"Edbert Kinsey, terima saja takdirmu."
"Heh?!" Edbert menggertakkan giginya geram. Ia memandang suram pada Dexter yang duduk di kursi samping kanannya. Mereka sedang berada di bar kelas atas kerajaan Mogwes, dan si cerewet Dexter sedang melahap dengan rakus beberapa lobster, kepiting, kerang, dan segala jenis ikan-ikanan seolah jiwa anak itu masih setengah kucing. "Enak saja. Sampai kapan pun aku tidak akan menerimanya," kata Edbert dengan hati yang masih belum bisa berlapang d**a atas perjodohannya dengan si gadis Albara kuno.
"Kenapa? Menurutku Ellyora Bright tidak jelek. Kakak patut mempertimbangkannya sebagai istri, maksudku istri yang sesungguhnya. Dia gemar memasak, berkebun, cara bicaranya juga lembut. Yah... walaupun kadang berubah sama menyebalkannya sepertimu."
Edbert mengibaskan tangannya sebagai respon tidak peduli. "Omong kosong! Itu bukan informasi penting yang kubutuhkan sekarang."
"Perasaanku berkata, suatu saat kau akan mengakuinya."
PRANG!
"Hei?" Dexter tersentak kaget saat Edbert meletakkan garpu di atas piring dengan hentakan keras. "Kenapa? Kau tak berniat memakan salmonmu?"
"Nafsu makanku mendadak hilang!" ungkap Edbert.
"Ya sudah. Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang habiskan." Dexter menggeser sepiring hidangan salmon milik Edbert ke hadapannya. Kebetulan di atas piring itu, sudah ada sepotong daging salmon yang siap lahap karena tadi Edbert sudah memotongnya dan menancapkan di ujung garpu. Tanpa menunggu persetujuan, Dexter segera melahap sepotong daging salmon itu. Tapi sebelum Dexter memakan sisanya, Edbert merebut kembali sepiring salmonnya, membuat Dexter menatap kakaknya dengan kening berkerut dan mulut menganga. "Kenapa mengambilnya lagi?"
"Kau pikir perutmu terbuat dari karet? Aku tahu kau memang lapar, tapi kalau langsung mengisi perutmu yang kosong dengan banyak makanan kau bisa sakit perut!"
Dexter mengerutkan kening, tidak mengerti. Tapi kemudian tersenyum begitu paham maksud Edbert. "Kau menyuruhku berhenti makan karena khawatir aku sakit perut?" Dexter menyeringai. "Ternyata di balik sikap angkuhmu, kau perhatian juga."
Sekarang gantian Edbert yang mengerutkan keningnya. "Bu--bukan. Maksudku, kalau kau sakit perut lalu besok bagaimana kau akan membantu misiku? Hanya kau yang tahu di mana tempat tinggal gadis kuno itu sekarang."
"Yang benar saja? Besok? Ah, tidak mau!" tolak Dexter lalu mengambil segelas air putih dan membasahi tenggorokannya yang entah kenapa terasa agak sakit dan serak. Mungkin karena tadi ia terlalu banyak makan yang berminyak. "Tunggu dua hari lagi, baru aku akan menemanimu ke sana."
"Apa? Dua hari lagi?!"
"Ya. Setidaknya setelah energiku pulih."
"Aku tidak keberatan kalau kau butuh waktu untuk memulihkan energi. Tapi dua hari terlalu lama. Kau sendiri yang bilang kalau gadis kuno itu akan dikirim ke Osmond. Kalau sampai itu terjadi, habislah sudah! Misiku akan gagal!"
"Yah, berharap saja mereka tidak cepat-cepat menemukan orang yang bisa mengantar calon pengantinmu ke Osmond!" balas Dexter seraya mengelap mulutnya menggunakan kain putih lembut.
Edbert bersidekap sambil menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, kemudian menatap Dexter heran. "Selama bersama keluarga itu, kau yakin tidak pernah mendengar di mana letak Osmond?"
"Sudah kubilang TIDAK. Setiap menyebut hutan, kota, dan jalan yang berkaitan dengan Osmond, mereka selalu menggunakan istilah-istilah membingungkan. Aku tidak paham. Kurasa semua Albara memang menggunakan istilah-istilah itu untuk merahasiakan keberadaan Osmond."
Edbert meneguk minuman di gelas selokinya sambil menatap Dexter tak puas. Lalu tak berapa lama, Maxen datang menghampiri dan duduk di kursi sebelah kanan Edbert.
Sekilas, Edbert menoleh ke arah tak jauh dari mejanya, pada dua gadis bergaun sutra yang baru saja ditinggalkan Maxen. Yang satu bergaun warna merah muda, satunya lagi merah delima. Dari pakaian dan hiasan perak di rambutnya, Edbert tahu dua gadis itu adalah bangsawan sekaligus Yurza tingkat menengah.
