Gadis Mutiara

1757 Words
Dalam situasi terdesak dan terasa membingungkan, Ellyora tidak bisa menepis tangannya yang digandeng lelaki lusuh. Entah akan membawanya ke mana. Sampai di perempatan pasar, mereka berhenti berlari untuk beberapa saat, sampai akhirnya si lelaki lusuh kembali mempererat genggaman tangannya pada Ellyora, kemudian berbelok ke arah kiri. Keempat preman yang berbadan gempal tak ingin ketinggalan dengan terus mengejar mereka. Lemak-lemak yang bergelayutan di tubuh tinggi besar mereka ikut bergetar, memercikkan keringat yang telah bercampur air hujan. "Kejar! Mereka belok ke kiri!" si rambut mohak memberi komando. "Bödoh! Mereka itu lurus!" bantah si preman berkalung rantai, yang sebenarnya sedikit ragu tetapi berusaha terlihat meyakinkan. "Sudah, jelas-jelas aku lihat mereka ke kanan!" si rambut hijau ikut memberi petunjuk dengan mengacungkan telunjuknya. Maka secara bersamaan, keempat preman itu lantas menengok ke arah kanan. Namun .... Hening. Secara kompak rahang mereka jatuh, melongo dengan mata membulat. Semangat memburu mereka layu saat itu juga. Tiga lelaki dengan sabuk berukirkan bunga Zipthus terlihat sedang berjalan dari arah kanan, memandang ke arah empat preman dengan tatapan elang mereka. Tentu saja keempat preman itu tahu siapa mereka—The Keepers, karena kepopulerannya sudah tidak asing lagi di kerajaan timur. "Sial! Ada The Keepers!" bisik si mohak dengan bergidik, tetapi kemudian perhatiannya teralihkan. "Hei, tapi siapa gadis yang bersama mereka? Sepertinya dia bukan anggota The Keepers karena tidak memakai sabuk itu. Gadis itu lumayan juga." "Siapa gadis itu bukan urusan kita, bödoh!" sungut preman berkalung rantai nyaris tak tahan meninju temannya itu saking geregetannya. "Sudah lah. Kita melarikan diri saja," usul si rambut hijau. "Tongkat mainan ini tidak akan berhasil menakut-nakuti mereka!" "Melarikan diri?" tanya si preman berkalung rantai, tapi ketiga kawannya sudah lebih dulu lari. "Woiiii!" serunya. Tak ingin jadi sasaran sendirian, ia pun berbalik dan lari tunggang langgang. "Ketua, kenapa mereka lari? Apa kita perlu mengejarnya?" tanya Banks pada Kai. "Biarkan saja. Mereka hanya preman di pasar ini," jelas Kai. "Tapi bukankah preman pasar juga membuat keonaran?" Thalaya ikut menyahut. "Benar." Kai menoleh sesaat pada Thalaya. "Tapi selama bukan penyusup Yurza, kita tidak perlu repot-repot. Sudah ada polisi Eden yang bertugas mendisiplinkan mereka. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi antara polisi Eden dengan The Keepers." Sementara itu di sisi lain, Ellyora yang merasa telah berlari terlalu jauh, akhirnya menengok ke belakang. Terlihat para preman sudah tidak mengejarnya. "Berhenti!" Ellyora melepas paksa genggaman tangan si pria lusuh, sehingga langkah pria itu seketika terhenti dan menoleh ke belakang. "Kenapa? Apa sudah aman?" tanya lelaki lusuh dengan napas putus-putus. Ellyora merengut. Melipat kedua tangannya ke dáda. Tangan kirinya masih memegang payung. Wajahnya yang bening memerah. "Kenapa dengan eskpresi wajahmu?" tanya lelaki lusuh. Ia menyibak poni rambutnya yang sangat kusut. "Dengan ekspresi begitu, orang-orang akan berpikir aku telah merundungmu." "Kau memang tidak merundungku, tetapi kau sudah lancang!" "Aku belum mengerti apa yang kau maksud. Lancang?" "Ya. Berani-beraninya kau menyentuhku. Padahal, seumur hidup hanya dua laki-laki yang kuijinkan memegang tanganku. Pertama Ayahku, dan ke dua Pamanku. Lalu sekarang ... kau?" ungkap Ellyora terlalu jujur. Karena malu, ia pun membuang wajah memerahnya. Si lelaki lusuh terkesan pada gadis polos di hadapannya. "Gadis mutiara..." gumamnya hampir tak terdengar. "Apa katamu?" Si lelaki lusuh menggeleng. "Ah, ti—tidak, maaf atas kelancanganku." Ellyora melihat lelaki di hadapannya menunduk. Hal itu membuatnya kikuk. Menghirup napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, Ellyora berusaha mendapatkan ketenangan dirinya. "Ya sudah... " kata Ellyora, pada akhirnya. Nada suaranya sudah melembut, dan kekesalan di wajahnya sudah berkurang. "Aku tidak tahu kau benar-benar telah mencuri atau tidak. Aku membantumu karena aku tidak bisa melihat orang lemah ditindas. Sesulit apa pun keadaanmu, mencuri bukanlah jalan keluar yang baik. Jadi kuharap kau tidak melakukannya ... maksudku mencuri." "Aku akan berhenti mencuri jika kau memberikan itu untukku." "Apa?" Si lelaki lusuh tersenyum lalu menunjuk payung merah milik Ellyora. "Payungku?" tanya Ellyora tidak percaya. "Tidak mau. Bahkan yang kau lakukan sekarang tidak benar. Sama saja kau sedang marampokku." "Kalau begitu, aku akan tetap mencuri." Si lelaki lusuh mengancam dengan pergi. Alis Ellyora berkerut. Sebenarnya mau lelaki lusuh itu mencuri lagi atau tidak, itu bukan urusan Ellyora. Tetapi entah mengapa ia juga merasa bersalah kalau membiarkan lelaki itu pergi dan tetap mencuri, sementara bisa saja kini ia memberikan payung merahnya sesuai keinginan lelaki lusuh. Pada akhirnya Ellyora menyerah. "Ya sudah!" serunya, disusul si lelaki lusuh yang segera memutar tubuh ke arah Ellyora, sambil menahan senyuman. "Jadi, payung merah itu untukku?" "Ini satu-satunya payung milikku. Tapi jika payung merah ini bisa membuatmu berhenti mencuri, aku akan mengijinkan kau memilikinya," kata Ellyora lalu menyodorkan payung merah itu. "Jangan kotori hidupmu dengan perbuatan mencuri." Senyum si lelaki lusuh merekah—senyuman yang jika dilihat-lihat sebenarnya tampak menawan meski wajahnya kotor. "Terima kasih, Nona. Aku akan menyimpan payung ini." "Ingat, kau harus menepati ucapanmu," kata Ellyora lalu berjalan meninggalkan si lelaki lusuh. "Hei! Aku berjanji! Di lain kesempatan aku yang akan berganti menyelamatkanmu!" Si lelaki lusuh berseru kepada Ellyora yang sudah berjalan semakin jauh meninggalkannya. Ellyora mendengar janji itu, tetapi berusaha tidak menghiraukannya. Gadis itu tetap berjalan, meski kini ia bingung jalan menuju pulang. Setelah melihat Ellyora menjauh, si lelaki lusuh kemudian berbalik. Entah akan ke mana tujuannya, tetapi ia berjalan berlawanan arah dengan Ellyora. Senyumnya mengembang lebih lebar setelah berhasil mendapatkan payung merah yang ia inginkan, meski sebenarnya tidak benar-benar ia butuhkan. Hanya karena si gadis pemilik payung itu polos, unik, dan ... cantik, maka si lelaki lusuh memintanya. Sambil berjalan, ia memperhatikan payung merah di genggaman tangan kirinya. Sementara tangan kanannya, merogoh jam tangan mewah karya Biddlestone yang ia sembunyikan di dalam baju. "Ceroboh, seharusnya aku tidak memakai jam tangan ini tadi," gumam si lelaki lusuh kemudian kembali menyembunyikan benda berkilau itu. *** TAP TAP TAP Kaki Dexter yang tak beralas menapak ragu jalanan berkerikil di pasar Eden. Berulang kali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang tadi sempat ia lihat melintas di jalan depan rumah Marliah, lalu membuatnya berlari mengejar. Tetapi, sekarang ke mana sosok itu? Andai saja tadi Dexter berlari lebih kencang. Pasti dirinya tidak akan kehilangan jejak dan kesempatan besar untuk kembali ke wujud manusianya lalu pulang ke Tannin. Sekarang ia tak tahu lagi akan ke mana. "GRRRR!" Dexter menoleh karena mendengar suara geraman dari arah kirinya, seperti geraman ... kucing yang tadi pagi menyerangnya? Dan benar saja! Di sana, tepat di belakang sebuah keranjang rotan berisi sayuran, si kucing oranye yang tatapan matanya begitu galak dan penuh ambisi kekuasaan muncul sambil menunjukkan taringnya. Oh, tidak! Tubuh Dexter bergetar dan seluruh bulunya berdiri saking ketakutannya, dan kini ekornya yang panjang nampak seperti kemoceng. Melihat reaksi lawannya, si kucing oranye semakin percaya diri untuk mendekat. Kalau diibaratkan manusia, sepertinya kucing oranye itu adalah preman. Preman pasar! Awalnya kucing oranye itu hanya mendekati Dexter dengan langkah pelan, mungkin lebih tepatnya mengendap-endap sambil menggeram. Tetapi tak lama kemudian, persis setelah jarak mereka sudah cukup dekat, si kucing oranye mengangkat dua kaki depannya. Gawat! Kucing preman itu akan menerkamku! Tentu saja Dexter langsung lari terbirit-b***t. Sungguh malang nasibnya. Setelah sebelumnya ia dikejar beruang, kini ia dikejar kucing. "Aku benci takdirkuuuuuuuu! Ini TIDAK KEREN!" teriak Dexter, tetapi dengan bahasa kucing, sehingga yang terdengar hanyalah meongan panjang. Selain membenci takdirnya, Dexter juga membenci pikirannya sekarang. Dalam kondisi terancam ini, ia malah merindukan seseorang. "Shiraaaaaaa!" *** Sebuah keajaiban!  Akhirnya Dexter berhasil lolos dari kejaran si kucing oranye. Untung saja tadi ada manusia yang tiba-tiba muncul lalu mengusir mereka, dan entah bagaimana si kucing oranye itu sudah tidak terlihat lagi. Dexter meringkukkan tubuh di depan sebuah warung, mungkin warung makan karena tercium aroma lezat dari dalam sana. Tubuh Dexter kembali kotor karena tadi berulang kali ia menginjak kubangan lumpur. Selain kotor, telapak kakinya yang tak beralas juga sedikit perih akibat menginjak kerikil tajam. Saat ini Dexter benar-benar ingin menangis. Hidupnya tidak pernah sesusah ini. "Kasihan sekali. Kau kehausan, ya?" Dexter mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara, pada seorang wanita paruh baya berwajah ramah yang melongok dari ambang pintu warung. Mungkin dia adalah pemilik warung. Wanita itu kemudian masuk, dan tak berapa lama keluar membawa wadah kecil. "Kucing malang, diminum, ya?" kata wanita itu lalu meletakkan wadah kecil berisi air di hadapan Dexter. "Nanti kalau masakanku sudah matang, aku akan memberimu ikan." Dexter hanya menatap bengong. Antara bingung dan sedih. Aneh sekali. Wanita itu tidak terlihat kaya, kenapa rela membantunya? Padahal seharusnya wanita itu tahu, Dexter tak memiliki apa pun untuk membalasnya. "Meong," kata Dexter, bermaksud menyampaikan terima kasih. Kemudian wanita itu tersenyum sebelum kembali masuk karena harus menyelesaikan masakannya. Masih enggan beranjak pergi, Dexter membiarkan dirinya duduk meringkuk di teras warung. Sambil memperhatikan orang-orang yang lewat, ia memikirkan sesuatu. Kenapa orang-orang di pasar Eden terlihat peduli satu sama lain? Kebanyakan orang di kerajaan barat tidak seperti itu. Bahkan mereka hanya bersikap baik kalau ada maksud tertentu, terutama yang berhubungan dengan uang atau kekuasaan. Melihat dalam kondisi menyedihkan ini masih ada yang tulus membantunya, Dexter merasa terharu ... dan berpikir: mungkinkah tidak seharusnya Yurza memerangi kerajaan timur? Saat gerimis mereda, Dexter beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan warung. Apakah setelah ini ia akan menemui Shira, Dexter tak tahu. Ia hanya membawa langkahnya pergi sambil berharap di perjalanan bisa bertemu sosok yang ia cari. Dan benar saja. Tak butuh waktu lama, harapannya terkabul. *** "Meeeooong!" Lelaki lusuh menengok ke bawah. Ada seekor kucing yang mendekatinya. "Pergilah," kata lelaki lusuh. "Aku tak punya makanan!" "Meooooong!" "Sudah kubilang aku tak membawa makanan!" usirnya lagi. Karena tak digubris, kucing itu yang merupakan Dexter lalu menggigit celana panjang berbahan kasar yang dipakai pria lusuh. "Kyaaa! Apa yang kau lakukan, hah?" Si lelaki lusuh menghindar dan memberi tatapan marah pada si kucing. Dexter mencoba kemampuannya berbicara dengan bahasa manusia. "Kau tidak mengenalku? Aku adik sepupumu! Dexter!" Mata si lelaki lusuh yang bermanik hazel membulat. "Kau bisa bicara?" tanyanya, lalu ia berpikir sejenak sebelum berkata lagi. "Ah, tapi aku tetap tidak percaya bahwa kau Dexter." Tatapan Dexter meredup. "Apa perlu kukatakan rahasiamu?" "Coba saja," tantang si lelaki lusuh. "Kau terpeleset dan terjungkal jatuh saat pesta pertemuan Yurza kemarin, sehingga minuman di gelasmu tumpah dan membasahi celanamu. Lalu kau pergi ke kamar mandi diam-diam dan melepas celana dalammu yang berwarna merah jambu dan bergam—" "STOP!" sela si lelaki lusuh, kemudian ia celingukan berharap tak ada yang mendengar teriakan itu. "Kau tidak bisa mengelak lagi... MAXEN KINSEY!" "Ja—jadi kau sepupuku, Dexter? Bagaimana bisa kau ada di sini dan dalam wujud kucing?" Moncong Dexter kemudian nampak membentuk senyuman. Ia merasa terselamatkan karena bertemu sepupunya Maxen Kinsey, si putra kedua Steadman Kinsey. Selama ini Dexter selalu mencibir kegemaran kakak sepupunya itu yang suka menyamar ke kerajaan timur. Tapi setelah kebetulan ini, mungkin ia tidak akan mencibir lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD