Bab 1

1222 Words
Kael Alexander—itu nama yang paling ditakuti di jagat bisnis Berlin. Di usia 29 tahun, dia sudah mendirikan kerajaannya di atas puing-puing pesaingnya. Publik mengenalnya sebagai pria tenang dan nyaris tak terjamah. Tapi bagi para lawannya, julukan 'Iblis' terasa lebih pas; tak ada yang berani menantang kekuasaannya. Malam itu, Kael menemani tunangannya, Catherine, untuk menghadiri Makan Malam Amal di Neue Nationalgalerie. Acara yang paling diminati sosialita dan kalangan elit Berlin biasanya cuma satu: yang menggabungkan Seni, Fashion, Gaya Hidup, dan Amal (Charity). Sepanjang perjalanan, Catherine bercerita dengan semangat tentang lukisan para seniman Dadais yang punya kaitan sejarah dengan museum, seperti Max Beckmann, Ernst Ludwig Kirchner, dan Otto Dix. Karya-karya dari abad ke-20 itu memang punya nilai historis dan artistik yang tinggi. "Apalagi karya Pablo Picasso, Kael! Meskipun dia terkenal dengan Kubisme dan lukisan anti-perang, dia juga jago banget melukis karya romantis," Catherine antusias. Kael hanya mendengarkan, membiarkan Catherine terus bicara. Suaranya terdengar seperti musik latar—indah, tapi jauh, nyaris tak menyentuh pikirannya. "Kamu tahu, Kael? Lukisan 'Le Rêve (The Dream)'? Itu benar-benar unik dan kamu perlu banget lihat," lanjut Catherine. Kael melirik ke luar jendela; lampu-lampu Berlin berlari di kaca seperti kilas hidup yang terlalu cepat. Tak terasa, mereka sudah sampai. Mobil hitam berhenti di depan tangga marmer Neue Nationalgalerie. Catherine lebih dulu keluar, gaunnya berkilau di bawah cahaya lampu. Ia menggandeng lengan Kael, gerakannya lembut tapi sedikit dibuat-buat. “Selamat malam,” sapa staf di pintu, dengan senyum profesional yang sudah terlatih. “Kael Alexander dan Catherine Linn,” jawab Kael datar. Staf itu menunduk sopan, menyerahkan dua name tag dan satu nomor lelang berbingkai perak. “Selamat menikmati acara, Tuan.” Kael mengangguk singkat. Bau parfum mahal, cahaya lampu, dan percakapan orang-orang kaya berbaur jadi satu. Begitu mereka melangkah masuk ke Great Hall, suara denting gelas champagne dan tawa para sosialita langsung menyambut. Catherine langsung menuju etalase kaca yang memajang lukisan dan patung yang akan dilelang. "Wah, ini indah banget," ujarnya takjub. "Ayo lihat ini," Catherine menarik Kael. Kael mengikuti dengan enggan. "Lihat, kan? Bagus, Kael. Aku mau," pinta Catherine. "Bagus, ya. Nanti saat lelang dimulai," jawab Kael datar. Catherine tersenyum lebar. "Kamu yang terbaik, Kael," katanya sambil memeluk dan mencium pipi Kael sekilas. Kael canggung. Setelah Catherine melepaskan pelukannya, ia mengusap bekas ciuman di pipinya dengan punggung tangan. Kael mengambil segelas champagne dan menyesapnya. Rasanya sama saja—pahit. Ia menyeringai kecil, bukan karena senang, tapi karena bosan sampai ke tulang.Kael tidak suka hal-hal berbau seni. Tapi karena Catherine yang mengajaknya, ia terpaksa ikut. Setelah diskusi panjang, akhirnya Kael mengalah dan memutuskan hadir. Pertunangan Kael dan Catherine memang lebih mirip hubungan bisnis; Catherine mendapat koneksi untuk kariernya dari Kael, sementara Kael mendapat dukungan dari keluarga Catherine yang lumayan berpengaruh,mungkin bisa dikatakan tidak ada cinta diantara mereka . Di sisi lain Great Hall, terlihat Eliora Arvenne sedang berdiri mengagumi lukisan-lukisan di etalase lelang—kontras sekali dengan Kael. Eliora adalah sosok yang lembut. kehadirannya di sana hanyalah formalitas, memenuhi undangan atas nama ayahnya, Richard Arvenne. Eliora berjalan, melihat satu per satu pajangan. Mata hijaunya berbinar saat melihat salah satu karya, "Garçon à la pipe" milik Pablo Picasso. "Uhh, gambaran transisi dari kepolosan masa muda ke kedewasaan," ujarnya. "Semoga kita berjodoh ya," lanjutnya sambil tersenyum. Eliora melanjutkan jalannya untuk melihat karya lain. Karena terlalu fokus pada karya di depannya, ia tak sadar tubuhnya menabrak seseorang. Pakaian orang itu jadi sedikit basah karena minuman yang dipegangnya. "Eh, maaf-maaf, aku ti—" ucapan Eliora terhenti saat melihat siapa yang ia tabrak. "Ka-Kael?" . Kael, yang semula sedang membersihkan jasnya menghentikan pergerakannya “Suara ini?.” Bisiknya ia memindahkan fokusnya ke orang yang menabraknya. Kael diam. Ada sesuatu di d**a kirinya yang terasa sesak—bukan marah, tapi lebih mirip kehilangan. Suara di sekitarnya mendadak menghilang, hanya napasnya sendiri yang ia dengar. sosok ini yang ia cari selama tujuh tahun sekarang ada di hadapannya . Napas Eliora memburu . ia mundur setapak ,matanya membulat seperti melihat hantu "Ma-maaf Kael," cicitnya, lalu berbalik dan langsung kabur. Kael sigap mengejar. "Liora!" serunya. Tapi Eliora tak peduli, dia terus melangkah cepat, keluar dari Great Hall. Dengan langkah terburu-buru dan gelisah, Eliora berjalan ke arah parkiran ,ia mendekati mobilnya dan masuk,belum sempat ia memutar kunci ,sosok kael sudah berdiri didepan kap mobil menatapnya seperti angin dingin dari Laut Utara Dada Eliora sudah bergemuruh hebat. Ia langsung tancap pedal agar mobilnya mundur. Di luar, Kael buru-buru mendekati pintu pengemudi. "Liora! Buka pintunya!" teriak Kael. Ia terus menggedor-gedor kaca jendela mobil Eliora. Namun, Eliora lebih cepat. Ia menginjak gas dan melaju kencang, pergi dari tempat itu. Kael menatap mobil Eliora yang sudah menjauh dari Neue Nationalgalerie “ Sial.” Ucap Kael kesal ,ia merogoh saku celananya untuk mengambil handphonenya “Halo Adrian ,Ikuti Mobil yang barusan pergi dari sini.” Perintah kael geram “Baik Tuan .” Ucap Adrian asistenn ,kael memutuskan sambungan telpon Dia mengusap wajahnya kasar “ Liora.” desisnya Dia Mengepalkan telapak tangannya Ia kembali kedalam ,berpura-pura tenang disisi Catherine ,yang masih sibuk menganggumi Lukisan dan patung . Fisiknya disana ,tapi pikirannya sudah jauh Sementara itu Di jalanan Berlin ,mobil Eliora melaju ke arah Alt-treptow-kawasan di tepi sungai Spree ,sunyi dan dingin air matanya jatuh tanpa ia bisa kendalikan.pertemuan tadi membuka luka lama yang belum sembuh . Dia tak sadar , mobilnya dibuntuti seseorang . Sesampainya di Magnus Apartemen—salah satu properti peninggalan keluarganya—Eliora langsung naik lift ke lantai tujuh. Begitu pintu apartemen tertutup, ia membiarkan tubuhnya jatuh di sofa, terisak tanpa suara. Beberapa menit kemudian, suara di seberang telepon melapor, “Tuan, Nona Eliora tinggal di Alt-Treptow, Magnus Apartemen lantai tujuh,” ucap Adrian. Kael hanya terdiam. Laporan itu cukup. Dia akhirnya menemukan wanita yang selama tujuh tahun menghantui pikirannya. Kael diam berdiri disamping Catherine yang masih sibuk menganggumi Lukisan “ Kael ,lihat lukisan ini melambangkan kehancuran .”Tunjukknya “Sama seperti hubungan kita .” Lanjut Catherine manja Kael tidak mendengarkan Catherine, pandangannya yang kosong menembus Dinding kaca ,seolah ia masih melihat mobil Eliora yang menjauh . “kael.” Catherine menyentuh lengan Jas Kael “Ada Apa ?.” Kael berbalik ,lalu dia tersenyum “Aku hanya memikirkan Acara Lelang.” ia kembali mengenakan topeng ketenangan di atas kegelisahan. Malam semakin larut , Udara dari Sungai Spree menyentuh kulit Eliora ,membuat ia terbangun.matanya sembab karena habis menangis pertemuan tak terduga itu membuat Eliora ingin melarikan diri dari Berlin ,namun Sialnya tidak bisa karena Bisnis milik Keluarganya merantainya disini . Eliora melangkah ke arah wastafelnya ,ia memutar keran membasuh mukanya . Dia melihat pantulan wajahnya dari cermin ,ia memejamkan mata “Tidak apa-apa Liora .” Ia mencoba menenangkan diri . Sejak kematian tragis kedua orangtuanya beberapa tahun yang lalu ,membuat Eliora harus menjadi mandiri . Ia menjaga warisan orangtuanya sendirian ,Ia tidak memiliki teman karena dulu saat masih bersama Kael ,Pria itu membatasi pergerakannya sehingga sampai sekarang Eliora sulit untuk menemukan teman . Tidak banyak juga yang bisa dikerjakan Eliora karena ia mengidap penyakit jantung dengan irama cepat yang mengharuskannya mengkonsumsi obat setiap hari . “Ma-ma ,Pa-pa Liora kangen .” Ucapnya sendu ,Eliora menghela nafas ,ia berjalan gontai ke arah meja yang tidak terlalu jauh dari Wastafelnya ,dengan tangan bergetar dia mengambil Botol pil yang menjadi penunjang hidupnya . Ia tahu jantungnya berdetak kencang bukan hanya terkejut ,tapi Pertemuannya dengan Kael .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD