Bab 4. Tidak Ada Kebahagiaan

1089 Words
Tangan lembut yang mengusap kepalanya membangunkan Leah. Dia berada di rumah sakit, di mana neneknya dirawat. Selain tempat itu, dia tidak memiliki tujuan. Dia pun tidak sanggup berjalan kaki lebih jauh lagi. Leah tertidur, begitu dia tiba di rumah sakit. Kepalanya berdenyut sakit, begitu juga dengan kedua kakinya yang dipenuhi oleh luka. “Kenapa kamu berada di sini Leah?" Agatha memandangi cucunya, gaun pengantin yang Leah gunakan membuatnya heran. "Kenapa kamu berpenampilan seperti ini, apa kamu telah menikah tanpa sepengetahuan nenek?" Melihat penampilan cucunya itu, membuatnya curiga. "Tidak, Nenek. Aku baru kembali dari pesta," Ucap Leah berbohong. "Pesta apa yang mengharuskan dirimu memakai gaun pengantin?" "Pe-pesta kostum," dia kembali berbohong. Dia tidak mau neneknya tahu akan pernikahannya dengan Jayden karena dia tidak mau neneknya cemas. Agatha Gabriel, sudah terbaring lama di rumah sakit akibat penyakit stroke yang dia derita. Sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk biaya perawatannya. Leon hampir tak mampu membayar karena krisis yang dia alami. Karena itulah tawaran yang diberikan oleh Boy Halbert langsung diterima. Lagi pula yang diinginkan adalah Leah, putri yang tidak diinginkan oleh karena itu dia tak menolak sama sekali. “Jangan berbohong, Sayang? Nenek tahu kamu tidak memiliki teman." “Aku tidak berbohong, Nenek,” Leah beranjak, dia akan menunjukkan penampilannya pada neneknya. Mungkin setelah ini, dia tidak akan memakai gaun seperti itu lagi. “Bagaimana dengan penampilanku? Apakah aku sudah mirip dengan seorang pengantin?” Leah memutar tubuhnya, agar neneknya dapat melihat penampilannya. “Kau terlihat luar biasa, Leah. Nenek harap Nenek diberi kesempatan untuk melihatmu mengenakan gaun pengantin yang lebih indah daripada itu,” semoga saja, dia memiliki kesempatan itu. “Nenek pasti dapat melihatnya nanti, oleh karena itu Nenek harus cepat sembuh," Leah kembali duduk, di sisi neneknya. "Nenek tidak yakin. Bukankah perusahaan ayahmu sedang berada dalam masalah?" "Tidak perlu khawatir. Sudah ada dermawan yang akan membantu perusahaan Daddy." "Benarkah?" Rasanya tidak ingin mempercayai perkataan cucunya. "Percayalah Nenek, aku tidak berbohong. Nenek harus cepat sembuh, aku sudah tidak sabar menghabiskan waktu dengan Nenek lagi," senyuman terukir di wajah, dia harus bisa meyakinkan neneknya. "Nenek sangat senang mendengarnya, Leah. Semoga saja perusahaan ayahmu kembali berjaya. Dengan begitu kamu tidak lagi disalahkan." "Hal itu sudah pasti terjadi," Leah mengusap lengan neneknya. Itu seperti semangat yang dia berikan pada neneknya agar cepat sembuh. Selama ini hanya neneknya saja yang akan membela dan menyayangi dirinya. Dia memang harus berkorba jika dia ingin neneknya tetap dirawat. Dia tahu ucapan ayahnya bukanlah dusta, jika perusahaan ayahnya jatuh bangkrut maka tidak ada lagi yang mampu membiayai pengobatan neneknya. Gaji yang dia dapatkan tentu saja tidak akan cukup bahkan untuk dirinya sendiri tidaklah cukup. "Apa mereka masih menghina dirimu, Leah?" “Nenek tidak perlu memikirkan hal itu karena aku sudah terbiasa. Biarkan saja mereka mau berkata apa, aku tidak peduli karena yang paling penting saat ini adalah keadaan Nenek.” “Gadis baik, jangan menganggap serius ucapan mereka. Kau terlahir secara istimewa. Tidak ada yang seperti dirimu jadi jangan dengarkan perkataan mereka mengenai gadis terkutuk yang mereka ucapka," entah siapa yang memulainya, tapi hal itu menjadi rumor yang merugikan Leah. Ayah dan kakaknya percaya dengan rumor buruk itu dan sayangnya, Ibu Leah pun mempercayainya. Dia tidak pernah membela seolah-olah dia tidak pernah melahirkan Leah. “Nenek tidak perlu memikirkan aku. Sudah aku katakan jika aku sudah terbiasa dengan ucapan mereka. Aku juga tidak memusingkannya jadi hal ini tidak perlu Nenek pikirkan.” “Baiklah. Aku tetap berharap mereka berhenti menganggapmu sebagai pembawa sial. Pergilah ganti pakaianmu, apa tidak berat?" "Aku tidak membawa baju ganti, Nenek. Sebentar lagi aku akan pergi tapi izinkan aku bersama dengan Nenek sebentar," tempat yang nyaman dan aman tanpa adanya hinaan sama sekali adalah di tempat itu. Sebentar saja, dia ingin seperti itu sebentar karena dia tahu, sebentar lagi dia akan mengalami banyak masalah akan pernikahannya. Meski dia sudah menjadi istri Jayden, tapi itu hanyalah sebuah status saja karena dia tidak dianggap oleh Jayden. *** Jayden telah kembali, dia sangat marah karena tidak mendapati Leah di rumah. Dia sudah memberikan alamat pada Leah, tapi kenapa dia tidak juga kembali? Sepertinya Leah ingin mencari gara-gara dengannya. Mungkin Leah memang ingin membuatnya dimarahi oleh kakeknya. Dia harap wanita itu cepat kembali, agar tidak menimbulkan masalah. Namun, dia tidak menyadari jika kakeknya telah menunggu sedari tadi. Boy datang untuk mamastikan bagaimana dengan keadaan Leah dan Jayden. Dia ingin tahu apakah Jayden memperlakukan Leah dengan baik atau tidak. Akan tetapi, mereka berdua justru tidak ada di rumah. “Dari mana saja, Jayden? Kenapa kamu baru kembali dan mana istrimu? Apa kalian menikmati malam pernikahan kalian di hotel?” Jayden mendapat banyak pertanyaan, dia curiga dengan cucunya itu. “Untuk apa kakek datang sepagi ini dan mengurusi malam pernikahanku dengan gadis pembawa sial itu?” “Tutup mulutmu, Jayden. Dia adalah istrimu, menantu keluarga ini. Sebentar lagi dia akan menyandang nama keluarga kita jadi jangan coba-coba menyebutnya sebagai gadis pembawa sial karena dia tidak seperti itu!” “Hanya kakek saja yang beranggapan demikian sedangkan yang lainnya tidak bahkan keluarganya sendiri menganggapnya sebagai gadis terkutuk yang membawa kesialan. Apa yang kakek lihat darinya sehingga kakek tidak menganggapnya seperti itu?” Dia tidak habis pikir, kenapa kakeknya bisa menyukai Leah Gabriel padahal Leah memiliki beberapa saudara perempuan yang jauh lebih cantik daripada Leah. Jangan katakan, Leah sengaja mempengaruhi kakeknya agar terpilih. “Leah gadis yang baik, dia seperti harta yang tersembunyi yang tidak disadari oleh banyak orang. Aku lebih berpengalaman darimu dalam menilai wanita. Aku tahu dia wanita yang pantas menjadi pendamping hidupmu.” “Jangan membuat lelucon, Kakek. Tidak ada kebahagiaan dalam pernikahan ini. Seharusnya Kakek tahu itu!” “Suatu hari nanti kamu pasti berterima kasih padaku, Jayden!” “Kakek sudah mengatakannya jadi tidak perlu diulangi. Apa pun yang Kakek katakan, aku sudah menikahinya tapi Kakek harus tahu, aku tidak bisa mencintainya. Kali ini Kakek tidak bisa memaksakan hal ini padaku.” “Cinta akan tumbuh dengan sendirinya dalam hatimu setelah kamu hidup bersama dan mengenal dirinya. Sekarang mana Leah, Kakek ingin bertemu dan berbicara dengannya!” “Di hotel!” Dusta Jayden. “Kenapa kamu meninggalkannya di hotel dan tidak membawanya pulang, Jayden?" Boy memandangi cucunya dengan tatapan curiga, "Jangan katakan kamu meninggalkan dirinya lalu kamu pergi menemui kekasihmu itu?" kecurigaanya memang tepat. "Tidak. Kami menghabiskan malam pernikahan kami di sana!" “Jika begitu, segera bawa dua pulang. Aku ingin bertemu dengannya." "Tapi, kKakek?" "Sekarang!" teriak kakeknya lantang. Jayden mengumpat dalam hati. Sial. Ke mana dia harus mencari Leah? Semua gara-gara wanita itu. Belum genap satu hari pernikahan mereka, wanita itu sudah membawa masalah bagi dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD