BAB 5: Sangkar Emas

1031 Words
Cahaya pagi yang masuk melalui jendela dapur itu terasa pucat, seolah enggan menyinari ruangan yang dipenuhi ketegangan. Uap panas dari cangkir kopi yang baru saja dituangkan Karla mengepul lambat, menari-nari di udara sebelum menghilang ditelan keheningan. Dapur itu luas, peralatan dapetnya lengkap dan mengkilap, namun terasa dingin dan impersonal. Tidak ada aroma masakan ibu, tidak ada suara tawa keluarga. Hanya ada dengungan lembut kulkas dan detak jam dinding yang terdengar terlalu nyaring di telinga Karla. Adrian berdiri di ambang pintu dapur, tidak masuk sepenuhnya. Bayangan tubuhnya memanjang di atas lantai marmer putih, seolah menjadi pagar tak kasat mata yang membatasi gerakan Karla. Pria itu tidak segera bicara. Ia membiarkan keheningan bekerja, membiarkan Karla mencerna realita yang baru saja menghantamnya. "Aku tidak melakukan ini karena ingin menjebakmu," akhirnya Adrian berbicara. Suaranya rendah, memecah kesunyian tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar. Karla tidak menoleh. Ia tetap menatap cairan hitam di dalam cangkirnya. "Tapi hasilnya sama saja, kan? Aku terjebak." Adrian melangkah masuk. Suara langkah sepatunya yang membentur lantai terdengar tegas. Ia menarik kursi di sebelah Karla, bukan di seberang. Ini posisi yang lebih intim, seolah ingin menunjukkan bahwa mereka berada di sisi yang sama menghadapi masalah ini, bukan berlawanan. "Dengar, Karla," kata Adrian, mencondongkan tubuh sedikit. "Ayahku meninggalkan wasiat. Saham mayoritas perusahaan hanya bisa aku pegang penuh jika aku menikah sebelum usia tiga puluh. Jika tidak, saham itu akan dialihkan ke pemegang saham lain... dalam hal ini, pamanku." Karla akhirnya menoleh. Matanya masih sembap, tapi ada rasa ingin tahu yang mulai mengalahkan rasa takutnya. "Jadi... kamu butuh istri cuma demi saham?" "Bukan cuma saham," koreksi Adrian. "Stabilitas perusahaan. Jika sepupuku, Damien, yang mengambil alih, ratusan karyawan bisa kehilangan pekerjaan. Investor akan menarik dana. Perusahaan ini... ini warisan ayahku. Aku tidak bisa membiarkannya hancur." Ada getar halus di suara Adrian saat menyebutkan kata 'ayah'. Untuk pertama kalinya, Karla melihat retak kecil di topeng dingin pria itu. Di balik jas mahal dan sikap otoriter itu, ada beban berat yang dipikul sendirian. Rumah mewah ini tiba-tiba terasa seperti sangkar. Bukan hanya untuk Karla, tapi juga untuk Adrian. Dinding-dinding kaca yang megah, lukisan-lukisan abstrak yang mahal, perabotan minimalis yang elegan... semuanya bukan milik mereka. Mereka hanya penjaga yang terikat aturan. "Lalu kenapa aku?" tanya Karla lagi, suaranya lebih lembut sekarang. "Kenapa bukan wanita pilihan keluarga kamu? Kenapa harus aku yang nggak tahu apa-apa?" Adrian menghela napas, lalu menatap tangan Karla yang mencengkeram cangkir kopi erat-erat. "Karena keluarga saya memilihkan kandidat lain. Tapi Ryan... asistensiku, dia memberikan dokumen itu kepadamu karena kesalahan koordinasi. Saat keluarga saya sadar, kamu sudah tanda tangan. Secara hukum, kamu yang lebih dulu sah. Jika mereka membatalkan paksa, akan ada investigasi hukum yang bisa menggulingkan posisiku lebih cepat." Karla terdiam. Ia membayangkan jaringan laba-laba yang rumit. Ia adalah lalat yang tidak sengaja terbang masuk, dan sekarang Adrian adalah laba-laba yang juga terjebak dalam jaringnya sendiri. Mereka saling mengikat, bukan karena ingin, tapi karena keadaan memaksa. "Jadi kalau aku pergi..." bisik Karla. "Maka aku kehilangan perusahaan, dan kamu akan dituntut oleh keluarga saya atas dasar melanggar kontrak pernikahan yang sudah dicatat negara," potong Adrian. "Denda lima puluh miliar itu bukan hanya angka di kertas. Itu adalah cara mereka memastikan tidak ada yang bisa keluar dari permainan ini dengan mudah." Suasana di ruangan itu semakin berat. Udara seolah menjadi padat, menekan d**a siapa pun yang bernapas di dalamnya. Di luar jendela, langit Jakarta mulai mendung, awan abu-abu bergulung lambat, seolah** (mengisyaratkan) badai yang akan datang. Karla meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Bunyi *klenting* keramik bertemu kayu terdengar tajam. Ia menatap Adrian lurus-lurus. "Aku nggak punya pilihan, ya?" Adrian menatap balik. Mata hitamnya dalam, tidak berkedip. "Kita nggak punya pilihan, Karla. Bukan sekarang." Kalimat 'kita' itu menggantung di udara. Mengubah dinamika di antara mereka. Bukan lagi 'aku dan kamu', tapi 'kita'. Dua korban keadaan yang harus bertahan hidup bersama. Karla menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Garis-garis di tangannya terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur yang mulai menyala otomatis karena langit semakin gelap. "Oke," kata Karla akhirnya. Suaranya pasrah, tapi ada nada tegas di dalamnya. "Aku terima. Satu tahun. Aku jadi istrimu di atas kertas. Aku tinggal di rumah ini. Aku ikut aturan kamu." Karla mengangkat wajahnya. Matanya sudah kering, meski masih ada sisa kemerahan di sekelilingnya. "Tapi jangan harap aku akan bersikap seperti istri yang manut. Aku nggak akan masak untuk kamu. Aku nggak akan nyuci baju kamu. Dan aku nggak akan pernah tidur di kasur yang sama." Sudut bibir Adrian terangkat sedikit. Sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi itu adalah yang paling mendekati sebuah senyum sejak mereka bertemu. "Adil," jawab Adrian. "Aku juga nggak akan minta kamu melakukan hal-hal itu. Aku punya pembantu untuk urusan rumah. Aku cuma butuh kehadiranmu saat diperlukan keluarga." "Makan malam keluarga?" tanya Karla. "Ya. Dan event perusahaan. Itu saja." Karla mengangguk pelan. Ia berdiri, mengambil cangkir kopinya yang sudah mulai dingin. Cairan itu sudah tidak menarik lagi. Seperti situasi mereka. Pahit, dingin, tapi harus ditelan. "Aku mau mandi," kata Karla, berbalik untuk meninggalkan dapur. "Lalu aku mau ke kantor. Katanya aku magang, kan? Aku nggak mau kehilangan kesempatan itu hanya karena... status ini." Karla berhenti di ambang pintu, sama tempat Adrian berdiri tadi. Ia menoleh sedikit. "Dan Adrian..." "Ya?" "Jangan bohong lagi. Kalau ada aturan lain, atau bahaya lain... bilang. Aku nggak mau kejutan lain yang bisa bikin aku jantungan." Adrian mengangguk lambat. "Aku janji. Tidak ada lagi kebohongan." Karla mengangguk balasan, lalu berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Adrian sendirian. Ruangan kembali sepi. Adrian tetap duduk di kursi itu, menatap cangkir kopi milik Karla yang masih mengeluarkan sisa uap tipis. Cahaya pagi semakin redup tertutup awan. Bayangan di dinding semakin panjang. Ia meraih cangkir itu, menyentuh bagian yang masih hangat. Ada sedikit kenyamanan dari benda kecil itu di tengah kekacauan hidup mereka. Adrian meneguk kopi sisa Karla. Pahit. Tanpa gula. Sama seperti hidup mereka mulai hari ini. Ia meletakkan cangkir itu kembali, lalu berdiri merapikan jasnya. Topeng dinginnya kembali terpasang sempurna. "Maaf, Karla," bisiknya pada ruangan kosong. "Tapi setidaknya... kita saling punya." Adrian berjalan keluar dari dapur, meninggalkan dapur yang dingin itu kembali pada keheningannya. Di luar, hujan akhirnya mulai turun, mengetuk-ngetuk kaca jendela seolah meminta izin untuk masuk, membawa suasana baru yang lebih suram namun menyatukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD