Tiba di kamar, kurebahkan tubuhku dipembaringan. Ibu benar-benar tidak ada habisnya membuatku dongkol dan marah. Ada saja yang selalu jadi bahan hanya untuk mencari kesalahanku. Kalau memang tidak suka sama aku, seharusnya sedari awal saja dia bilang. Bukan dengan cara menyiksaku begini. Kasihan anak-anak. Mereka tentu bingung dengan keadaan ini. Rasanya tidak sanggup menghadapi ini semua. Kasihan Mbak Sum. Dia pasti merasa tidak nyaman juga bekerja disini. Pasti dia tadi takut mendengarku marah-marah. Samar-samar kudengar suara ketukan di pintu. “Bu Hanum, saya mau pamit pulang.” suara Mbak Sum ternyata. Kubuka pintu kamar, terlihat Mbak Sum telah berdiri di depan pintu. “Iya, Mbak Sum. Maaf, ya. Mbak Pasti tidak nyaman. Mbak sudah makan belum? Makan dulu aja. Yuk saya temani.” “Ga us

