Bab 6. Istri yang Tidak Diinginkan

1029 Words
Jayden memperhatikan, Leah dan kakeknya begitu akrab. Entah bagaimana mereka berdua bisa saling mengenal, yang pasti dia tidak menyukai kedekatan mereka. Dia yakin, Leah Gabriel telah mempengaruhi kakeknya supaya dia yang dipilih untuk menikah dengannya. Mungkin kakeknya tidak curiga karena sudah tua. Dia tidak tahu jika Leah sedang memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik daripada di keluarga Gabriel. Setelah dipikir, bukankah itu masuk akal? “Aku harap hubungan kalian berdua baik-baik saja,” Boy memegangi tangan Leah. Mata tuanya tak salah menilai. “Kakek tidak perlu khawatir, kami berdua akan baik-baik saja,” Leah tersenyum. Akan tetapi, Jayden menyalah artikan senyumannya. Dia menganggap senyuman Leah penuh dengan kelicikan. “Aku sangat senang mendengarnya dan kau, Jayden?” Boy memandangi cucunya, “Perlakukanlah Leah dengan baik. Dia istrimu mulai sekarang. Jika kamu berani menyakitinya maka aku tidak akan segan padamu!” Dia harus memberikan ancaman itu karena dia tahu sifat buruk cucunya. “Kakek tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan!” kesal. Kakeknya justru mempermalukan dirinya di hadapan wanita itu. “Aku harap kau tidak mengecewakan. Segeralah rencanakan perjalanan bulan madu kalian berdua. Kalian harus menghabiskan waktu bersama supaya kalian saling mengenal dan supaya hubungan kalian semakin dekat.” “Pekerjaanku begitu banyak. Aku tidak bisa melakukannya!” Mana mungkin dia bisa pergi bersama dengan wanita itu. Maria pasti akan marah. Dia pun tidak sudi menghabiskan waktu dengan Leah Gabriel. “Ini bukan saatnya memikirkan pekerjaan. Segera rencanakan jika kamu tidak mau melakukannya, maka aku yang akan melakukannya!” “Kenapa kakek selalu memaksa aku?” Jayden semakin kesal, tatapan tajamnya sudah tertuju padahal Leah. Namun, wanita itu menunduk karena dia tidak mau ikut campur. “Aku tidak memaksamu. Aku ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Aku ingin kalian segera memiliki anak jadi segeralah rencanakan perjalanan bulan madu kalian berdua.” “Apa?” “Aku sudah tua, Jayden. Kau tahu aku sedang sakit-sakitan, dan kemungkinan waktuku tidak lama lagi. Sebelum aku mati, aku ingin melihat keturunan terakhirku. Lakukanlah, berikan seorang cucu untukku sebelum aku meninggalkan kalian semua,” hanya satu keinginannya, dia ingin melihat keturunan terakhirnya oleh karena itu dia memaksa Jayden untuk menikah. “Permintaan kakek semakin banyak saja. Aku telah menikahi dirinya sesuai dengan permintaan kakek, tapi kenapa belum cukup?” “Permintaanku ini tidak aneh. Kalian berdua telah menikah. Aku meminta seorang cucu, kau tinggal mengabulkannya saja dan setelah itu aku tidak akan meminta apa pun lagi padamu!” “Tidak!” Jayden beranjak dari tempat duduknya, “Untuk kali ini, aku tidak bisa karena aku benci dengannya!” dia melangkah pergi, tak mau lagi berdebat dengan kakeknya. “Meski kamu tidak mau, maka aku yang akan mempersiapkannya!” Boy tidak menyerah, dia harus mendekatkan mereka berdua agar cucunya cepat terlepas dari kekasihnya itu. “Kakek,” Leah mengangkat wajah, mencoba memandangi pria tua itu. “Tidak perlu cemas. Lambat laun, dia pasti bisa menerima dirimu.” “Bukan seperti itu, Kakek,” keinginan kakek Jayden, pasti akan membawa masalah besar bagi dirinya sebab Jayden akan menyalahkan dirinya. “Kami berdua baru saling mengenal dan aku rasa, Kakek terlalu terburu-buru. Berikan kami waktu untuk saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Kakek tahu, Jayden tidak menyukai aku apalagi rumor buruk itu semakin membuatnya tidak menyukai aku.” “Kakek tahu kau tidak seperti itu, Leah.” “Terima kasih. Aku sangat senang Kakek tidak mempercayai rumor buruk tentang aku tapi Jayden?” Leah memandangi kakek Jayden dengan ekspresi memelas, “Dia percaya akan rumor itu. Tolong jangan terlalu memaksa karena hal itu akan membuat kebenciannya padaku justru semakin besar.” "Baiklah,” Boy menghela nafas, cucunya memang bodoh karena terpikat dengan Maria yang hanya memanfaatkan dirinya saja. “Aku tidak akan memaksa kalian berdua tapi aku tetap ingin kalian pergi berbulan madu. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk saling mengenal dan tunjukkan kepada Jayden, jika kau adalah gadis baik. Perlihatkan pada dirinya, bahwa rumor itu tidaklah benar.” “Aku akan berusaha, kakek,” Leah kembali tersenyum, walaupun dia tidak yakin. Boy pamit pergi. Namun, Jayden tidak mengantar dirinya. Dia hanya memandangi kepergian kakeknya dari jendela. Semua gara-gara Leah, wanita itu begitu manipulatif dan bodohnya, kakeknya tertipu dengan kepolosan yang wanita itu tunjukkan. Jayden keluar dari kamar. Dia harus memperingati wanita itu agar tidak mempengaruhi kakeknya lebih jauh. Dia juga harus memperingati Leah agar tidak melakukan trik licik hanya untuk mendapatkan simpati dari kakeknya. “Apa kau sudah puas sekarang?” ucapannya membuat Leah menghentikan langkah. “Apa maksud perkataanmu?” Dia tampak tak mengerti tapi dia memang tidak mengerti. “Jangan bersikap bodoh, Leah. Aku tahu kau pasti mempengaruhi kakekku selama ini ‘kan?” “Mempengaruhi seperti apa?” Ucapan Jayden sangat membingungkan. “Dengar ucapanku baik-baik. Jangan merasa senang hanya karena kakekku menyukai dirimu. Sekalipun kau dibela olehnya, tapi kau tinggal di rumahku jadi jangan kau pikir kau bisa mempengaruhi aku seperti kau mempengaruhi kakekku!” “Aku tidak mempengaruhi siapa pun, Jayden. Percayalah padaku,” entah atas dasar apa Jayden menuduhnya seperti itu. “Jangan tunjukkan sikap polosmu itu!” Jayden berteriak, dia muak melihat sikap Leah yang pura-pura lemah seolah meminta belas kasihan dari seseorang. Leah tak berkata apa-apa. Dia memilih diam tapi jika dia berbicara pun, Jayden akan menganggap dirinya salah. “Mengenai bulan madu itu, jangan harap aku akan melakukannya dan satu hal lagi,” tatapan sinisnya tertuju pada Leah, “ Meski kau adalah istriku tapi kau adalah istri yang tidak aku inginkan jadi jangan semena-mena di rumahku dan tempatkanlah dirimu di posisi yang benar. Aku tidak akan segan menendangmu keluar dan aku tidak peduli dengan amarah kakekku!” “Aku tahu. Apa ada yang lain?” Dia lelah. Daripada mendengar amarah Jayden, lebih baik dia beristirahat. Dia juga ingin mengobati kakinya, dia juga butuh obat untuk menenangkan sakit kepala yang tak berkesudahan. “Jangan coba-coba masuk ke dalam kamarku karena kau tidak berhak. Bawa barang mu keluar, mereka akan memberikan sebuah kamar untukmu!” Jayden melangkah pergi, semoga saja wanita itu tahu diri. Leah segera pergi menuju kamar Jayden untuk mengambil barang-barangnya yang ada di sana. Seorang pelayan pun menunjukkan dan dia diberikan sebuah kamar kosong. Meski sempit, tapi itu cukup untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD