1. Sekadar Boneka
Jalanan yang lengang membuat gadis bermata bulat dengan iris hitam gelap melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dadanya naik-turun, meredam emosi. Tekadnya begitu kuat untuk segera menemui seseorang. Terlalu kuat hingga ia tidak peduli dengan kemungkinan kecelakaan. Dengan napas yang menggebu-gebu, keinginannya hanya satu, cepat sampai di tempat tujuan.
Namun nahas, tekadnya tidak bisa mengalahkan takdir yang sudah Tuhan gariskan padanya hari ini. Tepat mobil sedannya belok ke tikungan kanan, saat itu pula seorang pemuda jangkung bertopi hitam tengah menyeberangi jalanan.
Baik Aurel maupun pemuda itu sama-sama terkejut. Aurel refleks mengerem kuat hingga kepalanya turut terbentur stir. Sedangkan pemuda itu terjatuh tepat setelah tumitnya menyentuh depan mobil.
"Sial!" teriak Aurel.
Ia mengusap kepalanya yang mendadak pening. Kejadian tidak terduga itu pun membuat detak jantung dan napasnya tidak beraturan.
Sadar dengan dirinya yang hampir saja menabrak orang, Aurel melongokkan kepala takut-takut. Ia bahkan menggigit bibirnya kuat untuk memastikan keadaan pemuda itu baik-baik saja. Rasanya tak lucu jika ia harus berurusan dengan polisi karena tersandung kasus kecelakaan.
Melihat pemuda itu masih sadar, Aurel mengeluarkan napas lega. Dengan gerakan cepat, ia ke luar mobil dan menghampiri pemuda itu. Suara ringisan membuat dirinya berjongkok.
"Are you okay, Kak?”
Satu pertanyaan itu membuatnya merutuk sendiri, “Dari mana ceritanya meringis kesakitan gitu dikatakan baik-baik saja?”
Sampai lima detik tidak ada respon, Aurel berkata, “Biar aku bantu.”
“Tidak perlu, saya bisa berdiri sendiri,” jawab pemuda itu.
Tiga kali gagal melakukan percobaan berdiri membuat Aurel menghela napas panjang. Dalam hati ia mengucapkan banyak sumpah serapah untuk pemuda di depannya yang terlalu angkuh, tidak mau menerima bantuan.
Tak ingin mengulur waktu lebih lama, Aurel kembali berniat membantu. Namun, kali ini ia tak meminta izin, sehingga berhasil meraih tangan pemuda itu.
"Maaf, bisa tolong lepaskan saya? Kita bukan mahram."
Aurel sontak mengangkat tangannya. Mendengar kata ‘bukan mahram’ membuat Aurel tertegun. Apalagi sebelum pemuda itu menunduk lagi, beberapa detik tadi ia menangkap sorot kecewa dari pemuda itu yang dilayangkan padanya.
Rasa bersalahnya menjadi semakin mencuat.
“Maaf Ukhti, saya ceroboh dalam menyeberang.”
Suara lembut tersebut otomatis membuyarkan lamunan Aurel. Ia menatap pergerakan pemuda itu lagi hingga akhirnya bisa berdiri, meskipun dengan kaki sedikit pincang.
"Namaku Aurel, bukan ukhti.” Ia menegakkan badan. “Aku juga minta maaf karena sudah menyebabkan kamu terluka. Bagaimana kondisi kakimu sekarang? Apakah perlu ke rumah sakit?"
Pemuda itu sempat tersenyum kecil saat Aurel memperkenalkan diri karena tidak ingin dipanggil Ukhti.
“Oke. Atau perlu aku antar pulang? Kayaknya kamu kesusahan berjalan.” Aurel mengamati luka di tumit pemuda itu, lalu meringis kecil.
Kedua sudutnya terangkat. “Terima kasih atas niat baiknya, tapi saya bisa pulang sendiri.”
“Baiklah kalau gitu, aku duluan, ya. Masih ada urusan yang belum aku selesaikan.”
Pemuda itu mengangguk. “Berhati-hatilah.”
Hanya senyuman kecil yang ia berikan sebelum masuk ke dalam mobil.
***
"Apa benar Papa yang sudah mendaftarkan nama Aurel sebagai salah satu volunteer?”
