tersenyum-senyum sendiri sambil memandang langit di atas pulau Tannin yang dipenuhi gugusan bintang. Lalu wajahnya tiba-tiba menegang saat ia kembali mengingat sesuatu. Payung merah. Maxen menepuk jidatnya. Merasa bodoh telah meninggalkan payung itu di kamar Edbert. Apa ia harus mengambilnya sekarang juga? Maxen menggeleng. Mungkin besok saja. Lagi pula, saat ini Edbert pasti masih kesal padanya. Maxen bergumam. "Huh, calon pemimpin Yurza itu memang pendendam. Seharusnya tadi dia ikut bersamaku saja kembali bertemu gadis cantik! Ah, tidak. Dia orang yang terlalu kaku. Dia hanya akan merusak suasana dan membuat para gadis bosan." "Apa yang kau gumamkan?" Alis Maxen terangkat. Ia menoleh pada si penanya yang ia kenal betul suaranya, Arthur. "Sejak kapan gumaman seorang Maxen penting bagi Arthur Kinsey?" sarkas Maxen, mengabaikan Arthur yang mendudukkan diri di sebelahnya. "Ada kepentingan apa kau malam-malam begini masih berkeliaran di sini? Apa dua istrimu tidak kedinginan karena menunggumu di rumah?" "Jaga bicaramu. Biarpun aku kakakmu, kau harus tetap berkata sopan," tegur Arthur.  "Maaf." Maxen menunduk, tapi tak nampak keseriusan di wajahnya, sehingga membuat Arthur geram. "Kali ini masih kumaafkan." Arthur berpura-pura tersenyum. "Kau baru kembali ke mansion. Wanita mana yang baru saja kau kencani?" Alis Maxen terangkat sebelah. "Apa aku tidak salah dengar? Merupakan suatu kehormatan seorang Arthur Kinsey penasaran dengan urusan pribadiku." Maxen bertepuk tangan. "Kau memang berjiwa bebas. Tapi jangan tunjukkan sifat kekanakanmu di hadapanku!" geram Arthur akhirnya. Maxen merapatkan bibir dan menegakkan posisi duduknya. "Oke! Apakah begini lebih baik? Aku sudah terlihat seperti pria dewasa?" Arthur menatap tajam. Senyuman palsu di wajahnya hilang. "Sepertinya sudah cukup kita berbasa-basi. Sekarang aku akan langsung bicara intinya saja." "Silakan, Tuan Arthur yang terhormat." "Kau ingin mendapat pengakuan Ayah? Bagaimana jika kutawarkan rencana padamu?" Arthur tersenyum simpul lalu menyampaikan tawarannya. "Bergabung denganmu untuk menghancurkan Edbert Kinsey?" Maxen terkekeh geli. "Maaf. Aku sama sekali tidak berminat." Rahang Arthur mengeras, dan hanya membiarkan Maxen yang langsung meninggalkannya. *** "Gadis itu sudah di dalam. Inilah saatnya." Cassandra memberitahu pada wanita berselendang biru di hadapannya, Roseanne. "Kau benar." Roseanne menghirup napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Anda terlihat ragu," ujar Cassandra. Roseanne melempar pandang pada bintang-bintang yang menaungi penginapan. "Aku tidak meragukan rencanaku, Cassandra. Aku hanya sedikit gugup. Sudah lama sekali aku tidak melihat putraku lagi. Terakhir, adalah saat kau membawanya ke kota ini delapan tahun lalu." Roseanne mendesah. "Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Di pulau Tannin sudah hampir pagi. Apa dia merindukanku?" "Aku yakin Tuan Muda Edbert pasti sangat merindukan Anda. Tapi apa Anda yakin hanya akan melihat Tuan Muda Edbert dari jauh? Kali ini Anda tidak berniat menemuinya?" "Sebagai seorang Ibu, tentu saja aku ingin menemuinya. Delapan tahun lalu, sewaktu kau membawanya padaku ke kota Eden, adalah saat terakhir aku bisa memeluknya. Saat itu aku tidak begitu khawatir karena Edbert belum dewasa. Ia bisa segera lupa setelah kau memberinya ramuan. Tapi kini situasinya berbeda. Putra pertamaku sudah dewasa. Aku belum bisa menampakkan diriku sampai rencana ini berhasil." Cassandra menatap prihatin. "Andai saja ada tempat di kerajaan barat yang lolos