Jayden terpaksa pergi untuk mencari. Leah Gabriel mulai menjadi sumber masalah dalam hidupnya. Satu kesialan mulai dia dapatkan akibat gadis terkutuk dan pembawa sial itu.
Jayden pergi sambil menggerutu dalam hati. Ke mana dia harus pergi? Dia tidak tahu harus pergi mencari ke mana karena dia tidak tahu keberadaan Leah tapi dia harap, Leah tidak terlalu mempersulit dirinya.
Uang yang Leah dapatkan dari neneknya tidak cukup untuk membawanya kembali ke rumah Jayden yang rupanya cukup jauh. Dia pikir dia akan cepat tiba menggunakan taksi, tapi rupanya uang yang dia miliki tidak cukup. Mau tidak mau, dia harus kembali berjalan kaki.
Masih menggunakan gaun pengantin, Leah mencoba mencari tumpangan tapi dia dianggap orang gila sehingga tidak ada yang berani berhenti untuk membantunya.
Kepalanya sakit, dia kembali merasakannya. Sakit kepala seperti itu bukan pertama kalinya dia rasakan. Dia sudah merasakannya begitu lama tapi dia mengira jika itu hanyalah sakit kepala biasa.
Leah sudah berjalan begitu jauh. Dia sangat lelah namun keajaiban tidak juga terjadi pada dirinya. Sepertinya yang orang-orang katakan sangat benar, dia adalah gadis pembawa sial karena dia sendiri pun mengalami kesialan.
Suara klakson mobil yang berbunyi membuat Leah berpaling. Dia harap itu orang baik yang mau menolong dirinya tapi ketika dia melihat Jayden turun dari mobil itu, dia justru semakin mempercepat langkahnya.
“Leah Gabriel, dasar kau pembawa sial!” Nada bicara Jayden begitu tinggi. Dia mendekati Leah dengan amarah tertahan. Seharusnya saat ini dia sedang tidur, tapi wanita itu justru memberikan masalah untuknya.
“Untuk apa kau datang? Aku tidak memintamu untuk menjemputku!” Langkahnya dipercepat, dia tidak butuh pria itu.
“Apa kau pikir aku sudi menjemputmu, Leah?" Jayded pun mempercepat langkahnya, "Jangan besar kepala karena aku tidak sudi merepotkan diri untuk menjemput gadis pembawa sial seperti dirimu!" Emosi memuncak, harinya jadi kacau.
“Aku bukan pembawa sial!" Sudah cukup. Semua orang menganggapnya demikian bahkan pria yang baru dia nikahi dan tidak tahu apa pun, juga menganggapnya seperti itu. Dia sudah mendapatkan hinaan itu disepanjang hidupnya dan dia tidak sudi lagi dihina seperti itu.
“Apanya yang tidak membawa sial? Semua orang mengenalmu seperti itu dan sekarang, kau justru memberikan kesialan kepadaku. Apa kau puas sekarang?”
“Aku tidak tahu apa yang kau katakan dan aku tidak memintamu untuk menjemputku!” Leah hendak melarikan diri. Namun, Jayden sudah menangkapnya.
“Aku belum selesai berbicara denganmu jadi jangan coba-coba lari dan memberikan masalah untukku!” Tangan Leah dicengkeram, agar dia tidak lari.
"Sakit, lepaskan aku!" Leah mulai memberontak.
“Aku memerintahkan dirimu untuk pulang tapi kenapa kau justru berkeliaran di jalanan? Apa kau sengaja ingin memberikan masalah kepadaku?” Mereka mulai berdebat, peduli setan dengan tatapan orang lain.
“Kaulah yang membuat dirimu berada di dalam masalah. Kau hanya memberikan aku selembar kertas itu tanpa memberikan aku uang. Apa kamu tidak melihat apa yang aku lakukan sekarang?" Kesal, semua masalah itu Jayden yang memulai tapi kenapa dia yang disalahkan?
"Aku tidak memiliki uang, rumahmu begitu jauh dan tidak ada yang mau memberikan aku tumpangan. Apa kamu pikir masalah ini aku yang memulainya?" Leah kembali mengutarakan kekesalannya.
“Beraninya kau padaku, Leah?” Tangan Jayden sudah terangkat, Leah berteriak dan melindungi wajahnya namun pria itu menghentikan niatnya untuk memukuli Leah. Tidak, dia harus bisa menahan diri. Jangan sampai dia melakukan perbuatan seperti itu.
“Sekarang masuk ke dalam mobil!” Jayden menariknya menuju mobil.
“Lepaskan. Aku tidak butuh simpati darimu jadi lepaskan aku!” Dia berusaha memberontak. Setelah semua itu, dia tidak butuh kebaikannya.
“Diam kau!” Pintu mobil dibuka, Jayden mendorong Leah dengan kasar sampai membuatnya masuk ke dalam mobil.
Perlakuan kasar itu membuat Leah berteriak. Meski dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan tapi ini kali pertama dia diperlakukan kasar seperti itu.
“Lepaskan, jangan memperlakukan aku seperti ini!”
“Sudah aku katakan, diam!” Jayden menunjuknya dengan amarah tertahan, “Aku sedang bersabar. Sebaiknya kamu diam dan tidak mencari gara-gara denganku karena jika kamu masih melawan dan membantah maka saat ini juga aku akan menghubungi ayahmu. Aku akan menghentikan bantuan yang kakekku berikan pada perusahaan keluargamu. Apa kamu mau hal itu terjadi?” Ancamannya tentu saja tidak main-main.
“Tidak, tolong jangan melakukan hal itu,” itu adalah kelemahannya karena jika sampai Jayden menghubungi ayahnya dan menghentikan dana bantuan ke perusahaan ayahnya, maka biaya rumah sakit neneknya pun akan terhenti.
“Jika begitu patulah dan jangan menguji kesabaranku!” Pintu mobil dibanting dengan keras hingga tertutup.
Leah menggigit bibir, menahan segala rasa yang dia rasakan. Tidak apa-apa, semua itu demi neneknya jadi dia harus bertahan menghadapi sikap Jayden yang tidak menyenangkan.
Jayden masuk ke dalam mobil. Lirikan tajam dia berikan sebelum dia menjalankan mobilnya. Rupanya ancaman yang dia berikan adalah kelemahan Leah. Jika begitu wanita itu dapat dia kendalikan dengan mudah.
“Kakek berada di rumah, kamu harus berpura-pura jika aku baru saja menjemputmu dari hotel karena aku menipu dirinya bahwa kita telah menghabiskan malam pernikahan kita di sebuah hotel. Apa kau mengerti?”
“Aku tidak peduli!" Leah berpaling, dia tak mau memandangi pria itu.
“Jangan memulai. Sebaiknya kamu berhati-hati dan tidak membawa masalah dalam hidupku dan jangan memberikan kesialan padaku!”
Leah menghela nafas. Sepertinya sampai mati dia akan tetap dianggap sebagai pembawa sial. Setiap orang yang berada di dekatnya mengalami kesialan, semua itu pasti dihubungkan dengan dirinya. Dia akan menjadi tersangka utama yang tertuduh atas kesialan yang orang-orang yang itu dapat. Tidak masalah, bukankah dia sudah terbiasa?
“Setelah ini kita harus membuat kesepakatan, hitam di atas putih agar kamu tidak bertindak sesuka hati di rumahku. Aku ingin kamu mematuhi aturan yang aku buat nanti.”
“Terserah kamu saja. Aku tidak akan mengganggu hidupmu asalkan kamu pun tidak mengganggu hidupku!”
“Hng, aku mengganggu hidupmu?” Jay tampak mencibir mendengar perkataan Leah.
“Aku belum cukup gila untuk melakukannya. Aku masih waras jadi aku tidak mungkin mengganggu hidupmu. Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak tertarik dengan wanita pembawa sial seperti dirimu bahkan aku sangat ingin menghindari dirimu supaya hidupku tidak sial karena berada di dekatmu!”
“Kau benar," Leah tersenyum sinis, "Menjauhlah sejauh mungkin dan jangan terlalu dekat agar kau tidak mendapatkan kesialan!” ucapan pedas yang dilontarkan oleh Jayden mulai terbiasa dia dengar.
Biasanya keluarganya yang selalu menghina dirinya, sekarang bertambah anggota baru yang akan menghina dirinya. Tak masalah. Hanya bertambah satu anggota baru saja dan itu bukanlah masalah besar baginya.