Bab 1
Pagi yang begitu cerah. Secerah senyum Arabella yang begitu menawan dengan dua lesung pipi di kedua nya. Hari itu, ia akan pulang ke kota untuk mengurus pernikahan nya dengan Raka Pradana.
Seorang Pria yang ia cintai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Raka adalah satu-satunya laki-laki yang membuat Arabella menyerahkan seluruh hal yang ada di hidup nya.
Seperti hari itu, ia akan kembali untuk mengatakan pada Raka, jika ia telah berhasil menguasai seluruh ilmu pengetahuan dan pengobatan yang di miliki oleh guru nya.
Pasti Raka akan sangat senang dan begitu bangga karena tahu jika, calon istri nya sangat pintar dan memiliki banyak kemampuan.
Selama tinggal di desa, Arabella belajar banyak hal dari Guru yang ia panggil kakek Suro.
"Kau yakin mau menikah dengan laki-laki kurus itu? Tampang nya biasa saja. Bahkan aku pun lebih tampan walaupun sudah tua." Ucap kakek suro, Guru nya Arabella. Ia seperti tidak rela jika satu-satunya murid perempuan yang ia miliki, akan pergi.
"Guru, cinta itu tak memandang harta dan tampang. Bagi ku, Raka adalah segalanya. Dia baik dan dia mencintai ku. Itu saja."
"Itu saja? Ah, memang sangat susah mengingatkan seseorang yang sedang di mabuk cinta. Ta-ik kucing pun di mata mu tampak seperti coklat." Kakek tua itu masih saja ingin Arabella tinggal di sana.
"Guruuuuuuuu."
"Sudahlah. Maafkan aku. Pulang lah dan sampaikan salam ku pada Ayah mu. Jika si kurus itu membuat mu kecewa, katakan padakau. Ada aku di sini yang selalu menunggu mu."
"Gurruu,, aku jadi tidak tega meninggalkan dirimu di sini sendirian."
"Sudah! Pulang lah. Lama-lama aku jadi kesal melihat wajah mu." Kakek Suro sengaja membuang wajah nya ke tempat lain, agar tidak melihat wajah Arabella lagi.
Arabella pun pulang ke kota di antar oleh salah satu adik seperguruannya. Selepas kepergian gadis itu, Kakek Suro pun menangis sejadi-jadinya.
"Guru, jika memang tidak ingin dia pergi, aku bisa memanggil nya kembali."
"Tidaaaak. Jangan lakukan itu. Apa kau mau dia melihat wajah ku yang di penuhi dengan ingus? Dasar murid tak tahu diri."
Kakek Suro pun masuk ke dalam kamar nya untuk kembali bersemedi. Sejak kecil, Arabella akan datang ke tempat itu untuk di obati. Hubungan kedua nya sudah seperti cucu dan kakek kandung.
Di dalam tubuh Arabella, di penuhi dengan racun. Namun saat ini, racun itu telah berhasil hilang. Usaha kakek Suro memang membuah kan hasil.
Sementara Kakek Suro sibuk dengan urusan nya, Arabella tiba di sebuah apartemen mewah milik nya.
Apartemen itu merupakan hadiah ulang tahun dari Ibu nya. Namun, saat ini Raka tinggal di sana bersama dengan keluarga besarnya.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Raka. Pasti dia sangat senang karena aku sudah sembuh dan bisa mengandung anaknya nanti." Ucap Arabella pada diri nya sendiri.
Sepanjang perjalanan, ia terus saja menghayal saat menjadi pengantin nya Raka. Ia bahkan tak sadar jika saat itu, lift nya telah berhenti.
Arabella keluar dari lift dan langsung menuju apartemen itu. Kode masuk yang ada di pintu pun masih sama. Yaitu, tanggal ulang tahun nya.
Setelah ia masuk ke dalam apartemen itu, suasana di sana sangat lah gelap dan sepi. Saat ia akan memanggil nama Raka, tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat aneh bagi telinga nya.