dari mata-mata Yang Mulia Roland, Anda pasti tidak akan bersusah payah begini. Anda bisa berteleportasi ke kerajaan barat dan melihat putra Anda kapan saja dengan lebih mudah." "Karena itu aku bersyukur memiliki kau di sisiku, Cassandra. Karena ramalanmu, aku akan segera melihat putraku lagi tanpa khawatir diketahui Roland." Roseanne tersenyum lembut pada Cassandra. "Lalu bagaimana dengan putraku Dexter? Apa dia akan ikut bersama Edbert? Aku sungguh berharap bisa melihatnya juga." "Sepertinya iya, Nyonya. Sebelumnya saya sudah memberi saran pada Yang Mulia Roland." "Seperti apa anak itu sekarang?" Roseanne mengenang wajah ceria Dexter saat anak itu masih berumur tiga tahun. Seingat Roseanne, Dexter kecil sangat menyukai tidur dalam dekapannya. Ia sangat merindukan putra ke duanya itu. "Cassandra, apa Roland masih bersikap keras pada Dexter?" "Ya, Nyonya. Tapi dari pengamatan saya, sepertinya Tuan Muda Dexter adalah seseorang yang ceria. Jadi kupikir dia akan baik-baik saja." Lagi-lagi Roseanne menghela napas panjang. "Jadi Roland masih salah paham." Cassandra menunduk bersalah. "Maafkan aku, Nyonya. Semua ini karena Anda berusaha menutupi hubungan saya dengan mendiang Waren." "Tidak. Maaf, aku tidak bermaksud mengungkitnya. Semua ini adalah kerikil yang harus dilalui agar rencana kita tercapai." Roseanne mengusap pundak Cassandra. "Cintamu dengan Ayah Kai tidaklah terlarang. Yurza dan Albara berhak saling jatuh cinta. Itu adalah salah satu yang akan kita wujudkan." *** Perlahan, Ellyora merasakan otot-ototnya kembali bekerja. Sebelah tangannya terangkat menyentuh kepala. Ellyora mengerang menahan pening. Ellyora berusaha membuka matanya perlahan. Ia terhenyak. Tubuhnya telah kembali berbaring di ranjang penginapan. Ia tidak bisa mengingat bagaimana ia kembali ke kamar itu. "Kau baik-baik saja?" Ellyora menoleh dan menemukan Kai tengah menatapnya dengan mata khawatir. Gadis itu tersentak. "Kau? Kau adalah bagian dari Yurza! Kau adalah penyihir!" Kai bergeming. Ada emosi tertahan di wajahnya. "Dia sudah sadar?" Pandangan Ellyora segera beralih ke pintu, pada seorang wanita berselendang merah darah di kepalanya yang baru saja memasuki ruangan. Alis gadis itu semakin menukik curam. "Siapa lagi kau?" Seolah tak mengindahkan Ellyora yang ketakutan, si wanita berselendang merah justru mendekat. Spontan, Ellyora mundur hingga punggungnya terantuk pada tembok kayu. "Aku Cassandra. Kau tidak perlu takut padaku. Aku tidak akan menyakitimu." Suara perempuan itu membuat ingatan Ellyora bekerja. Rasanya ini bukan kali pertama ia bertemu dengan wanita itu. Ellyora berusaha mengingat-ingat. Namun, yang muncul hanyalah rasa sakit di kepalanya. Ia mengerang. "Ibu, Ellyora belum siap. Biarkan dia istirahat," tutur Kai pada Cassandra. Ellyora tercengang. Ia baru saja mendengar si ular berbisa itu memanggil perempuan selendang merah dengan sebutan Ibu? Jika si ular berbisa itu penyihir, artinya Ibunya juga seorang penyihir. Bagaimana Ellyora akan melarikan diri sekarang? Di tengah kekacauan pikiran itu, terdengar suara derap langkah kaki yang mendekat. Ellyora semakin waspada menghadap pintu, tapi kemudian kewaspadaannya perlahan luruh ketika melihat kemunculan seorang wanita berselendang biru. "Nyonya Roseanne? Aku senang Anda datang. Tolong, kembali antarkan aku pulang, Nyonya," pinta Ellyora penuh harap. Roseanne duduk di sebelah Cassandra. "Tentu saja, Nak. Aku akan mengantarkanmu pulang. Tapi sebelum itu, maukah kau membantuku?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD