Kael menahan napas di ambang pintu, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. Matanya terpaku melihat Catherine bermesraan dengan pria lain. Tadinya ia ingin langsung mendatangi mereka, tapi ide lain muncul di benaknya.
“Kamu mau coba-coba bermain denganku, Catherine?” Kael menyeringai. “Tunggu saja.”
Ia menutup pintu perlahan, menetralkan napasnya. Setelah itu, Kael kembali memasuki lift dan menekan tombol lantai bawah.
Pintu lift terbuka. Kael melangkah keluar dengan langkah tegas menuju mobilnya, menahan amarah yang membara di dalam d**a.
Brak! Bunyi pintu mobil tertutup keras membuat Adrian kaget.
“Ada apa, Tuan?” tanyanya hati-hati, menoleh ke Kael.
Wajah Kael merah padam.
Tangannya mengepal di sisi tubuh. “Adrian, pasang CCTV tersembunyi di apartemen Catherine,” ucapnya tegas. Ia menatap Adrian. “Catherine telah berselingkuh,dan aku ingin tau siapa laki-lakinya.”
Kael tadi tidak melihat wajah pria itu, ia hanya melihat ekspresi Catherine yang sedang menikmati setiap sentuhan. Dan pemasangan itu sudah cukup membuatnya naik darah.
Adrian menelan ludah,menunduk . “Baik, Tuan.”
Dalam diam, ia menatap Kael dari kaca. Wajah itu, wajah yang pernah hancur saat kehilangan Eliora, kini wajah itu kembalikan menampilkan luka yang sama.
Adrian sudah tau ini akan terjadi. Ia pernah memergoki Catherine sebelumnya, tapi ia memilih bungkam.
Bukan karena takut, tapi ia tau Kael harus melihat kebusukan itu sendiri.
Adrian menghela napas, Apa yang dipikirkan wanita itu?
Catherine punya segalanya dari Kael, kekuasaan, kemewahan, bahkan hatinya walau belum sepenuhnya. Tapi tetap saja ia mengkhianatinya.
“Kita pulang ke mansion Grunewald atau apartemen di Charlottenbutg, Tuan ?” tanyanya hati-hati
“Charlottenburg” Jawab Kael singkat.
Adrian hanya mengangguk lalu menghidupkan mesin. Mobil hitam itu melaju menembus dinginnya malam,meninggalkan apartemen Catherine.
Sementara di ruang Catherine, mereka tidak menyadari kehadiran Kael di ambang pintu tadi. Mereka sepenuhnya tenggelam dalam momen panas yang mereka ciptakan.
“Ahh.. Rafael.” Desahan panjang itu terdengar puas keluar dari mulutnya, menyebut nama pria yang kini menguasai dirinya.
Mereka kembali hanyut, saat Rafael menarik Catherine dan mencium bibirnya lagi.
Cumbuan mereka, membuat mereka menjadi buta dan tuli secara bersamaan. Mereka tidak tau bahwa sepasang mata biru sudah melihat mereka tanpa tau rencana sudah tercipta, diselimuti amarah Kael yang bisa menghancurkan mereka kapan saja.
Setelah kejadian yang membuat hatinya patah, Kael memutuskan untuk kembali ke apartemennya, langkahnya berat dan pikirannya masih dipenuhi amarah serta rasa kecewa.
Di apartemennya, Kael duduk diruang kerja, menatap foto Eliora. Senyum hangat itu mengingatkannya pada segala yang telah hilang. Ponselnya berdering berkali-kali, karena Catherine menelponnya.Tapi Kael memilih diam.
“Kamu harus kembali padaku, Liora,” gumamnya pelan. Ia menatap tajam foto Eliora di genggamannya. “Aku tak peduli apa yang kamu mau atau tidak.”
Kael menunduk, kemudian menatap langit-langit ruangan kerjanya. “Rindu ini… sungguh menyiksa.”
Tiba-tiba Kael teringat bahwa , Eliora tidak membawa mobil tadi ke kantor hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
“Apa dia sudah pulang…atau malah kesulitan mendapatkan taksi ?.”gumamnya, khawatir.
Tanpa menunggu lama, Kael meraih kunci mobilnya. Ia harus memastikan Eliora sampai dengan selamat. Dengan cepat, ia bergegas menuju Magnus
Sementara itu, di kantornya, Eliora menyadari malam telah larut. Ia menatap langit dari kaca jendelanya yang besar, ia merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang. Ia menatap jam di meja kerjanya “ Hah, sudah jam sembilan!.”ujarnya kaget.” Semoga masih ada taksi.” Ucapannya penuh harapan. Eliora melangkah meninggalkan ruangannya. Ia turun melewati lift untuk ke lantai dasar.
Sesampainya di luar gedung. Eliora menunggu di tepi dekat dengan perusahaannya, ia menoleh ke kanan lalu ke kiri dengan gelisah.”Aduh, harusnya tadi aku bawa mobil saja.” Keluhnya, ia melihat jam ditangannya” jam segini taksi sudah pasti susah.” Namun Eliora masih menunggu dengan sabar, gadis itu menatap ke arah langit.
“Malam ini bintangnya banyak.” Ujarnya tersenyum kecil. Tapi senyumnya hanya bertahan sebentar, karena angin malam menghapusnya.
“Ma-ma, Pa-pa apakabar?.” Ia berbicara seolah-olah bintang di langit itu adalah simbol ayah dan ibunya. “ Lili rindu.” Lili adalah panggilan kesayangan dari kedua orangtua Eliora.
Ketika Eliora tengah menatap bintang, cahaya lampu menyilaukan matanya. Ia memicing, menatap mobil yang berhenti di depannya. “Apa itu taksi?” gumamnya ragu.
Ia mendekat dan mengetuk kaca jendela. Perlahan kaca turun, memperlihatkan pria dengan kacamata hitam, topi, dan masker.
“Apakah ini taksi?” tanyanya pelan.
Pria itu hanya mengangguk. Gerak bibirnya tak bersuara, hanya memberi isyarat agar Eliora masuk.
“Kau... bisu?” tanya Eliora, ragu. Pria itu kembali mengangguk.
Ia melihat sekitar, jalanan sepi. “Daripada susah pulang,” gumamnya, lalu membuka pintu penumpang.
Mobil melaju perlahan, meninggalkan Magnus. Dari spion, pria itu menatapnya lama. Di balik masker hitamnya, ada senyum samar — senyum yang membuat udara di dalam mobil terasa lebih dingin dari malam.
Di kursi belakang Eliora mencoba duduk dengan tenang, matanya melihat ke arah kaca jendela. “ Jalannya benar, ia bukan penculik.” Batinnya. Sedari tadi Eliora melihat kaca jendela di sebelah kanannya mencoba memperhatikan jalan, jalan yang selalu ia lalui takut kalau yang di naikinya bukan taksi.
Mobil melaju dalam diam, hanya ada suara mesin. Entah ada aroma yang samar, aroma kayu dominan, Citrus dan sedikit rempah.
Alis Eliora berkerut, ia melihat spion depan namun dengan cepat ia menunduk “ Aneh… kenapa aku merasa pernah mencium wangi ini?.” gumamnya pelan
Di balik kacamata hitamnya, pria itu menatapnya lewat pantulan spion. Sepasang mata biru yang menahan sesuatu di balik tenangnya.
“Akhirnya, aku menemukanmu kembali Liora.” Gumamnya dengan suara serak namun nyaris tak terdengar.
Eliora tak mendengar apapun, tapi hatinya berdebar ia seperti lagi bersama seseorang yang akrab dengannya. “Kenapa aneh sekali?, seperti kenal saja.” gumamnya lagi menatap sopir itu lewat kaca
Kael melirik Eliora yang menatapnya lewat kaca “ kita memang kenal Liora.” Suaranya tidak terdengar, ia tersenyum menyeringai di balik masker hitamnya.
Mobil terus melaju menembus malam yang sepi , membawa mereka dari Mitte ke Treptow-Köpenick.
Sementara itu, di apartemen Catherine…..
Suara benda jatuh dengan keras. Botol anggur pecah di lantai, tumpahannya membentuk seperti genangan darah.
“Ada apa denganmu, Kael?.” teriak Catherine sambil membanting handphonenya di ke sofa.
Sudah puluhan kali ia menelpon Kael sejak satu jam yang lalu, namun tidak ada respon pesan maupun panggilan balik dari Kael. Wajahnya merah karena marah, dan matanya berkaca-kaca
“Kael, jangan buat aku gila seperti ini.” Desisnya ia mondar mandir di ruang tamu dengan tidak sabar.
Dari sudut ruangan, Rafael hanya menatap layar ponselnya. Wajahnya tampak murung pesan yang ia kirim sejak pagi pun tak kunjung dibalas seseorang.
“Kenapa, hmm?” ujarnya akhirnya, mendekat dan memeluk Catherine dari belakang, mencoba menenangkan wanita itu.
“Kael tidak mengangkat teleponku,” keluh Catherine dengan suara gemetar.
Rafael tersenyum tipis, nadanya sinis. “Mungkin kakak tiriku itu sedang sibuk… atau mungkin, sedang tidur.”
Catherine memutar tubuhnya, menatap Rafael dengan bingung.
“Kakak tirimu? Maksudmu Kael?”
Rafael menatap dalam Catherine, hingga Catherine merasa buli kuduknya meremang.
“Iya,” jawabnya pelan “ Kael Alexander. Dia kakak tiriku. Tidak pernah ku ceritakan ya?”
Catherine mundur setengah langkah, tapi Rafael segera memegang lengannya.
“Tenang, aku tidak menggigit.”
Nada bicaranya pelan, tapi genggamannya terlalu kuat.
Catherine menatapnya, antara takut dan tak percaya. “Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
“Karena waktunya baru sekarang,” bisik Rafael.
Ia mendekat ke telinga Catherine. “Dan karena malam ini… permainan baru saja dimulai.”
Hening.
Suara detik jam di dinding terasa terlalu keras di antara mereka.
Rafael melepaskan genggamannya dan berjalan ke jendela. Dari balik kaca, lampu kota Berlin berkilau lembut dari kejauhan.
Ia menatap bayangan dirinya di kaca, lalu tersenyum kecil. Aneh, tapi senyum itu seperti milik Kael — dingin, tajam, dan penuh rahasia.