Persimpangan

1554 Words
"Mencari kucing?" seru Harry tak percaya, sambil mondar-mandir di depan Ellyora dengan urat leher tegang dan tangan gusar, begitu Ellyora sampai di rumah. "Sudah kuduga kucing Shira itu akan membuat masalah di kemudian hari! Sekarang, yang kutakutkan sungguh terjadi, bukan!" Seperti seorang terdakwa, Ellyora duduk di kursi meja makan tanpa berani menyahut. Sementara di sebelahnya, Shira nampak sedih kehilangan Dexter. Namun, ia juga merasa bersalah karena kucingnya yang menjadi sebab permasalahan kakaknya. "Apa aku harus mengurungmu di kamar, Ell?" lanjut Harry. "Kau tahu betapa cemasnya kami? Sangat berbahaya gadis Albara 19 tahun sepertimu berkeliaran di pasar Eden sendirian! Aku tidak bisa membayangkan jika—" "Sudah, sayang," potong Elena, seraya mengusap lembut pundak suaminya. "Beruntung anak gadis kita masih selamat. Seharusnya kau terlebih dulu berterima kasih kepada Nyonya Roseanne karena telah mengantarkan Ellyora pulang." "Maaf. Aku seperti ini karena sangat khawatir," kata Harry kepada Elena. "Apa Nyonya Roseanne masih di teras?" "Ya. Marliah sedang berbicara dengannya." "Baiklah," kata Harry, kemudian kembali berbicara pada Ellyora. "Sekarang Pamanmu sedang mencari seseorang yang bisa mengantarmu ke Osmond. Sebelum itu, kau tidak boleh keluar rumah." "Ya, Ayah. Maafkan aku," ucap Ellyora akhirnya dengan penuh penyesalan. Hatinya seolah telah melesak ke dasar perut. Ia belum pernah melihat Ayahnya semarah ini. Melihat wajah sendu di hadapannya, Elena menghampiri Ellyora, menenangkan putri pertamanya itu dengan memberi rangkulan. Harry hanya mengakhiri percakapan dengan melemparkan pandangan frustrasi kepada Ellyora sebelum akhirnya meninggalkan ruang makan. "Nyonya Roseanne Barthley?" sapa Harry begitu tiba di teras. Wanita selendang biru yang merasa namanya dipanggil itu menoleh, kemudian berdiri. "Tuan Harry Bright, bagaimana keadaan Ellyora?" "Dia baik-baik saja," terang Harry. "Maaf, saya terlampau khawatir sampai melupakan sopan santun untuk berterima kasih pada Anda. Padahal selama ini Anda telah banyak membantu keluarga Bright, dan kali ini Anda membantu lagi dengan mengantar anak gadisku yang tersesat. Terima kasih, rasanya satu ucapan saja tidak akan cukup untuk membalas kebaikan Anda." Roseanne membetulkan selendang biru di kepalanya, lalu tersenyum anggun. "Anda berlebihan, Tuan. Sungguh, saya tidak mempermasalahkan semua itu. Keluarga Bright adalah salah satu pemasok dagangan di pasar Eden. Sebagai anggota Dewan Aliansi Pedagang Snowden, apa yang saya lakukan memang sudah tugas saya." "Anda memang rendah hati, Nyonya Roseanne," tutur Marliah, kemudian Roseanne tersenyum padanya sebelum beralih pada Harry. "Tuan, tadi saya sempat mengobrol dengan Nyonya Marliah. Katanya Anda sedang mencari seseorang yang bisa mengantar Ellyora ke Osmond?" "Ya, benar." Harry menjawab Roseanne. "Mungkin sedikit informasi dari saya bisa membantu Anda. Sebelum bertemu Ellyora, saya sempat melihat ketua The Keepers di persimpangan pasar Eden. Berbicaralah padanya. Aku yakin dia akan membantu." "Benarkah? Tentu saja informasi itu sangat membantu kami. Nanti akan saya sampaikan kepada Gery. Terima kasih, Nyonya." "Sama-sama, Tuan. Dan sebenarnya... salah satu tujuan kedatangan saya di sini adalah ingin menyampaikan ini." Marliah menerima sepucuk surat berstempel kerajaan yang disodorkan Roseanne. Ia membacanya sekilas, lalu matanya berbinar. "Surat persetujuan dari kerajaan Snowden? Benarkah?" "Benar," terang Roseanne. "Dewan Kerajaan Snowden akhirnya menyetujui pengajuan bantuan kuda untuk beberapa pedangang Eden yang memenuhi syarat. Kemungkinan kuda itu akan datang tidak lama lagi. Tunjukkan surat kuasa ini untuk