Di sebuah rumah sederhana. Tampak mainan berserakan di mana-mana. Ada sebuah truk yang sudah lepas bannya. Tak jauh dari truk mainan tergeletak boneka tanpa busana dan kedua kaki juga sebelah tangannya. Tak jauh dari boneka ada ban mobil tanpa mobil. Tak jauh dari situ. Kepala boneka barbie yang rambutnya sudah separuh.
Seorang wanita yang baru saja berbelanja keperluan dapur dan kue jualannya, hanya bisa mendesah panjang. Tak lama, terdengar teriakan-teriakan bocah-bocah di ruang tengah.
Wanita itu menghitung.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, ... tujuh, komplit," sebuah senyum terbit dari bibirnya.
"Haloo anak-anak!" sapanya.
Ke tujuh anak menoleh.
"Mommy!" teriak mereka lalu berhamburan memeluk Melinda.
Melinda nyaris tumbang ketika diserbu oleh makhluk-makhluk kecil itu. Wanita itu tak habis akal. Digelitikinya bocah-bocah yang menyerangnya, hingga semuanya tertawa menghindari gelitikan dari wanita itu.
"Mommy stop it!" teriak salah satu bocah perempuan yang digelitiki.
Melinda menghentikan gelitikannya. Kesemua bocah menciuminya satu persatu. Ketika melihat ke tujuh anaknya. Ia menghela napas. Tak ada satu pun yang menyerupai wajahnya.
Dari rambut, mata, hingga kulit, semua mirip ayah biologis mereka. Tapi ketika mereka tertawa. Tercetak lubang kecil di kedua pipi mereka.
Ya, hanya lesung pipit Melinda saja yang ada di wajah ketujuh anaknya.
'Bagaimana aku bisa membencimu, jika wajahmu tercetak jelas di wajah mereka?' gumam Melinda kesal.
Edrico Javier Guetta, adalah bayi pertama yang lahir, di susul Danniela Lilybeth Guetta. Kemudian Keanu Javier Guetta, Edward Sylvester Guetta, Juan Carlos Guetta, ke enam Rodrico Eduardo Guetta dan terakhir Charlie Angelo Guetta.
Melinda teringat ketika ia ingin mengaborsi kandungannya. Ketika itu, ia didatangi oleh seorang wanita yang ia tidak kenali.
Wanita itu mengaku sebagai ibu dari David, suaminya. Sungguh, ia tidak tahu menahu jika pria yang menikah dengannya adalah seorang pewaris tunggal perusahan terbesar dan terkenal di dunia.
Melinda bertanya-tanya, siapa dua orang tua yang dibawa David ketika menikah waktu itu.
Sungguh, ia merasa marah dan membenci pria itu. Betapa Melinda merasa dirinya begitu bodoh ditipu mentah-mentah oleh David.
"Pria b******k!" umpatnya saat itu.
Dalam pikiran Melinda yang kalut merasa David biasa membodohi gadis-gadis miskin seperti dirinya, untuk mendapatkan keperawanannya saja. Setelah dapat. Maka dengan mudah David membuangnya dan mengincar gadis lain.
Kebenciannya begitu melekat untuk sosok David. Untuk itu tanpa pikir panjang. Melinda ingin mengugurkan kandungnya.
Namun, ketika ia berada di ruang dokter. Dokter mengabarkan sesuatu yang membuatnya tercengang.
"Apa anda yakin untuk mengugurkan kandungan ini?" tanya dokter waktu itu.
"Iya, saya yakin, Dok!" jawab Melinda sangat yakin.
"Masalahnya, janin yang mesti digugurkan bukan satu, tapi ...," dokter menghentikan ucapannya lalu memberikan foto USG 3 dimensi pada Melinda.
"Ada sembilan janin yang harus dikeluarkan. Itu sangat membahayakan nyawa anda," lanjutnya kemudian.
Melinda tergugu mendengar penjelasan dokter itu. Ia meraba perutnya. Membayangkan kehidupan selanjutnya. Apakah ia akan sanggup merawat semuanya?
Beribu pertanyaan dan keraguan muncul dalam hatinya. Entah berapa lama ia berpikir.
"Bagaimana, apa anda ingin tetap menggugurkannya, walau taruhannya adalah nyawa anda sendiri?" tanya dokter itu kembali.
Melinda menutup matanya. Kemudian ia melihat ke tujuh anaknya yang tersisa. Kini, ia tak pernah menyesali apa yang ia putuskan.
Sungguh konyol jika ia harus mempertaruhkan nyawanya begitu saja. Walau ia harus merelakan dua anak lainnya karena kelainan bawaan. Davina dan Daniel. Dua anak itu hanya bertahan selama tiga jam, kemudian meninggal dunia.
Melinda menghapus netranya yang berkaca-kaca.
"Mommy, apa Mommy sedih?" tanya Lily, bocah perempuan satu-satunya.
Daniella Lilybeth Guetta adalah wajah David versi perempuan. Mata biru dengan wajah lonjong, pipi chubby kemerahan, bibir penuh dan pink alami. Rambut pirang panjang bergelombang. Usianya baru tiga tahun. Tapi, bicaranya sudah sangat fasih seperti orang dewasa.
"Tidak. Mommy tidak sedih," jawab Melinda lalu memangku Lily.
"Tapi tadi, Lily lihat Mommy menghapus air mata," ujar Lily masih kuat dengan dugaannya.
Melinda hanya menghela. Ia tidak bisa berbohong pada putri cerdasnya itu.
"Mommy hanya mengingat dua saudaramu yang sudah meninggal," akhirnya Melinda menjawab jujur.
"Kenapa Mommy sedih? Bukankah kata Mommy justru mereka bahagia di sana? Apa Mommy sedih karena mereka bahagia? Kenapa?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dengan mimik serius.
Sungguh menggemaskan sekali. Melinda mencubit gemas pipi gadis kecilnya. Ia sama sekali tak menyangka akan mendapat pertanyaan yang sangat sulit dijawab.
"Sudahlah, kenapa kau cerewet sekali," ujar Melinda gemas.
Lalu ia menciumi gadis kecil itu hingga histeris. Lily berhasil mengeluarkan dirinya dari pelukan Melinda lalu bergabung main dengan enam saudara laki-lakinya.
Melinda beranjak dari duduknya. Ia bergegas membereskan semua kekacauan yang diperbuat buah hatinya.
Setelah selesai, ia kemudian ke dapur, mengenakan celemek dan mulai membuat makan siang.
Selesai menata makan siang di meja makan dan menutupnya dengan tudung saji. Melinda mengolah bahan-bahan untuk membuat kue.
Melinda memiliki toko kue yang terletak di depan rumahnya. Dari situlah ia menghidupi ke tujuh anak kembarnya.
Kuenya sangat laris dan diburu banyak pembeli. Saat ini saja, ia sudah kualahan untuk mengerjakan semua di dapur. Karena toko hanya menyajikan etalase saja.
Melinda berencana untuk menyewa atau membeli sebuah ruko dua lantai. Agar bisa memudahkan diri untuk beraktifitas bekerja.
Hari ini ia sengaja menutup toko, karena bahan-bahan untuk membuat kue sudah menipis. Melinda juga berencana untuk menambah satu pegawai khusus untuk membantunya di toko.
Melinda hanya dibantu oleh Matilda, sosok wanita berusia tiga puluhan untuk mengasuh ke tujuh anaknya.
Matilda ijin pulang cepat karena putranya sedang sakit dan suaminya hendak berangkat kerja. Makanya ketika Melinda tadi baru pulang dari pasar, Matilda sudah langsung pergi.
Usai mengolah adonan dan mencetak kue-kue pesanan. Melinda memasukan kue-kue itu dalam oven. Sebagian kue dibiarkan mengembang dan akan dimasak belakangan.
Melinda melihat benda bulat di dinding dapur. Pukul 11.45.. Anak-anak sudah berteriak lapar. Dan berlari ke kursi mereka.
Melinda membiarkan ketujuh bocah tersebut menaiki kursi khusus mereka, jika ada yang kesulitan. Melinda pun turun tangan untuk membantu anak-anak duduk di kursinya.
Setelah semua rapi duduk di kursi. Melinda mulai menyiapkan makanan. Siang ini Melinda memasak beef steak. Steak sudah dipotong kecil-kecil, kemudian kentang yang dihaluskan untuk karbohidrat mereka juga sayuran hijau dan wortel yang sudah direbus.
Anak-anak memakan makanan mereka dengan lahap. Selagi mereka makan. Melinda menyiapkan s**u untuk anak-anaknya.
Usai menyiapkan s**u pada botol. Melinda menarik kursi kemudian ia ikut makan.
Namun beberapa saat, kekusyukan Melinda menyatap makanan terganggu. Ia melihat ketujuh anak-anaknya tengah berbisik.
"Kamu saja yang bicara,"
"Aku?"
"Iya kamukan yang tertua dari kami?"
"Tapi ...," Edric ingin menolak.
"Ayolah, kamu juga ingin makan itu kan?" ujar Juan lagi.
Melinda masih menatap ketujuh anaknya yang masih berdiskusi. Ia menanti apa yang ingin disampaikan oleh bocah-bocah tersebut.
"Mommy, bolehkah nanti malam kami makan pasta?"
"Pasta?" tanya Melinda.
"Spaghetti Mommy," kini Charlie yang berbicara.
"Tapi baru kemarin kalian makan spaghetti," ujar Melinda.
Namun melihat wajah-wajah penuh pengharapan dan terlebih mata mereka yang ber-puppy-eye. Melinda luluh. Ia pun mengangguk.
Melihat mommy mereka mengiyakan permintaan mereka. Sontak ke tujuh bocah itu bertepuk dengan senang.
Melinda mengambil alat makan anak-anaknya. Ke tujuh bocah itu langsung menghampiri Melinda.
"Terima kasih Mommy. We love you," ujar mereka berbarengan sambil memeluk kaki Melinda.
Melinda menurunkan tubuh hingga sejajar dengan tinggi ke tujuh bocahnya. Menciumi mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang.
"I love all of you," ujar Melinda.
"Sekarang kalian main dulu sebentar, sudah itu ambil botol s**u kalian lalu naik ke tempat tidur. Mengerti!" Melinda memberi titah yang langsung diangguki oleh ke tujuh anaknya.
"Baik Mommy!"
Mereka pun bermain kembali. Sementara Melinda membersihkan meja makan. Sisa makanan ia taruh dalam wadah kemudian menutup dan menaruhnya dalam mesin pendingin.
Melinda melihat freezer. Ia masih melihat sosis yang tersisa. Mengambil dan mengamati isinya.
"Cukup untuk mereka semua," ujarnya bermonolog.
Setelah menutup lemari pendingin. Melinda mulai mencuci semua peralatan makan. Beberapa kali melihat oven yang masih memanggang kue.
Selesai mencuci piring. Ia mengangkat kue yang telah matang sempurna.
Tercium aroma harum. Juan mendekatinya. Hanya anak itu yang sangat suka akan kue buatannya. Maka tak jarang ia pasti akan mencoba pertama kali kue buatan ibunya itu.
Melihat Juan yang mendekat. Melinda langsung memotong kue dan meletakkannya di pirng kertas, kemudian memberikannya pada putranya.
"Ini, hati-hati makannya. Ini masih panas, sayang," ujar Melinda.
"Terima kasih, Mommy," ujar Juan dengan mata berbinar.
"Sama-sama, sayang."
Melinda memberi ciuman sayang pada kening Juan, yang tengah meniupi kuenya.
"Enak Mommy," puji Juan ketika ia tengah mengunyah kuenya.
"Eh ... kalau makan telan dulu makanannya, baru berbicara, sayang," ujar Melinda memperingati.
"Sorry Mom. Tapi, ini benar-benar enak," ujar Juan memuji kue buatan ibunya lagi.
"Terima kasih pujiannya, sayang," ujar Melinda sambil tersenyum.
"Hahaha ... Aku adalah orang pertama yang mencicipi kue Mommy," ujarnya bangga pada ke enam saudaranya.
Karena melihat saudaranya memakan kue. Maka semuanya pun ingin mencicipi kue buatan ibu mereka.
Melinda hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Untuk hari ini saja, ia haru membuat kue lagi. Karena pasti kue satu ini akan habis dimakan oleh anak-anaknya.
Melinda akhirnya memotong kue itu dan membaginya pada anak-anak. Selama dipotong betapa berisiknya mereka berceloteh ingin bagian lebih besar dari yang lain.
Sebagai ibu, ia memberi pengertian dengan membagi rata dan sama besar pada ke tujuh anaknya. Dan satu pun tidak ada yang protes.