Mas Dandi menyeretku menuju mobilnya yang terparkir di depan ruko tempatku menyewa. Rasa sakit di pergelangan tangan tak lagi kuhiraukan dibandingkan rasa malu menjadi bahan tontonan orang yang berada di lingkungan itu. Menundukkan kepala, hanya itu yang dapat kulakukan. Tanpa berusaha memberikan penjelasan apapun setiap ocehan yang keluar dari mulut Mas Dandi. Dengan paksa aku didudukkan di samping kemudi. Tak kulihat kedua orang anak-anakku ikut bersamanya. Pasti dia meninggalkannya lagi dirumah. Kulirik wajah Mas Dandi yang memerah, masih penuh dengan amarah. Sepanjang perjalanan, kami berdiam diri tanpa suara. Tidak mempedulikan semua tuduhannya. Karena akupun mencoba tidak mempedulikan urusan syahwatnya diluar bersama w***********g itu. Rasa tidak sanggup menjalani kehidupan ini. Le