mengambil kuda kalian." "Te—rima kasih. Terima kasih, Nyonya Barthley." Roseanne kembali membalas ucapan Marliah dengan senyuman khasnya. Senyuman yang menawan dengan sorot mata birunya yang memancarkan semangat. "Kalau begitu, saya mohon pamit. Masih ada urusan yang sedang menunggu diselesaikan. Sampaikan salam saya untuk Ellyora." "Baik. Sekali lagi terima kasih. Semoga urusan Anda berjalan dengan baik." Harry menjabat tangan Roseanne setelah wanita itu berjabat tangan dengan Marliah. Roseanne mengangguk sebelum berbalik meninggalkan rumah itu disertai senyuman cerah dari balik tabir selendang biru yang kini dibalutkan menutupi sebagian wajahnya. Wanita itu lega, satu per satu rencananya akan mendekati keberhasilan. *** "Kita berpisah di persimpangan ini." Kai berkata kepada anggotanya. "Kalian lanjutkanlah perjalanan ke markas ibu kota. Aku akan menyusul setelah menyelesaikan urusan di Eden." Jake dan Banks segera menyetujui. Namun, di tengah-tengah mereka tatapan Thalaya berubah sendu. Sejujurnya gadis itu berat berpisah dengan Kai. Meski tak banyak bicara, tapi selama pertemuan yang singkat ini Thalaya merasa Kai adalah sosok yang perhatian. Seperti saat Kai memberikan jaketnya untuk menutupi baju Thalaya yang robek, secara tidak sadar lelaki berkalung rantai itu telah memberi sentuhan di hati Thalaya. Kai tidak memperhatikan Thalaya. Ia justru menangkap Jake yang sedang diam-diam memperhatikan Thalaya dengan pandangan lain. Mungkinkah Jake menyukai Thalaya? Menyadari Kai memergokinya, Jake buru-buru mengalihkan pandangan. Wajahnya yang selalu kaku dan pucat kini tampak memerah tidak tahu sebabnya.  "Kalau begitu jaga dirimu baik-baik, Kai. Sampai bertemu di ibu kota!" pamit Jake lalu menggandeng lengan Banks dan melangkah terlebih dulu. Thalaya masih berdiri di hadapan Kai. Sebenarnya saat ini ia ingin mengatakan sesuatu pada si ketua The Keepers. Melihat Thalaya yang belum beranjak, Kai pun bertanya. "Apa ada yang ingin kau sampaikan?" "Hah? Anu. Ummm.... " Thalaya mengerjap. Sesuatu yang hendak ia katakan pada Kai membuat pipi gadis itu memerah tak lama kemudian. Mengalahkan keraguan di hatinya, akhirnya Thalaya memberanikan diri melangkah lebih dekat di hadapan Kai. Ia semakin memangkas jarak. Debaran di dadanya meningkat saat ia mulai mendekatkan kepalanya untuk membisikkan sesuatu. Kai termangu bersamaan dengan sorot matanya yang menajam. Thalaya baru saja mengatakan bahwa gadis itu menyukainya. Benarkah yang baru saja ia dengar? "Thalaya! Ayo!"  Thalaya menoleh dan memberi anggukan kepada Banks yang baru saja berseru dan melambai padanya. Kemudian kembali menatap Kai. "Ketua, kau tidak harus menjawabnya sekarang. Atau mungkin kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin mengatakannya padamu sehingga kau tahu. Tidak lebih." "Thalaya a—" "Kalau begitu hati-hati, Ketua!" potong Thalaya lantas langsung pergi menyusul Jake dan Banks tanpa menunggu Kai menyelesaikan kalimatnya. Kai menelan ludah. Sepertinya apa yang dikatakan Thalaya padanya tidak main-main. Meski begitu, adanya perasaan Thalaya padanya membuat Kai merasa tidak enak. Ia tahu Thalaya gadis yang baik, tetapi Kai tidak bisa membalas perasaan Thalaya karena di hatinya telah lama diisi oleh gadis lain. "Kai Xavier?" Terdengar seseorang memanggil namanya, sehingga membuat lamunan Kai buyar. Ketua The Keepers itu pun menoleh, dan terlihat seorang laki-laki berjalan menghampirinya dengan tatapan antusias. "Paman Gery?" "Syukurlah, kau masih mengingatku, Kai!" balas Gery diakhiri senyum lebar. Keberuntungan seolah sedang berpihak padanya. Tak butuh waktu lama, ia bisa langsung menemukan ketua The Keepers. "Lama sekali aku tidak melihatmu. Sudah enam tahun, atau bahkan lebih, ya? Lalu kudengar kau terpilih menjadi ketua The Keepers, aku sangat senang mendengarnya! Aku tahu kau memang pantas menjadi ketua The Keepers." Kai menyambut kehangatan Gerry dengan senyumannya. Tentu ia tidak lupa. Lelaki berusia tiga puluh tahunan itu yang telah banyak membantu masa kecil Kai ketika ia masih berkeliaran di pasar Eden tanpa orang tua. Paman Gery, begitulah biasa Kai memanggilnya, sering menawarkan pekerjaan membantu mengangkut dagangan ke penadah, kemudian memberi Kai upah. "Apa kabar Paman? Senang kita bisa bertemu kembali." "Seperti yang kau lihat!" Gery mengangkat tangannya, menunjukkan pada Kai bahwa ia masih sehat dan kuat, sama seperti dulu. "Kau ini yang banyak berubah, Kai. Seingatku, dulu kau setinggi lenganku. Tapi sekarang? Tinggimu bahkan jauh melebihiku. Aku bersyukur karena dulu kau dipertemukan dengan Nyonya Roseanne Barthley." Ingatan Kai melayang pada wajah wanita yang dimaksud Paman Gery. Darah Kai menggelegak naik tiap kali mengingat rencana wanita itu. Ia menghela napas dalam-dalam. "Benar. Nyonya Barthley memang telah banyak membantuku, tetapi bantuan Paman adalah yang paling tidak bisa kulupakan." "Ah, kau ini bisa saja." Gerry tertawa, tapi tak berapa lama wajahnya berubah khawatir ketika teringat tujuannya mencari Kai. "Ada apa, Paman? Adakah sesuatu yang perlu kubantu?" Mendengar tawaran Kai, wajah Gery kembali antusias. Ini sungguh kebetulan yang menguntungkan. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia akan meminta bantuan Kai untuk mengantar Ellyora ke Osmond. *** Kai Xavier bertemu dengan Roseanne Barthley di salah satu warung dekat persimpangan pasar Eden. Mereka duduk saling berhadapan dengan hidangan teh bunga tienchi di tengah-tengah mereka. Bunga yang mirip brokoli kecil itu terlihat mengambang di atas permukaan air dalam cangkir, kepulan uapnya menguarkan aroma yang menenangkan. Mereka duduk di samping jendela warung, dan dari jendela itu, nampak matahari mulai luruh, mengubah warna langit menjadi kemerahan. Kai membayangkan seperti itulah warna memar di hatinya saat ini akibat rencana Roseanne. Mengalihkan pandangannya dari jendela, Kai kembali fokus pada percakapannya dengan Roseanne. "Langkah Anda sudah begitu jauh. Anda pasti senang karena sekarang tujuan itu sudah nampak di depan mata." Roseanne tertawa kecil. "Apa yang baru saja kau katakan, Kai? Bukankah kau berjalan di belakangku? Seharusnya kau juga ikut senang." Kai menyandarkan punggung di kursi, membuang kembali wajah kesalnya. Kali ini menghadap para pengunjung warung. Beruntung, tak ada pengunjung lain yang memperhatikan atau pun tertarik menyimak obrolan Kai dengan Roseanne di pojok ruang itu. Roseanne mengetuk-ngetukkan ujung jemari tangan kanannya di atas meja, sambil mencermati perubahan ekspresi Kai. Ia pernah merawat lelaki yang berusia 21 tahun itu. Tentu ia paham bagaimana perasaan Kai yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.  "Kuharap kau tidak berubah pikiran," tutur Roseanne. "Alasan kepergian gadis itu ke Osmond adalah waktu yang tepat. Keluarga Bright tidak akan curiga atau mencarinya. Keberuntungan sudah memihak kita, Kai. Kau hanya harus menyelesaikan tugasmu." "Aku memang berjalan di belakang Anda." Kai kembali menatap Roseanne dengan pandangan penuh konflik. "Tujuan kita sama. Tapi bagaimana jika aku memiliki cara yang berbeda untuk meraihnya?" "Jadi maksudmu sekarang kau menemukan persimpangan, Kai?" Roseanne menyesap tehnya lagi. "Kalau begitu aku ragu kau akan sampai pada tujuanmu. Bahkan, mungkin kau akan tersesat pada perasaan yang seharusnya tidak perlu. Hmmm, sayang sekali. Gadis itu ... kau masih menyukainya bukan?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD