02

1657 Words
"Emang Lo bisa salat? Baca takbir aja gak bisa," ragu Tora sambil menggulung mie ayamnya. "Gak separah itu kali. Lagian pura-pura ajakan bisa," balas Jeno. "Astagfirullahalazim ukhtiii..." seru Bayu. "Akhi b**o!" Sela Tora. "Astagfirullah, aing udah ngomong kasar," ujarnya sambil menutup mulut. "Gak ada yang bener Lo berdua," kata Jeno. "Lo lebih gak bener," tukas Bayu. "Sejujurnya orang yang gak bener itu, adalah orang yang ngerasa bener, paham Lo berdua?" Tanya Tora. "Iya Pak Ustad," timpal Jeno dan Bau berbarengan. "Jadi Lo serius suka sama Kamila Kabello itu?" Tanya Bayu. "Kamila Kabello? Lo kira dia suka joget-joget apa?" Balas Jeno sinis. "Nama lengkapnya Putri Kamila, tahuk!" Tekan Jeno. "Eleuh Putri, berarti cocoknya sama Dimas, diakan Pangeran sekolah dulu," sahut Bayu. "Woy!" Bentak Jeno. "Malah nyasar ke si memble lagi Lo pada. Dimaskan udah nikah," sungut Jeno kesal. "Ih iya baru inget, Dimas udah nikah, kita masih jomblo," keluh Bayu. "Itu mah Lo aja gak laku, gue mah bentar lagi mau ta'arufan," timpal Tora. "Bohong amat. Jomblo mah jomblo aja kali," ledek Bayu. "Eh gue itu pakai sistem dijodohin. Istri gue nanti insya Allah solehah, gak kayak istri Lo entar," ujar Tora.. "Wah nyumpahin temen sendiri dapet istri buruk Lo? Gelut ayuk!" Bayu tak terima. "Ayuk!" Sahut Tora.                                              Brak! Jeno menggebrak meja cukup kuat hingga mie ayam yang ada di atas meja hampir melompat, sedangkan Tora dan Bayu langsung terdiam. "Kalian mikirin gue gak sih? Ada gue di sini dan kalian malah pada berantem. Oh my god! Udah gak jadi traktir, bayar sendiri-sendiri mie ayamnya," kesal Jeno. "Ihh pundungan," sahut Tora dan Bayu mencoba merayu Jeno. Jeno menggeram kesal, namun pada akhirnya ia mencoba tenang. "Terus gue harus gimana ferguso?" tanya Jeno. "Ngajak berantem?" balas Tora. "Ini permen s**u mahal." Timpal Bayu. "Bisa gak sih kita serius dikit? Hahh?!" seru Jeno kesal. "Lo yang mulai duluan manggil kita anjing," sungut Tora. "Gue bilang kalian ferguso, bukan anjing," balas Jeno. "Alah! Lo pasti tahu artinyakan?" Bentak Tora. "Tenang teman-teman, tenang. Ini di tempat umum please. Gue malu punya temen kayak kalian, mau ditaruh dimana muka tampan gue?" Pinta Bayu. "Mas-mas yang disana bisa diem gak? Atau saya sebarin video kalian ribut tadi ke internet?" Mamang mie ayam tiba-tiba ikut nimbrung dan mengancam. "Tuhkan gara-gara kalian." Decak Jeno. "Ujug-ujug nyalahin." Keluh Bayu. "Udah please, udah! Sekarang ayo kita serius." Kata Tora. "Oke. Jadi gue harus gimana?" Jeno kembali mengutarakan pertanyaan yang sama. "Menurut gue, saran gue ya, Lo coba aja ngelamar kerja di sana, gak papa deh gak bisa salat, mungkin nanti malah Lo di sana diajarin salat. Siapa tahu yaaa Lo dikasih hidayah. Nanti kalau udah dapet hidayah, ajak Bayu juga biar beneran dikit,” papar Tora. "Kenapa sih aku dinistakan mulu? Salah Esmeralda ini apa Antonio?" sahut Bayu. "Udah diem! Atau gue siram kuah mie ayam entar," sahut Tora sambil memberi tatapan tajam yang membuat Bayu langsung bungkam. "Tapi gue udah bilang ke Kamila kalau gue udah kerja, entar ngomong apa ke dia kalau gue tiba-tiba ngelamar kerja di tempatnya?" Keluh Jeno merasa buntu lagi. "Bilang aja Lo baru dipecat, bilang aja tempat Lo kerja bangkrut. Simpel,” sahut Bayu. "Pinter juga Lo," senyum Jeno mengembang. "Dari dulu,” balas Bayu. "Oke. Gue bakal lamar kerja di toko kuenya besok," tekad Jeno. "Semangat bro!" Ujar Tora dan Bayu hampir bersamaan. ••• Jeno mendengus sembari mulai menyabuni mobil milik ayahnya. Ayahnya menyuruh dirinya mencuci mobil sore-sore begini. Ia kemudian melirik ke arah rumah Kamila. Ada Lino, Kakak Kamila yang tengah cuci motor tapi sambil menari-nari dan memasang ekspresi kurang senonoh. 'Harusnya gak boleh dance sexykan?Kata Kamila gitu, tapi kok ternyata Kakaknya kayak gitu? Hhmm, cuman dia keliatan abnormal sih. Astagfirullah, gak boleh membatin calon Kakak ipar sendiri.' "Woy Tetangga!" Jeno terkejut saat Lino tiba-tiba meneriakinya, sambil dadah-dadah dan tersenyum padanya. "Tinggi amat idung Lo, kayak gunung salak. Eh tapi tinggian gunung salak atau dieng?" Sambung Lino lagi masih berteriak. 'Ketahuan dah, ini orang emang random.' Jeno tanpa sadar membatin. "Halo Bang." Akhirnya hanya itu yang mampu keluar dari mulut Jeno sambil tersenyum kikuk. "Ngajak ngobrol dong, gue bingung nih, mau ngobrol apa," ujar Lino. "Eungg..." Jeno terdiam. 'Yang nyapa duluan siapa coba?' "Eh iya Bang, kayaknya kemaren baru cuci motor, kok udah dicuci lagi?" Tanya Jeno kemudian setelah berpikir beberapa saat. "Oh iya, inii... entar malem ada keluarga orang, keluarga orang ya bukan monyet. Mau dateng ngelamar Kamila, jadi rumah termasuk kendaraan dibersihin semua." Papar Lino membuat perasaan Jeno remuk seketika. 'Hah?' Jeno tak sanggup menanggapi Lino lagi. Ditinggalkannya mobil ayahnya yang belum selesai dibilas. Mobil Ayah Jeno seolah jadi hancur berkeping-keping seperti perasaan Jeno saat ini. ••• "Maaf ya," semua pasang mata seketika menatap Kamila yang sudah m emasang mimik sungkan. "Saya gak bisa terima lamarannya." Papar Kamila mantap meski pelan. Lino seketika langsung berdiri. "Kok gitu?!" Ayah langsung menarik tangan Lino untuk kembali duduk. Yang seharusnya bereaksi seperti itukan pria yang melamar Kamila. "Kenapa, Mil?" tanya pria pemilik nama Jeffrey itu dengan lembut dan tenang. Padahal di dalam hatinya ia kecewa berat. "Eum, sayaaa, saya ngerasa belum siap nikah aja saat ini,” tutur Kamila. "Nikahnya bisa kapan-kapan kok. Atau kamu emang gak suka sama saya?" Tanya Jeffrey lagi. "E-eh ga-gak gitu. Tapi... jujur, saya memang lebih nyaman, kamu jadi sahabat saya aja." Kata Kamila. Lino terlihat lesu. Gagal pamer ke teman-temannya dia punya adik ipar setampan dan sesukses Jeffrey. Jeffrey itu orang yang disegani dan banyak dikagumi orang pula, akan sangat bangga punya adik ipar seperti Jeffrey. "Ya gak papa, namanya perasaan gak bisa dipaksain," kata Ibu Jeffrey. "Maafin saya Pak Bu, gak maksd mengecewakan putra Bapak Ibu, termasuk Bapak Ibu juga,” tutur Kamila. "Ehh gak papa, kami ngerti kok," timpal Ibu Jeffrey. Jeffrey mengusap-ngusap kedua tangannya kemudian menghela napas. "Ya udah gak papa Mil, semoga kita nanti bisa dapet jodoh masing-masing yang terbaik buat kita," ujar Jeffrey sembari memaksakan tersenyum. Kamila makin tidak enak sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa memaksakan diri juga. Jeffrey itu selain seperti sahabatnya, sudah seperti Kakaknya sendiri juga. Dan Lino yang sebenarnya kakaknya malah seperti adiknya. "Maaf ya sekali lagi," ujar Kamila lagi dengan sungkan. ••• "Kenapaaa? Kenapa kamu nolak lamaran Jeffrey? Diakan ganteng, Mill, orang kaya juga, disegani banyak orang juga lagi. Aduhh," Lino histeris setelah mobil keluarga Jeffrey menghilang dAri halaman rumah. "Kenapa kamu yang ribut sih? Yang ditolak juga Jeffrey bukan kamu," heran ayah. "Tapi Ayah," kata Lino dramatis. "Ck, udah deh, ganti baju sana, gosok gigi, cuci kaki, cuci muka, terus bobo,” tukas ayah. "Tapi Yahh, aku tuh masih gak habis pikir kenapa? Kenapaa?! Kenapa Kamila nolak Jeffrey?" Lino masih tidak puas. Ibu tak lama menghampiri Lino dan menyentil keningnya, sebelum akhirnya menyeret putranya itu ke kamar. Kalau tidak diseret Lino entah sampai kapan dia akan beranjak ke kamar. Kamila mendengus. Ia memilih melanjutkan aktifitasnya membereskan meja sisa-sisa aktifitas makan bersama keluarga Jeffrey tadi. "Sebenernya Ayah juga ngerasa sayang sih kamu nolak Jeffrey," ujar ayah menghampiri putri semata wayangnya. "Maaf ya Yah." Kata Kamila. "Yaa... gak papa. Namanya perasaan gak bisa dipaksain," kata Ayah. "Gimana kalau kak Lino aja yang nikah duluan?" Usul Kamila. "Ah siapa yang mau sama Kakakmu?" Keluh ayah. "Kayaknya banyak,” sahut Kamila. "Masak? Kok Ayah gak yakin?" Balas ayah. "Dih, masa gak mengakui pesona anak sendiri?" Kamila terkekeh. "Ya kamu tahu sendiri kakakmu aneh," balas ayah. Kamila tergelak kecil.  "Anehnya kak Lino itu hanya karena gak bandel seperti laki-laki lain pada umumnyakan, Yah? Aku yakin, kak Lino bisa jadi imam yang baik, justru tingkah anehnya mungkin malah jadi pointnya kak Lino," papar Kamila. "Iya sih. Cuman Ayah kalau jadi cewek ya gak mau sama kak Lino. Ibumu dulu ngidam apa ya waktu hamil Lino?" Keluh ayah Kamila hanya tertawa sebagai tanggapan. "Ayah! Aku denger loh Ayah gibahin aku! Dosa Yah! Ingatlah!" Seru Lino dari dalam kamar. ••• "Jadi semalem Kamila dilamar?" dengan lesu Jeno menganggukan kepalanya. Tora berdecak kecewa seraya menggelengkan kepalanya, dan menatap miris Jeno. "Sabar ya Jen? Ya udahlah, tandanya kita memang ditakdirkan untuk jomblo. Ya kan Yu?" Tanya Tora. "Dih, Lo berdua aja kali yang jomblo, jangan ngajak-ngajak gue,” sahut Bayu. "Dasar temen gak solid,”cibir Tora. "Udah ah jangan ribut, temennya lagi galau juga," sergah Jeno sambil merebahkan tubuhnya di kasur dan menutup wajahnya dengan bantal. "Baru juga gitu udah pundung, mau bunuh diri,” ledek Tora. "Iya tuh, giliran perang di sosmed aja kayak macan, aslinya mah lemah,” timpal Bayu. "Siapa yang mau bunuh diri sih?" Gerutu Jeno sambil melemparkan bantal-bantal ke arah Tora dan Bayu. Jeno tiba-tiba beranjak berdiri, mengambil handuk dan hendak pergi ke kamar mandi. "Tumben mau mandi jam segini? Baru juga jam setengah sembilan." Kata Tora. "Gue tetep mau ngelamar kerja di toko kuenya Kamila," balas Jeno sembAri memasuki kamar mandi. Tora dan Bayu seketika saling berpandangan. "Dia mau jadi pelakor gitu?" Gumam Tora. "Pebinor kali,” tukas Bayu. ••• Jeno sudah rapi, celana denim dan kemeja hitam membalut tubuhnya. Ia sekali lagi menyisir rambutnya ke belakang. "Halah paling cuman jadi tukang cuci piring, gak usah rapih-rapih banget kali. Pake pomade segala." Ledek Tora. "Diem Lo!” Bentak Jeno, Bayu seketika tertawa melihat wajah memelas Tora. "Ya udah ah gue cabut dulu. Dari pada Lo berdua gabut, mending bantuin bunda beres-beres,” ujar Jeno. "Gue mah ada kerjaan, yang pengangguran itu Tora,” balas Bayu. "Dih gue gak pengangguran! Cuman emang lagi cuti," sanggah Tora. "Udah ah gue pergi," ujar Jeno. Jeno kemudian bergegas keluar dari kamar menuju Bundanya. "Bunda, pergi dulu ya?" Ujarnya sambil mencium tangan ibunya. "Mau kemana?" "CAri kerjaan sama jodoh," sahutnya. Bunda saking terkejutnya tak mampu berkata apa-apa menanggapi anaknya, ia hanya mampu menatap punggung anaknya yang menghilang di balik pintu. "Ngapain cari kerjaan? Diakan bakal ngewarisin perusahaan Bapaknya. Eh, tapi gak pernah dikasih tahu sih kalau dia bakal ngewarisin perusahaan. Ya udahlah, dari pada dia di rumah mulu. Berarti dia mulai mikir tuh," gumam bunda. ••• Jeno melangkahkan kakinya memasuki ruangan Kamila ditemani seorang pegawai toko kue. Di sana ia dapat melihat Kamila duduk dengan anggun di atas sofa yang berada di ruangannya, sambil melihat berkas-berkas. Kamila tak lama mendongakan kepalanya, dan matanya seketika melebar saat melihat Jeno yang ternyata memasuki ruangannya. "Lho, kamu yang mau ngelamar kerjaan?" Tanya Kamila tak percaya. "Hehe, iya,” balas Jeno sambil tersenyum canggung. "Bukannya udah kerja?" Tanya Kamila lagi. "Dipecat,” sahut Jeno singkat. "Eh? Ya Allah. Ya udah duduk dulu," Kamila mempersilahkan. Pegawai Kamila masih tetap berdiri di dekat pintu membuat Jeno sedikit kikuk. “Mbak, sini, duduk sini!” Kamila menepuk sofa yang didudukinya, sang pegawai mengangguk. Jeno pun segera duduk pada sofa single yang berhadapan dengan sofa panjang yang diduduki Kamila. "Ngelamar kerjaan di sini gak ribet kok. Tapi boleh liat data-datanya dulu?" Jeno menganggukan kepalanya, sembAri menyerahkan data pribadi  yang ia bawa. Kamila segera menerima dan membacanya dengan teliti. "Kita seumuran ya? Cuma saya lebih tua beberapa bulan dari kamu," komentar Kamila sambil matanya masih tak lepas dari berkas yang dibawa Jeno. Jeno hanya tersenyum sebagai respon, sedangkan tangannya sibuk mengusap-ngusap lututnya karena gugup. "Oh kamu muslim. Saya kira kamu non. Kalau gitu boleh ya saya kasih kamu satu tes?" kata Kamila dengan hati-hati. Kedua alis Jeno terangkat. "Tes apa?" Tanya Jeno gugup. "Baca surat pendek aja, al-ikhlas, bisa?" Tanya Kamila. 'Mampus.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD