“Sayang, maafin aku. Bukannya aku berniat mengerjaimu. Aku memang baru sadar tepat saat kamu menyekaku tadi.” Suara Frans terdengar serak namun penuh dengan nada jenaka yang disembunyikan. Ia menatap Luna yang masih berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah yang perlahan berubah dari pucat menjadi merah padam. Luna menggenggam handuk kecil di tangannya erat-erat, matanya berkilat antara lega dan amarah yang meledak. “Baru sadar katamu? Tapi kamu sudah memegang ponsel dan bicara soal bisnis!” tuduh Luna, langkahnya mendekat ke ranjang dengan ritme yang mengintimidasi. “Sejak kapan, Frans? Sejak kapan kamu sadar?” Frans berdehem, mencoba mengatur raut wajahnya agar terlihat polos, meski binar di matanya mengkhianati sisi nakalnya. “Sejak tadi sih, cuma ... kalau aku langsung bangun sa

