"Surat Kuasa dari Mas akan kupergunakan sebaik mungkin. Kalau memang Mas masih ragu, tidak apa-apa kita batalkan saja. Aku tidak ingin Mas terpaksa melakukannya." ucapku pada Mas Dandi yang tampak begitu lelah. Semalaman berada di ruang sempit ini dengan tekanan dari pihak TIPIKOR mengenai penggelapan Dana, bukanlah hal yang menyenangkan. Bahkan, hanya dalam satu malam saja telah memperlihatkan kerut dan kantong hitam dibawah mata Mas Dandi. Sebagai seorang istri, aku menaruh rasa iba padanya. Sosok suami yang pernah mengisi relung hatiku kini berada dalam titik terendah kehidupannya. Sejenak aku ragu akan tekadku. Namun, sejenak kemudian aku mencoba berpikir realistis. Apakah aku akan terus hidup di bawah bayang-bayang suami yang sudah tak lagi kupercayai? Sekali berkhianat, maka gelar

