Perempuan Penabur Racun

1226 Words
Suram!  Suasana hati Edbert Kinsey benar-benar suram melebihi gelapnya portal telepotasi yang kini tengah dilaluinya. Tubuh tegapnya kaku dan wajahnya merah padam. "Semua ini gara-gara Maxen Kinsey!" umpat Edbert. "Akibat kecerobohannya tragedi itu terjadi."  "Benar!" tambah Dexter yang berdiri tepat di sebelahnya. "Keputusanmu melarang Kak Maxen pulang bersama kita sudah tepat. Aku juga kesal padanya. Terjungkal dari sofa pink milik peramal Darcy adalah tragedi yang sangat memalukan! Terlebih bagi calon pemimpin Yurza sepertimu. Aku yakin setelah ini pamormu akan turun." "Diam!" sentak Edbert sehingga Dexter langsung membatu. "Selain peramal Darcy, apa di sana ada orang lain yang melihat kejadian itu?" "Tidak ada." "Syukurlah. Kalau sampai kejadian memalukan ini menyebar, pasti Darcy pelakunya, dan aku tidak akan memaafkannya." "Tentang itu, sepertinya kau tidak perlu khawatir. Kupikir setelah tadi kau mengancamnya, Darcy akan benar-benar tutup mulut." "Lagi pula, dari mana dia mendapatkan sofa seempuk itu? Meresahkan saja!" gerutu Edbert lalu melipat kedua tangannya ke dàda. Sembari menunggu portal teleportasinya sampai di kamar, matanya menyipit memikirkan sesuatu. Bukan kekesalannya akibat sofa Darcy, tetapi lebih pada rasa penasaran penyebab Cassandra menghilang. Aneh saja, karena tiba-tiba peramal tersohor itu bermeditasi di tempat rahasianya. Sebelumnya Edbert tak pernah tertarik pada kegiatan Cassandra, tetapi entah mengapa hal itu kini mengganjal pikirannya.  CLING! Portal teleportasi berakhir. Edbert menghela napas lega begitu menginjakkan kaki di lantai kamarnya. "Kembalilah ke kamarmu," kata Edbert pada Dexter karena dia sudah tak sabar ingin segera rebahan di ranjangnya yang empuk.  "Apa? Kau kan tahu aku belum lulus tes sihir teleportasi. Bagaimana sekarang aku harus kembali ke kamar?" Dexter merajuk. "Ayolah, Kak. Antarkan aku ke kamar." Edbert menggeleng. Tampak sekali wajahnya sudah jenuh dan lelah. "Itu salahmu kenapa kau tidak becus belajar. Ada tangga, gunakan itu." "Ini sudah malam. Aku takut berjalan melewati tangga sendirian." "Takut?" Edbert terkekeh. "Kau lucu. Kita adalah keluarga Kinsey! Semua hantu dan monster tunduk pada kita. Jadi, apa yang kau takutkan? Aneh." "Ayah!" seru Dexter tiba-tiba setelah perhatiannya kemudian tertumpu pada sosok berjas hitam yang tengah duduk santai di kursi balkon kamar Edbert. Tidak sulit mengenali sosok tinggi besar itu meski di bawah penerangan balkon yang remang.ak percaya, sehingga Edbert yang baru menyadari kehadiran Roland di balkon pun ikut mengangkat alis tak percaya. Roland menoleh dan memberi senyuman secukupnya pada dua putranya. "Apa kedatanganku mengagetkan kalian?" Dengan mata berbinar, Dexter secepatnya menghampiri Roland. Akibat sempat menjadi kucing, sekarang ia jadi sangat merindukan Ayahnya. "Tidak, Ayah. Aku senang bisa bertemu Ayah lagi."  Edbert menyusul di belakang Dexter, lantas ikut mendudukkan diri di seberang Roland. "Ada apa Ayah sampai mengunjungi kamarku? Sangat tidak biasa." "Aku tidak bisa tidur. Jadi kuputuskan mencari teman bicara di sini," jelas Roland sambil menyodorkan segelas anggur merah di atas meja.  "Jangan khawatir. Dengan senang hati aku akan menemani Ayah!" tutur Dexter lalu cepat-cepat meraih gelas anggur itu. Roland menepis tangan Dexter. "Letakkan." "Ke—kenapa Ayah?" "Gelas ini bukan kusediakan untukmu. Kau bisa kembali ke kamarmu dan beristirahat. Biar kakakmu saja yang menemaniku." Darah seolah mengalir meninggalkan wajah Dexter. Pucat. Sepulang dari bar tadi ia memang merasa kepalanya pusing, tetapi kini rasa pusing itu semakin tak terkendali. Selain itu, kedua matanya pun kini terasa memanas. Bibirnya bergetar, tapi ia berusaha tetap tersenyum.  "Baiklah, Ayah," kata Dexter. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Semoga setelah ini Ayah bisa tidur nyenyak." Roland mengangguk. Kemudian Dexter pun pergi sebelum air matanya tumpah. Edbert menatap punggung Dexter prihatin. Ia tahu bahwa di depan Ayahnya, Dexter selalu menampilkan kalau dirinya baik-baik saja. Padahal, jelas-jelas Edbert bisa merasakan ketidakadilan yang dirasakan Dexter. Edbert masih belum mengerti alasan Roland selalu bersikap keras pada Dexter. Apa karena anak itu tidak becus belajar ilmu sihir? Edbert yakin bukan itu alasannya. "Dexter hanya bocah yang ingin perhatian Ayah. Bukankah sikap Ayah terlalu keras padanya?" Edbert menyesap segelas anggur yang disuguhkan Roland. "Rupanya kau mulai dewasa hingga tertarik mengkritisi caraku mendidik anak." Edbert mendengus. "Hanya karena Ayah sudah menua, bukan berarti Ayah tidak melakukan kesalahan, bukan? Aku berhak mengkritik Ayah." "Aku sama sekali tidak melarang kau mengkritisiku." Roland berganti menyesap segelas anggurnya dengan santai. Kini pandangan mereka berdua sama-sama tertuju pada bulan yang menggantung di langit. "Usiamu sudah dewasa, tidak heran jika bicaramu semakin kritis. Tapi aku berharap bukan hanya usia dan ucapanmu saja yang dewasa. Tindakanmu juga harus mengikutinya." Edbert menoleh, menatap Ayahnya lekat-lekat. "Apa maksud Ayah?" "Tindakanmu dikatakan dewasa kalau kau lebih berhati-hati dalam bertindak. Apa jaminannya bahwa segelas anggur yang kutawarkan padamu tidak beracun? Kenapa kau langsung meminumnya begitu saja?" Edbert memperhatikan segelas anggur di tangannya, lalu beberapa detik kemudian ia terkekeh. "Ayah tidak mungkin melakukannya." "Kenapa tidak mungkin? Karena aku Ayahmu? Hubungan dekat bukan jaminan seseorang tidak mencelakaimu." Hati Edbert menciut. Ia masih menerka-nerka apa yang sedang dibicarakan Ayahnya. Roland meletakkan gelas. Kemudian mengajak Edbert ikut dalam teleportasinya. Tak lama kemudian mereka sampai di penjara Gregosus. Tempat suram itu biasa digunakan Yurza untuk mengurung remaja Albara sebelum dijadikan persembahan atau memenjarakan siapa saja yang berbuat kesalahan. Tanpa jeruji besi dan jendela, setiap kamar sempit di penjaga Gregosus begitu pengap. Seperti tujuan Yurza, Gregosus memang tidak pernah menyediakan kamar yang manusiawi pada tawanannya.  Edbert belum memahami alasan Roland membawanya ke penjara ini. Sambil mengikuti Ayahnya berjalan menapaki lorong gelap, ia masih memasang wajah bingung hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah kamar penjara. Dua penjaga kamar itu langsung membukakan gembok setelah Roland menginstruksikan. Bau anyir menyeruak begitu pintu kamar penjara terbuka, membuat Edbert merasa mual. Ternyata aroma tidak enak itu berasal dari darah yang menggenang di lantai dalam penjara. Sudah jelas sumbernya karena hanya ada satu orang wanita yang tengah duduk bersimpuh di tengah ruangan itu. Wanita yang memiliki tanda lingkaran matahari emas di lehernya. Kendati menyadari kehadiran seseorang, si wanita hanya tertunduk kaku. Dayanya hampir terkuras habis. Leher, tangan, dan kakinya terikat oleh sulur tanaman yang menggeliat seperti seekor ular besar berwarna hijau. Itu memang bukan tanaman biasa. Tanaman yang tumbuh di setiap kamar penjara Gregosus itu bernama Orchnas—monster hasil rekayasa sihir Biddlestone gabungan tanaman anggrek dengan ular. Edbert tahu tidak mudah melepaskan diri dari Orchnas. Jika melawan, Orchnas akan semakin melilit dan menyerap energi inangnya. Sama seperti yang terjadi pada wanita itu, kemungkinan Orchnas telah menyerap energinya sehingga wanita itu tidak lagi mampu berteriak. Tidak heran jika wanita itu kini hanya diam. "Ayah?" Edbert menatap Ayahnya tak mengerti. Dari pakaiannya, Edbert ingat wanita itu merupakan seorang pelayan bar kelas atas kerajaan Mogwes yang sebelumnya ia datangi bersama Maxen dan Dexter. "Bangunkan dia, dan suruh wanita itu bicara, Hagburn!" titah Roland, lalu Hagburn segera menyiram wajah wanita itu dengan sewadah air asam. "Sekarang bicaralah. Katakan bahwa kau menyesal melakukannya!" perintah Hagburn. Si wanita mengangkat wajah. Matanya menyorot tajam pada Edbert di balik rambut acak-acakannya. Alih-alih takut menghadap dua petinggi Yurza, wajahnya yang telah dibanjiri air asam bercampur keringat justru memasang senyuman getir. Rasa sakit di tubuhnya seolah sudah tak ia pedulikan lagi. "Oh, ternyata itu Anda, Tuan Muda Edbert Kinsey. Saya tidak menyesal telah menabur racun di makanan Anda. Justru yang saya sesalkan adalah melihat Anda sekarang masih baik-baik saja!" seru si wanita. Racun?  Napas Edbert tersangkut di tenggorokan. Ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya, tapi telanjur menatap dengan mata membulat. Berani sekali wanita itu membubuhkan racun di makanannya. Beruntung tadi ia belum sampai memakan hidangan salmonnya. "Kau berani menabur racun di hidanganku. Siapa yang menyuruhmu?" tanya Edbert, seraya mengkondisikan wajahnya tetap tenang, meski kini dadanya sesak, mengingat kedatangannya ke bar Mogwes adalah atas ajakan Maxen Kinsey.  Mungkinkah itu Maxen? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD