“Mas, kamu sedang apa di sana? Sama siapa? Jadi ini yang tiap bulan kamu bilang lembur? Lalu jika bukan Cahaya, siapa perempuan itu, Mas? Siapa?” lirih batin Mbak Fiska. Dia pun lekas membasuh wajah, setelah itu memesan taxi dan mengambil tas lalu beranjak pergi. “Kalau kamu beneran punya perempuan lain? Lalu, aku gimana, Mas?” isaknya sambil berdiri di depan rumah menunggu taxi yang akan datang menjemputnya. Taxi berwarna biru itu pun melaju menuju hotel yang dicurigai ada Mas Fajri di dalamnya. Sepanjang jalan, Mbak Fiska terus-menerus nangis. Rasa sakit itu entah kenapa menghujam terasa amat dalam. Taxi blue bird tersebut mengantarnya hingga pintu lobi hotel. Mbak Fiska turun setelah menyerahkan sejumlah uang untuk membayar. Dia mematung, bingung. Gimana caranya untuk mengetahui

