KENANGAN

1549 Words
David hanya bisa termangu di pinggir makam anaknya. Pria itu sesekali mengusap nisan dengan derai air mata dan tangis. Pria tua yang mengantarnya tadi telah kembali pulang ke rumahnya. "Sayang ... ini Daddy. Apa kabar kalian?" Isakan keluar dari mulut pria tampan itu. "Kalian tahu? Daddy sangat sayang sama kalian ... hiks!" David menutup mulutnya menahan ratapan. Air matanya terus mengalir deras di pipi. Berkali-kali ia menciumi nisan dua buah hatinya. "Kalian pasti juga tahu. Jika Mommy kalian adalah wanita yang hebat. Dia begitu cantik. Daddy sangat mencintainya," ujarnya sesekali mengusap kasar air yang membasahi pipinya. "Daddy sangat mencintai Mommy kalian ... huuuu ... uuu ... hiks ... hiks!" "Jika kalian bertemu dengan Tuhan, bisakah Daddy minta tolong?" lanjutnya, "tolong Daddy bertemu kembali dengan Mommy kalian." Kembali David mencium nisan, mengusapnya. Lalu ia bangkit setelah mengatur nafasnya. "Selamat tinggal sayang. Lain waktu Daddy akan mengunjungi kalian lagi, i love you." David mempercepat langkahnya meninggalkan makam. Sungguh hatinya tak sanggup jika ia berlama-lama di sana. Bisa-bisa ia mati dalam penyesalan. Hari sudah beranjak sore. Lagi-lagi ia harus menginap. Dicarinya penginapan yang lumayan bagus. Ada hotel melati yang letaknya sedikit jauh. David harus memakai taksi yang mengetahui tempat penginapan yang bagus di kota itu. Di sinilah David berada. Sebuah kawasan hotel dengan konsep alam. Hotel yang dibangun menyerupai beberapa villa yang menghadap ke danau. Untuk menenangkan diri. David menyewa villa yang menghadap danau. Merogoh kocek agak dalam tentu tidak masalah bagi pria yang memiliki omset perusahaan triliunan ini. Sebelum menuju villa. David harus memasuki hotel bertingkat lima ini. Nuansa modern juga klasik sungguh memanjakan mata pengunjung. Di dalam hotel terdapat mall yang lengkap. Pengunjung bisa berbelanja apa pun atau membeli oleh-oleh. David digiring oleh petugas hotel menuju villa dekat danau. Suasana senja sangat memanjakan diri. Begitu romantis bagi pasangan yang berlibur di sana. Setelah petugas menyerahkan kunci dan meninggalkannya. David langsung masuk dan mengunci pintu. Pria itu bergegas mandi karena tubuhnya sudah berasa lengket. Selesai mandi. Pria itu mengambil baju dan celana dalam ransel yang tadi dibawanya. Selesai memakai baju dan celana. Pria itu langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya terpejam. Sekelebat wajah cantik terbayang dipikirannya. "Sayang ... Kau di mana?" David memejam mata. Pria itu mengingat ketika pertama kali melihat Melinda, istrinya. Sosok gadis cantik tengah tertawa terbahak-bahak bercanda bersama teman-temannya. David yang sedikit terusik dengan suara bising itu menoleh asal suara dengan wajah kesal. Tapi, selanjutnya ia terpana dengan kecantikan wajah yang kini tengah terbahak itu. Rambut keriting kecoklatan panjang sepinggang. Kulit sedikit kemerahan karena terpapar matahari. Bulu mata lentik dengan iris mata coklat terang. Hidung kecil dan bibir sedikit tebal nampak merah muda alami. Gadis itu merasa ia diperhatikan. Kedua pasang mata bertemu. Iris biru David langsung terfokus pada iris coklat gelap milik sang gadis. Gadis itu hanya mengangguk mengungkap salam pada pria tampan yang memandangnya sambil tersenyum. Deg Deg Deg David meraba dadanya. Senyum tipis dengan rona merah di pipi, mengingat betapa manisnya Melinda saat itu. David menghela napasnya. Kembali kenangan melintas ketika ia tidak lagi bertemu dengan gadis yang menawan hatinya. Sudah dua hari ia mencari keberadaan gadis itu. Pria itu ingat sekali, jika ia nyaris