Dua rumah yang ada di belakang kediaman utama, hampir selesai. Banyak yang turun tangan agar rumah itu selesai tepat waktu. Tenang saja, Arabella tidak bo-doh.
Semua biaya pembangunan rumah itu ia ambil dari uang tabungan Raka dan keluarga nya. Diam-diam Arabella menghabiskan uang simpanan itu tanpa sepengetahuan Raka.
Jelas saja Arabella tidak mau rugi. Urusan madu nya Raka, tidak ada hubungan nya sama sekali dengan nya.
Arabella juga tahu siapa gadis-gadis yang di bawa oleh Ibu mertua nya. Mereka adalah gadis-gadis yang di kenal Raka di desa mereka.
Seperti nya, wanita tua itu memang sengaja menyuruh mereka untuk merayu Raka. Dan Arabella, hanya memuluskan rencana itu.
Mungkin, banyak yang mengira jika Arabella sangat bo-doh. Tapi bagi Arabella, ia sangat menik-mati nya. Apalagi melihat wajah-wajah pengkhianat yang berhasil ia kelabui.
Membalas dendam dengan cara halus, lebih memuas-kan dari pada dengan cara kasar. Ia biarkan Raka melambung jauh ke atas langit. Lalu nanti, akan ia biarkan laki-laki bia-dab itu terjatuh dengan sendirinya.
"Eh Arabella! Kamu itu mau apa sih, bangun rumah lagi seperti ini? Mending uang nya kamu berikan untukku saja."
"Maaf ya, Mita. Kalau mau uang, ya kerja. Jangan bisa nya cuma ngemis aja sama orang lain."
"Ku-rang ajar! Kamu itu, ya. Jangan mentang-mentang punya uang trus sombong."
"Ya harus dong. Daripada nggak punya uang."
Mita kesal sekali. Ia tidak tahu mengapa Arabella bisa berubah dalam sekejap. Padahal dulu, Arabella lembut dan menuruti semua keinginan nya.
"Ada apa sih, ribut-ribut?"
"Yah, lihat deh Arabella. Dia tega sekali menghina ku. Aku tahu, jika Ibu ku tidak memiliki banyak uang seperti ibu nya. Tapi, kenapa dia tega mengatakan hal yang menyakitkan tentang Ibu dan aku."
Mita mulai memasang wajah sedih di depan ayah mereka. Arabella tidak peduli. Ia malah ingin melihat, bagaimana Ayah nya itu bersikap.
"Apa benar dengan apa yang dikatakan adik mu, Arabella?"
"Apa Ayah percaya pada nya? Aku sama sekali tidak mengatakan apapun. Bahkan, Mita tadi mengatakan jika ia menyukai suami ku."
Wajah Mita langsung berubah. Jelas sekali ia tidak mengatakan apapun tentang hal itu. Kini, malah diri nya yang terjebak.
"Mita, jangan yang aneh-aneh kamu. Raka itu Abang ipar mu. Kau tidak bisa dengan nya."
"Tapi, Arabella sampai saat ini belum hamil. Aku bisa menjadi istri kedua untuk suami nya, Ayah."
"Kamu sungguh tega pada ku, Mita. Aku tidak menyangka ternyata kamu menginginkan suami ku. Jika memang seperti itu, mengapa dari awal kalian tidak menikah saja."
Arabella berpura-pura menangis. Dan tidak lama kemudian, Raka datang menghampiri diri nya.
"Sayang, kamu kenapa? Siapa yang menya-kiti mu? Katakan pada suami mu ini. Aku akan membalas nya untuk mu."
Arabella langsung menunjuk Mita. Yang di tunjuk pun memasang wajah datar. Raka jadi serba salah dan tidak bisa membela salah satu nya.
"Mita, kenapa kamu mengganggu kakak mu?"
"Raka, kamu juga membela nya?" Mita seakan tidak terima jika Raka malah membela Arabella.
"Mita, kamu aneh. Raka itu suami ku. Pasti lah ia membela ku. Sayang, tadi Mita mengatakan jika ia ingin menjadi istri mu. Aku harus apa?"
Arabella lagi-lagi berpura-pura menangis pilu di depan Raka. Jelas saja Raka lebih memilih dua gadis pera-wan dari desa daripada menikah dengan Mita yang sudah berkali-kali ia coba.
Bahkan selama pernikahan nya dengan Arabella, entah sudah berapa kali mereka melakukan hubungan terlarang itu.
"Sudah, sayang. Jangan menangis lagi. Aku tidak mungkin mengkhianati mu. Dan aku juga tidak mungkin menikahi adik mu. Tenang lah sayang. Ayo kita ke kamar dan istirahat."
Raka membawa Arabella ke kamar nya dan tidak lama kemudian, seorang pelayan membawa s**u ke kamar nya.
Hampir setiap hari, Arabella akan di suguhkan dengan segelas s**u hangat. Di dalam s**u itu, Arabella sangat tahu apa yang ada di dalam nya.
Mita dan Raka menaruh o-bat man-dul agar Arabella tidak bisa ha-mil. Mereka mengira, jika Arabella bo-doh dan menyangka jika rencana mereka telah berhasil.
Tapi nyata nya, Arabella tidak pernah meminum o-bat tersebut. Ia bisa mengelabui Raka dan semua orang yang ada di rumah itu.
"Sayang, di minum dulu s**u nya. Supaya kamu bisa tenang."
"Baik, sayang. Tapi, aku mulai bosan dengan rasa s**u ini. Kenapa setiap hari aku harus minum s**u?" Arabella berpura-pura tidak tahu.
"Itu karena, supaya kamu cepat hamil. s**u ini adalah s**u untuk kesuburan."
"Suami ku baik sekali."
Arabella pun meminum s**u itu sedikit. Ia lalu meletakkan s**u itu di samping tempat tidur dan berpura-pura mengambil sesuatu. Saat Raka berpaling sebentar, ia langsung memuntahkan s**u itu ke lantai yang sudah ia lapisi dengan kain lap.
"Jangan lupa di habisi, ya sayang."
"Tentu."
Setelah melihat Arabella meminum s**u itu seteguk, Raka langsung pergi. Ia yakin jika Arabella akan menghabiskan s**u itu sebentar lagi.
Arabella hanya tertawa di dalam hati. Ia yakin sekali jika setelah ini Mita dan juga Raka pasti akan bertengkar.
Mita masih belum tahu jika Raka akan menikahi dua gadis pera-wan dari desa. Seandainya saja ia tahu, mungkin ia akan mengamuk seperti orang gila.
*****
Hari itu, Arabella menyiapkan semua keperluan pernikahan sang suami. Semua pengeluaran itu, tentu saja memakai uang Raka.
Arabella tak sudi jika harus memakai sedikit saja uang nya. Orang tua nya Raka begitu bahagia karena bisa memilih pakaian mereka sendiri. Tidak seperti ketika pernikahan pertama putra nya.
"Kak Bella, Tika mau yang ini, ya." Ucap adik bungsu nya Raka.
"Tina juga ya, kak." Adik nya Raka yang satu nya lagi pun tidak mau ketinggalan. Kapan lagi mereka bisa berfoya-foya dengan uang Arabella. Begitu lah yang ada di dalam pikiran mereka saat itu.
"Iya, ambil aja apa yang kalian mau. Kakak tidak akan melarang nya kok." Arabella tersenyum bagaikan ibu peri saat mengatakan hal itu.
Ia bahkan lebih senang jika uang tabungan masa depan keluarga Raka habis tak bersisa. Di dalam uang itu, ada uang penjualan kebun dan rumah mereka yang ada di desa.
Arabella tahu tentang tabungan itu, saat memeriksa aset-aset nya yang berada di tangan keluarga itu. Ia tidak sengaja menemukan tabungan yang berhasil di kumpulkan oleh Raka selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan ibu nya.
"Arabella, terima kasih sekali. Ibu tidak menyangka memiliki menantu yang baik dan pengertian seperti diri mu."
"Bu, tak usah sungkan. Uang ku masih banyak. Belanja lah lagi sepuasnya."