"Ga-gak bisa," kata Jeno dengan nada suara sangat kecil hingga Kamila tidak dapat mendengarnya.
"Heum? Apa?" tanya Kamila dengan sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Ga-gak bisa," kata Jeno lirih pada akhirnya dengan nada sedikit lebih keras, tapi Jeno mengucapkannya sambil menutup mata dan menundukan kepala.
"Hah? Gak bisa?" Kamila sedikit terkejut di nadanya, namun ia kemudian menghela napas. "Tapi kalau belajar mau kan?" tanya Kamila.
Jeno seketika mengangkat dan membuka matanya, ia kira Kamila akan men- judgenya negatif.
"Iya mau," ucap Jeno dengan nada semangat.
"Gak papa sekarang gak bisa, asal ada kemauan belajar," kata Kamila.
"Haduhh, aku kira responnya tadi mau jelek," gumam Jeno sambil memainkan kerah bajunya.
"Eemm, sebenernya saya kaget sih kamu gak bisa baca surat itu, soalnya itu suratnya pendek banget. Tapi ya udahlah, asal kamu mau belajar, gak papa," tutur Kamila.
"Terus gimana? Aku diterima?" tanya Jeno penuh harap.
Kamila menganggukan kepalanya sembari tersenyum simpul.
"Tapi kamu mau kan kalau saya nunjuk seseorang buat ajarin kamu bacaan salat dan surat-surat pendek? Karena di sinikan peraturannya pegawai yang muslim harus salat lima waktu. Kecuali dia perempuan dan lagi bulanan,” papar Kamila.
"Kenapa harus kayak gitu?" Tanya Jeno.
"Ya itukan kewajiban orang muslim. Biar toko ini berkah, biar rezeki pegawai di sini juga berkah. Soalnya kenikmatan dunia itu gak tahu itu berkah atau istidraj," sahut Kamila membuat Jeno bingung.
"Istidraj itu apa?" Tanya Jeno.
"Allah gak redho, atau Allah ngasih kenikmatan itu dalam keadaan murka. Makanya kalau kerja juga, saya selalu tanamkan kepegawai, niatnya karena Allah bukan karena mau cari makan. Jadi nanti orang yang ke sini itu, kagumnya bukan cuman karena tempatnya yang cantik atau makanannya yang enak, tapi nanti orang-orang kagumnya, wah, Islam bisa ya bangun toko roti yang cantik, rasa rotinya enak, dan pegawainya baik-baik, gitu. Karena Islamkan terkenalnya gak modern dan yaa orang-orangnya juga banyak yang dipandang sebelah mata. Bahkan orang yang jelas beragama Islam pun, kadang malu sama agamanya sendiri," Papar Kamila panjang lebar.
'Bunda Jeno mau nangis. Gue emang gak pantes deh buat cewek kayak Kamila.'
"Aduh ngomongnya jadi kepanjangan. Besok kamu udah bisa mulai kerja, toko buka jam setengah delapan, tapi kamu datengnya jam tujuh ya? Soalnya kan mesti diberes-beresin tokonya dan nyiapin roti sama kue-kuenya. Biasanya roti dan kuenya dipanggang pagi."
Jeno hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban, sebelum akhirnya berucap terimakasih.
Tapi tiba-tiba ada pertanyaan yang meluncur dAri mulut Jeno, di luar rencanya. "Semalem dilamar?"
Kamila terlihat terkejut mendengar pertanyaan Jeno, "Hah?"
"Ehh... maaf, maaf. Kemaren sore tuh aku ngobrol sama kak Lino, katanya mau lamaran, jadinya kepo deh hehehe,"
"Ohh...," Kamila kemudian tersenyum samar. "Iya, tapi saya tolak. Habis dia udah kayak kakak sendiri,"
Jeno terkejut, sekaligus merasa lega.
‘Ya ampun, kenapa gue ngerasa gini dah? Emangnya kalau dia gak jadi dilamar, dia bakal mau sama gue? Gue gak pantes buat dia. Tapi... gue belum usaha sih,’
•••
Untuk malam ini Jeno malas curhat apa lagi minta saran pada Tora dan Bayu. Yang ada malah jadi ngawur. Meskipun saran Tora selalu tepat, tapi pasti tidak pernah langsung keinti masalah kalau bicara.
Jeno itu mau tobat, jadi dia sekarang apa-apa maunya serius.
"Terus aku mesti curhat karo sopo?" monolog Jeno sendirian di kamarnya.
"Eumm, si kepala kecil bisa dihubungin gak ya?" Jeno bergumam sembari meraih ponselnya, kemudian mencari kontak dengan nama ‘Pacil’.
Pacil atau kepala kecil adalah sebutan untuk nama temannya yang lain selain Tora dan Bayu, nama asli temannya itu sendiri adalah Bagas. Kenapa disebut kepala kecil, karena kepalanya memang kecil, jadi ia, Tora dan Bayu sering meledeknya dengan panggilan seperti itu.
"Halo Gas," ucap Jeno begitu panggilan telfonnya diangkat.
"Gas, Gas, emangnya gas elpiji?" sahut Bagas.
'Gue punya temen yang bener gak sih sebenernya?' batin Jeno.
"Ya udah, Bagas!"
"Nah gitukan enak. Apaan nelfon malem-malem?"
"Mau curhat dong,"
"Dikira gue mamah Dedeh?"
"Teraktir bakso selama seminggu,"
"Nah gitukan enak,"
Jeno memutar kedua bolanya sembari mendengus, giliran ada imbalannya, baru ditanggapi dengan benar.
"Gue mau mulai cerita nih. Tapi nanti kasih saran yang bener ya? Kalau gak bener gue bilang otak Lo kecil,"
"Iya, iyaaa...,"
Jeno berdehem pelan. Sebelum akhirnya ia mulai menceritakan tentang Kamila, juga hubungannya dengan gadis itu yang sekarang bos dan karyawan.
"Nah menurut Lo gue mesti perjuangin dia atau enggak?” tanya Jeno, seusai ia cerita.
"Lo beneran suka sama cewek itu?" tanya Bagas.
"Eummm gak tahu," ragu Jeno.
"Yee gimana sih? Kok Lo masih ragu?"
Jeno terdiam sejenak untuk berpikir. Kalau dipikir rasanya aneh juga, ia kenal Kamila baru-baru saja, tapi entah kenapa ia sudah suka, bahkan sampai rasanya ingin memiliki seperti ini. Apa perasaan ini benar-benar rasa suka, atau hanya rasa suka sementara, karena paras Kamila yang cantik?
Namun akhirnya jawaban Jeno, berbanding terbalik dengan pikiran dan hatinya yang masih bingung.
"Iya, iya gue suka sama dia," kata Jeno dengan nada yakin.
"Kalau Lo beneran suka sama tuh cewek, ya harus siap berkorban. Lo mulai sekarang harus hijrah Jen. Inget ya hijrah itu pindah, pindah jadi lebih baik, bukan pindah jadi orang yang ngerasa paling bener. Entar yaa kalau lo udah siap, tinggal seriusin deh," ujar Baejin.
"Ngomong gampang bener. Ya gak segampang itulah buat hijrah. Entar gak tahunya, gue udah susah-susah tobat, terus pas ngelamar dia malah ditolak, karena dia gak suka gue,"
"Gini aja ya. Lo pilih masuk surga apa neraka?"
"Ya pilih surga lah! Aneh banget nanyanya!" Jeno tanpa sadar bicara dengan nada tinggi.
"Heh! Nge gas aja Lo kalau ngomong! Gelut sini!"
"Maaf, maaf, khilaf. Ya udah lanjut,"
"Surga itu gak murah Jeno. Harusnya Lo hijrah bukan karena cewek. Jangan tunggu tua buat taubat, mati bisa kapan aja dateng cuy,"
"Ehhh gila-gila. Otak gue ternyata beneran gak kecil," Bagas tiba-tiba heboh sendiri membanggakan dirinya.
Jeno terdiam, ia mengabaikan kehebohan Bagas, karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang dikatakan Bagas sangat benar, Jeno bergidik membayangkan ia tiba-tiba mati.
"Ya jadi keputusan di tangan Lo. Mungkinn... mungkin ya mungkin. Kalau cewek yang Lo suka itu ngeliat keseriusan Lo buat belajar agama, dia bisa jatuh hati sama Lo."
•••
"Mau kemana kamu Jen? Tumben udah rapi. Udah wangi, udah mandi, kayak punya pacar aja. Siapa emang yang mau jadi pacar kamu?" ledek ayah saat Jeno baru tiba di meja makan.
"Aku bukan mau pacaran, Yah, aku mau jadi anak yang soleh,” sahut Jeno dengan suara dan ekspresi berwibawa, sembari duduk di sebelah ayahnya.
"Anak yang soleh gimana maksudnya?" tanya ayah tidak mengerti.
"Anak yang soleh, yang akan membawa Ayahanda dan Ibunda ke surga," balas Jeno dramatis.
"Ya jadi soleh mah jadi soleh aja. Ngomongnya biasa aja tapi," celetuk bunda.
Jeno langsung mengerucutkan bibir. "Ah Bunda mah. Merusak suasana nih,"
"Suana opo?" ledek bunda.
"Ini Jeno mau kerja, Yah, jadi pelayan toko roti gitu," ujar Jeno sembari meraih gelas berisi kopi s**u buatan bunda.
"Ehh punya Ayah itu!" seru ayah sembari mau mengambil cangkir berisi kopinya yang sudah menempel di bibir Jeno.
"Aku udah nyelupin lidah aku," balas Jeno sambil memasang ekspresi polos, yang membuat ayah menatapnya datar.
"Hehehe. Tegang amat, Yah, sama anak sendiri, itu bunda lagi bikinin kopi lagi,” kata Jeno cengengesan.
"Mau tobat ceunah Bun, tapi nyolong kopi Ayah," sungut ayah kesal. "Kenapa tiba-tiba kamu mau kerja? Emang uang yang Ayah kasih gak cukup? Cuman jadi pelayan lagi,"
"Gak papa Yah, dari bawah dulu. Soalnya aku pengen nikah, jadi aku harus kerja," papar Jeno.
"Siapa emang yang mau nikah sama kamu?"
"Aku ganteng, Yah, yang ngantri banyak, ngeremehin anaknya banget, deh,"
"Mosok? Gantengan Ayahlah,”
"Enggaklah gantengan aku, aku kan udah ada pencampuran gen bunda,"
"Dibanding yang mau jadi istri kamu, pasti masih lebih banyak yang mau istri Ayah,"
"Ayah mau poligami? Bunn, Ayah bilang Ayah mau poligami!" adu Jeno pada bundanya.
"Hoax! Hoax! Jangan percaya, Bun!" tukas ayah panik.
"Haduhh, pagi-pagi berantem aja, bikin Bunda pusing!" seru bunda yang membuat ayah dan Jeno pun sontak bungkam, lalu saling injak kaki di bawah meja.
•••
Selesai sarapan dan ribut tidak penting dengan ayahnya. Jeno akhirnya pergi ke toko roti milik Kamila untuk mulai kerja.
Sesampainya di sana, setelah semua pegawai sudah datang, diadakan doa bersama sesuai kepercayaan masing-masing sebelum toko dibuka. Yang memimpin doa manajer, bukan Kamila, karena Kamila sendiri belum datang.
Jeno di tempatkan di kasir, karena dia pegawai baru, dia belum diberi tugas seperti menyiapkan pesanan, atau bahkan membuat kue. Kalau tidak jaga kasir ia akan beres-beres.
Meskipun masih pagi toko kue sudah banyak pengunjung. Kebanyakan orang-orang kantoran yang mau cari sarapan. Kalau anak kuliahan jarang. Yaa namanya juga masih mahasiswa, beli mie instan saja terkadang sulit.
Saat sedang melayani pembeli, mata Jeno otomatis teralih ke pintu, karena melihatnya terbuka melalui ekor mata. Kamila tak berselang lama muncul, dan dengan ramah ia menyapa para pengunjung yang datang. Mata Jeno secara tak sadar, terpaku pada gadis itu.
'Kuingin pinang kau dengan bismillah,' batin Jeno.
