Mimpi Buruk

1206 Words
Malam itu, Rafael duduk di ruang kerjanya yang temaram. Di luar, hujan turun pelan, menumbuk kaca jendela besar di balik punggungnya. Secangkir kopi yang sudah dingin tergeletak di meja, tapi pikirannya tidak bisa fokus pada apapun. Setelah dia memaksa Aruna untuk menyentuh gadis itu. Meski berakhir penolakan. "Berani sekali gadis itu, menolakku!" Ia mencoba mengalihkan pikirannya, dengan membaca laporan bisnis gagal. Kemudian menyalakan cerutu tapi batang itu padam sebelum sempat dihisap."Arrrgh..shit." Yang ada hanyalah bayangan wajah Aruna. Wajah lugu yang selalu menatapnya dengan campuran takut dan berani. Mata itu… bening, jujur, tapi juga keras kepala. Setiap kali ia teringat, ada sesuatu yang bergetar dalam dirinya, perasaan yang tak ia mengerti. “Kenapa gadis itu bisa menembus pikiranku seperti ini?” gumamnya lirih, menyandarkan kepala di kursi kulit hitam. Ia sudah terbiasa menghadapi banyak wanita cantik, berani, menggoda, semua hanya sementara. Tapi Aruna berbeda. Gadis itu bahkan belum pernah mencoba menarik perhatiannya, justru selalu menjaga jarak, dan mungkin itulah yang membuat Rafael semakin penasaran. Ia menatap langit-langit ruangan, mencoba menepis bayangan itu, tapi justru semakin jelas. Cara Aruna berbicara dengan nada lirih, cara ia menatap lantai saat gugup, bahkan caranya menggenggam baki dengan tangan gemetar, semua seolah terekam sempurna dalam ingatannya. “Dasar bodoh…” Rafael menepuk dahinya pelan. "Apa yang kau lakukan Rafael, jelas-jelas, dia hanya gadis rendahan, kenapa kamu selalu memikirkannya?" Ia bangkit, berjalan ke arah jendela, memandangi hujan yang terus turun. Untuk pertama kalinya, sang mafia dingin itu merasa kalah, bukan oleh musuh, bukan oleh peluru, tapi oleh sosok gadis sederhana yang datang dari dunia yang sama sekali berbeda dengan miliknya. Di bawah langit yang sama, Aruna menatap langit di jendela kamarnya, seolah mengadu pada bintang yang berkelip sangat cantik malam itu. "Ibu...Aruna rindu sama ibu."Suara lirih Aruna. bulir crystal jatuh di sudut mata indahnya. Dari seberang sana Rafael menatap datar wajah Aruna yang menangis. Tanpa Aruna sadari seseorang melihatnya dari kejauhan. Tak lama kemudian Aruna pun beristirahat, membaringkan tubuhnya, sekelumit bayangan kejadian saat tadi di ruang sauna, dia merasa takut, dan menyentuh bibirnya yang bengkak akibat ulah Rafael. ****** Pagi hari dimansion Rafael. Suasana ruang makan pagi itu tegang. Para pelayan berdiri berjajar di sisi ruangan, menunggu perintah. Aruna berdiri di ujung meja, menunduk seperti biasa, menyiapkan piring dan gelas dengan hati-hati. Nampak bibirnya bengkak dan matanya sembab. "Selamat pagi tuan,"sapa para maid. Namun tak ada jawaban dari Rafael. "Reno...Kita akan menuju markas siapkan mobil."Rafael menatap sekilas ke arah Reno. "Baik tuan."Jawab Reno. Nampak Rafael menatap sekilas ke arah Aruna. Wajahnya sembab dan bibirnya sedikit bengkak. Bayangan kejadian semalam kembali melintas dibenak Rafael. Dia tiba-tiba meletakkan gelas berisi lemon. "Trang."Suaranya membuat semua orang di sana tertuju padanya. "Aruna..."Rafael memanggil Aruna. "Iiya tuan." "Duduklah, makan bersamaku,"ujar Rafael dengan menatap datar ke arah Aruna. "Ttapi tuan, saya..."Aruna nampak merasa panik. "Ini perintah, duduklah."Rafael menekan suaranya,"tubuhmu terlihat kurus, aku tidak mau, semua pelayan di sini menjadi lemah." Aruna perlahan duduk di kursi di ujung meja berhadapan dengan Rafael. Dia perlahan menyentuh makanan yang terhidang di meja. Namun dia terlihat sedikit kesakitan saat makan. "Sssshh."Namun dia berusaha tetap makan sedikit demi sedikit. "Dia...kayak kesakitan, apa gara-gara semalam, bibirnya terluka?"Batin Rafael. Tiba-tiba, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat."tak tak." Semua kepala menoleh seorang wanita berpenampilan glamor dengan gaun ketat berwarna merah memasuki ruangan. Bibirnya tersenyum manis, namun sorot matanya penuh kepemilikan. “Hai Rafael,” panggilnya lembut sambil berjalan mendekat. Rafael yang sedang menikmati sarapan hanya melirik sekilas. “Kau datang lebih cepat, Alexa.” Tanpa ragu, wanita itu menarik kursi, lalu, di hadapan semua orang, duduk manja di pangkuan Rafael. Beberapa pelayan saling pandang, tak berani bicara. Aruna membeku di tempatnya, dia duduk dengan sorot mata bingung, tangan yang memegang teko teh bergetar hingga cairan panas menetes di meja. Ia buru-buru menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah, entah karena malu, marah, atau sesuatu yang lain. "Dia...selalu begitu, mempermainkan wanita, padahal dia sendirian sudah memiliki wanita dihatinya."Aruna berkata dalam batinnya. Alexa tersenyum puas, lalu berbisik di telinga Rafael dengan nada manja, “Kau merindukanku, kan?” Rafael hanya menatapnya sekilas, dingin. Ia tak menolak, tapi juga tak merespons. Matanya justru melirik sekilas ke arah Aruna, gadis itu sedang berusaha membersihkan meja setelah sarapan. Ada sesuatu di sana yang menohok dadanya."Siapa gadis ini? Kenapa dia...bisa makan dimeja bersamamu Rafael?"Alexa menggerutu dalam batinnya. Dia berusaha tetap elegan. Alexa menyadarinya. Ia menatap ke arah yang Aruna, lalu tersenyum sinis. “Gadis itu siapa?” bisiknya pelan tapi cukup keras untuk terdengar. Rafael menatapnya datar. “Tak usah urusi yang bukan urusanmu, dia... bukan siapa-siapa." “Hmm… sepertinya dia istimewa,” ucap Alexa lagi, menatap Aruna penuh sindiran. Aruna menggigit bibir, menunduk makin dalam. Ia ingin pergi dari ruangan itu secepat mungkin, tapi langkahnya seperti tertahan oleh sesuatu yang berat, perasaan yang bahkan ia sendiri tak sanggup jelaskan. Rafael akhirnya menegakkan tubuhnya. “Cukup, Alexa. Duduklah di kursimu. Jangan urusi yang bukan urusanmu." Nada suaranya datar, tapi dingin dan tegas. Alexa terdiam sejenak, lalu berdiri perlahan. "Baiklah, aku tidak akan mengurusinya, karena aku tahu seleramu. Tidak mungkin mau dengan gadis rendahan seperti dia." Kata-kata Alexa menyayat hati Aruna, namun Aruna berusaha menahan tangisnya. Dia tahu, semua yang akan terjadi di mansion itu, tak akan ada kata-kata manis, apalagi perlakuan yang baik padanya. Semua pelayan menunduk, pura-pura sibuk dengan tugas masing-masing. Hanya Aruna yang sempat mencuri pandang, dan dalam detik singkat itu, ia melihat sesuatu di mata Rafael. Rafael menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap menuju Markasnya. Sebuah tatapan yang bukan sekadar dingin… tapi juga bimbang. Tertuju pada Aruna. Rafael seolah mengisyaratkan bahwa dia bisa melakukan apapun yang dia mau. ****** Alexa membetulkan letak gaunnya dengan anggun, tapi pikirannya mulai dipenuhi tanda tanya. Sejak tadi, Rafael tampak tak seperti biasanya. Ia tidak menanggapi rayuannya, bahkan terlihat kehilangan fokus. “Rafael, tunggu..” ucap Alexa lembut, mencoba menarik perhatiannya. “Kau tak mendengarku, hm?” Namun, pria itu tetap diam, menatap lurus ke arah lain. Tatapan itu, tajam, tapi kali ini bukan untuk Alexa. Alexa mengikuti arah pandang Rafael. Di ujung ruangan, seorang gadis dengan seragam sederhana sedang membereskan gelas di atas meja. Gerakannya hati-hati, wajahnya menunduk, dan sesekali hela napasnya terlihat berat. Aruna. Seketika mata Alexa menyipit. Ada sesuatu dalam cara Rafael menatap gadis itu, tatapan yang tak pernah ia dapatkan, meski sudah berbulan-bulan berada di sisi pria itu. “Menarik…” gumam Alexa pelan, bibirnya membentuk senyum tipis penuh arti. Ia lalu berdiri, melangkah mendekat pada Rafael, menunduk sedikit dan berbisik, “Kau sepertinya menemukan mainan baru, Rafael.” Rafael menoleh cepat, tatapannya berubah dingin. “Hati-hati bicaramu, Alexa.” Wanita itu terkekeh pelan, pura-pura tidak terpengaruh. “Ah, jadi aku benar. Aku tak pernah lihat matamu seperti itu sebelumnya. Bahkan saat bersamaku.” Rafael tidak menjawab. Ia hanya menghela napas, menyandarkan diri di kursi. Tapi semakin ia mencoba mengalihkan pandangan, semakin jelas wajah Aruna muncul di kepalanya. Alexa menatapnya lekat-lekat, kali ini tanpa senyum. Ia tahu betul tatapan semacam itu, tatapan pria yang mulai terikat secara emosional, bukan sekadar fisik. Dan itu membuat darahnya mendidih. Sementara itu, Aruna menyadari sesuatu. Ia bisa merasakan pandangan Rafael yang terus mengikutinya. Wajahnya panas, jantungnya berdebar cepat. "Aruna...jangan pedulikan dia, semua di rumah ini hanya lah mimpi buruk dalam hidupmu, yakinlah kelak kau akan terbangun." Ia menunduk makin dalam, berharap semua ini hanya khayalannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD