“Bangun, Frans ... Bangun, aku mohon,” isak Luna pecah. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Frans sambil terus berbicara. “Kamu tidak boleh tidur seperti ini. Kamu bilang aku aman di sini, tapi kenapa kamu malah seperti ini?” Luna menatap wajah Frans yang tenang, menelusuri setiap garis wajahnya yang biasanya memancarkan kekuatan. Kini, Frans tampak begitu rapuh. “Jangan tinggalkan aku, Frans. Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu sekarang. Hanya kamu ... hanya kamu satu-satunya orang yang peduli padaku, yang memperlakukanku seperti manusia, bukan alat,” bisik Luna tepat di telinga Frans, suaranya serak karena tangis. “Bangunlah, Iblis Bodoh ... kau bilang aku ratumu. Bagaimana bisa seorang ratu bertahan jika pelindungnya menyerah?” isak Luna pecah. Ia menempelkan wajahnya di