Terdengar helaan napas dari pria yang Aurel todong pertanyaan itu. Pria berbalut kemeja biru polos yang berjarak satu meja dengan Aurel seketika mengangkat tangan dari keyboard. Ia melepaskan kaca mata, lantas menatap putrinya dengan sorot tak terbaca.
"Iya."
Hanya satu kata, tapi mampu membuat kecewa berkelut pada hati Aurel. Hebatnya, Papa tampak tenang setelah memberikan kekecewaan tersebut. Gadis itu tersenyum kecut. "Kenapa Papa tidak membicarakannya padaku?”
"Kalau Papa bicarakan ini sama kamu, apakah kamu akan setuju?" Papa mengangkat sebelah alisnya. "Tidak, 'kan?"
"Tapi, Aurel punya hak untuk menentukan tujuan hidup Aurel sendiri, menentukan kegiatan-kegiatan yang Aurel suka dan tidak. Aurel tidak suka ikut acara semacam itu, Pa. Kenapa Papa melakukan ini padahal Papa tahu kalau aku tidak suka?"
Mata Aurel memanas. Cairan bening pun turut memenuhi pelupuk matanya. Mungkin untuk sebagian remaja, tidak akan mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Hanya saja, di balik kemungkinan tersebut, Aurel bukan masuk di dalamnya. Ia tidak suka dipaksa. Sama sekali tidak. Karena itu, setelah mendapat kabar bahwa dirinya diterima sebagai salah satu anggota volunteer pengajar, gadis itu langsung emosi.
Ia tidak suka dengan hal-hal yang berbau relawan. Ia benci darah. Ia tidak mampu mengajar. Juga tidak bisa berenang. Lantas, untuk apa dirinya harus menjadi seorang relawan, jika hidupnya saja penuh dengan kekurangan?
"Supaya kamu bisa berubah, Aurelie Anastasya."
"Tapi, bukan dengan cara kayak gini, Pa!" bantah Aurel lagi.
Papa menatap anak gadisnya itu dengan lekat. "Terus Papa harus melakukan apa lagi, Rel? Kamu sudah banyak membuat Papa kecewa. Track record dengan IP terendah, sering bolos matkul, dapat SP sampai dua kali, sampai terancam di DO dari kampus. Kamu juga childish. Ingat, Rel, semakin hari umur kamu semakin bertambah, dan Papa sama mama tidak selamanya ada di sampingmu. Jika kamu seperti ini terus, Papa takut kamu tidak punya masa depan."
Papa menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ketenangan yang coba dirinya bangun ternyata hanya bertahan singkat. Ada beban luar biasa saat ia harus mengatakan semua itu pada anaknya. "Jadi Papa harus mengikutkan kamu pada kegiatan itu supaya kamu berlatih mandiri dan tanggung jawab, setidaknya untuk dirimu sendiri."
Gagal. Aurel gagal menahan air matanya untuk tidak melaju. Sekuat apa pun ia menggigit bibir, air matanya bukan semakin berhenti justru semakin deras. Ngilu rasanya saat mendengar bahwa secara tidak langsung Papa mengusirnya dari rumah.
"Papa mengusir Aurel secara tidak langsung?" lirihnya.
"Sekarang, kamu pilih menjadi volunteer atau Papa masukkan kamu ke pondok pesantren?"
"Kemarin Papa mengatur di mana Aurel harus kuliah. Padahal Papa juga tahu kalau Aurel tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan matematika. Sekarang, Papa memaksa dengan menjauhkan aku dari rumah ini. Aku sebenarnya anak atau boneka Papa?"
Kalimat itu menjadi akhir perdebatan mereka. Karena setelahnya, Aurel langsung pergi dari hadapan sang papa. Terlalu sakit rasanya jika ia harus mendengarkan kenyataan lain, yang mungkin lebih pahit daripada itu.
Pondok pesantren atau volunteer bukanlah pilihan bagi Aurel. Papa tahu bahwa Aurel tidak akan pernah memilih opsi pertama sehingga secara tidak langsung beliau memaksa Aurel menjadi volunteer. Pondok pesantren adalah salah satu tempat yang tak pernah ingin dirinya kunjungi seumur hidup. Bukan karena ia tak ingin menimba ilmu di sana, bukan juga karena malas untuk belajar Islam. Hanya saja tempat itu pernah memberikan kenangan pahit dalam hidupnya. Kenangan yang tidak akan pernah Aurel lupakan selamanya.
Tbc.