Sampai matahari hampir naik, Ellyora masih berusaha menemukan jalan pulang ke rumah paman dan bibinya. Sungguh gadis itu tak menyangka bahwa perjalanannya di pasar Eden akan begitu sulit. Sekarang, setelah melewati berpuluh-puluh warung, rumah, dan juga pekarangan, ia bingung harus berjalan ke mana lagi.
Untuk ke sekian kali gadis itu memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat kembali jalan yang sebelumnya ia lalui bersama si lelaki lusuh. Namun, lagi-lagi konsentrasinya hanya sampai pada kicauan burung yang bersahut-sahutan di pekarangan sebelah kirinya, serta langkah redam orang-orang yang berjalan melewatinya.
"Nak, apa kau baik-baik saja?"
Sapaan tiba-tiba itu membuat Ellyora terlonjak di tempat. Kemudian ia dapati seorang wanita paruh baya kini sedang berdiri menghadapnya. Sepertinya wanita berselendang biru itulah yang tadi bertanya padanya.
"Maaf mengangetkanmu," ucap wanita itu lagi. Kali ini sambil tersenyum. "Aku tidak bermaksud buruk. Kuperhatikan, kau tampak kebingungan. Mungkinkah kau sedang perlu bantuan?"
Selama beberapa saat Ellyora hanya terdiam ragu. Ia tidak mengenal wanita di hadapannya. Namun, wajah dan senyuman wanita itu terlihat begitu lembut. Penampilan wanita itu juga sangat sederhana. Memakai dress panjang berwarna biru yang kainnya kasar seperti miliknya. Mungkin wanita asing di hadapannya bukanlah orang jahat. Karena itulah akhirnya Ellyora mengangguk.
Senyuman kembali menggantung di bibir wanita berselendang biru itu. Senyuman yang entah bagaimana di mata Ellyora terasa menenangkan, seolah kelembutan bersarang di kedalaman manik matanya yang biru. "Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?"
"Sebenarnya ..." Ellyora mengerjap tatkala keraguan di hatinya muncul kembali. Bukankah ia perlu berhati-hati pada orang asing? Kenapa sekarang malah ingin meminta bantuan pada wanita yang baru saja ia temui? Tapi jika tidak begitu, Ellyora ragu sampai kapan harus berkeliaran di pasar ini.
"Sebenarnya—bagaimana, Nak?" tanya wanita itu lagi, sehingga mata gadis di hadapannya membulat.
"Aku sedang mencari rumah Paman dan Bibiku yang tinggal di pasar ini. Bisakah Anda membantuku menemukannya?" kata Ellyora dengan sangat cepat sebelum keragu-raguannya muncul lagi.
"Oh, tentu saja. Tidak perlu sungkan. Aku memang tidak tinggal di Eden, tapi sudah banyak mengenal sebagian penghuni di pasar ini. Siapa nama Paman dan Bibimu?"
"Gery dan Marliah."
"Kau keluarga Bright?"
Ellyora mengiyakan.
"Kebetulan sekali. Aku memang mau ke sana," kata wanita itu, lalu membetulkan selendang biru di kepalanya.
***
Sekitar lima belas tahun yang lalu ....
Hamparan bunga lonceng biru menghiasi taman mansion utama keluarga Kinsey. Jutaan bunga di tepian pulau Tannin itu mekar serempak di awal bulan April.
Seorang anak laki-laki beriris mata biru berlari menghampiri hamparan itu. Dialah Edbert Kinsey yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke enam tahun.
Edbert merentangkan kedua tangannya, berputar, dan tertawa selayaknya anak lelaki kecil tanpa beban. Lebah, kupu-kupu, dan serangga lainnya beterbangan di sekitarnya, berlomba menghisap limpahan nektar dari si bunga lonceng biru.
Di usia enam tahun ini adalah kali pertama Edbert melihat bunga lonceng biru mekar begitu banyak. Ia mengamati bunga-bunga itu bergantian, sambil sesekali menengok pada Ibunya yang sedang duduk mengawasinya di kursi taman.
"Bunga yang cantik!" puji Edbert pada bunga-bunga di sekitarnya. "Kalian harus berterima kasih karena Ibuku telah menanam kalian. Tapi kenapa kalian terus menunduk? Apa kalian takut pada serangga-serangga itu?"
Tatapan mata Edbert meredup, lalu melempar kesal kepada para serangga. "Huh! Ibuku yang bersusah payah, kenapa kalian yang bebas menghisap nektarnya?"
PLAK!
Gigitan seekor nyamuk membuat ia mengeplak pipinya sendiri. Anak itu memeriksa telapak tangannya. Meleset, karena si nyamuk berhasil kabur.
"Nyamuk serakah!" umpatnya. "Kau sudah menghisap nektar bunga milik Ibuku, lalu sekarang kau juga menghisap darahku?"
Edbert menggulung lengan kain hoody berbahan wol yang ia kenakan, lalu mengulurkan tangan kanannya. Seekor nyamuk gemuk cepat-cepat hinggap di pergelangan tangan itu.
"HAP!" Edbert terkekeh ketika ia berhasil mengurung serangga gemuk itu di telapak tangannya.
Si nyamuk mengepak-ngepakkan sayap, berusaha keluar dari perangkap anak laki-laki itu. Kepalanya mendesak ke sana ke mari sampai akhirnya ia menemukan celah kecil di sela-sela jemari. Ia pun meloloskan kepalanya. Namun, tidak dengan tubuhnya.
Edbert menggenggam erat tubuh si nyamuk. Ia mengamati sebentar, kemudian tanpa ragu dicabutnya bagian probosis panjang si nyamuk. "Kau akan mati pelan-pelan karena tidak lagi bisa menghisap darah. Ini hukuman untukmu."
"Nak?"
Sebuah panggilan yang terdengar begitu lembut membuat si anak laki-laki terlonjak. Dengan buru-buru, ia menyembunyikan kepalan tangannya sebelum berbalik agar Diana—si pemilik suara itu yang juga merupakan Ibunya—tidak melihat perbuatannya pada si nyamuk.
Diana menekuk lutut, dan dengan sorot manik mata birunya yang tegas tapi lembut, ia berbicara pada putra pertamanya. "Ibu sudah melihat, tidak perlu kau sembunyikan lagi. Sekarang, kemarikan nyamuk itu."
Edbert tetap menyembunyikan genggaman tangannya. "Tidak, Ibu. Nyamuk itu hewan yang jahat dan serakah. Mereka tidak hanya menghisap bunga-bunga Ibu, tapi juga menghisap darahku."
Diana tidak langsung membantah. Ia menanggapi pendapat putranya dengan seulas senyum sebelum menjelaskan. "Kita tidak bisa menganggap semua nyamuk jahat, Nak. Kau tahu? Beberapa nyamuk betina memang ditakdirkan menghisap darah demi membesarkan calon anak-anaknya. Andai saja memiliki pilihan, mungkin nyamuk-nyamuk betina itu memilih tidak melakukan kejahatan apapun."
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan pada nyamuk yang sudah menghisap darahku?"
"Apa kau percaya pada Ibu?"
"Tentu saja. Ibu adalah satu-satunya orang yang kupercayai di dunia ini."
"Kalau begitu, kemarikan nyamuk itu."
Tangan Edbert terulur perlahan. Terlihat kepala si nyamuk yang sudah tidak memiliki belalai masih menyembul di sela jemarinya. Nampaknya nyamuk itu sudah sekarat karena ketika Edbert melepaskan genggamannya, serangga itu hanya merangkak lemah menuju telapak tangan Edbert tanpa berusaha terbang.
Diana menepuk telapak tangan Edbert, sehingga nyamuk itu pun mati seketika. "Lihat? Dengan begitu, dia tidak akan kesakitan terlalu lama."
"Kenapa begitu, Ibu? Bukankah kata Ayah, kita boleh menyiksa semua yang merugikan kita?"
"Oh, ya? Ayah mengatakan seperti itu?" tanya Diana, kemudian Edbert mengangguk. Diana kembali tersenyum lalu membelai kepala Edbert. "Nak, tidak semua yang dikatakan Ayahmu itu benar. Ayahmu memang seorang penyihir yang hebat, semua kerajaan di bagian barat mengakuinya. Tetapi, ia juga tetaplah manusia yang bisa sewaktu-waktu salah. Anggaplah waktu itu Ayahmu sedang salah bicara."
Edbert mengangguk penuh penyesalan. "Jadi, bagaimana, Ibu? Apa aku tidak boleh menyiksa?"
"Benar," ucap Diana, kemudian meraih Edbert ke dalam pelukannya."Ibu semakin percaya, dengan begini kau tidak akan mengecewakan Ibu."
Mata Edbert terpejam dalam pelukan itu. Hatinya seolah menjadi lebih ringan. Ia ingin terus bersama Ibunya, selamanya. Namun, kabut hitam tiba-tiba datang menyergap bersama tiupan angin.
"Ibu!" teriak Edbert. Kabut hitam itu membuat segalanya menjadi gelap dan bersamaan dengan itu, sosok Ibunya memudar begitu saja lalu berubah menjadi serpihan abu.
"Jangan!" Edbert membuka mata dan terlonjak duduk di ranjang. Pandangannya tertumbuk pada dinding marmer yang tersorot sinar matahari pagi. Ia berada di kamar, dan ia lega kejadian buruk yang baru saja dialaminya hanya mimpi. Namun, seperti mimpi buruknya yang sudah-sudah, mimpi tentang kehilangan sosok Ibu selalu meninggalkan rasa sakit di dadanya.
Edbert menoleh, dan mendapati bayangannya di cermin. Ia hampir tidak mengenali dirinya. Sejak kepergian Diana, ia telah mengubur dirinya begitu jauh dan dalam, hingga ia sendiri tak yakin akan menemukan dirinya kembali.
"CILUK BA!"
"Astaga dragon!" pekik Edbert. Ia sekonyong-konyong mundur ketika sosok lelaki lusuh bersama kucing munchkin mendadak muncul di hadapannya.
"Si—si—siapa kalian!"
Si lelaki lusuh tersenyum tanpa dosa. Sementara Edbert, memandang jijik penampakan pria berpayung merah itu dari ujung kaki hingga kepala. Baju karung goninya yang lusuh nampak sudah tidak dicuci ratusan hari. Rambut lepek menutupi sebagian kening dan wajahnya yang kusam kecoklatan. Lalu entah goresan coklat apa yang ada di pipinya, tapi itu terlihat seperti kotoran kerbau.
"Berani-beraninya kalian tiba-tiba muncul di sini!" Edbert mengacungkan tangan, hampir mengusir pria itu dengan sihirnya.
"Hei, tunggu... tunggu..." si pria lusuh mencegah.
Edbert mengernyit, suara pria itu terdengar familiar.
"Kau sungguh tidak mengenaliku?" Si lelaki lusuh menyibak rambut dan berusaha memasang senyum semenawan mungkin.
Edbert memicing silau pada pancaran pesona senyuman berjuta-juta watt milik si lelaki lusuh. Domba-domba merah jambu bertebaran dan berarak seolah menjadi background senyuman itu. Ya, senyuman yang meski dengan penampilan seperti itu, tetap terlihat menawan, dan senyuman itu hanyalah milik... "KAK MAXEN?"
Maxen mengangguk sok imut. Sementara kucing dalam gendongannya menggeram.
Edbert beralih menatap kucing munchkin hitam yang kemudian diletakkan Maxen ke atas ranjang.
"DEXTER?" Edbert tercengang. "Bagaimana bisa? Dan bagaimana caranya kalian berteleportasi ke kamarku?" Rahang Edbert mengeras ketika ia mengingat sesuatu. Akibat kekesalannya setelah makan malam bersama Arthur dan Steadman, ia sampai lupa menyelimuti kamarnya dengan mantra sihir. "Astaga! Alcott! Di mana burung itu!"
Maxen menepuk-nepuk pundak Edbert yang terlihat frustrasi. "Sabar... sabar."
"Bagaimana bisa kucing ini bersamamu? Emmm, maksudku... Dexter. Kau... kau baru saja menyusup ke negara Snowden?"
Maxen menyandarkan payung merahnya ke samping ranjang terlebih dahulu sebelum membusungkan d**a dan menepuk objek bidang itu dengan bangga. "Mau bagaimana lagi? Inilah susahnya menjadi lelaki tampan. Meski sedang menyamar di pasar Eden, kenyataannya adikmu ini tetap bisa mengenali ketampananku."
Edbert ternganga. Seperti biasa, lelaki 24 tahun itu selalu lebih narsis darinya. "Kurasa sebentar lagi aku ingin muntah!"
"Cukup basa basi kalian!" sela Dexter. "Dan kakak, cepat ubah aku menjadi manusia lagi! Kau tahu bukan? Aku tidak bisa tiba-tiba kembali menjadi manusia jika kau tidak menghilangkan mantra sihirmu?"
"Hmmm. Santai saja, mantra sihir transformasiku padamu hanya bersifat sementara. Tidak perlu menungguku untuk mengubahmu, nanti kalau sudah waktunya... kau juga akan otomatis kembali menjadi manusia normal."
"Apa? Aku tidak mau! Akan kulaporkan perbuatanmu pada Ayah!" ancam Dexter dengan melotot-lotot, sementara Maxen hanya menyimak percekcokan itu dengan senyum santai.
"Argh! Kau sungguh tidak keren, Dexter!" kata Edbert, "dan tidak dewasa! Sampai kapan kau akan terus menggunakan senjata itu untuk mengancamku? Setelah aku menjadi pemimpin Yurza, kau harus memikirkan senjata lain yang lebih konstruktif."
"Terserah." Dexter memutar bola mata tak mau tahu. "Jadi, ubah aku sekarang, atau..."
"BAIKLAH! BAIKLAH. Aku akan mengubahmu," kata Edbert. "Tapi sebelumnya kau harus menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?"
"Dengar saja nanti."
Dexter berpikir sejenak. Tak lama kemudian ia mengulurkan salah satu kaki depannya. "Oke."
"Euuuh! Apakah ini perlu?" gerutu Edbert merasa jijik karena kaki itu nampak kotor.
"Tentu saja," ujar Dexter. "Beginilah cara orang dewasa bersepakat."
Edbert mengulurkan tangannya ragu-ragu. Dengan cepat ia menjabat Dexter lalu buru-buru mengelapkan tangannya ke ranjang. "Ugh! Cukup sekali ini saja aku berjabat tangan dengan seekor kucing. Sekarang jawab pertanyaanku. Bagaimana bisa kau sampai ke pasar Eden?"
"Keluarga calon pengantinmu yang membawaku."
"Apa? Maksudmu keluarga itu pergi ke pasar Eden?"
"Ya, lebih tepatnya... melarikan diri ke sana karena mereka sudah tahu ada yang melakukan teleportasi di tepian air terjun hutan Camden. Dan itu kau, bukan?"
"Lalu sekarang, di mana gadis Albara itu?" tanya Edbert tak sabar.
***