Taksi yang membawaku pergi dari rumah mewah pemberian Mas Dandi berjalan begitu lambat. Aku masih belum tahu harus pergi kemana. Tidak mungkin aku kembali kerumah ayah dan ibu. Itu tidak mungkin. Tubuhku yang sedang berbadan dua, pasti menjadi aib bagi ayah dan ibu di kampong. Pernikahan yang akan segera dilaksanakan pupu sudah. Henggar, calon suamiku telah pergi entah kemana. Tanpa ada kabar berita, tanpa membatalkan pernikahan. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Dengan teganya meninggalkanku tanpa pemberitahuan. Membatalkan pernikahan tanpa pemberitahuan. Menghilang tanpa jejak. Tas pemberian Mbak Hanum masih tergeletak di pangkuanku. Tanpa sengaja airmata kembali menetes di kedua sudut mataku. Tangis penyesalan. Mbak Hanum yang tulus, yang memiliki kemurahan hati tak