Mata Kamila tiba-tiba terarah ke arahnya, membuat pandangan mereka tanpa sengaja bertemu. Jeno sontak membuang muka, dan menundukkan kepalanya sejenak. Ia mendadak gugup, dan jantungnya berdebar dengan kencang, padahal hanya kontak mata beberapa detik.
Kamila tak lama kemudian berjalan ke arahnya, kemudian memberinya pertanyaan.
"Gimana hari pertama kerja? Seneng gak?" tanya Kamila.
"Eh? Eh, iya-iya seneng,” balas Jeno dengan sambil nyengir.
"Alhamdulillah. Kalau gitu saya ke ruangan saya dulu ya. Nanti menjelang zhuhur, kamu belajar bacaan salat sama Arifin ya? Dia udah saya suruh," ujar Kamila, yang Jeno balas dengan anggukan.
Kamila pun akhirnya beranjak pergi ke ruangannya. Jeno menatap punggung Kamila yang menjauh, lalu tak lama kemudian menghilang.
'Ya Allah kalau jodoh dekatlah, kalau enggak, boleh maksa gak?'
•••
Jeno itu cerdas sebenarnya. Baru beberapa kali belajar, ia sudah hafal huruf hijaiyah dan bisa membacanya meskipun masih belum lancar, jadi ia membacanya pelan-pelan. Bacaan salat juga sudah mulai hafal meskipun baru yang pendek-pendeknya saja.
Jeno juga sungguh-sungguh belajarnya, sehingga apa yang ia pelajari, bisa lebih mudah terserap di otaknya. Bahkan di tengah bekerja, kalau ada waktu luang, pasti akan ia sempatkan untuk belajar. Kadang belajar sendiri, atau minta bantuan pegawai lain.
Kamila baru saja keluar dari ruangannya, ia pergi ke depan, dan mendapati Jeno tengah menghafal bacaan salat sendirian. Ia akan memejamkan matanya, dan mulutnya bergumam membaca apa yang baru saja ia hafalkan. Kalau merasa salah, ia akan menge cek buku salatnya.
"Dor!" Kamila tersentak saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang. Ia sontak menoleh ke belakang. Rupanya Lino yang sudah mengejutkannya. Kakak laki-lakinya itu nyengir saat Kamila menatapnya kesal.
"Ngeliatin siapa tuh?" ledek Lino.
"Bukan siapa-siapa," ucap Kamila ketus, ia kemudian bertanya, karena merasa heran dengan kehadiran kakaknya yang tiba-tiba, "Kok ke sini Kak? Gak kerja?"
"Kakak laper," jawab Lino sambil menepuk-nepuk perutnya, kemudian giliran ia yang bertanya, "Kok si hidung gunung salak kerja di sini?"
"Dia baru diphk katanya, makanya ngelamar kerja di sini," balas Kamila.
"Ohh... ganteng ya dia, tapi kamu jangan suka dia loh," Lino tiba-tiba memperingatinya, yang membuat Kamila menatapnya heran.
"Kenapa emang?"
"Kerjaannya cuman jadi pelayan, di tempat kamu lagi. Kakak juga suka liat dia ngerokok di teras. Haduh gak baik kayaknya tuh anak." Ujar Lino.
Kamila terdiam, tidak memberi respon dari perkataan Lino. Kenapa juga Lino berpikir kalau ia akan menyukai Jeno? Yah, tapi ia akui, Jeno memang tampan, melihat bagaimana kesungguhannya belajar, juga membuat Kamila jujur, merasa terkesan.
“Kakak kenapa bisa mikir sejauh itu deh?” tanya Kamila.
“Gak tahu, tiba-tiba aja Kakak kepikiran kayak gitu. Udah ah, Kakak mau makan, Kakak pengen roti isi tuna,”
“Ya udah Kakak duduk dulu, nanti aku buatin pesanan Kakak,”
Lino pun akhirnya duduk di kursi kosong yang tersedia. Ia mengambil ponselnya, dan memainkannya sambil menunggu pesanannya datang. Sesekali matanya akan melirik Jeno yang tampak masih sibuk menghafal.
‘Dia baru belajar salat ya?’ pikir Lino.