Nola mengemas semua barang-barang milik pribadinya yang berada di dalam lemari besar berpintu tiga. Pakaian mewah, tas, sepatu bermerk mengisi lemari ukiran itu. Hatiku berdenyut, begitu besarnya perbedaan antara aku dan Nola. Perlakuan Mas Dandi pun begitu berbeda. Nola di berikan fasilitas mewah dan kesempatan untuk bersolek, mempercantik dirinya sendiri. Sementara aku, harus jungkir balik melayani Mas Dandi dan anak-anakku. Aku seperti babu yang tidak memiliki hak atas diriku sendiri. Mas Dandi tidak sedikitpun menganggap bahwa pengorbananku sangatlah berharga. Mungkin saja aku hanyalah seorang istri yang tidak pantas bersanding di masa jayanya. Aku juga wanita yang punya perasaan. Yang punya hati. Tidak sepantasnya aku menerima ini semua. Baru kini aku menyadari segala sesuatunya

