Sebelas tahun yang lalu, di Akademi Sihir Keluarga Kinsey ....
Pertunjukkan sihir musim dingin Wintermon tinggal beberapa jam lagi, semua peserta didik Akademi Sihir Keluarga Kinsey yang ikut pertunjukan terlihat sudah bersiap di belakang panggung. Ada yang duduk tenang karena sangat percaya diri akan berhasil, ada yang masih susah payah berlatih agar para monsternya tidak membuatnya malu, dan ... ada yang mondar-mandir resah karena baru saja kehilangan sesuatu.
"Gawat! Semua peri-periku hilang!" ucap seorang remaja laki-laki beriris mata biru--Edbert Kinsey, sambil memegangi kurungan perinya dengan mimik wajah panik. Ia menoleh ke kanan kiri, berharap ada yang membantunya, tetapi nampaknya orang-orang sedang sibuk dengan urusannya sendiri.
Semua mendadak kacau, padahal satu jam lalu Edbert sudah mempersiapkan dengan baik. Hanya karena meninggalkan peri-perinya sebentar di ruang tunggu, sepuluh peri yang telah satu bulan ini susah payah ia latih tiba-tiba saja hilang dari kurungan. Pintu kurungan dalam keadaan terbuka, tapi tidak mungkin peri-perinya kabur. Edbert yakin karena ia telah berhasil membuat sepuluh perinya menurut.
"Hei, kau kenapa?"
Edbert menoleh pada remaja laki-laki yang baru saja datang menghampirinya, Maxen Kinsey. "Kakak, semua peri-periku hilang!"
"Hah? Bagaimana bisa?"
"Entahlah. Padahal tadi aku hanya meninggalkannya sebentar."
Maxen Kinsey nampak berpikir sesaat. "Aku rasa aku tahu di mana peri-perimu."
"Sungguh? Kalau begitu beri tahu aku."
***
Sepuluh menit lagi sebelum nama Edbert Kinsey dipanggil ke atas panggung, beruntung Edbert sudah berhasil mendapatkan sepuluh perinya kembali. Semua berkat Maxen yang membantunya. Tak ia sangka bahwa peri-perinya hilang karena disembunyikan oleh Arthur. Edbert bingung kenapa kakak sepupunya itu selalu mengganggunya. Bahkan, sampai menghasut senior lain agar ikut merundungnya.
Kau tidak pantas menyandang putra pemimpin Yurza!
Dasar Edbert Kinsey lemah!
Edbert Kinsey pengecut!
Tidak bisa diandalkan!
Tidak kompeten!
Semua cemoohan itu masih terngiang-ngiang di telinga Edbert, bagaikan akar yang melilit relung hatinya, membuat Edbert berpikir. Apakah benar dirinya memang seperti itu?
Tidak! Edbert Kinsey tidak lemah!
Edbert berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua cemoohan itu tidak benar. Edbert akan membuktikannya! Kini ia hanya harus berlari lebih cepat meninggalkan lorong koridor menuju gedung pertunjukan.
***
Pertunjukan sihir Wintermon sudah selesai setengah jam yang lalu, dan pertunjukan itu mengeluarkan nama Edbert Kinsey sebagai peserta terbaik.
"Apa kubilang? Edbert Kinsey, kau memang hebat." Maxen merangkul pundak Edbert dan tersenyum cerah padanya.
Edbert menengadah. "Terima kasih. Kalau bukan karena bantuanmu, mungkin aku tak akan naik ke atas panggung dan Ayah akan menghukumku."
"Bukan masalah," sahut Maxen ringan. "Kalau Arthur atau senior lain melakukan hal buruk lagi kepadamu, jangan ragu. Katakan saja padaku. Aku ... Maxen Kinsey adalah kakak sepupu yang baik. Aku akan selalu melindungi Edbert Kinsey."
Untuk pertama kali semenjak kehilangan Ibunya, seulas senyum kembali menggantung di wajah Edbert Kinsey. Dan setelah itu, Maxen selalu ada di sisinya.
***
Benar. Tidak mungkin pelakunya adalah Maxen Kinsey. Jadi siapa yang telah menyuruh pelayan itu menabur racun di hidangan salmonku?
Pikiran Edbert yang sebelumnya melayang, kini kembali ke penjara Gregosus setelah mendengar tawa getir dari si perempuan penabur racun.
"Tidak ada yang menyuruh saya, Tuan!" jawab wanita itu lantang. Lalu dengan melotot ia berkata, "meracuni Anda adalah keinginan saya sendiri."
Edbert berdecih. Ia yakin pelayan itu tidak berkata yang sesungguhnya. "Aku masih memberimu kesempatan. Jika kau mengakui, aku akan membawamu ke sidang pengadilan Yurza. Katakanlah siapa yang menyuruhmu di sana, maka aku akan membebaskan nyawamu."
Si wanita menertawakan tawaran Edbert. "Bahkan jika Anda mengancam nyawa saya pun, saya akan tetap mengatakan hal yang sama, Tuan Muda. Kecuali Anda mundur dari posisi pemimpin Yurza, baru mungkin saya akan mempertimbangkan tawaran Anda."
Si wanita tertawa terbahak-bahak sehingga membuat para penjaga penjara Gregosus mengintip dari luar pintu karena penasaran.
"Perhatikan ucapanmu!" gertak Roland.
Edbert menoleh, pada Roland yang mulai menguarkan energi panas sehingga terasa sampai di bahu kirinya.
Satu detik ....
Dua detik ....
Secara perlahan dua tanduk mulai muncul di kepala Roland disusul kedua mata pemimpin Yurza itu yang kemudian menyala merah. Edbert tercekat. Selama ini Roland selalu menyembunyikan wujud murkanya, wujud saat separuh jiwanya dikuasai satan. Melihat wujud Roland sekarang, Edbert seolah melihat wujud dirinya di masa depan, saat ia telah menjadi pemimpin Yurza dan tak lagi bisa menahan murkanya.
Jadi seperti ini ....
Orchnas adalah monster yang penurut pada Tuannya, apalagi pemimpin Yurza. Melihat Roland mengangkat salah satu tangannya, Orchnas mengartikan sebagai perintah.
Sulur-sulur Orchnas pun semakin bermunculan hingga memenuhi seperempat tembok kamar. Salah satu sulurnya bahkan berbunga, yang mana bunga berukuran raksasa itu memiliki nafsu melahap seperti ular pada tikus. Bunga bergigi itu lantas mulai menggerogoti daging di kaki si pelayan wanita.
Edbert memalingkan wajah, tak sanggup melihat penyiksaan itu. Sungguh ia benci mengakui bahwa kini hatinya melemah. Di saat seperti ini ia kembali teringat pesan Ibunya. Pesan yang membuat ia tidak bisa melakukan penyiksaan lagi setelah terakhir pada si nyamuk betina. Apalagi membunuh wanita dan anak-anak, Edbert sendiri menyesal karena hatinya terlalu lemah untuk melakukannya. Entah akan bagaimana nanti ketika ia sudah dinobatkan sebagai pemimpin Yurza dan harus menjadi eksekutor ritual.
"Cukup, Ayah. Penyiksaan itu tidak akan membuat wanita itu mengaku," kata Edbert pada Roland.
"Kalau begitu, biarkan saja Orchnas menggerogotinya hidup-hidup sampai dia mati. Lagi pula jika tidak mau mengaku, dia telah membuat dirinya tidak berguna. Kita tidak membutuhkan manusia yang seperti itu."
Pandangan prihatin Edbert kembali beralih pada si wanita. Daging di betis wanita itu hampir habis, sehingga terlihat tulang keringnya. Bau anyir darah sudah memenuhi ruangan. Roland tidak akan mengentikan Orchnas sampai si wanita mengaku, Edbert yakin itu. Sementara, si wanita tetap bungkam sehingga mungkin penyiksaan itu akan tetap berlangsung sampai ia mati. Edbert mengerjap, tidak bisa melihat penyiksaan ini sampai akhir.
Si wanita yang melihat hal itu, lalu tertawa mengejek. "Lihatlah! Itulah kenapa saya meragukan Anda, Tuan. Karena hati Anda lemah. Yurza tidak bisa kuat jika dipimpin oleh penyihir lemah seperti Anda!"
Edbert mengepalkan tangannya. Ia tak tahan lagi. Lebih baik membuat wanita itu langsung mati daripada melihat penyiksaan ini sampai akhir. Edbert lantas melayangkan sihirnya. Cahaya merah melesat dari tangannya. Bagai pedang yang tajam, cahaya itu lalu menyabet leher sampai d**a si wanita hingga nyawa pun seketika melayang. Darah tepercik ke mana-mana. Lantai, tembok, bahkan sampai ada yang mengenai wajah Edbert.
Tubuh Edbert membatu. Tangannya terasa seperti batu es. Dingin, kaku, dan terlalu berat digerakkan untuk sekadar menyeka darah yang mengalir di wajahnya. Edbert telah membunuh seorang wanita untuk pertama kalinya.
Lain halnya dengan Edbert yang kaku, wajah Roland justru melega. Ia bangga karena akhirnya Edbert berani menggunakan tangannya. Kekehan Roland terdengar bersamaan sosoknya yang kembali ke wujud manusia normal, tanpa tanduk dan mata merah.
"Kuharap sekarang kau paham alasanku meminta tindakanmu lebih berhati-hati," ujar Roland. "Namamu telah masuk dalam daftar pemimpin Yurza. Itu artinya duniamu telah berubah. Kau harus menyesuaikan diri. Kau pikir aku tidak bisa melihat bahwa kau masih menyimpan kelembutan di hatimu? Musnahkan itu! Hati yang lembut hanya akan menjadikanmu pengecut! Kau harus menjadi pemimpin Yurza yang kuat!"
Edbert mengangguk. Tapi jutaan kata mengganjal di tenggorokannya. Ingin sekali ia membela bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak berminat pada kekuasaan ini. Bisa saja saat itu Raja Iblis sedang mengantuk, sehingga kemudian salah mengeluarkan nama seorang Edbert Kinsey di bola kristal. Sekarang, Edbert hanya ingin kehidupan amannya kembali. Tapi apakah masih mungkin?
"Lalu bagaimana dengan misimu? Kapan kau akan membawa gadis Albara itu?"
"Secepatnya."
Roland mengangguk-angguk. "Setelah kau membawanya, tempatkan saja gadis itu di sini."
"Di penjara Gregosus?"
"Ya. Kenapa? Kau tidak berniat membawanya tinggal bersamamu, bukan?"
"Tentu saja tidak, Ayah." Edbert menerima sapu tangan yang disodorkan Roland, lalu mengelap darah di wajahnya dengan sapu tangan lembut itu. "Sebenarnya aku sedang membangun sebuah menara tak jauh dari sini. Gadis itu akan aku tempatkan di sana."
"Kita hanya butuh gadis itu sampai pernikahan itu terjadi. Setelahnya, kita tidak membutuhkannya lagi. Kau bisa melenyapkannya. Jadi untuk apa repot-repot membangun menara? Tapi terserah kau saja." Akhirnya Roland mulai menguap. "Baiklah. Kurasa aku sudah bisa tidur nyenyak. Kuharap kau bisa lebih fokus pada misimu. Jangan terlalu dekat dengan Maxen. Aku tidak menyukainya."
"Maxen? Kenapa? Dari dulu Ayah tidak pernah melarang kedekatan kami."
"Apa perlu aku tegaskan bahwa Ayah Maxen adalah pihak yang jelas-jelas menentangmu?"
"Itu Ayahnya, tapi Maxen tidak."
"Bagaimana bisa kau begitu yakin bahwa Maxen tidak ada hubungannya dengan wanita penabur racun itu?"
Edbert terdiam. Lagi-lagi alasan kepergiannya ke bar Mogwes karena ajakan Maxen mulai menggoyahkan hatinya. Namun, itu tidak mungkin. Pasti dugaan Ayahnya tidak benar. Sejak kecil, ia telah mengenal dekat seorang Maxen Kinsey. Bahkan Maxen yang selalu ada di sisinya saat Edbert dirundung oleh Arthur dan senior lain di Akademi Sihir Keluarga Kinsey. Maxen bukan orang yang seperti itu.
Sebenarnya Edbert enggan menjawab tuduhan Ayahnya. Tapi demi membuat Ayahnya segera pergi, ia mengiyakan. Usai Roland pergi, Edbert masih berdiri mematung. Mendengar kata-kata Ayahnya, membuat hatinya serasa ditekan. Sangat keras. Tapi di sisi lain, ia merasa beruntung. Seorang Edbert Kinsey yang telah lama kehilangan tujuan hidup, nyatanya masih bernapas sampai sekarang.
Hingga mendadak Edbert terhenyak.
Dexter? Bukankah anak itu sempat memakan hidangan salmonku?
***
Emosi Arthur membuncah. Ia batal menikmati sajian di meja makannya. Korvin, si pelayannya yang berupa burung gagak baru saja datang. Korvin menyampaikan apa yang ia dengar dari salah satu penjaga di penjara Gregosus.
"Sial!" umpat Arthur lalu memberi pukulan tertahan di meja makannya.
Duduk di sampingnya, Steadman berusaha tetap tenang. "Rencana racun ini hanyalah permulaan. Jika belum berhasil, tidak perlu berkecil hati. Tapi ... kegagalan ini sudah cukup membuktikan bahwa seorang Edbert Kinsey memang lemah. Dari dulu tidak berubah, sepertinya sudah mendarah daging. Sifatnya yang pengecut itu sangat mirip dengan Ibunya. Edbert Kinsey, dia terlihat angkuh seperti pohon yang tinggi, tapi sebenarnya akarnya begitu mudah dirobohkan."
Arthur menoleh sebentar pada Ayahnya, lalu meneguk segelas anggur dengan cepat. "Dulu Ayah berhasil menyingkirkan Diana dengan rapih, sekarang aku yakin bisa melakukannya juga pada Edbert Kinsey. Sama dengan cara Ayah dulu, aku hanya harus mencari cara yang tepat agar robohnya pohon itu tidak diketahui orang lain. Hanya aku yang pantas menjadi pemimpin Yurza, bukan si pengecut Edbert Kinsey. Karena orang yang tidak kompeten, bukankah tidak layak menjadi pemimpin?"
***