Beginilah memang kelakuan Maxen Kinsey kepada para wanita, Edbert sudah tidak heran lagi. Ia teramat yakin alasan pria itu mengusulkan makan malam di bar kelas atas kerajaan Mogwes ini bukan untuk menikmati hidangan makanan lautnya yang terkenal paling lezat, tetapi untuk bertemu para gadis bangsawan kerajaan Mogwes yang memang dikenal akan kecantikannya.
"Sepertinya mereka sudah termakan rayuanmu. Kenapa tidak sekalian saja kau ambil salah satunya untuk kau nikahi?"
Mendengar nada sindiran Edbert, Maxen tertawa. Dengan penampilannya yang sudah tidak lusuh lagi, ditambah jubah hitam beraksen emas yang ia kenakan, membuat pria 24 tahun bermanik mata hazel itu terlihat sangat menawan. Tak heran banyak gadis Yurza yang terpikat oleh pesona dan rayuannya dan ingin menjadi istrinya.
"Kalau aku mau, bahkan bisa saja aku menikahi dua gadis bangsawan itu sekaligus. Sudah pasti mereka tidak akan menolak. Yurza tingkat dua mana yang akan menolak kalau ditawari menikah dengan keluarga Kinsey? Kurasa semua menginginkannya, karena hanya dengan cara itu mereka bisa menjadi Yurza tingkat pertama. Tapi sayangnya, aku termasuk pria yang pemilih," ujar Maxen lalu kembali tertawa.
Edbert berdecak, lalu disertai kekehan kecil, ia mengisi gelas selokinya lagi. "Kau membuatku iri. Tidak sepertiku, dalam hidup kau selalu memiliki pilihan."
"Hmm. Mungkin terkadang milik orang lain terlihat lebih menarik. Tapi jangan lupa, yang terlihat menarik belum tentu membuatmu nyaman, Edbert Kinsey. Tentang aku yang selalu memiliki pilihan, kau tahu sendiri alasannya. Tak lain karena Ayahku tidak pernah mengaturku. Bukan. Lebih tepatnya ... tidak pernah peduli pada hidupku. Mungkin baginya daripada mengurusku, lebih baik mengurus Arthur yang jelas-jelas satu frekuensi dengannya." Maxen balik terkekeh seraya menuang minuman ke gelas selokinya.
"Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu," ucap Edbert.
"Ah, tidak. Memang kenyataannya begitu. Tidak ada yang perlu disesalkan. Aku bahagia hidup bebas seperti ini. Bisa menyamar ke mana pun yang aku suka. Bahkan mungkin kelak aku akan menikahi gadis yang kutemui dalam penyamaranku," seloroh Maxen lalu tertawa.
"Maksudmu, apa berarti bisa saja kau akan menikahi gadis dari kerajaan timur?"
"Mungkin saja. Apa salahnya? Selama aku mencintai gadis itu, mau dia berasal dari kerajaan timur pun aku tidak peduli. Melepas statusku sebagai keluarga Kinsey pun tidak masalah."
"Kau hebat ... dan beruntung," komentar Edbert. "Kurasa masa tuamu akan lebih bahagia dariku karena kau bisa memilih dengan siapa akan menjalaninya."
"Kenapa berkata seperti itu?" celetuk Dexter, yang sedari tadi diam karena fokus merapikan kuku-kuku tangannya. "Aku yakin masa tuamu juga akan bahagia bersama Ellyora Bright. Gadis Albara itu akan memberimu banyak anak dan kau tidak akan kesepian lagi."
BRAK!
"Hei?!" Dexter kembali tersentak akibat Edbert yang tiba-tiba menggebrak meja. Untung saja mereka berada di sudut ruang yang cukup sepi dan privat. Hanya saja, memang suara musik bar yang mengalun tidak mampu menyamarkan suara gebrakan meja yang dilakukan Edbert.
"Sudah kubilang, aku tidak suka mendengar namanya!" Edbert memberi tatapan peringatan. Alih-alih takut, Dexter hanya cekikikan lalu kembali melanjutkan merapikan kukunya.
"Tenangkan dirimu." Maxen menepuk pundak Edbert, sehingga Edbert yang awalnya mencondongkan badannya ke arah Dexter, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. Maxen menatapnya keheranan. "Kau adalah calon pemimpin Yurza. Misal kau tidak suka menikahi gadis Albara itu, kupikir mudah saja bagimu kalau ingin menikah lagi dengan gadis lain yang kau suka."
"Masalahnya aku bukan tipe yang seperti itu. Dalam hidup, aku hanya menginginkan satu kali pernikahan," jelas Edbert.
"Hmmm, ternyata kau penganut kepercayaan kuno, ya? Mau bagaimana lagi. Kalau kau merasa perjodohan itu terlalu berat, bagaimana jika mencari alternatif ramalan lain? Kau bisa menggunakannya untuk bernegosiasi pada Ayahmu."
Edbert berpikir sesaat, lalu tak lama kemudian ia menggeleng. "Apa masih mungkin? Seperti kau tidak tahu saja. Keputusan Ayahku itu mutlak."
"Kau tidak akan tahu sebelum mencobanya," tutur Maxen. "Ayolah, aku akan menemanimu bertemu peramal Darcy!"
"Darcy?" Edbert mengangkat kedua alisnya, menatap Maxen skeptis. "Kau gila! Spesialis Darcy adalah peramal cuaca. Kenapa harus meminta tolong padanya?"
***
Di bawah temaram sinar bulan, sebuah kastil bertengger di atas bukit. Catnya pink pastel. Masyarakat awam yang melihat, mungkin akan menebak itu rumah barbie. Berbeda dengan rumah Cassandra yang minimalis dan penuh misteri, penghuni kastil itu tidak terlihat seperti seorang peramal cuaca.
Kendati sempat ragu, tetapi karena putus asa, pada akhirnya Edbert menuruti ide Maxen mengunjungi kastil kediaman peramal Darcy. Tak lupa Dexter juga ikut bersama mereka.
Selesai menaiki kelokan anak tangga, Maxen, Edbert, dan Dexter disambut sebuah daun pintu besar berwarna biru langit. Di bagian atasnya, terdapat lukisan awan-awan merah jambu berbentuk domba, mirip seperti domba-domba merah jambu yang berarak di belakang Maxen tiap kali Edbert melihat kakak sepupunya itu tersenyum.
Maxen mengetuk pintu itu. "Astaga-DOMBA!"
Edbert dan Dexter melompat mundur dari anak tangga karena ikut terkejut mendengar teriakan Maxen dan penampakan di depan mereka.
Lukisan awan domba itu keluar menjadi bentuk tiga dimensi. "Halo!" sapanya sambil tersenyum. "Katakan namamu."
Rahang Maxen jatuh. Ia tak sadar, sejak kapan awan domba itu memiliki wajah.
"Halo! Aku Maxen Kinsey." Maxen lalu menarik lengan Edbert dan Dexter ke sebelahnya. "Di sebelah kiriku Dexter Kinsey, dan sebelah kananku Edbert Kinsey, si calon pemimpin Yurza."
Edbert mendesah. "Kurasa yang terakhir itu tidak perlu."
Kepala si awan domba mengangguk-angguk. Mata si domba yang hitam kemudian memindai wajah Maxen, Dexter, setelahnya ke wajah Edbert. BIP! Mata domba itu berubah hijau dan pintu utama pun terbuka.
Seorang pelayan wanita tua tergopoh-gopoh dari dalam ruangan. Tanpa perkenalan, ia sudah langsung mengenali wajah-wajah tamunya, apalagi setelah melihat tiga pria di hadapannya memakai jubah berwarna hitam bermotif emas di bagian tepian tudung serta di bagian kerah lehernya. Tidak salah lagi, itulah jubah kebesaran keluarga Kinsey.
"Tuan-tuan, suatu kehormatan Anda berkunjung ke mari." Si pelayan wanita memberi sambutan ramah.
Maxen mengangguk dengan percaya diri. "Aku ingin bertemu peramal Darcy."
"Baik. Mari silakan Tuan, ikuti saya."
Sementara Dexter berbisik-bisik dengan Maxen, Edbert justru menganga. Ia baru pertama masuk ke ke kastil peramal Darcy. Ternyata, peramal Darcy yang tatapannya bagai petir itu memiliki kepribadian ganda. Jika dilihat dari dekorasi dan ornamennya, sepertinya peramal berusia kepala empat itu terobsesi menjadi seorang princess. Ruangannya pun beraroma manis. Sejenis permen, gula-gula, atau semacamnya. Edbert tak bisa mendefinisikan secara detail.
Edbert menoleh pada Maxen yang berjalan di sebelahnya, membayangkan bahwa pria berjubah hitam keluarga Kinsey itu yang menjadi pangeran si princess Darcy. Edbert pasti akan dengan senang hati meniup terompet dalam khayalan.
"Aku tahu, aku tampan!" ujar Maxen yang sadar dirinya tengah dipandangi oleh Edbert. "Berhentilah mengagumiku dan perhatikan jalanmu."
Edbert merapatkan bibirnya, menahan tawa yang nyaris meledak. Ia berdeham sebelum menegakkan punggung dan kembali berpose seelegan mungkin. "Sepertinya, kau sudah sering ke sini?"
"Hmmm... tidak juga. "Maxen menyengir lebar. "Aku hanya ke sini jika membutuhkan perkiraan cuaca. Seperti saat akan menyamar, misalnya. Kau pasti kaget karena baru pertama kali ke sini, bukan? Memang seperti yang kau lihat, kastil ini bukannya menua seperti pemiliknya, tapi justru semakin—"
"Selamat datang, Tuan-Tuan!" sapa peramal Darcy tiba-tiba, sehingga Maxen buru-buru menutup mulut.
Edbert dan Dexter gelagapan. Mata mereka memicing, tak siap menangkap cahaya silau yang berasal dari pancaran gaun kuning yang dikenakan peramal Darcy. Ditambah bagian bawah gaun wanita itu yang sangat mencolok karena membentuk kurungan lebar, mengingatkan mereka pada lampu hias di sudut kamar Dexter.
"Silakan duduk," ucap peramal Darcy dengan ramah. "Apa yang membuat Tuan sekalian ke mari?"
Sesuai arahan Darcy, Maxen, Edbert, dan Dexter lantas menjatuhkan boköngnya di atas sofa pink. Jantung mereka serasa ditoel. Kaget bukan main mendapati boköng mereka yang memantul cukup tinggi saat menyentuh dudukan sofa itu.
"Uwoooo!" Dexter memekik tertahan bersamaan tubuh ringannya yang membumbung tinggi.
Sementara di sampingnya, Edbert sedang berusaha menjambak bulu-bulu permukaan sofa sebagai pegangan. Sofa milik si peramal Darcy empuknya tak wajar. Setelah lebih dari sepuluh detik duduk pun, tubuh mereka masih memantul-mantul. Jika jatuh, malunya sampai ubun-ubun.
"Be—gi—ni..." suara Maxen terbata-bata.
Edbert menoleh. Ia yakin, itu karena boköng kakak sepupunya yang masih belum menetap.
"Bisakah sekarang kau ramalkan sesuatu?" lanjut Maxen.
Peramal Darcy yang duduk berhadapan dan awalnya hanya menunduk, kini mengangkat wajah. "Apa itu, Tuan?"
"Masa depan adik sepupuku: EDBERT KINSEY, si calon pemimpin Yurza!" terang Maxen mantap.
Lagi-lagi Edbert menghela napas tiap kali Maxen menyebut dirinya sebagai calon pemimpin Yurza. Seolah pundaknya mendadak terasa berat tiap kali mendengar embel-embel itu. Tapi di sisi lain, ia penasaran dan memilih tetap menyimak.
Peramal Darcy nampak kebingungan. Wajahnya yang cerah tiba-tiba meredup entah apa sebabnya. "Maaf, Tuan. Tapi mengenai hal tersebut, bukan kewenangan saya untuk menjawabnya."
"Maksudmu itu hanya kewenangan Cassandra sebagai ketua para peramal?" Edbert yang sedari tadi diam, akhirnya tak tahan untuk menyahut.
Peramal Darcy mengangguk.
Maxen menimpali. "Aku tahu kemampuan meramalmu hanya lebih rendah satu tingkat dari Cassandra. Kenapa kau lancang menolak membantu si calon pemimpin Yurza!"
Melihat wajah di hadapannya murka, peramal Darcy buru-buru bersimpuh di lantai dan menangkupkan kedua telapak tangannya. Gaunnya sempat berkibar sebelum akhirnya menghempas dan membentuk lingkaran lebar yang mencolok di atas lantai marmer yang putih bersinar. "Saya tidak bisa melakukannya jika tidak mendapat ijin dari peramal Cassandra, Tuan. Begitulah peraturan yang berlaku untuk menjaga ketertiban kami sebagai peramal. Ampuni saya, Tuan!"
"Kalau begitu, minta ijinlah pada Cassandra sekarang!" perintah Edbert, diperkuat anggukan Dexter karena tidak tahu harus berkata apa.
Peramal Darcy semakin menundukkan wajahnya. "A-a-anu, Tuan! Sudah dua hari ini saya tidak berhasil menemui peramal Cassandra. Kami para peramal cuaca juga sudah mencoba mencarinya karena memang ada beberapa ritual yang harus beliau setujui, tapi sepertinya... peramal Cassandra sedang bermeditasi di tempat rahasianya, Tuan."
"Jadi dengan kata lain wanita itu menghilang? Sial!" umpat Maxen. Saking kesalnya, ia memukul dudukan sofa dengan keras.
Yang dikhawatirkan terjadi. Sofa memantul tinggi. Edbert, Dexter, dan Maxen pun terjungkal.
***