PEMAKAMAN
Melinda Alexis Huda menatap dua gundukan tanah merah yang masih basah. Wanita itu hanya diam tergugu. Beberapa orang menyalaminya dan ikut berbela sungkawa.
Melinda baru saja kehilangan dua bayinya yang baru dilahirkannya dua hari lalu. Di nisan tertulis nama "Davina dan Daniel".
Melinda yang masih duduk di kursi roda menatap perih dua makam di mana kedua bayi mungilnya dimakamkan.
"Selamat tinggal sayang. Mommy mencintai kalian," ujar Melinda sambil terisak pilu.
Ratapannya sangat menyayat. Orang-orang tertunduk ikut merasakan kedukaan wanita yang malang itu.
Rintik-rintik hujan menetes membasahi bumi. Melinda pergi di dorong oleh beberapa suster yang membantunya.
"Kau harus kuat, Nona!" ujar salah satu perawat menyemangatinya.
"Iya, Sus. Aku harus kuat menjalani hidup ini," tekad Melinda menanggapi perkataan suster itu dengan suara lirih.
Melinda masuk dalam ambulance yang mengantarkannya kembali ke rumah sakit, tempat di mana ia dirawat.
Wanita itu masih harus menjalani berbagai treatment untuk penyembuhan paska operasi caesar yang dijalaninya.
Sebelum ambulance itu pergi. Melinda melambai pada makam yang berisi dua bayinya. Netranya terus menatap gundukan merah itu hingga tak sanggup lagi, karena ambulance sudah berbelok dan menjauh dari tempat pemakaman.
Melinda menatap jendela ambulance. Tampak tetesan air hujan membasahinya. Tiga perawat yang duduk di sampingnya memegangi tubuhnya yang terbaring di atas brangkar, agar tidak terlalu banyak mengalami guncangan karena jalan desa yang belum diaspal.
********
EMPAT TAHUN KEMUDIAN.
Di sebuah ruang mewah. Tampak dua insan beda usia saling beradu argumen.
"Apa ini Mom?" tanya pria muda nan tampan.
Laura tidak menggubris. Sebuah map biru dilempar ke atas meja tampat ia duduk. Matanya langsung membelalak. Ia yakin telah menyimpan benda itu rapat-rapat.
"Mommy tidak tahu!" sanggahnya.
"Jangan berkilah Mom!" Teriak David kencang.
"Kenapa kau meneriaki Mommy-mu, Son!" Sebuah suara menginterupsi kelakuan David.
"Lihatlah Pap. Dia makin berani melawanku sekarang, mentang-mentang putramu kini menampik kekuasaan penuh!" sindir Laura sakras.
"Ini tidak ada hubungannya dengan itu semua!" umpat David putus asa.
Edward Guetta menatap map biru yang ada di atas meja.
"Apa ini?!" tanyanya hendak mengambil map biru itu.
"Bukan apa-apa!" ujar Laura sambil buru-buru menyingkirkan map tersebut.
"Berikan Laura!" titah sang suami tegas.
Laura tidak bisa berkutik. Sedang mata David sudah memerah menahan kekesalan.
Edward mengambil kaca mata dan memasangnya. Matanya menyipit dengan rangkaian kata yang berderet. Ada dua belas poin tertera dan satu tulisan tangan yang cukup panjang di sana.
Rahang Edward mengeras. Ekspresinya langsung mengelam. Matanya tajam menatap sang istri yang kini bertingkah seolah tidak ada apa-apa.
"Apa maksud semua ini?!" tanyanya dengan suara datar.
Tidak ada jawaban keluar dari bibir sang istri. Edward makin berang. Kemudian ia mengambil ponselnya. Hanya menekan satu angka, Edward melakukan panggilan.
"Ben. Kemari!"
Mendengar nama Ben. Laura akhirnya mengakui semuanya.
Betapa Edward dan David begitu marah. Mereka tidak habis pikir perbuatan wanita yang paling dihormati di mansion ini begitu buruk.
"Ini semua demi kebaikanmu dan perempuan itu!" teriak Laura membela diri.
"Kebaikan apa Mom!" sergah David tidak percaya Mommy yang ia sayangi tega berbuat itu.
"Kamu lihat Stella. Gadis itu dari keluarga terhormat. Dia sudah menyukaimu sejak lama. Bahkan hubungan keluarga kita juga baik. Jika kau bersanding dengan Stella. Mommy yakin perusahaanmu akan jauh lebih pesat!" jelas Laura panjang lebar.
David menggeleng sambil menatap ibunya tidak mengerti. Begitu ambisinya sang ibu akan kemajuan perusahaan yang ia kendalikan. Padahal perusahaan dari keluarga Stella masih jauh tingkatnya di bawah perusahaan yang ia pimpin.
David berlalu meninggalkan ibunya. Laura meneriaki namanya. Tapi, pria itu sudah sangat kecewa akibat ulah sang ibu terhadap wanita yang dia cintai.
David ingat ketika awal ia pulang. Papinya langsung menyerahkan tapuk pimpinan padanya. Perusahaan yang memang sudah besar makin berjaya dibawah kepemimpinan David.
"Sayang. Mommy sudah memilih wanita yang cocok jadi istrimu. Ini perkenalkan Stella Marvis," ujar Laura sambil memperkenalkan gadis cantik berambut pirang.
David hanya menatap tanpa minat pada gadis yang dikenalkan oleh ibunya.
"Maaf Mom. Aku sudah memiliki istri yang kupilih sendiri," jelas David tanpa mau membalas jabatan tangan Stella.
"Ah ... Benarkah? Siapa dia?" tanya Laura semringah.
"Dia teman kuliahku. Namanya Melinda," jawab David dengan pandangan menerawang dan bibir yang mengulum senyum.
"Oh ya. Mommy sangat bahagia, ternyata kau sudah punya istri. Apa boleh tau dia di mana?" tanya Laura kemudian.
David menjelaskan siapa sang istri kepada ibunya dengan nada penuh kebanggan. Betapa pria itu memuja sosok sederhana Melinda. Tak ada satu pun yang terlewat dari mulut David dalam menggambarkan istri tercintanya.
Laura menanggapi ceria apa yang dikisahkan oleh putranya, David.
"Baiklah, Nak. Mommy ingin sekali bertemu dengannya suatu hari," ujar Laura sambil mengelus bahu David.
Sedang Stella hanya bisa cemberut tak suka mendengar semuanya. Ketika Laura dan Stella telah meninggalkan ruangan di mana David berada. Stella mulai merajuk.
"Tante. Apa kau tidak malu bermenantu wanita miskin?" tanyanya.
"Maksudmu?" Laura balik.
"Kau dengar tadi apa yang David katakan bukan? Kalau istrinya adalah wanita miskin!" Laura mengangguk membenarkan perkataan Stella.
"Apa kata orang-orang nanti, jika tahu kalau istri dari calon CEO EGC group adalah wanita yang tidak berkelas. Mau dikemanakan derajat Tante!" Stella mulai memprovokasi Laura.
"Aku yakin jika wanita itu hanya ingin harta dan kedudukan dari David. Tantekan tahu, siapa yang tidak mengenal David Guetta?!" Lanjutnya dengan suara menggebu.
Laura terdiam. Ia merenungi semua perkataan gadis cantik berambut pirang itu. Melintas dipikirannya suatu peristiwa yang sangat menyakitkan.
"Kau benar Stella. Wanita itu memang tidak pantas untuk putraku, David!"
"Lalu sekarang bagaimana, Tante?" tanya Stella dengan raut wajah sedih.
Laura mengusap wajah cantik yang sendu itu. Kemudian ia memeluk dan mengusap punggung sang gadis dengan lembut.
"Kau tenang saja. Itu urusan Tante."
Sedangkan Stella tersenyum smirk di balik punggung Laura. Ia senang jika hasutannya berhasil mempengaruhi Laura. Calon mertuanya.
'Akan aku pastikan, jika putramu jatuh di tanganku!'
Sebuah rencana licik terpatri dipikiran Stella. Laura mengurai pelukannya. Stella langsung merubah mimik mukanya.
"Jangan sedih sayang. Sekarang, sebagai ganti kesedihanmu. Bagaimana jika kita berbelanja berlian?!' ajak Laura yang langsung ditanggapi dengan senyuman menawan Deri Stella.
David melakukan penerbangan menuju kediaman istrinya. Selama ini sang ibu telah membohonginya.
David tidak bisa menemui Melinda karena sang ibu memberi syarat agar wanita yang ia jadikan istri itu diterima olehnya.
David harus mengembangkan usaha sang ayah hingga mancanegara. David memenuhinya. Dalam jangka waktu empat tahun, perusahaan ayahnya berkembang pesat.
Sayang. Ketika ia ingin menagih janji, ia mendapati map biru itu di sela-sela dokumen bekas dalam gudang.
Saat itu entah mengapa David sendiri ingin mencari dokumen lama tentang satu perkebunan milik keluarga yang lama tidak terurus. David ingin mencari apa yang terjadi. Makanya ia mencari dokumen lama di gudang.
Siapa sangka, bukan hanya dokumen penting itu saja yang ia dapatkan, tapi satu rahasia besar yang ditutupi oleh ibunya.
David memejamkan mata. Butuh waktu dua jam penerbangan baru ia sampai di bandara kecil kota kelahiran sang istri.
Sesampainya di kota B. Hari mulai malam. David harus menginap di sebuah motel. Ia tidak bisa langsung menuju rumah Melinda karena butuh waktu lagi.
David berencana esok hari akan mendatangi Melinda.
"Sayang ... Aku datang, aku akan membawamu bersama. Dan kita tidak akan terpisahkan selamanya," ujar David bermonolog.
David merebahkan tubuhnya di atas kasur yang cukup tipis. Maklum hanya motel murah itu yang masih buka di jam malam begini.
Pagi datang. Suara kicau burung beterbangan. David membuka mata. Ia merenggangkan tubuhnya. Sungguh tidurnya tidak begitu nyenyak . David tidak mau membuang waktu. Ia bergegas mandi dan pergi menjemput Melinda.
Sampai di sana. David tertegun dengan rumah yang sudah berganti penghuni. Bahkan semua bangunan di sana banyak yang berubah. Bahkan ia berkali-kali kesasar.
"Maaf. Dari tadi anda mondar-mandir di depan halaman rumah saya, ada apa ya?" Sosok pria berkulit kecoklatan keluar dari rumah tersebut.
"Ah. Maaf Tuan. Saya hanya ingin tahu, apa rumah ini dulunya adalah milik Tuan Huda yang bekerja sebagai pedagang di pasar?" tanya David kemudian.
Pria itu tampak mengerutkan kening. Sepertinya ia tengah berpikir.
"Tapi saya membelinya dari seorang wanita," jawab pria itu.
"Ya ya, wanita itu bernama Melinda!" jelas David dengan wajah cerah.
"Ah, iya. Melinda. Memang dulu ini rumahnya. Tapi, saya sudah membelinya dua tahun yang lalu," jelas pria itu.
David lemas mendengar jawaban pria ketika ia bertanya perihal Melinda.
"Saya tidak tahu."
Jawaban yang menohok hatinya. Wajahnya sangat sedih. Bahkan ia meneteskan air matanya.
Tiba-tiba.
"Maaf. Apa benar anda David Guetta?" seseorang bertanya.
David menoleh, ia pun menganggukan kepala. Sosok pria tua mengenalinya.
"Kau suami Melinda bukan?" tanya pria tua itu lagi.
Kembali David mengangguk. Lalu pria itu menghela napasnya panjang.
"Ikut aku," ajaknya.
David mengikuti pria itu. Sepanjang perjalanan. Pria itu menceritakan apa yang dialami oleh Melinda.
David memutar pandangannya. Sebuah pemakaman umum. Ia sedikit tidak mengerti.
"Di sinilah dua anakmu dimakamkan," ujar pria tua itu.
David terkejut mendengar hal itu. Lalu ditatapnya makam dengan tulisan "Davina dan Daniel". Seketika lutut David goyah dan tak mampu menopang tubuhnya.
Pria tua itu memegang bahunya. Tubuh David bergetar.
"Anak-anakku?!" cicitnya lirih.
Air matanya mengalir. David menangis tersedu-sedu. Sedang pria tua itu terus mengelus bahu David dengan penuh ketulusan.
Bersambung.