“Dimana aku?” lirih Luna, suaranya parau nyaris tak terdengar “Kamu di rumahku. Tenang saja, sekarang kamu aman.” Suara berat itu begitu menenangkan, dan membawa kehangatan yang belum pernah Luna rasakan sebelumnya. Luna tersentak bangun, kelopak matanya terasa berat akibat sisa-sisa obat bius yang sempat masuk ke dalam tubuhnya. Mata Luna menyipit karena cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui gorden sutra berwarna krem. Refleks, tangan Luna menyentuh pinggangnya. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya. Di benaknya, bayangan ruang operasi yang dingin, lampu bedah yang menyilaukan, dan wajah kejam Sean masih terekam jelas. Ia mengira ia telah kehilangan bagian dari tubuhnya di meja operasi itu. “Kau masih utuh, Luna. Tidak ada yang berani menyentuhmu selagi aku