putus asa tidak menemukan gadis itu di manapun. "Melinda!" sebuah teriakan memalingkan fokus pria yang tengah melamun di koridor kampus. David melihat gadis yang ia cari selama ini, tengah berjalan menghampiri seorang gadis juga. David mengira jika itu adalah teman dari gadis incarannya. Ketika Melinda melewatinya, kedua mata bertemu. Gadis itu tersenyum dengan menampilkan giginya yang putih dan berderet rapi sambil mengangguk. David membalas anggukan gadis itu. Ketika dari dekat David baru menyadari jika Melinda berlesung pipit. Entah mengapa ia langsung mengikuti gadis itu melangkah. "Kau mengikutiku?" tanya Melinda polos menelisik wajah pria yang tidak berhenti mengekorinya. "Aku ingin berkenalan," ujar David. "Aku, David!" "Melinda!" Mereka bersalaman. Betapa halus telapak tangan Melinda. Bahkan David mencium wangi vanilla yang sangat lembut dari tubuh gadis itu. "Hai Mel!" tiba-tiba seorang pria seumuran menyapa gadis itu. Melinda yang memang ramah pada siapapun membalas sapaan pria itu. David sangat tidak menyukai kedekatan Melinda dengan pria itu. "Oh ya, apa nanti malam kau diundang ke pesta Riana?" tanya pria itu. "Tentu aku diundang. Aku kan disuruh menari olehnya," jawab Melinda antusias. "Benarkah?" tanya pria itu memastikan. "Aku tidak akan melewatkannya." "Apa aku boleh menjemputmu?' tanya pria itu lagi. David masih diam. Ia sangat kesal, ia lupa jika ia mendapatkan undangan itu juga. Salahnya bila David baru mengenal Melinda. "Ah ... maaf, Melinda akan langsung ikut denganku. Karena ia harus mempersiapkan diri dari awal," tiba-tiba Riana menyela dan langsung menggandeng Melinda. "Hai Dav!" sapa Riana ketika melihat David. David tersenyum. "Kau datang kan ke pestaku nanti malam?" "Tentu saja," jawab David. "Baiklah Senor ... adios amigos. Sampai jumpa nanti malam!" ujar Riana berpamitan pada dua pria dan langsung menyeret Melinda dari tempatnya berdiri. David merebahkan tubuhnya di kursi kayu. Mengambil gelas berisi wine, lalu meneguknya. Pria itu menyandar pada kursi dengan mengangkat tangan sebagai bantal kepalanya. David mengenang kembali, bagaimana eksotiknya Melinda menari malam itu. Seluruh tubuhnya berbicara, bahkan matanya yang selalu menyorot tajam pada setiap gerakan tango. Bahkan ketika musik salsa dimainkan. Betapa gemulai tubuh gadis itu meliuk-liuk di atas lantai. David bahkan yang juga bisa berdansa salsa, begitu terhanyut akan gerakan gadis itu. Semua bertepuk tangan dengan riuh. Napas keduanya saling terengah-engah Bahkan David mengusap keringat di kening Melinda. David enggan melepas gadis itu. Bahkan ketika musik beralih ke waltz. Pria itu makin mengeratkan dekapan pada pinggul ramping Melinda. Melinda yang mengenakan gaun merah dengan potongan d**a sabrina juga belahan paha setinggi lima centi di atas lutut. Membuat kaki jenjang gadis itu begitu sempurna. Melinda tampil sangat seksi di mata David. Sungguh, pria itu menahan semua gejolak untuk memagut bibir merah merekah yang ada di hadapannya. Namun, sebisa mungkin ia menahannya dan berhasil. David menghormati Melinda dengan tidak mencuri ciuman dari gadis itu. Pesta usai. David menawarkan diri untuk mengantar pulang Melinda, yang tentu saja diterima oleh gadis itu. David yang menggunakan sepeda motor. Membuat Melinda harus memeluk erat tubuh pria yang memboncengnya. Hal itu dilakukan karena cuaca malam itu memang dingin dan Melinda tidak mengenakan jaket. Detak jantung keduanya berpacu ketika Melinda mengeratkan pelukannya di pinggang David. David yang merasakan benda kenyal menyentuh punggungnya berusaha semaksimal mungkin, untuk tetap fokus pada jalan yang dilaluinya. Ketika sampai depan rumah. Melinda turun dan mengucap terima kasih. "Apa kau tidak ingin mampir sekedar minum kopi?" tawar Melinda. Sesungguhnya David ingin sekali turun. Tapi, ia sadar jika hari sudah terlalu larut. "Mungkin lain kali," jawab David menolak secara halus. "Hmmm ... bagaimana jika aku memaksa?" tawar Melinda kini sedikit ngotot. Mendapat tawaran menggiurkan hingga dua kali. David tidak akan menolak lagi. Pria itu langsung turun tanpa sungkan. Duduk di kursi teras. Keduanya tengah menghirup kopi yang masih mengepulkan asapnya. "Kau juga suka kopi?" tanya David. "Aku bukan suka. Tapi aku menggilai kopi!" jawab Melinda. David mengusap ampas kopi yang menempel di sudut bibir Melinda dengan jempolnya. Melinda sedikit tersentak dan menjauhkan wajahnya. "Ah ... maaf!" David meminta maaf. "Tidak apa," Melinda tersenyum. Pertemuan malam itu, lanjut dipertemuan berikutnya. Bahkan tak jarang, David bertanding catur dengan ayah Melinda. David tertawa ketika mengingat pertandingan catur dengan mendiang ayah Melinda. Betapa pria itu ngotot' untuk mengalahkannya. "Semoga kau tenang di sana Ayah!" ujarnya bermonolog. David menyesap kembali wine hingga tuntas. Pria itu kembali mengingat satu kenangan penting ketika ia melamar Melinda. David menyewa sepasang suami istri dari desa sebelah. Kepolosan Melinda dimanfaatkan dengan baik oleh David. Melinda sangat percaya jika, pria yang menyuntingnya itu adalah pria yang sama miskinnya dengan dia. "Ayah dan ibuku berasal dari desa terpencil. Letaknya cukup jauh dari sini. Dan mereka tidak bisa meninggalkan pertanian yang mereka kerjakan dalam waktu lama," jelas David waktu itu. Ketika menyadari kebohongannya. David sedih. Kini ia sadar akan kesalahan yang ia perbuat. Pria itu beranggapan jika apa yang terjadi padanya saat ini adalah hukuman dari Tuhan karena dia berbohong. "Maafkan aku Tuhan!" ujarnya sambil menatap langit yang penuh dengan bintang. David menghela napas. Gelas wine telah kosong. Pria itu beranjak masuk ke villa, lalu mengunci pintu dari dalam. Usai mengunci. David merebahkan tubuhnya di atas kasur. Walau kamarnya ber-AC. David terbiasa bertelanjang d**a jika tidur. Untuk itu ia melepaskan kaos dan meletakkannya begitu saja. Setelah merebahkan tubuhnya. David kembali mengingat peristiwa malam pertamanya. Betapa manis bibir Melinda ketika David menciumnya. Pria itu tahu jika ciuman itu adalah yang pertama untuk gadis itu. Gerakan kikuk dan kaku David rasakan.sedangkan ia sangat mahir memainkan lidahnya. Melinda mendesah ketika David mulai menciumi leher jenjang putih dan mulus. Meninggalkan jejak kemerahan di sana. Tangan David yang menyentuh seluruh tubuh gadis yang telah ia ikat dengan pernikahan. Pria itu merasakan bulu roma Melinda meremang. Bertanda bahwa ia adalah pria pertama yang menyentuh istrinya. Hingga ketika penyatuan. Betapa Melinda menjerit sakit dan mencakar David hingga terasa perih pada punggungnya. David terkulai setelah pelepasan. Ia melihat sedikit noda kemerahan pada sprei. Betapa bangganya ia. David begitu tersanjung dengan persembahan sang istri. "Terima kasih, sayang," ujarnya kala itu sambil mencium lama kening Melinda. David menghela napas untuk mengatur libido yang tiba-tiba timbul. Hanya mengingatnya saja, ia sudah terbakar gairah sebegitu hebat. Tiba-tiba terlintas makam kedua anaknya. Gairah yang tadi sempat membakar, perlahan surut. Pria itu menangis dalam penyesalan yang dalam. Karena lelah. Perlahan, mata David mulai menutup. Tak lama kemudian. Pria itu tertidur dengan pulas. Bersambung. Next?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD