Bab 2

1454 Words
Matahari Berlin menembus kaca setinggi langit-langit, tapi hangatnya tak mampu mencairkan udara dingin di kantor Kael. Di atas meja, berkas-berkas senilai sepuluh juta euro berserakan, diabaikan begitu saja. Retina birunya menatap angka tujuh tahun yang tertera di laporan itu, seakan menoreh luka lama. Ia meraih ponselnya. “Adrian, ke ruanganku sekarang.” Tanpa menunggu jawaban, Kael memutus sambungan teleponnya. Tok! Tok! “Masuk!” teriak Kael. Pintu terbuka, menampilkan sosok Adrian dengan wajah datar. Ia melangkah mendekat. “Ada apa, Tuan?” tanyanya sopan. “Duduk, Adrian.” Kael masih fokus pada berkas-berkas yang tergeletak tak berdaya di atas meja. Adrian menarik kursi di depannya, lalu duduk perlahan. Kael akhirnya mengalihkan pandangannya. “Ia berada di Treptow-Köpenick?” tanyanya lirih, sulit percaya. “Benar, Tuan. Setelah kami menggali informasinya lagi, Nona tidak pernah keluar dari Berlin, apalagi Jerman.” Kael menutup wajahnya dengan satu tangan—seolah menahan bara yang hampir menyala. “Adrian… kita sudah menyusuri seluruh Jerman, bahkan negara-negara terdekat.” Ia tertawa kecil, getir. “Selama tujuh tahun... ternyata dia ada di Treptow-Köpenick.” Adrian bungkam. Ia tahu, dinding emosi Kael sedang menjulang terlalu tinggi untuk ditembus siapa pun. Ia mengingat betul masa tujuh tahun itu—pencarian sia-sia yang mengubah Kael menjadi mesin tanpa tombol berhenti. Siang dan malam ia bekerja, seolah waktu tak lagi punya arti. Kael menghela napas panjang. “Dia sangat dekat, Adrian…” bisiknya. Adrian berdiri, mendekat. “Tuan, tenanglah,” ucapnya pelan, mencoba menenangkan badai yang nyaris pecah. “Adrian siapkan mobil. Aku ingin melihatnya sendiri.” Ucap Kael rendah tapi tegas Adrian menatapnya ragu “Tapi Tuan… apakah hal ini tidak membuat Nona Eliora kaget?.” Kael berdiri, “Tujuh tahun Adrian.” Kael menatap jari-jarinya yang memutar cincin itu. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak waktu.” Adrian hanya bisa menuruti keinginan pria itu . Ia tahu, jika kael sudah menginginkan sesuatu tidak ada lagi yang bisa menghalanginya. Klik! suara gagang pintu memecahkan keheningan “Catherine?” Kael menoleh pelan. “Kenapa kamu kemari?.” Adrian menunduk hormat. “Saya izin pamit, Tuan.” Kael hanya mengangguk sebagai responnya Ruangan kembali hening ,menyisakan tatapan Kael yang sulit di tebak. Catherine melangkah mendekati. “ Sayang?” Panggilnya lembut “Ada Apa ?.” Ia membelai pipi Kael dengan ujung jarinya Kael diam sesaat.” Tidak apa-apa.” ucapanya pelan sambil menyentuh telapak tangan Catherine yang masih di wajahnya. “ Kau belum jawab pertanyaanku, kenapa kamu kemari?.” Catherine memeluk tubuh kael “ Aku kangen.” bisiknya lirih, menyandarkan wajahnya di d**a Kael. Kael hanya diam, Ia mengelus pucuk kepala Catherine dengan lembut. Sebenarnya selama ini Kael sudah berusaha untuk jatuh cinta pada Catherine, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bukan karena ia tidak bisa melupakan Eliora melainkan karena ada sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan Kael sendiri tak mampu mengerti. Catherine mendongakkan wajahnya untuk melihat Kael “ Sayang.” Rengeknya manja “Aku bosan. Aku mau jalan-jalan.” Kael menghela nafas,mata tetap terpaku pada layar. “Aku sibuk, Cat.” Catherine melepaskan pelukannya “ Kamu selalu sibuk!.” Ujarnya kesal “ tidak ada waktu buatku.” “Aku kerja juga untukmu. Semua yang kamu mau, datangnya dari sini.” Kael menatapnya,mencoba menenangkan.“ kalau aku tidak bekerja, darimana kamu mendapatkan itu semua.” Catherine terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis “Kalau begitu ... kamu bisa memberikan aku uang saja, sayang." Kael menaikkan alis “untuk apa ?.” Catherine memainkan ujung rambutnya sambil tersenyum genit “Aku mau beli tas Hermes Birkin…dan mungkin Kelly sekalian.” Kael merogoh handphonenya dan mengetikkan sesuatu. “ sudah aku transfer.” Ia menujukkan layar ponselnya pada Catherine Catherine tersenyum sumringah “ Terimakasih Sayang.” Ia mencium pipi kael sekilas “ kamu yang terbaik .” Ia menepuk pelan pipi kael lalu berbalik pergi Kael mengambil tisu di atas mejanya, lalu membersihkan pipinya yang baru saja dicium Catherine—seperti biasa. Catherine keluar dari gedung The Eisberg Group. Ia sempat menoleh ke belakang, menatap logo perak di dinding kaca sebelum bibirnya melengkung pelan. Pandangannya jatuh pada cincin tunangan di jari manisnya yang berkilau di bawah cahaya matahari. “Kael selamanya akan menjadi milikku.”gumamnya Ia merogoh tasnya, mengambil ponsel, dan menekan satu nama di daftar panggilan. “Aku kangen,” suaranya berubah manja. “Temui aku di apartemen, ya.” Nada tawa kecil terdengar sebelum sambungan telepon terputus. Catherine memasukkan ponselnya kembali, lalu melangkah anggun menuju mobilnya. Tak lama , mobil sport mewah itu meninggalkan gedung The Eisberg Group . —------ Sementara itu, Di sudut lain Berlin… Udara pagi masuk lewat celah jendela apartemen kecil. Eliora terbangun dengan peluh dingin di wajahnya, Mimpi itu lagi . Ia memegangi d**a kirinya, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya erat-erat. Dengan gemetar, ia menarik napas dalam. berusaha menenangkan diri, menuntun oksigen masuk perlahan ke paru-parunya. Saat rasa tenang mulai kembali, Eliora bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah ke meja rias. Wajah pucatnya menatap balik dari cermin sepasang mata yang menyimpan luka lama.” “Kenapa… aku harus bertemu dengannya lagi?”bisiknya lirih dengan tangan gemetar Eliora menyentuh wajahnya yang pucat “seharusnya kami sudah saling melupakan …. bukan?.” Tring! Suara notifikasi dari Handphonenya memecahkan keheningan. |“Kamu masih bermimpi buruk ,Liora ?.” Eliora hanya membaca pesan itu, ia tidak membalasnya Tring! Pesan lain masuk. |”Semangat, Liora .” Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Tapi tetap Ia tidak membalas pesan itu. “Lebih baik aku bersiap-siap ke Magnus sekarang.” ujarnya pelan, lalu berdiri dan melangkah ke kamar mandi Beberapa menit kemudian, Eliora sudah bersiap. Di depan meja rias, ia memoleskan lipstik berwarna pink di bibirnya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Senyum tipis mengembang di wajahnya. “schön,” gumamnya pelan. Ia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari apartemennya. Hari ini, Eliora tidak membawa mobilnya. ia menaiki taksi. Ia menunggu di tepi jalan di dekat apartemennya. Hembusan angin pagi pelan menyibakkan helaian rambutnya. Tanpa ia sadari,dari seberang Jalan seseorang tengah mengamatinya dalam diam. Kael menatap Eliora dari balik kaca mobilnya. “Kehidupan seperti ini yang kamu inginkan, Liora?” gumamnya. “Tapi nampaknya kamu baik-baik saja setelah meninggalkanku.” Adrian, yang duduk di kursi depan, mendengar gumaman Kael. “Tuan, ini apartemen peninggalan orang tua Nona Eliora,” ucapnya, menatap Kael lewat kaca spion. “Oh, benarkah?” “Benar, Tuan. Magnus Apartemen—gabungan dari Magnus Group.” Kael hanya mengangguk, lalu matanya kembali terpaku pada Eliora di seberang jalan. Cukup lama Eliora menunggu, hingga akhirnya taksi yang ia panggil datang. Ia masuk ke dalam taksi, dan tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan apartemen. Kael menatap pergerakan taksi itu dari dalam mobilnya. “Adrian, ikuti taksi itu,” ucapnya tegas. “Baik, Tuan,” jawab Adrian. Mobil mewah Kael pun meluncur di belakang taksi, mengikuti jejak Eliora. Di dalam taksi, Eliora sibuk dengan ponselnya, tak menyadari ada mobil yang mengikuti taksinya dari belakang. Setibanya di Magnus Group, ia keluar tanpa menoleh dan langsung masuk ke dalam gedung. Tubuh Eliora menghilang dibalik pintu kaca. Kael tetap di mobilnya, matanya menatap pintu kaca yang tadi dilewati Eliora. “Dia bekerja di sini?” gumamnya. “Betul, Tuan. Nona Eliora adalah CEO,” jawab Adrian lewat kaca spion. Kael mengerutkan dahi. “CEO?” “Sejak orang tuanya meninggal, seluruh warisan jatuh ke tangannya, Tuan. Informasinya cukup tertutup sehingga sulit diketahui sebelumnya,” jelas Adrian. Kael hanya mengangguk, matanya tetap menatap gedung itu. Ia menyadari, Eliora kini berdiri sendiri, menjalankan tanggung jawab besar yang dulu tak pernah ia bayangkan. Sebuah rasa bangga bercampur getir meyelinap ke dadanya, Namun tidak terucap “Pulang ke Apartemen Catherine, Adrian.” perintahnya tegas “Baik,Tuan.” Jawab Adrian Kael masih menatap gedung magnus itu untuk terakhir kali, lalu ia tersenyum samar. Perlahan, mobil mewah itu menjauh dari tempat itu. Kael menyentuh kaca jendela dengan jarinya seakan bayangan Eliora berada disana. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus kembali kepada Eliora. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan, dan begitu banyak amarah yang ingin ia lepaskan. Lampu-lampu jalan yang melintas di kaca mobil seolah membawa Kael kembali ke ingatan masa lalu—ke kehilangan, ke kerinduan, dan ke rasa yang tak pernah pudar. Tak terasa, perjalanan membawanya ke The Circus Apartemen, kawasan elit di distrik Mitte, tempat Catherine tinggal di salah satu unitnya. Kael melangkah memasuki lift, jarinya menekan tombol lima dengan perlahan. Entah kenapa perasaan Kael ingin marah, meski ia sendiri tidak mengerti apa penyebabnya. Tring! Pintu lift terbuka, ia melangkah keluar menuju unit Catherine. Sesampainya di pintu unit Catherine, ia memasukkan kode pasword untuk membuka kunci. Pintu sedikit terbuka. Kael menatap ke dalam dengan geram, tangannya mengepal seakan siapa akan menghadap sesuatu. Namun di balik kemarahan itu, ia berusaha menahan amarah yang berkecamuk di dalam dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD