Malam semakin larut, namun ruang keluarga di rumah Adrian masih terang benderang. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya kuning hangat ke seluruh penjuru ruangan, menciptakan kontras dengan suasana hati kedua penghuninya yang masih dingin.
Di atas meja kopi kaca, terdapat sebuah dokumen baru. Bukan kontrak pernikahan yang penuh pasal hukum rumit, melainkan sebuah kesepakatan sederhana yang diketik rapi di atas kertas A4 putih.
"Kontrak Coexistence," baca Karla pelan. Ia duduk bersila di sofa empuk, memegang pulpen yang terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Adrian duduk di kursi tunggal di seberangnya, kaki disilangkan santai, tapi matanya tajam mengamati setiap gerakan Karla. "Saya buat itu semalam. Supaya jelas. Supaya tidak ada yang terluka karena ekspektasi yang salah."
Karla membaca isi dokumen itu. Isinya sederhana tapi tegas.
*Pasal 1: Privasi.*
*Kamar masing-masing adalah wilayah suci. Dilarang masuk tanpa izin, kecuali keadaan darurat (kebakaran, gempa, atau ancaman nyawa).*
*Pasal 2: Interaksi Publik.*
*Di depan keluarga besar dan media, mereka adalah pasangan suami istri yang harmonis. Di depan karyawan perusahaan, mereka tidak memiliki hubungan khusus.*
*Pasal 3: Kehidupan Pribadi.*
*Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing. Tidak ada pertanyaan tentang mantan, tidak ada pertanyaan tentang pulang malam, kecuali menyangkut keamanan.*
*Pasal 4: Perasaan.*
*Dilarang jatuh cinta. Ini adalah transaksi bisnis, bukan drama romantis.*
Karla berhenti di Pasal 4. Ada rasa geli di dadanya. Seolah perasaan itu bisa diatur seperti lampu yang bisa dinyalakan atau dimatikan dengan saklar.
"Kaku banget," komentar Karla, meletakkan kertas itu kembali. "Kayak perjanjian bisnis merger perusahaan."
"Memang begitu adanya," jawab Adrian datar. Ia menyeruput teh hangatnya. "Semakin jelas batasnya, semakin aman kita berdua."
Karla menatap pria itu. Adrian terlihat sempurna seperti biasa. Tidak ada kerutan di kemejanya, tidak ada tanda kelelahan di wajahnya meskipun jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Padahal, Karla merasa energinya sudah terkuras habis hanya karena memikirkan hari esok.
"Oke," kata Karla akhirnya. Ia mengambil pulpen lagi. "Tapi aku mau tambah satu pasal."
Adrian mengangkat alis. "Pasal tambahan?"
"Ya," Karla mengangguk tegas. "Pasal 5: Aku berhak atas hidupku sendiri di luar jam 'pertunjukan'. Kalau aku mau makan mie instan jam dua pagi di kamar, itu hak aku. Kalau aku mau nangis karena film sedih, itu juga hak aku. Kamu nggak boleh ngelarang atau ngatain aku norak."
Adrian terdiam. Ia menatap Karla lama, seolah sedang menganalisis permintaan itu dari berbagai sudut logika. Perlahan, sudut bibirnya bergerak.
"Disetujui," kata Adrian. "Selama tidak mengganggu ketenangan rumah."
Karla tersenyum tipis. Itu adalah kemenangan kecil. Di tengah sangkar emas ini, ia masih punya sedikit ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Ia menandatangani dokumen itu di bawah nama Adrian yang sudah lebih dulu tercetak rapi. Tinta biru itu mengering cepat, mengikat mereka dalam aturan baru yang lebih spesifik dari pernikahan mereka sendiri.
Adrian berdiri, mengambil dokumen itu dan memasukkannya ke dalam map hitam. "Simpanan saya. Kamu boleh minta salinannya besok."
"Nggak perlu," kata Karla sambil berdiri juga. Ia meregangkan punggungnya yang kaku. "Aku hafal kok. especially pasal ' dilarang jatuh cinta'. Itu yang paling gampang."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya menatap Karla yang berjalan menuju tangga. Ada sesuatu di nada suara Karla tadi. Sebuah pertahanan diri. Seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan Adrian.
"Karla," panggil Adrian tiba-tiba.
Karla berhenti di anak tangga pertama, menoleh. "Ya?"
"Kamar kamu sudah disiapkan. Semua kebutuhan dasar ada di dalamnya. Kalau kurang... bilang pada pembantu. Jangan sungkan."
Karla mengangguk kecil. "Makasih."
Ia melanjutkan langkahnya naik, meninggalkan Adrian yang masih berdiri tegak di ruang keluarga. Setelah Karla hilang dari pandangan, Adrian menghela napas panjang. Ia menatap map hitam di tangannya.
"Kontrak Coexistence," gumamnya.
Ia berjalan menuju jendela, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca yang gelap. Di luar, lampu-lampu kota Jakarta berkedip jauh di sana, seperti bintang-bintang yang tidak bisa ia sentuh.
"Semoga kamu benar, Karla," bisiknya pada keheningan. "Semoga falling in love adalah hal yang paling bisa kita hindari."
Tapi entah kenapa, hatinya berbisik lain. Bahwa aturan yang dibuat terlalu keras, seringkali justru menunggu momen untuk dilanggar.