Seorang anak laki-laki dengan sorot mata hijau emerald yang tajam meringkuk di sudut pasar. Tubuhnya kurus dan wajahnya terlampau tirus. Keadaan fisik itu tak lantas membuatnya menyerah hanya menyadong uang dari banyaknya orang di pasar Eden tanpa berusaha. Jiwa Ayahnya sebagai suku Albara yang pekerja keras mengalir dalam darahnya.
Namun, kali ini perutnya terasa sakit. Untuk sekadar berdiri pun sulit, membuat ia beristirahat dari pekerjaannya membantu para pedagang membawa barang dagangan di pasar Eden. Ia tak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan untuk mengisi perutnya. Dua tahun ini, setelah kepergian sang Ayah, ia hidup sebatang kara.
Anak lelaki bermata hijau emerald itu membenamkan wajahnya di atas lutut. Ia merasa sendiri, sebelum akhirnya jantungnya berdebar keras kala ia mengangkat wajah dan melihat kehadiran seseorang.
Seorang gadis sedang berjalan mendekatinya. Rambut panjang gadis itu yang berwarna coklat tua tergerai indah, dan kini sapuan angin lembut membuat beberapa helainya melambai-lambai. Tanpa bertanya, gadis itu duduk di sampingnya, di dekat keranjang-keranjang rotan milik si anak lelaki yang masih kosong.
Selama sesaat anak laki-laki itu hanya terdiam. Kemudian perlahan, si anak gadis mengeluarkan sesuatu dari saku mantel coklat yang ia kenakan. Gadis itu tersenyum sebelum memberikan sepotong roti pada anak laki-laki di sampingnya. Ajaran orang tuanya sebagai suku Albara, membuat hati gadis itu mudah merasa iba pada orang miskin dan tertindas.
Betapa berdebarnya si anak lelaki ketika melihat sinar mata dari iris coklat terang milik si gadis. Sepasang mata yang amat cantik itu menghiasi senyuman yang entah mengapa berhasil menenangkan hatinya.
"Hei, ayo ambil. Roti ini untukmu," kata si gadis dengan lembut.
Si anak lelaki mengambil sepotong roti itu dengan tangan sedikit gemetar. "Terima kasih. Dari mana asalmu? Selama tinggal di pasar Eden ini, aku belum pernah melihatmu."
"Aku ...." si gadis berpikir sejenak. "Aku memang tidak tinggal di pasar ini. Rumahku jauh di hutan sana."
Si anak lelaki memandang arah yang ditunjuk si gadis, pada barisan pegunungan hutan Camden yang terlihat di balik bangunan pasar. "Oh, begitu. Jadi kutebak kau sedang berkunjung ke rumah saudaramu di sini?"
"Benar." Si gadis kembali tersenyum lembut dan menenangkan. Lagi-lagi membuat debaran si anak lelaki tidak karuan. "Oh, ya. Jangan hanya dipegang," ucap si gadis. "Makanlah roti itu. Tapi maaf jika rasanya kurang enak, karena sebenarnya aku masih belajar membuatnya."
"Tentu saja. Aku akan memakannya." Dengan segera, si anak lelaki menggigit sepotong roti gandum pemberian si gadis. "Enak. Menurutku roti buatanmu cukup berhasil untuk seseorang yang masih belajar. Lagi pula, aku tidak terbiasa memakan roti yang lebih enak dari ini. Jadi sekali lagi, terima kasih."
Si gadis tersipu malu. Tak ingin anak lelaki di hadapannya menyadari pipinya yang memerah, ia lalu mengalihkan suasana canggung itu dengan menunjukkan boneka beruangnya, yang berwarna coklat, berkaki dan bertangan pendek, serta rambut pink berponi.
"Ini mainanku, namanya Nona Berri," kata si gadis. Tapi kemudian wajahnya meredup ketika melihat sesuatu hilang dari boneka kesayangannya. "Ah, ke mana bajunya? Padahal dia selalu kupakaian baju."
Si anak lelaki ikut menengok ke kanan dan kiri, mencoba membantu gadis di depannya yang kebingungan. "Tidak ada. Sepertinya, baju bonekamu terjatuh sebelum kau sampai di sini."
"Ah, bagaimana ini? Nona Berri pasti akan malu dan sedih kehilangan bajunya."
"Tidak apa-apa," hibur si anak lelaki. "Lagi pula, bukankah aslinya beruang memang tidak memakai baju? Nona Berri tidak akan sedih atau pun malu."
"Hmmm, begitu ya? Baiklah. Aku akan menyimpan Nona Berri dalam sakuku saja." Si gadis memasukkan kembali boneka beruangnya ke dalam saku mantel coklatnya. "Kalau kau, apa mainanmu?"
"Usiaku sudah tiga belas tahun. Aku tidak lagi bermain."
Si gadis nampak kecewa. Usia anak lelaki di hadapannya hanya dua tahun lebih tua darinya. Tapi kenapa sudah tidak bermain?
Melihat kekecewaan di wajah anak gadis di hadapannya, si anak lelaki memikirkan cara agar gadis itu kembali tersenyum. "Hei, bagaimana kalau kutunjukkan tempat yang menarik. Mungkin kau akan menyukainya."
"Tempat menarik? Di mana itu? Apakah jauh?"
"Tidak. Kita hanya harus melewati beberapa warung dan pekarangan."
Sejenak, si anak gadis terdiam. Ia mengkhawatirkan sesuatu.
Seolah tahu keraguan anak gadis di hadapannya, si anak lelaki berusaha meyakinkan. "Kau tidak perlu takut. Ada aku yang akan menjagamu."
"Apakah kau akan benar-benar menjagaku?"
"Tentu saja. Aku adalah Albara, keturunan bangsa kesatria. Albara tidak akan melupakan janjinya."
"Aku senang bertemu denganmu. Aku juga seorang Albara."
"Kalau begitu, mulai sekarang kita berteman."
Si anak gadis mengangguk.
Berlari kecil, si anak lelaki menggandeng tangan si gadis melewati banyak warung, dan beberapa pekarangan, hingga sampai di tempat yang dimaksud. Begitu langkah mereka terhenti, si gadis terkesima pada hamparan di depan matanya.
"Waaah! Merah, kuning, hijau, ungu, oranye.... Bagaimana bisa padang itu terlihat seperti pelangi?" ungkap si gadis takjub.
"Itu karena bermacam-macam bunga tumbuh di sana. Pemilik padang adalah salah satu penjual bunga di pasar Eden. Aku mengenalnya, dan kadang ketika bosan aku biasa mengunjungi tempat ini. Apa kau menyukainya?"
Dengan cepat, gadis di sampingnya mengangguk. "Terima kasih telah menunjukkan padaku tempat yang indah ini."
Mereka saling melempar senyum, lalu si anak lelaki kembali menggandeng tangan gadis itu melihat bunga-bunga di padang lebih dekat. Mereka berlarian sambil saling tertawa, berkenalan dan bercerita sehingga mereka tak lagi merasa asing. Setelah langit mulai menampilkan semburat jingganya, mereka duduk beristirahat di bawah pohon willow dekat padang bunga itu.
"Kau lelah?" tanya si anak lelaki.
"Ya. Tapi aku senang."
"Kapan-kapan aku akan mengajakmu ke sini lagi. Kau bilang nama pamanmu Gery Bright 'kan? Jangan khawatir, aku mengenalnya. Setelah ini, aku akan mengantarmu pulang."
"Hmmph," balas si gadis lesu, karena sebenarnya ia masih ingin berada di padang bunga itu. "Selain mengunjungi tempat ini, apa yang biasa kau lakukan saat bosan?"
"Sebenarnya aku memiliki mainan yang cukup menarik." Si anak lelaki lantas mengeluarkan sebuah rantai dari saku celananya.
Si gadis menoleh dengan cepat, menunjukkan wajah antusias. "Mainan? Bukankah ini hanya kalung rantai?"
"Benar, tapi bukan rantai biasa." Si anak lelaki celingukan. Setelah memastikan situasi di sekitarnya sepi dan aman, tangan kanan anak lelaki itu merogoh kembali saku celananya untuk mengeluarkan sebuah tongkat mirip pulpen berwarna perak. Sementara tangan kanannya memegang tongkat itu, tangan kirinya terbuka sehingga kalung rantai yang kini berada di atas telapak tangan kirinya terlihat jelas dan mengkilat.
Di hadapannya, si anak gadis masih menunggu apa yang akan dilakukan si anak lelaki dengan tongkat dan kalung rantai itu. Ia memandang tongkat kecil berwarna perak itu dengan penasaran karena ini kali pertama gadis itu melihatnya.
Mulut si anak lelaki kemudian komat-kamit. Dengan tongkat di tangan kanannya, ia menyapu permukaan kalung rantai itu. Beberapa detik kemudian rantai itu bergerak menggeliat. Permukaannya bukan lagi talian perak, tetapi berubah. Perlahan terisi daging, terbungkus kulit bersisik, dan ukurannya membesar.
Betapa terkejutnya si gadis melihat rantai di hadapannya telah berubah menjadi seekor ular berwarna putih dengan lidah yang mendesis-desis. "Kau? Kau baru saja mengubahnya menjadi ular berbisa?!"
Si anak lelaki berusaha mendekati gadis di hadapannya yang bergerak mundur. "Jangan takut. Kupastikan dia tidak akan membahayakanmu. Seperti mainan, dia juga penurut. Namanya Drake. Cobalah memegangnya. Dia suka dibelai."
Dengan bingung bercampur penasaran, si gadis mencoba memegang ular itu.
Melihat si gadis mendekatkan tangannya, kedua mata Drake yang juga berwarna hijau emerald sama dengan milik si anak lelaki, kini membentuk bulan sabit. Ujung bibir lebar ular itu melengkung ke atas, sehingga terlihat kedua taringnya yang panjang dan runcing. Sebenarnya menyeramkan. Tapi menurut kedua bocah itu, wajah Drake justru tampak menggemaskan.
Gadis itu mendaratkan tangannya di puncak kepala Drake. Namun, yang terjadi justru Drake kembali berubah menjadi rantai. Si gadis sangat kaget dan menarik tangannya. Matanya yang bulat melebar.
"Apa aku baru saja membuatnya mati?"
"Drake ular hasil transformasi. Dia tidak benar-benar hidup, jadi tidak ada istilah dia mati." Si anak lelaki yang kebingungan, kemudian kembali mengubah rantai itu menjadi ular. Tetapi ketika si gadis menyentuhnya lagi, Drake kembali menjadi rantai.
"Biasanya tidak begini," gumam si anak lelaki.
Di tengah situasi membingungkan itu, datanglah seorang wanita berselendang merah darah di kepalanya. Wanita itu berjalan menghampiri mereka.
Si anak lelaki terperangah. Ia tak percaya. Wanita yang semasa kecil memberinya kalung rantai itu, mengajarinya berbagai macam mantra, dan telah lama hilang dari kehidupannya mendadak kembali muncul.
"Ibu?" ucap si anak lelaki, saking tak percayanya sampai kata yang keluar dari mulutnya hampir tak terdengar.
Si gadis memutar kepala pada wanita yang baru saja datang di tengah-tengah mereka. Ia memandang mata wanita itu. Dari sorotan matanya, wanita itu nampak kurang bersahabat. Ditambah garis hitam yang mengelilingi mata wanita itu, membuat si gadis enggan menatap lama-lama.
"Hai. Terima kasih karena telah memberi anakku roti," ucap wanita itu akhirnya.
Si gadis kembali memandang wanita itu. Jadi ternyata wanita itu adalah Ibu dari anak lelaki yang sedang bersamanya. Pikiran buruknya pada si wanita berselendang merah kini melunak. Ia pun membalas dengan senyum. "Itu bukan apa-apa."
"Kalau begitu ... sebagai ucapan terima kasih, kau juga harus menerima pemberian dariku," tutur wanita itu disertai senyuman yang ramah, sangat berbeda saat pertama kemunculannya tadi. Ia mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan merah.
"Apa ini?" tanya si gadis ketika menerima botol itu.
"Sirup. Aku sendiri yang membuatnya. Minumlah sekarang. Rasanya enak!" pinta sang wanita.
Anak laki-laki bermata hijau menyembunyikan tangannya yang mengepal. Ia tahu cairan itu bukan sirup. Tapi ia tak bisa menyela keinginan Ibunya pada gadis itu.
Si gadis pun menurut. Tanpa curiga, ia meneguk cairan merah di tangannya yang ketika dicecap, rasanya sedikit asam dan berbau asing.
"Kenapa rasa sirupnya aneh sekali?" tanya gadis itu. Namun, tak berapa lama kepala gadis itu mulai terasa pusing, disusul pandangannya yang kabur, dan tak sadarkan diri. Gadis itu pingsan, tergeletak di bawah pohon willow.
Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh si gadis, bahwa petualangan pertamanya di pasar Eden berakhir membahayakan. Jika tahu begini, mungkin tadi ia tidak akan memilih untuk kabur dari neneknya.
***
Setelah membuat gadis itu tergeletak, si wanita berselendang merah menggandeng paksa si anak lelaki pergi menjauh meninggalkan gadis itu. Mereka kemudian berhenti di sudut pasar yang sepi. "Kau! Bagaimana bisa kau sungguh ceroboh?"
"Aku hanya ingin membuat gadis itu senang. Aku yakin dia tidak berbahaya, tidak akan memberitahu pada siapa pun tentang Drake dan kemampuan sihirku!" seru si anak lelaki kesal. "Dan apa yang telah Ibu lakukan? Ibu yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama menghilang, malah menyihir gadis itu dan menyakitinya!"
"Dengarkan Ibu, KAI XAVIER!" gertak si wanita. "Kau tidak bisa hidup dengan cara berpikir seperti itu. Tidak semua yang memberimu makan bisa kau percaya. Dan Ibu tidak menyihir gadis itu. Ibu hanya memberinya ramuan, sehingga dia melupakan kecerobohan yang telah kau lakukan."
"Jadi gadis itu akan melupakanku, Ibu?"
"Itu yang terbaik!" ujar sang wanita. "Gadis itu memiliki perisai yang bisa menangkal sihir. Dialah gadis yang akan membantu misi kita."
"Tidak!" sergah si anak lelaki cepat. "Aku tidak akan membiarkan jika yang Ibu maksud adalah dia. Karena aku menginginkan gadis itu."
"Hentikan omong kosongmu, Kai. Sebagai keturunan Albara, kau harus menepati janjimu membantu Ibu! Dan sebagai peramal Yurza sekaligus sahabat, Ibu harus mewujudkan keinginan Nyonya Diana, menyatukan Albara dan Yurza dalam kedamaian. Tetaplah berjalan di belakang Nyonya Diana. Singkirkan keinginanmu pada gadis itu. Pada akhirnya, gadis itu bukan ditakdirkan untukmu!"
***
Beberapa saat kemudian, kala langit yang telah sepenuhnya berubah jingga mengantar kepergian wanita berselendang merah, Kai kembali ke padang bunga. Ia memang telah berjanji untuk membantu rencana Ibunya. Akan tetapi, ia juga telah berjanji untuk menjaga si gadis pemilik mata cokelat terang yang telah ia tahu bernama Ellyora Bright.
Begitu sampai di padang bunga, Kai segera berlari ke pohon willow. Namun, apa yang ia lihat membuat kakinya melemas. Gadis itu ... Ellyora Bright sudah tidak ada di bawah pohon willow lagi. Kai mencoba berlari untuk mencari di bagian tempat yang lain, tetapi sama saja. Kai tak bisa menemukan Ellyora.
***