“Ngapain sih, Dandi subuh-subuh begini di dapur? Kayak ga ada kerjaan saja. Hanum juga gitu. Biasanya dia selalu bangun lebih awal dan mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Tapi kok malah Dandi yang mengerjakannya semua sendiri. Semakin lama semakin malas menantuku itu. Mana akhir-akhir ini sukanya menjawab kalau dibilangin. Kesambet apa tuh anak, sampe berubah kayak gitu." Gerutuanku seolah tidak ada habisnya. Apalagi melihat Dandi yang sekarang juga jadi seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Hanya menuruti apa yang dikatakan Hanum. Padahal dulu dia tidak begitu. Hanum dituntut untuk selalu patuh pada suaminya. Jangankan memerintah, menjawab omongan Dandi saja dia tidak berani. Kalau Hanum berbuat salah atau benar, dia tetap tidak akan berani bersuara sedikitpun. Dia hanya akan menga