Ahhhhh
Ahhhhhh
Aaaahhhh
Arabella kebingungan. Ia tak pernah mendengar suara itu sebelum nya. Namun, sebuah suara benar-benar membuat jantung nya hampir berhenti berdetak. Suara itu, adalah milik adik tiri nya.
"Raka, udah dong. Bagaimana kalau nanti Arabella pulang?" Ucap gadis itu.
"Aku tidak peduli. Bahkan lebih baik dia datang saat ini dan melihat kita berdua yang sedang bermain. Biar dia mau membatalkan pernikahan nya dengan ku. Aaaahh." Ucap Raka
"Aaah,, apa kamu tidak takut kehilangan semua nya?"
"Untuk apa aku takut? Arabella itu sangat mencintai ku. Dan juga, seluruh harta milik Ibu nya kan sudah menjadi milik Ibu mu."
Hahahahaha
"Kau benar, Raka. Harus nya aku yang akan menikah dengan mu. Lihat lah permainan ku, aku bahkan bisa lebih hebat dari nya."
"Tentu saja. Anak desa dan penyakitan itu, mana cocok dengan ku. Ayo kita lanjutkan lagi permainan ini. Aku sudah sangat merindukan mu, Mita. Jangan sebut lagi nama gadis itu. Aku mual."
Mereka berdua pun kembali melanjutkan permainan yang tertunda. Sedangkan Arabella, ia ada di sana dan tetap mendengar kan mereka bermain hingga selesai.
Tak ada air mata. Da-da nya begitu sesak. Selama ini, ia sangat mempercayai Ibu tiri dan juga adik tiri nya itu. Tapi siapa sangka, mereka malah menghan-curkan nya bersama Raka.
"Ah,, kamu memang sangat hebat, Raka."
"Tentu saja. Tapi Mita, aku jadi heran. Bagaimana si Arabella bo-doh itu bisa kalian tipu?"
"Ya mudah saja. Selama ini, Ibu ku berpura-pura menyayangi nya. Bahkan di depan gadis desa itu, Ibu lebih membela nya dari aku. Karena hal itu, dia memberikan segala nya untuk Ibu ku."
Ah Hahahahha
"Kau dan Ibu mu sungguh hebat. Lalu, apa benar penyakit nya itu dari keturunan?"
"Itu sama sekali tidak benar, Raka. Ayah dan Ibu ku, mencari racun ke segala penjuru untuk di berikan pada nya supaya ma-ti. Tapi yang ada, ia malah tak ma-ti. Sungguh sangat merepotkan."
"Kau benar. Tenang saja, kita bisa membu-nuh nya nanti setelah semua yang ia miliki telah berpindah ke tangan ku. Untuk saat ini, aku mau menambah permainan kita lagi."
"Tentu saja, sayangku."
Hahahhahahhaha
Di balik pintu kamar itu, Arabella bukan hanya marah. Tapi ia juga menahan rasa sa-kit yang begitu sesak.
Bertahun-tahun di bohongi oleh Ibu tiri nya. Arabella tidak menyangka jika Ayah nya juga tega memberi nya racun.
Ayah yang ia kira begitu menyayanginya semenjak Ibu nya pergi beberapa tahun yang lalu. Permainan mereka sungguh sangat menjijikkan. Arabella tertipu.
Ia pun pergi setelah mendengar kan semua itu. Sebenarnya, ia ingin lebih lama lagi berada di sana. Namun, ia takut akan membu-nuh mereka berdua nanti nya.
Arabella keluar dari apartemen nya dan berjalan tanpa arah. Ia berjalan kaki tanpa tujuan. Di dalam pikiran nya, semua berputar.
Lalu tiba-tiba saja, ponsel nya berdering. Ternyata panggilan dari Guru nya yang sudah rindu pada nya walaupun baru di tinggal beberapa jam.
"Halo, Arabella. Kamu dimana?"
"Guruuuuu, aku ingin membu-nuh mereka."
"Hey. Apa yang kau katakan itu. Sadar, Arabella."
"Guruuuuuuuuuu"
Huhuhuhuuuuuuuu