Bab 3. Malam Menyedihkan

1031 Words
"Keluar!” Jayden membentak setelah menghentikan mobilnya. Setelah pesta pernikahan yang melelahkan, akhirnya mereka kembali. Jayden harus membawa Leah pulang ke rumahnya atas perintah sang kakek. Sungguh, dia tidak mau. Namun, dia harus melakukan itu dan tak bisa menolak. Malam ini adalah malam pernikahan mereka, tetapi dia tidak sudi melewatkan malam itu bersama Leah. Dia sudah membuat janji dengan Maria jika mereka akan melewatkan malam bersama. “Kenapa? Apa kita sudah sampai?” Leah melihat sekitar, yang ada hanyalah hutan. “Apa yang kau katakan, Leah? Apa kau pikir aku akan membawamu pulang ke rumahku? Sebaiknya kau tahu diri. Ketahuilah, aku tidak sudi melewatkan malam ini bersamamu jadi keluarlah, aku sudah ada janji dengan kekasihku! "Tapi ini di mana, Jayden?" "Jalanan, apa kau buta?" jawab Jayden sinis. “Aku tidak tahu ini di mana. Sekarang sudah jam 11 malam. Bisakah kau mengantarku sampai halte bus dan memberikanku sedikit uang? Jangan tinggalkan aku di sini karena aku takut ada penjahat.” Leah tampak begitu memohon, dia harap Jayden mau bermurah hati. "Tidak, sekarang keluar! Aku tidak punya waktu untuk mengantarmu dan dengarkan ini, tidak akan ada yang berani memperkosamu. Apa kau tahu kenapa?" Lirikan matanya begitu tajam. "Karena orang akan menganggapmu hantu!" Ucapan yang kejam di malam pengantin mereka. Leah menggigit bibir, berusaha menahan diri atas ucapan pedas yang diberikan suaminya. Rupanya Jayden tidak jauh berbeda dengan keluarganya, padahal dia sempat berharap jika kehidupannya akan jauh lebih baik, tetapi memangnya apa yang dia harapkan dari pernikahan itu? Sejak awal mereka berdua menikah karena terpaksa. Leah membuka pintu mobil, dia tidak mengatakan apa pun saat dia keluar. Dia melangkah pergi, tanpa tahu ke mana dia harus pergi. Tidak apa-apa, dia akan terbiasa dengan semua itu, walau menyakitkan. Dia harus ingat dengan tujuannya, kenapa dia mau menikah dengan Jayden. Jika bukan karena neneknya, dia bisa saja menolak, tetapi kapan pernikahan mereka akan berakhir? "Saat aku kembali, kau sudah harus berada di rumah!" teriakannya menghentikan langkah Leah yang baru saja keluar dari mobil. Leah pun berpaling, memandangi pria itu. Rasanya ingin meminta bantuan Jayden kembali, tapi lidahnya terasa kelu. "Ambil ini!" Jayden melemparkan sebuah kertas padanya, "Awas jika sampai kau tidak berada di rumahku saat aku kembali. Aku tidak akan membuat hidupmu menjadi mudah.” Jayden kembali melajukan mobil setelah memberikan alamat rumahnya. Tentu saja dia tidak ingin kakeknya tahu dengan apa yang sudah dia perbuat pada Leah. Kedua mata Leah tampak berkaca-kaca. Entah sudah berapa kali dia menangis hari ini. Namun, tidak ada satu orang pun yang iba, apalagi peduli padanya. Leah mengambil kertas itu, melihat sebuah alamat tertera di sana. Air mata dihapus, menangis pun percuma karena tidak bisa mengubah apa pun. Sebaiknya dia segera pergi karena dia takut berada di tempat itu. Tempat yang cukup gelap, hanya beberapa lampu jalan yang menerangi. Semoga saja ada mobil yang lewat, mungkin dia bisa mendapatkan tumpangan. Seharusnya dia membawa tas, tetapi setelah acara pernikahan selesai, Jayden langsung mengajaknya pergi. Leah semakin melangkah jauh, kedua kakinya mulai sakit akibat high heel yang dia pakai. Dia juga harus menarik gaunnya yang cukup berat. Leah berpaling sesekali, mencari tumpangan, tetapi tak ada satu pun mobil yang lewat. Keadaannya begitu menyedihkan. Jika ada yang melihat mungkin dia akan ditertawakan. Adakah pengantin yang ditinggalkan di jalan oleh suaminya? Sepertinya tidak dan dia akan jadi satu-satunya pengantin yang menyedihkan tahun ini. *** Jayden menghentikan mobilnya setelah cukup jauh. Tiba-tiba muncul perasaan cemas akan keadaan Leah, padahal sebentar lagi dia akan tiba di rumah Maria. Sekarang dia malah terlihat ragu, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Leah? Bukannya dia akan berada dalam masalah. Kakeknya pasti akan murka jika tahu dia meninggalkan istrinya di tengan jalan dan yang paling buruk adalah, dia akan ditendang dari keluarga Halbert. Tidak mau mengambil resiko, Jayden memutuskan untuk memutar balik mobilnya. Dia juga meminta Maria untuk menunggu karena dia akan menemui wanita itu setelah dia mengantar Leah. Saat kembali ke tempat tadi, dia pikir Leah masih ada di sana. Namun sayangnya, Leah sudah tidak ada lagi di sana. Jayden sampai keluar dari mobil, mencari keberadaan Leah. Mungkin saja dia berada di balik pohon. Akan tetapi, dia pun tidak menemukannya. "Sial!" dia kembali ke mobil. Meski dia tidak peduli, tetapi dia harap wanita aneh itu baik-baik saja. Jayden mencari Leah di sepanjang jalan. Dia tidak melihat Leah saat melewati sebuah taman, padahal Leah berada di sana untuk beristirahat. Dia sudah berusaha, tetapi hasilnya nihil. Dia tetap tak menemukan Leah. Tidak mau membuang waktu lebih banyak, Jayden pun pergi ke rumah Maria. Kedatangannya yang terlambat membuat Maria merajuk, apalagi Jayden terlambat demi mencari gadis pembawa sial itu. “Sekarang kau lebih mementingkannya daripada aku!” Maria pura-pura marah setelah membukakan pintu. “Jangan sembarangan bicara. Aku tidak mementingkannya seperti yang kau katakan.” Sebenarnya dia sedikit memikirkan keadaan Leah. Memang seharusnya dia tidak meninggalkan gadis itu di sana. “Kalau begitu, untuk apa kau kembali dan membiarkan aku menunggu? Bukankah itu berarti kau lebih mementingkannya dari aku?” “Jangan salah paham, Maria. Aku mencarinya karena aku meninggalkannya di tengah jalan. Aku khawatir terjadi hal buruk yang tidak aku inginkan. Bagaimana jika dia tertabrak mobil? Bukankah itu akan membuatku berada dalam masalah? Jika sampai terjadi sesuatu dengannya, kakek pasti akan sangat marah!” “Lalu bagaimana? Apa kau sudah menemukan si pembawa sial itu?” Beruntungnya Jayden menikah dengan Leah Gilbert, si pembawa sial yang tidak pantas menjadi saingannya. Jika dia menikahi wanita lain, kemungkinan besar dia akan tersingkirkan dengan mudah. “Entahlah. Mungkin seseorang telah bertemu dengannya dan mengantarnya pulang.” "Yang kau katakan benar. Dia bukan orang bodoh yang akan berdiri saja di jalan tanpa mencari bantuan." "Semoga saja!" Jayden melepas jas pengantinnya, Maria mulai menghampiri dan mengusap bahunya. "Apa kau akan melewatkan malam ini denganku?" Maria mulai menggoda. Meski Leah sudah menjadi istri Jayden, tetapi pria itu tetap miliknya. "Kau sudah tidak sabar, Maria!" Kancing kemeja pun mulai dilepas satu persatu. "Aku tidak bisa membayangkan, kau menghabiskan malam dengannya, Jayden." "Itu tidak mungkin terjadi karena hanya kau saja yang ada di dalam hatiku!" Jayden mencium bibir kekasihnya lalu menggendongnya ke dalam kamar. Malam pernikahannya dengan Leah justru dia lewatkan bersama Maria. Memang seperti itu seharusnya karena wanita yang Jayden inginkan hanyalah Maria, bukan Leah Gabriel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD