Sembari kami semua menunggu proses penanganan operasi Mama, Ayahku masih mencoba menenangkanku yang semakin dirundung rasa bersalah karena selama ini tidak pernah mengetahui bahwa Mama memiliki penyakit yang sudah sedemikan parahnya. Tiba-tiba Ayah menyodorkan tangan kanannya sembari berkata kepadaku. “Ila, yuk ikut Ayah! Kita cari udara segar di luar.” Ucap Ayah. Kami berdua berjalan ke arah salah satu taman yang berada di rumah sakit, jalanku sudah sempoyongan lemas dikarenakan tenagaku telah terkuras habis dilahap oleh tangisan emosionalku yang tak terbendung, sesampainya di taman samping rumah sakit Ayah mengajakku duduk di salah satu bangku panjang yang berada di samping taman, sembari memegang tubuhku Ayah mencoba untuk mendudukkan diriku di bangku taman tersebut.

