52

1041 Words

Pagi itu, rumah mereka terasa lebih hidup dari biasanya. Burung -burung di halaman belakang bernyanyi riang seolah menyambut usia kehamilan Shila yang menginjak bulan kelima. Arga bahkan sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan sendiri. Bukan karena dia bisa masak tapi karena dia tak mau Shila repot -repot berdiri terlalu lama di dapur. "Aku bilang kamu diam aja di sofa, kenapa malah berdiri?!" tegurnya pelan saat melihat Shila membuka lemari atas untuk mengambil gelas. Shila mendesah, lalu cemberut. "Sayang, aku hamil, bukan patah tulang. Aku masih bisa jalan dan ngambil gelas sendiri." Arga menghampiri cepat, memeluk perut Shila dari belakang, lalu menunduk dan menempelkan pipinya di sana. "Tapi kamu bawa anak kita di perutmu. Kalo kamu capek sedikit aja, aku bisa pingsan." Shila

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD