Preman Gotik

1300 Words
Sinar matahari mengintip dari balik awan. Pancaran hangatnya melingkupi pasar Eden yang mulai ramai. Baik oleh penjual yang menjajakan dagangannya, maupun para pengunjung pasar. Berbagai macam aroma berkumpul di sana. Amis ikan dan daging-dagingan, manis buah-buahan yang menggoda, segarnya sayuran, bahkan macam-macam aroma keringat semuanya membaur dengan sempurna bersama keramaian. Hiruk pikuk menciptakan situasi tidak biasa bagi Ellyora. Sekilas, memang menarik untuk diperhatikan, tetapi ia juga perlu waspada terhadap banyaknya wajah asing di sekitarnya. Tidak tahu mana manusia yang baik, dan mana yang mungkin berniat jahat padanya. Delapan tahun lalu Ellyora pernah mengalami kejadian tak mengenakan di pasar ini. Akibat rasa penasarannya, saat itu ia nekat kabur dari neneknya yang berakibat dirinya berkeliaran di pasar Eden seorang diri. Entah kemalangan apa yang kemudian menimpa dirinya sehingga membuatnya pingsan, lalu ketika sadar, terlihat wajah mendiang sang nenek yang sedang memeluknya sambil meneteskan air mata. Ellyora tidak ingin kejadian buruk itu terulang kembali. Karenanya, di pasar ini ia berusaha tetap tenang. Dengan begitu usaha untuk mengingat jalan pulang ke rumah paman dan bibinya jadi lebih mudah. Langkah Ellyora kemudian sampai di perempatan. Gadis itu membuang napas ketika keraguannya muncul lagi. Sungguh ia menyesali daya ingatnya yang tak begitu bagus. Inilah akibatnya, ia jadi seringkali merasa ragu. Sambil mengingat-ingat, Ellyora berpikir tidak ada salahnya jika ia berhenti sebentar di tepi jalan. Lagi pula, selain dirinya butuh istirahat, ia juga perlu membersihkan kaki dan bagian bawah dress-nya yang terkena percikan lumpur. Dress Ellyora berwarna coklat tanah, maka sebenarnya noda lumpur itu menjadi cukup tersamarkan. Meski begitu, Ellyora tetap ingin membersihkannya, terutama di bagian kaki yang membuatnya risih.  Tak jauh dari tepi jalan, Ellyora menemukan pohon mangga yang berakar besar. Kemudian ia menjadikan akar itu sebagai tempat duduk. Namun, belum juga bernapas lega jantungnya dibuat bertalu-talu kembali ketika melihat beberapa sosok yang mirip dengan .... Preman? Tanpa pikir panjang, Ellyora langsung melompat ke belakang pohon mangga. Syukurlah pohon itu memiliki ukuran diameter cukup besar sehingga mampu menyembunyikan tubuhnya. Ellyora melongokkan kepala untuk memperhatikan penampilan para sosok sedang berjalan ke arahnya. Tiga pria berpostur tinggi, dan seorang gadis bertubuh kecil. Jika dilihat dari penampilannya, Ellyora yakin tiga pria itu adalah preman pasar. Terlebih yang tengah. Sama dengan preman yang tadi mengejarnya, lelaki itu juga memakai kalung rantai. Tidak hanya itu. Rambut pirang sebahu milik lelaki itu terlihat diikat acak-acakan, ditambah warnanya yang pirang. Ini kali pertama Ellyora melihat ada manusia memiliki warna rambut pirang. Jadi ia menduga lelaki itu sengaja mewarnai rambutnya, dan itu terdengar mengerikan. Marliah pernah bercerita padanya kalau ada preman berpenampilan gotik di pasar Eden. Mungkin yang dimaksud Bibinya adalah orang itu. Ellyora kemudian beralih pandang pada gadis berambut pendek di belakang si preman gotik. Berbeda dengan si preman gotik atau dua pria lainnya, penampilan gadis itu terlihat sederhana, sehingga Ellyora tak yakin bahwa gadis itu juga preman. Mungkinkah gadis itu sandra? Refleks Ellyora menutup mulutnya sendiri. Ia menarik diri untuk menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik pohon mangga sambil berharap keberadaannya tidak diketahui. "Apa yang sedang kau lakukan, Nona?" Hati Ellyora mencelos. Bibirnya seketika membeku setelah mendengar pertanyaan dari suara berat dan dalam milik seorang laki-laki. Suara itu sangat khas, hingga setelah beberapa saat diucapkan, masih terngiang-ngiang di telinga gadis itu. Ellyora membuka matanya perlahan. Kemudian angin menusuk mengantarkan manik mata cokelat terang Ellyora pada penampakan seorang pria berwajah sedikit tirus, bibir seksi, hidung mancung, alis tebal dan sepasang manik mata hijau emerald yang kini juga sedang menatapnya. Tidak mampu berkata, anehnya bukan rasa takut yang pertama gadis itu rasakan, melainkan adanya getaran aneh saat netranya berhadapan dengan netra itu dari jarak dua langkah. Sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan. Manik hijau emerald itu seolah mengajaknya untuk menyelami sebuah ingatan lebih dalam lagi. "Sekali lagi aku bertanya, apa yang sedang kau lakukan di balik pohon mangga ini, Nona? Apa kau sengaja mengintai kami?" Satu pertanyaan lagi dari si pemilik iris mata hijau berpenampilan preman itu membuat lutut Ellyora melemas. Sorot mata itu menajam, seakan siap memberondongi Ellyora dengan pedang seperti yang tersemat di pinggang lelaki itu. Tatapan tiga pasang mata di belakang pria berbadan atletis itu juga tak kalah menusuk, membuat Ellyora merasa tidak nyaman. Sudah dipastikan gadis berambut pendek yang bersama tiga pria itu bukanlah sandra, melainkan bagian dari mereka karena ikut menatap Ellyora tajam. Ellyora mengorek otaknya untuk mencari jawaban apa saja agar ia terhindar dari masalah. Bukankah ia sekarang ada di bawah pohon mangga? Ellyora menyengir lebar. "Jangan salah paham, Tuan. Siapa yang sedang mengintai? Aku di sini karena akan memetik buah mangga." Ellyora mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Secara berbarengan kelima manusia yang kini sama-sama berdiri di bawah pohon mangga itu mendongak, menatap rindangnya pohon mangga yang ternyata sedang tidak berbuah.  "Ketua, sepertinya buah yang dimaksud gadis ini hanya sebatas ilusi." Banks tak kuasa menahan tawa. Jake menyikut lengan Banks, sehingga lelaki yang tetap berwajah ceria meski sedang serius itu buru-buru mengatupkan mulutnya lagi. Lain halnya dengan si pemilik manik mata hijau yang masih menatap intens, Ellyora hanya bisa tertunduk pasrah.  Apa yang harus ia lakukan sekarang? Memohon ampunan kepada manusia bukanlah jati diri suku Albara. Siap tidak siap, ia harus berani membela diri. "Maaf, Tuan," ucap Ellyora. "Apa yang sedang aku lakukan sekarang, bukankah tidak penting untuk kalian? Yang jelas, aku tidak sedang mengintai. Lagi pula, aku tidak punya sesuatu yang bisa kalian rampas."  "Rampas?" Kai menyunggingkan senyum miring di wajah masamnya. "Menurutmu kami siapa? Preman? Perampok?" Ellyora melirik Kai dan melihat pria itu dari ujung kaki hingga kepala. "Siapa pun yang melihat penampilan Anda akan berpikir seperti itu." Banks tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kau tidak lihat ukiran yang ada di sabuk kami?" Ellyora kembali melirik, dan kali ini pada ukiran bunga berwarna ungu mengkilat yang ada di tengah sabuk mereka. Ia berpikir sejenak, seperti pernah melihat bunga itu, tapi ia lupa di mana dan kapan. "Memang apa?" tanya Ellyora dengan polosnya. Banks mengangkat kedua alisnya tak percaya. "Ah! Benar-benar. Ketua, aku semakin yakin bahwa gadis ini mencurigakan. Bisa jadi ia penyusup yang sedang berpura-pura." "Penyusup? Maaf, jangan asal bicara, Tuan. Kalian pikir kalian siapa, yang menuntut orang harus mengenal simbol itu." Ellyora berdecak sebal. Sama sekali ia tidak tahu bahwa ketiga pria tersebut adalah bagian dari The Keepers. Terlalu lama hidup di hutan Camden membuat ia tak pintar menandai mana manusia baik dan mana berbahaya. Banks tak terima dan hendak melangkah maju. Namun, tangan kekar menghadang di depannya.  "Biarkan saja gadis ini pergi," kata si pemilik tangan kekar itu, yaitu Kai. "Eh? Tapi ketua?" Banks memandang ketuanya itu dari arah belakang dengan keheranan. Kai tersenyum tipis. "Jangan buang-buang waktu, dia hanya gadis gila." "Apa?" Ellyora ternganga mendengar kali pertama seseorang menyebutnya gila. Yang ia tahu dari Marliah, orang gila di pasar Eden itu sangat kumuh, lebih berantakan penampilannya dari gelandangan. "Siapa yang Anda sebut gila, Tuan? Aku? Anda bahkan tidak mengenalku." "Lalu apa kau mengenalku?" sergah Kai, sehingga membuat Ellyora terdiam. "Kau bisa menyebutku preman hanya karena tampilanku, itu artinya aku juga bisa menyebutmu gadis gila karena penampilanmu. Adil bukan?" Kai menurunkan pandangan pada pakaian dan kaki Ellyora yang belepotan. "Kau boleh pergi, Nona." Ellyora merapatkan bibirnya sebal, karena wajah lelaki bermata hijau emerald itu sungguh masam. "Apa-apaan?" gerutunya sambil berjalan menghentakkan kaki meninggalkan perempatan. "Sebenarnya perkataan si preman gotik itu tidak salah, tapi aku tidak suka cara bicaranya ... dan wajah masamnya!" Di sisi lain, Kai tengah menatap punggung Ellyora yang menjauh dengan pandangan yang sulit diartikan. Jake berdiri menghadap ketuanya. "Kai, kenapa kau melepaskannya begitu saja? Bukankah kita perlu menaburkan bubuk daun Zipthus untuk mengetahui dia penyusup Yurza atau bukan?" Banks ikut berdiri di samping Jake menunggu jawaban sang ketua. Kai memandang lurus ke depan, pada gadis yang mulai menghilang dari pandangannya. "Tidak. Gadis itu tidak berbahaya." Lagi-lagi ketiga temannya hanya terdiam dan menatap bingung. Entah apa yang ketua mereka yakini. Namun, mereka melihat pipi pria 21 tahun itu merona. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD