“Maafkan aku, Yang.” sahut Mas Dandi sambil menundukkan kepalanya. “Saat ini bukan waktunya untuk meminta maaf, Mas. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya agar kita bisa menemukan jalan keluar dari semua permasalahan yang telah Mas timbulkan.” kataku kali ini dengan nada ketus. Sisa airmata di pipi kuhapus kasar. Tak ingin terlibat dengan perasaan yang akan merugikanku. Mas Dandi semakin dalam menundukkan kepalanya. “Lalu langkah apa yang harus kita lakukan, Yang?” tanya Mas Dandi dengan tatapan mata penuh kebingungan. “Kejujuran. Itu yang perlu kuketahui terlebih dahulu. Agar aku bisa melakukan hal yang setimpal dengan apa yang telah kamu lakukan.” jawabku sambil menatap mata Mas Dandi. “Kejujuran yang bagaimana yang kamu mau, Yang. Aku…” Mas Dandi menggantung ucapannya.

